BAB 11

1413 Kata
KIARA             Aku mengenal Khayana di kelas sebelas. Ketika kami sama-sama berada di UKS. Saat itu aku melihat darah mengalir dari lutut hingga tulang keringnya. Lukanya dijahit dan aku bisa memastikan bahwa itu sakit sekali, karena aku sempat mengalami hal serupa saat aku terjatuh dari motor bersama Kak Sena. Dan saat itu aku menangis sejadi-jadinya sampai Kak Sena dan Kak Romy panik. Bahkan mereka sampai patungan untuk membelikanku es krim supaya aku bisa melupakan rasa sakitku.             Terlepas dari memori tentang kecelakaan masa kecilku, aku yang waktu itu sedang dilanda nyeri menstruasi, jadi makin nyeri karena jeri melihat luka Khayana. Tapi anehnya, gadis itu malah tidak bereaksi apapun saat perawat menjahit lukanya. Ia tidak merintih, apalagi menangis. Seolah luka itu hanyalah hiasan yang ditempelkan perawat di kakinya.             Setelah beberapa tahun, aku bertemu lagi dengan Khayana. Saat itu ia tengah membaca buku sambil menunggu pesanan di café. Karena lama menunggu supir yang menjemputku, aku berinisiatif untuk menyapanya sekalian mencari teman untuk mengobrol.             “Khayana?” sapaku.             Ia mendongak. “Oh, hei. Kiara, bukan?” balasnya setelah sempat terlihat berpikir.             Aku mengangguk riang. Syukurlah dia mengingatku. Kukira dia tipikal cewek pendiam dan cuek yang tidak mau tahu kanan-kiri, apalagi mengingat temannya yang beda kelas.             “Boleh gabung di sini? Lagi nungguin supir nih. Kejebak macet katanya,” ucapku sembari menunjuk kursi rotan di seberangnya.             “Boleh, silahkan aja.”             Akhirnya kami pun duduk berhadapan. Demi menghargaiku, ia meletakkan bukunya di atas meja. Aku mengamatinya sambil lalu. Dia masih Khayana berwajah sendu yang membuatku penasaran. “Oh ya, sibuk apa sekarang?” tanyaku, mencoba mencari topik ringan untuk dibahas.             Khayana tersenyum. “Dibilang sibuk enggak sih. Baru aja mau naruh CV ke beberapa perusahaan. Kamu sendiri?”             “Hmm …, sibuk ngerjain proyek orang,” jawabku kemudian terkekeh. “Pengennya sih buka usaha jasa desain sendiri. Tapi ya gitu, persiapannya belum matang. Nyari pengalaman dulu.”             Khayana menimpali dengan anggukan.             Tiba-tiba aku teringat penerimaan karyawan baru di perusahaan Papa. “Eh Na, di kantor papaku lagi recruitment lho. Coba deh kamu kirim CV!”             Setelah pertemuan itu, aku senang karena Khayana akhirnya mempertimbangkan tawaranku. Dan karena kemampuannya yang mumpuni, ia diterima sebagai salah satu staf di perusahaan. Itulah sebabnya aku bisa menemukan Khayana di kantor kakakku sekarang.             Matanya masih terfokus pada layar monitor di depannya ketika aku mengetuk mejanya dengan jariku yang …, oh Tuhan lagi-lagi aku masih kagum dengan cincin berlian yang disematkan Kak Sena saat hari pertunangan kami.             “Kiara? Nyari Pak Romeo?” Suara Khayana membuyarkan lamunanku.             Aku pun beralih menatapnya. “Eh iya. Kamu nih, ngomong sama aku masih manggil dia Bapak aja.” Aku mengibaskan tanganku.             “Kan ini masih di kantor,” sahut Khayana kalem.             Aku mengangguk. Benar kata Kak Romy, Khayana orang yang disiplin dan tahu cara membawa diri. Aku mengedikkan bahu. “Mampir doang sih, katanya Kak Sena ada di sini,” jawabku sambil terkikik.             “Iya. Mereka diskusi udah hampir sejam yang lalu. Bentar lagi sepertinya keluar.”             Aku mengangguk. Kemudian menunggu di sofa yang disediakan di luar ruangan Kak Romy. Memeriksa ponsel sekilas. Hanya pesan dari anak-anak kantor. Kerjaanku sedikit longgar karena proyek yang kutangani sudah rampung. Jadi saat tadi aku mencoba memasak dan Mbok bilang enak, aku berniat membawakannya untuk Kak Sena. Setelah kutahu ternyata dia tengah bersama Kak Romy, sekalian saja kusuplai makanan sehat untuk perut Kak Romy yang selama ini terlalu banyak diisi jajanan di luar. SENA            Romeo memutar-mutar bolpoinnya. Bersandar santai di sandaran kursi yang beralih fungsi jadi tempatnya menyampirkan jas.             Romeo tipikal orang cuek yang melakukan apapun sesuai kamus kenyamannya sendiri. Gue nggak tahu pendapat perempuan-perempuan yang sempat takhluk ke si tengil ini. Tapi kalau lo cowok, yang paling bikin lo nggak tahan untuk nimpuk dia adalah …, ketika lo sebagai sahabat memperingatkannya untuk sedikit merapikan tampilan, dia dengan songong menjawab : Kalo gue ikutan rapi kayak lu, nanti makin sedikit aja dong cewek-cewek yang naksir sama lo.             Atau kalau setan narsis di raganya lagi kabur, dia dengan polosnya bakal berceloteh …, “Om John nggak pernah tuh musingin penampilan. Tapi masih tajir dia daripada bokap gue,” katanya. Well, Om John yang dimaksud di sini adalah salah satu kerabatnya yang juga jadi konglomerat di tanah air.             Dan Romeo yang masih seperti itulah yang gue temui sekarang. Kalau gue ke ruangannya agak siangan, mungkin si tengil ini juga bakal nemuin gue sambil selonjoran dan melepas hampir separuh kancing kemejanya.             “Soal Theo …, udah gue pegang,” katanya, ketika kami hampir sampai di ujung pembahasan.                    “Bagus. Lainnya biar kita serahin ke pengacara lo aja,” ujar gue. Mengingat pengacara yang kami hubungi adalah Alistair, pengacara handal yang merupakan kenalan kami saat di organisasi kampus dulu.             Romeo mengangguk.             “Ya udah, kalau gitu gue balik dulu.”             “Eh Sen!” Alih-alih gue yang beranjak dari kursi, justru Romeo yang beranjak dari duduknya. Sambil menggaruk belakang kepalanya, dia mengetuk-ngetukkan kakinya ke lantai. Dan anehnya, sekarang malah meringis.             “Boleh sekalian ngomongin urusan di luar kerjaan nggak?” tanyanya.             Gue yang nyaris nggak percaya dengan pertanyaan barusan, langsung tergelak. “Ngomong aja kali. Lo kayak ngomong sama orang lain aja.”             “Ya kali aja lo buru-buru,” katanya.             “Kiara kayaknya udah nungguin gue di luar sih. Tapi nggak apa-apa ngomong aja.”             “Gila ya kalian berdua. Udah mau main pacar-pacaran di kantor gue aja! Dan gue malah nggak tahu kalau adik gue di sini!” seru Romeo, matanya sedikit melebar.             Gue cuma tertawa ringan.             “Bener-bener tuh anak, sekarang laporannya cuma ke elo doang!” Romeo menggeleng-gelengkan kepalanya.             “Udah buruan lo mau ngomong apa? Kasihan Kiara nih kelamaan nuggu,” sahut gue.             ”Ehm …, err…” Romeo tampak menghela napas. “Soal Khayana.”             Gue mengernyit. Ada apa sama Khayana?             “Lo kan kenal dia dari kecil tuh.”  Romeo berkata dengan hati-hati. “Kira-kira lo inget nggak dia suka apa, atau nggak suka apa? Soalnya gue tanya Kiara, bingung juga dia.”             Gue melempar tatapan menyelidik ke arahnya. Khayana adalah sosok yang harus gue lindungi karena dia satu dari sedikit keluarga yang gue punya. Apalagi bertahun-tahun ini, gue merasa harus membayar hutang janji yang selama ini gue abaikan, yaitu melindunginya. Karena itu, gue bakal selalu waspada terhadap setiap hal menyangkut Khayana. Termasuk dalam hal ini, kalau ada pria yang berniat mendekatinya. Terlebih kalau orang itu punya sejarah buruk dalam hubungan jenis ini, sekalipun itu sahabat gue.             “Lo nggak mau bilang kalau mau jadiin dia salah satu stok cewek lo, kan? Karena kalau iya, tangan gue udah siap buat bikin badan lo ringsek nih. Jadi lo nggak perlu repot-repot dateng ke persidangan besok.”             “Lo temen gue, Sen! Astaga ..., masa lo nggak bisa lihat kali ini tujuan gue beda? Lagian mana gue berani pamit ke abangnya dulu kalau gue mau macem-macem ke dia!” geramnya.             Gue memperhatikan raut mukanya. Raut yang hampir semua ekspresinya bisa gue artikan. Dan kali ini, saat memandang bara matanya, memang yang ada cuma keseriusan. “Maksud lo …, lo mau real relationship sama Khayana?”             “Makanya gue butuh saran dari lo,” balasnya disertai penekanan.             Gue mulai mencoba mengingat masa kecil gue dan Khayana. Kala itu, entah keberapa kalinya nasi goreng dihidangkan di meja makan sebagai menu sarapan. Khayana kecil yang saat itu bersiap untuk berangkat sekolah di SD nggak jauh dari panti, selalu lahap menyantap jatah sarapannya. Sering kali gue perhatikan, saat ada menu lain ..., seperti nasi putih, sayur, dan telur misalnya, Khayana tetap menjatuhkan pilihannya ke nasi goreng yang berasal dari nasi sisa semalam. Bahkan ketika Bunda dapat rejeki lebih dan kami akhirnya bisa makan agak mewah di rumah makan, selama rumah makan itu menyajikan menu nasi goreng spesial, Khayana akan selalu memilih menu itu.             Ragu-ragu, gue mulai bicara. “Khayana itu …, nggak bisa nolak kalau dikasih nasi goreng. Nggak suka buncis, sama takut tikus.”             Gue seakan merangkai untaian kenangan masa kecil bersama Khayana. Saat dia mengunci diri sendirian di kamar ketika yang lainnya memburu tikus di dapur, juga saat dia selalu menyisihkan buncis di piringnya ketika menyantap sup atau tumisan. Dan satu lagi!             Gue kembali menatap ke arah Romeo. “Dan dia nggak takut hantu. Jadi lo nggak usah modus dengan ngajak dia nonton film horror atau beruaha nakut-nakutin dia pas kalian lembur sampai malam.”             Seulas senyum khas tersemat di bibir Romeo. Gue kenal senyum itu. Senyum optimis Romeo saat yakin akan memenangi sebuah pertaruhan. Dan entah kenapa gue sedikit nggak nyaman dengan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN