ROMEO
Cuma ada dua tipe perempuan di dunia ini. Cewek yang lo mau habisin sisa hidup lo sama dia dan satu lagi adalah cewek yang lo mau habisin satu malam sama dia.
Teresa adalah salah satu perempuan yang mewakili satu kategori di atas. Malam-malam di New York, banyak gue habiskan bersamanya dulu. Teresa adalah tipikal perempuan yang dengan menggandengnya, lo akan punya semacam pride tersendiri. Dia adalah perempuan yang dengannya, lo kuat begadang semalam suntuk tanpa cemilan. Because y know, dialah cemilan itu sendiri.
Gue pertama kali bertemu Teresa di sebuah restoran cepat saji. Waktu itu gue lagi beliin makanan buat Sena yang lagi meriang kurang kasih sayang. Maklum, sahabat gue itu cuma pernah satu kali kencan selama kuliah. Itu pun kalau acara dansa di kampus masuk hitungan kencan. Akibatnya, ketika harus lembur di perpustakaan untuk mengerjakan tugas dari profesornya, pujaan hati Kiara itu sering kali telat makan dan akhirnya ngerepotin gue.
Singkat cerita, gue mengantri pesanan bersama Teresa. Satu keajaiban dalam diri gue langsung memancarkan sinyal ke sebuah alarm yang berisi perintah bahwa Teresa adalah perempuan yang terlalu cantik dan seksi untuk dianggurin. Gue pun menyempatkan untuk menyapa dan mengobrol dengannya. Beruntungnya, dia juga mahasiswa NYU. Terlebih, satu jurusan dengan Sena. Saat itu, mau gue maki aja tuh anak karena nggak ngenalin temennya ini ke gue.
Hubungan kami berjalan sepanjang musim gugur dan musim dingin. Faktor yang membuat hubungan itu berlangsung cukup lama adalah karena kami sama-sama tahu, bahwa masing-masing dari kami adalah player. Namun seperti permainan pada umumnya, akan ada yang kalah dan ada yang menang, atau paling enggak, bertahan.
Berbulan-bulan bersama, membuat gue menyadari bahwa Teresa tanpa sadar terlalu banyak menginvestasikan perasaan ke dalam hubungan kami. Gue yang nggak mau menorehkan luka terlalu dalam karena sewaktu-waktu harus meninggalkannya, akhirnya memutuskan untuk selesai dan nggak memperpanjang masa kencan kami seperti yang kami lakukan di bulan-bulan sebelumnya. Karena gue tahu, gue nggak bisa memberikan hal yang sama. Gue nggak bisa merubah pandangan gue terhadapnya. Dari perempuan tipe nomor dua, menjadi perempuan tipe nomor satu yang gue sebutkan tadi. Dan saat kami bertemu lagi, yang terjadi adalah seperti ini ….
“Ada yang nemenin kamu ya selama ini?” Teresa bertanya usai memberitahukan pesanan ke pelayan restoran. Gadis berparas manis yang kini mengangguk ramah setelah gue berikan senyum singkat ke arahnya.
Setelah si manis itu berbalik sambil membawa daftar pesanan kami, gue beralih ke Teresa. Menjawab pertanyaannya seraya menggeleng. Tahu apa maksud frasa “nemenin” yang dia bilang.
“Romeo Syadiran nggak berubah impoten, kan?”
Gue tertawa. “Sepertinya mending mati daripada itu,” jawab gue.
Senyum Teresa memudar. “Jadi siapa? Perempuan yang bikin kamu betah begini?”
Itulah misteri dari perempuan tipe pertama. Kita nggak pernah tahu kenapa perempuan jenis mereka membuat kita rela diperlakukan seperti ini. Seperti Khayana memperlakukan gue. Almost six months for not getting laid since I see her walking in my office. It’s kinda impossible for Romeo Syadiran. Jelas Teresa mikir gue impoten!
****
Malam cukup larut saat gue kembali ke kantor. Ada sesuatu yang harus gue cek menyangkut agenda besok pagi. Sebagian besar lampu telah dimatikan. Langkah gue terhenti saat mendapati satu meja dengan lampu masih menyala. Khayana.
“Kamu masih di sini, Na?”
Khayana buru-buru bangkit dari kursinya, mencoba merapikan rambut juga pakaiannya yang sedikit kusut. “Bapak nggak menjawab panggilan saya, jadi saya tunggu di sini. Takut Bapak butuh apa-apa dan saya terlanjur pulang.”
“Ya Tuhan…, saya lupa bilang kalau kamu bisa pulang setelah jam kerja.”
Khayana melirik jam yang terpajang di dinding, kemudian mengangguk. “Kalau gitu saya pulang sekarang.”
Beberapa detik dihabiskan Khayana untuk membereskan meja kerjanya dan berakhir dengan mengalungkan tas ke bahunya. Selama itu pula gue memperhatikannya. Khayana sudah menunduk untuk pamit dan berjalan melewati gue dengan sepatu hak tingginya ketika akhirnya gue meraih tangannya.
Langkahnya terhenti. Pandangannya secara spontan mengarah ke gue. Mencari tahu apa yang gue kehendaki. Dan sebelum dia sempat bertanya secara verbal apalagi memberikan penolakan, gue menggenggam tangannya kemudian membimbingnya berjalan. “Malam ini kamu saya antar. Nggak boleh nolak!”
Gue bisa merasakan respon dari tangannya yang berusaha melepaskan. Namun kali ini, gue nggak akan memberikan kesempatan untuknya bertindak sesuka hati.
****
Gue berhasil membawa Khayana pulang sampai ke rumahnya. Ya, berhasil mungkin bukan ungkapan yang berlebihan mengingat kukuhnya pendirian Khayana selama ini, juga gugupnya gue kalau berhadapan dengannya dalam situasi di luar pekerjaan.
“Sekali lagi saya minta maaf kalau akhirnya bikin repot. Seharusnya saya bisa ngira-ngira kalau kegiatan Bapak tadi bisa menghabiskan waktu lama.”
“Saya nggak merasa direpotkan sama sekali. Dan…,” Gue menatapnya. “Na, bisa nggak?” Gue menghela napas. “Mulai sekarang kalau di luar jam kerja dan nggak di lingkungan kantor, panggil saya Romeo aja.”
Air muka Khayana tampak sedikit tercengang. Lalu dengan mengalihkan pandangan, dia membuka sabuk pengaman. “Saya masuk dulu. Makasih udah nganter saya.”
Khayana membuka sendiri pintu mobil kemudian menginjakkan kaki ke tanah. Tiba-tiba kalimatnya beberapa saat barusan berkelebat di kepala gue. Kegiatan seperti apa yang dia maksudkan tadi?
“Na..,” panggil gue sebelum dia benar-benar keluar dan menutup pintu. “Teresa teman lama saya. Dan tadi itu bukan kencan,” ucap gue yang entah kenapa berpikir kalau perlu sekali mengatakan kalimat itu.