BAB 9

909 Kata
ROMEO            Yang gue suka dari Khayana :             1. Dia jutek. Jadi gue nggak perlu khawatir istri nanti gue digodain orang.             2. Dia disiplin. Berkaca dari bapaknya yang bandel begini, anak gue pastinya         butuh sosok ibu kayak Khayana.             3. Dari pada Bu Khayana, dia lebih cocok dipanggil Nyonya Romeo.             Istri? Anggap saja itu khayalan gue yang paling mulia.             Dan wanita yang lagi gue omongin itu sekarang sedang berakting ramah kepada lawan bicaranya di telepon. Mungkin klien, sekretaris dari bos besar lain, atau sekretaris dari pejabat yang lagi gue pepet untuk kelancaran bisnis. Gue ingat udah minta Khayana untuk mencari dan menghubungi orang-orang itu kemarin.             Jam istirahat udah tinggal beberapa detik lagi. Gue menuju meja Khayana tepat saat dia meletakkan gagang telepon dan menghela napas. Mungkin lelah karena aktingnya kali ini membutuhkan waktu cukup lama. Gue mengulum senyum membayangkannya.             “Makan siang?” tanya gue setelah sampai di mejanya. Dan sebelum dia sempat menolak, gue buru-buru bicara lagi. “Ada yang mau saya omongin sama kamu.”             Silahkan puji kemampuan gue karena kami akhirnya berada di satu meja yang sama di kafetaria.             “Kalau saya ajak kamu ke pesta ulang tahun mama saya, kamu mau nggak?” Seperti biasa, gue lah yang mulai bicara.             Khayana urung memasukkan potongan kentang ke mulutnya. Menatap gue. “Bukan acara kantor?”             Gue tahu Khayana selalu mengaitkan sesuatu dengan pekerjaan.             “Pesta ini bakal jadi satu sama peresmian brand kosmetik yang dipegang mama saya. Jadi kalau kamu tanya ini soal kerjaan atau enggak, sebenarnya ada kaitannya juga sama Grup.”             “Saya akan datang kalau Bapak minta saya untuk datang.”             Mendengar respon itu, gue bertanya-tanya bagaimana bisa seorang gadis yang nggak lagi melucu atau bersikap manja justru membuat gue gemas.             “Na, saya tanya kamu mau atau enggak. Bukan ngasih tahu kamu harus datang atau enggak.”             Khayana menatap gue, terlihat berpikir. “Kalau gitu saya mastiin jadwal saya dulu bisa atau enggak.”             Well, intinya dia mau kan? Cuma tinggal bisa atau enggak. Detik berikutnya gue tersenyum karena menyadari sesuatu. Bahwa untuk pertama kali dalam hal  mengajak perempuan, gue yang menunggu kepastian. Bukan gue yang ditunggu kepastiannya.                          KHAYANA            Namanya Teresa. Wanita yang mengaku sebagai teman Romeo dari New York dan pagi-pagi sudah menguji kesabaranku. Ia ingin tahu jadwal Romeo dan memaksaku untuk mempertemukannya dengan bosku itu tanpa membuat janji terlebih dulu. Padahal, Romeo sedang banyak musuh dan tidak bisa sembarangan menemui orang. Semua orang yang akan menemuinya harus aku konfirmasi dulu terhadapnya meski sebelumnya sudah melewati receptionist. Namun cewek bule rambut cokelat ini melarangku dan merengek bahwa surprise-nya akan gagal jika aku menelpon Romeo untuk menanyakannya.             Alhasil, aku meminta gadis bernama Teresa itu menunggu di sofa dekat mejaku. Wajahnya terlihat tidak senang. Padahal dia termasuk beruntung karena aku tidak menyuruh satpam untuk membawanya keluar.             Belum lama perempuan jangkung itu duduk, matanya berbinar ketika melihat bosku keluar dari ruangan.             “Romy!” serunya yang langsung menghambur ke tubuh laki-laki setinggi sekitar 180-an entah lebih berapa sentimeter itu. Tidak jauh berbeda dari tinggi si bule yang makin terlihat seperti menara listrik karena stiletto-nya.             “What are you doing inside, young president? Aku hampir karatan karena dipaksa menunggumu di sini.” Teresa mengoceh dalam Bahasa Inggris. Tangannya masih tinggal di kedua pundak Romeo ketika bicara.             “Itu prosedur, Teresa. Khayana adalah stafku yang paling disiplin. Bahkan ibuku sekali pun akan rela dia lawan kalau itu menyangkut prosedur,” balas Romeo. Aku pura-pura tidak menyadari ketika ia menanggapi Teresa sembari melirikku.             Teresa berdecak kesal sebelum akhirnya menghela napas tanda memaklumi. “Oke, aku akan memaafkanmu asal kau cepat-cepat membawaku pergi dari sini. Aku tidak ingin lama-lama di sini dan tertular cepat menua seperti stafmu.”             Aku sudah ingin muntah karena terpaksa mendengar ocehan Teresa ketika sosok Romeo tiba-tiba mendekati mejaku.             “Bisa kamu atur ulang pertemuan saya sama Theo? Bilang saya ada urusan mendesak.”             “Theo Wardhana adalah salah satu yang sulit ditemui. Kita nggak bisa membatalkannya begitu saja,” sergahku. Ia tidak tahu betapa susahnya aku membujuk sekretaris Theo supaya bersedia menyambungkanku dengan bosnya. Belum lagi menjadwalkan pertemuan ini di tengah jadwal mereka berdua yang nyaris menyamai jadwal presiden.             “Saya tahu.” Romeo menghela napas. Menoleh ke arah Teresa sekilas kemudian beralih menatapku dan tersenyum. “Saya dengar dia ikut klub golf di Modernland. Daftarin saya ke sana dan usahain jadwal saya bareng dia.”             Aku menghela napas. Apa boleh buat? Aku hanya bawahannya. “Baik.”             Romeo tampak mengamatiku, kemudian ia mengatakan sesuatu. “Maaf,” katanya.             Aku mendongak. “Ya?”             “Untuk sikap Teresa tadi.”             Aku tersenyum, yang kutahu pasti tampak kaku. “Bukan apa-apa. Memang saya salah sudah bersikap kurang sopan sama dia.”             “Kalau gitu saya pergi dulu,” ujarnya sebelum akhirnya melenggang keluar bersama Teresa yang bergelayut manja di lengannya. Dan Romeo tidak terlihat terganggu dengan itu.             Aku mencari nomor telepon kantor Theo Wardhana. Berharap bisa mengalihkan dari apa yang kusaksikan. Karena tahu semestinya aku mengabaikannya. Ada banyak hal penting yang harus kulakukan. Mengatur ulang jadwal Romeo salah satunya. Namun, aku justru menghabiskan beberapa detik dalam hidupku untuk memperhatikan adegan Romeo dengan wanita yang mungkin kekasihnya itu. Membuatku nyaris mengabaikan Gina, sekretaris Theo yang sudah menyapaku di seberang. Karena ternyata kami sudah tersambung.             Aku memaki diriku sendiri, lalu mulai berbicara dengan Gina. Namun lagi-lagi, mataku kembali mengarah ke pintu kaca yang baru saja dilewati Romeo. Hari itu, untuk pertama kalinya jika tidak ada janji dengan klien atau acara penting lainnya, Romeo tidak menawariku makan siang bersama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN