Khayana Sepasang suami istri itu menghampiriku lebih dekat. Mereka seolah baru saja membeli mainan dari toko. Dalam hal ini, aku lah yang mereka beli, sedangkan tokonya adalah panti asuhan. Di rumah mereka yang seakan tersisih dari peradaban di Bogor, mereka memainkan peran sebagai orang tua asuhku. Namun alih-alih menjadi orang tua, mereka justru memandangku sebagai samsak yang layak menerima luapan amarah mereka.
Dering ponsel menarikku dari belenggu alam mimpi. Aku mengatur napas, lalu menggapai ponsel yang terletak tak jauh dari tempat tidur. Setelah mengerjap-ngerjapkan mata dan berusaha beradaptasi dengan cahaya, aku bisa membaca nama siapa yang muncul di layar. Rupanya Romeo. Sulit dipercaya, kebiasaannya yang suka menyuruh-nyuruh di jam-jam tidak wajar bukannya mengganggu waktu istirahatku, namun sering kali justru menyelamatkanku dari mimpi buruk. Kali ini, perintahnya adalah memintaku untuk memesankan tempat untuk pertemuannya dengan wakil direktur dari perusahaan lain.
Aku membalas pesannya kemudian segera mencatat permintaannya di catatan terkait tugas-tugasku hari ini. Jam masih menunjukkan pukul tiga pagi. Aku sempat berpikir apakah Romeo mendapatkan ide briliannya di jam-jam seperti ini, ataukah dia sengaja membangunkan karyawan-karyawannya dini hari seperti ini supaya tidak telat ke kantor.
Diam-diam, aku menggeser-geser layar hingga sampai ke kontak Kak Sena. Dalam kondisi seperti ini, tak jarang aku mengetuk kamar Sheryl dan meminta tidur bersamanya. Namun kali ini, aku lebih memilih menggeser-geser layar hingga sampai pada kontak Kak Sena.
Sempat timbul keberanian untuk menekan tombol panggilan. Berharap ketika mendengar suaranya, ketakutanku akan luruh seiring percakapan kami. Namun, keberanian itu hanya sampai di ujung jemari dan tidak pernah bermuara. Aku pun kembali meletakkan ponsel. Berpikir bahwa jika aku menghubunginya, bukan hanya mengganggu istirahatnya, namun mungkin juga akan membuatnya khawatir. Alih-alih mengajak orang untuk bicara, aku justru terperangkap dalam ingatan masa lalu.
Aku mengenyam kehidupan di asrama sejak usiaku lima belas tahun. Saat hak asuh Teno, ayah angkatku, dicabut. Pencabutan itu terjadi setelah tiga tahun ditambah hampir tiga bulan yang berat aku lewati bersama orang tua angkatku, sepasang suami istri yang datang dalam mimpiku-mimpiku selama ini. Tiga tahun yang berat itu kemudian ditutup dengan kematian Lena, ibu angkatku. Tinggal lah aku bersama Teno yang masih memegang penuh hak asuhku. Waktu itu, aku mengira bahwa penderitaanku akan sedikit berkurang. Hingga babak gelap yang lebih menakutkan dari apapun yang pernah kubayangkan sebelumnya tiba. Beruntung aku lebih dulu menemukan jalan kabur melalui gerbang kediaman kami, bukan melalui gerbang kematian.
Saat itu aku bertanya-tanya. Setelah bebas dari Teno, lalu apa? Aku tidak lagi memiliki siapa pun. Satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah bertahan hidup, yang jika beruntung aku akan bertemu kembali dengan Kak Sena. Dan kini, saat bertemu dengannya kembali, aku justru dihadapkan pada kalimat itu ….
Kamu bisa cerita ke Kakak, Na. Kak Sena ini kakak kamu. Kamu nggak lupa, kan?
Bagaimana mungkin aku lupa? Itu adalah fakta yang bertahun-tahun ini menjadi peganganku untuk bertahan hidup.
Namun, aku tidak tahu kenapa aku ingin menangis saat mendengar sendiri kalimat itu dari mulutnya. Menyadari fakta bahwa ternyata ada yang lebih menyakitkan dari tidak melihatnya selama ini. Bahwa ada yang lebih membuatku putus asa dari pada menyimpan harap untuk kembali bertemu dengannya. Bahwa hal itu adalah melihatnya di depan mata namun jelas-jelas tahu bahwa ikatan kami memang sebatas itu.
Entah kenapa hal itu menjadi sangat menyakitkan. Padahal selama bertahun-tahun, itulah harapan yang senantiasa kujaga. Kembali melihatnya sebagai kakakku. Namun saat semuanya menjadi kenyataan, semuanya sama sekali berbeda. Bertemu kembali dengannya, dengan adanya Kiara di sisinya seolah menggarami lukaku. Memangkas benih harapan yang sempat bersemi ketika aku melihatnya di kantor siang itu. Karena sampai kapan pun, statusku fakta bahwa aku adalah adiknya sudah tertanam kuat dalam dirinya.
Kiara Kak Romy pernah berniat memelihara buaya betina yang akan diberinya nama Juliette hanya untuk mengingatkannya supaya tidak jadi buaya. Karena jika dia sampai jadi buaya bagi para gadis yang menggilainya, artinya dia benar-benar akan jadi Romeo-nya Juliette, buaya betina di kolam halaman belakang rumah.
Sayangnya, niat itu tidak pernah terwujud. Kak Romy ternyata lebih rela duitnya dipakai untuk adopsi kuda besi 250cc keluaran terbaru daripada nebus Juliette di penangkaran yang bakal jadi calonnya. Alhasil, kolam di halaman belakang pun cuma berisi ikan-ikan koi dan Kak Romy masih mengidap penyakit playboy kronis.
Aku sedang membingkai lukisanku di beranda yang menghadap kolam itu ketika sepasang tangan menutup mataku.
Sambil meraih tangannya, aku menggumam. “Aku denger suara mobil kamu tadi.”
Dan si empunya tangan pun membiarkan mataku terbuka. Aku berbalik.
“Yah, gagal dong bikin kamu kaget.”
Kak Sena tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya. Tampak kecewa karena upayanya untuk mengejutkanku menurutnya gagal.
“Tetep berhasil kok. Sekarang aku lagi terkejut,” kataku riang.
Kak Sena menatapku heran. “Kok bisa?”
Your smile, darling …, your smile …, ucapku dalam hati. Bagiku, senyumannya selalu seperti yang pertama bagiku. Mengejutkanku.
Aku hanya berkata singkat. “Rahasia.”
Melihatku senyum-senyum sendiri, tangan Kak Sena terulur memainkan hidungku. Kebiasaannya dari dulu. “Kamu nih,” katanya.
Aku meraih tangannya kemudian menggoyang-goyangkannya sebentar. “Kamu udah ke Opa?”
“Belum. Kayaknya ada yang lebih buru-buru pengen ketemu aku daripada Opa,” sahutnya sambil menatapku.
Aku memalingkan wajah. “Yang janji mau ke sini bukannya situ, ya?”
“Oke, kalau gitu aku pulang sekarang.”
“Eh, kok pulang?” tanyaku, kembali menatapnya lagi. Dan tanpa sadar genggamanku di tangannya mengerat.
Menyadari itu, Kak Sena tersenyum. Ia melepaskan genggamannya dari tanganku kemudian meraih kedua pipiku dengan gemas. Lalu tiba-tiba kurasakan kecupan kilat di kepala. “Yuk, temenin ke Opa sebentar. Habis itu …”
Sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, aku menghambur ke pelukannya. Memeluknya erat. Merasakan detak jantungnya, napasnya yang berembus di puncak kepalaku, juga menghirup aromanya yang membuatku ingin berlama-lama seperti ini.
“Aku kangen kamu,” bisikku, mengeratkan pelukan yang sudah erat.
Detik kemudian, aku merasakan Kak Sena membalas pelukanku. Membuat semuanya makin sempurna.