BAB 7

1312 Kata
ROMEO             “Kali ini serius, ya?” Kiara menatap gue dengan mata menyala ceria. Senyum yang mengembang di wajahnya menjadi pertanda setumpuk kelegaan tengah menyelimutinya.             Gue tersenyum, yang mungkin dipikirnya sebagai gesture untuk memantik rasa penasarannya. Namun sebenarnya, gue sedang dalam momen bertanya pada diri sendiri.             “Serius? Kali ini?”              Gue emang udah melabeli Khayana sebagai wanita yang bakal gue dapatkan sejak dia muncul di kantor dengan raut tegas di pagi yang cerah sekitar lima bulan lalu. Satu-satunya gadis yang meski terlihat pucat karena sakit, masih berkeras menolak untuk pulang bareng gue dan justru sibuk menelpon supir yang waktu itu terlambat datang untuk menjemput gue. Satu-satunya gadis yang sama sekali nggak gentar menghadapi nyokap gue saat beliau berkunjung ke kantor dan mulai memerintah dan marah-marah ke beberapa staf. Well, kebiasaan beliau kalau sedang jenuh di rumah dan lagi nggak ada jadwal arisan atau peresmian brand di luar.             Intinya, Khayana adalah gadis sederhana, yang nggak bakal rewel kalau harus diajak jalan kaki lama. Gadis sederhana yang nggak bakal ngomel kalau pacarnya kencan cuma pakai sandal. Dan gadis yang nggak bakal peduli atau ribut soal merk jam tangan atau parfum apa yang digunakan pasangan kencannya. Tapi memiliki kualitas pemikiran dan perlilaku yang setara dengan gadis-gadis berkelas. Berbeda dengan gadis polos yang sempat gue kencani saat mahasiswa dulu. Polos, yang kebablasan.             Khayana beda. Dia tangguh dan nggak matrealistis. Tapi, cerdas dan yang pasti nggak akan malu-maluin kalau menggandeng dia di acara-acara besar.             Selain faktor susahnya mendapat simpati dari Khayana dibandingkan dengan perempuan lain, selama ini belum ada hal lain yang gue bandingkan. Sampai Kiara melontarkan kalimat itu. Keseriusan gue. Kali ini? Dengan Khayana?             Gue menarik pertanyaan Kiara ke pertanyaan lain yang jauh lebih mendasar. Apakah selama ini gue nggak serius? Dan kalau pun jawabannya adalah enggak, kenapa kali ini harus serius?             “Kiara itu sepupu kesayangan lo, kan? Waktu lo mainin perasaan cewek, lo nggak pernah mikir gimana seandainya ada cowok yang mainin perasaan dia persis seperti yang lo lakuin?”             Sena pernah menanyakan kalimat itu saat kami sama-sama di New York dulu. Mungkin karena saking frustasinya terlibat dalam aksi kucing-kucingan gue dengan beberapa cewek. Terutama kalau sampai si cewek dan gengnya yang buntu karena nggak bisa nemuin gue, menjadikan Sena bulan-bulanan untuk diinterogasi.             Waktu itu, gue setengah acuh menanggapi kalimatnya karena sibuk mengganti stasiun TV. “Gue cuma menjalani apa yang gue komitmenkan dari awal. Kalau dari awal gue niatnya cuma buat sebulan, ya sebulan. Dan gue menjalani semua itu dengan serius.”             “But you know most of girls deal with their feeling.”             Gue menoleh ke arahnya. “And still chasing me. Jadi salah siapa?”             “Lo nggak ngerti apa yang gue omongin,” tukasnya.             Gue menghentikan kegiatan gue. Membiarkan televisi menampilkan adegan serial Netflix, kemudian menoleh ke arahnya yang saat ini tengah menyalin sesuatu di jurnalnya. “Mereka yang terpuruk adalah mereka yang nggak siap sama risikonya.”             Dan ketika mata Sena beralih dari bukunya dan menatap gue, gue melanjutkan. “Kiara, adalah pribadi yang siap dengan risiko.”             Sena yang waktu itu berubah jadi sok penceramah itu cuma mengangkat alis.             Gue mengulum senyum. Mengingat siapa yang seharusnya dia khawatirkan untuk bisa membuat seorang Kiara sakit hati. “Lagi pula orang yang ditaksir Kiara cuma lo. Orang paling serius dan ngakunya paham sama perasaan cewek. Jadi apa yang musti gue khawatirin?”             “Lo mulai lagi,” keluh Sena. Selalu nggak nyaman kalau gue membahas perihal dirinya dan Kiara yang baginya hanyalah hubungan seperti seorang kakak dan adiknya. The biggest bullshit ever! Gue yang kakak sepupunya aja nggak seperhatian dan sesabar itu ke Kiara.             Dan kembali ke soal Khayana, pertanyaan pertama udah gue jawab dengan jelas bahwa gue menjalani permainan gue selama ini secara serius dan tetap mengacu pada komitmen awal. Tapi dengan Khayana, gue nggak tahu apakah prinsip itu masih berlaku.             Dan kenapa Khayana? Kenapa dia bisa memporak-porandakan aturan main gue? Well, dengan segala keistimewaannya dibanding gadis lain, lantas apa? Kenapa gue bahkan nggak berselera untuk melirik gadis lain meskipun sampai sekarang hubungan gue dengannya nggak berkembang. Sampai sekarang gue belum menemukan jawabannya.   SENA Dari dulu, Bunda Salma selalu terlihat lebih muda dari usianya. Kiara yang pernah gue ajak ke sini waktu ulang tahun Bunda yang ke lima puluh, mengira bunda masih kepala empat. Gue ingat tawa gue langsung pecah saat dia bilang ingin bergelut di dunia yang erat dengan anak-anak juga. Entah itu sekolah atau panti asuhan, supaya bisa awet muda seperti Bunda.             Hari ini Bunda juga masih segar bugar. Meski udah ada juru masak dan anak-anak yang terkadang juga piket di dapur, kedatangan gue dan Khayana seolah memberikan tambahan energi bagi Bunda. Beliau berkeras menyiapkan hidangan kesukaan kami dengan tangannya sendiri.             “Nggak ada yang ngalahin. Kayak biasanya,” ucap gue setelah mengganyang sup bikinan Bunda. Hangatnya seperti menggelontor sisa-sisa sampah metropolitan yang bersarang di tubuh gue.             Bunda tersenyum bangga seakan baru saja mendapat kupon berhadiah kulkas dua pintu yang bisa diisi banyak es krim untuk anak-anak panti.             “Kalian jangan bosan main ke sini. Bagi-bagi pengalaman ke adik-adik kalian di sini,” kata bunda lembut.             Gue dan Khayana mengangguk.             “Nana minta maaf baru bisa jengukin Bunda sekarang.”             “Nggak, sayang. Bisa lihat kamu lagi aja Bunda udah seneng.” Bunda mengusap pipi Khayana. Matanya berkaca-kaca, kemudian beralih ke gue. “Kamu ajak juga Kiara ke sini, Sen.”             Gue tersenyum, menenggak sisa minuman gue. “Aku usahain. Dia juga udah kangen sama Bunda dan anak-anak di sini kok.”             Bunda mengusap air mata yang sempat membasahi sudut matanya. Tersenyum senang. “Oh ya? Anak itu …, Bunda ingat kali pertama dia ke sini malah kamu jahilin suruh mompa air.”             Gue tergelak. “Kiara yang mau, Bunda …, dia emang agak petakilan anaknya.”             Kami tertawa. Entah kenapa suasana selalu bisa kembali ceria saat membahas Kiara. ****             Matahari Sabtu udah mulai meninggi. Gue menyusuri jalan setapak di samping panti bersama Khayana setelah sekian tahun kami nggak melewati berjam-jam bersama.             “Jadi Kiara sering ikut ke sini?” Khayana memecah sepi yang tadinya cuma diisi suara mesin pemotong rumput tetangga.             “Nggak sering. Baru dua kali. Tapi udah kayak keluarga sendiri kalau ketemu. Dia orangnya cepet akrab.” Gue mengingat saat anak-anak panti langsung menghambur ke pelukan Kiara saat kali ke dua gue mengajaknya ke panti. Gue yang saat itu masih ke arah bagasi untuk mengambil koper berisi buku-buku dan alat menggambar bawaan Kiara untuk anak-anak, diabaikan begitu saja.             Khayana mengangguk. Saat nggak ada satu dua patah keluar dari mulutnya, gue memperhatikan raut wajahnya. Dan lagi-lagi mendapati raut itu. Raut sendu yang nggak gue temukan pada Khayana kecil gue. Raut sendu yang mesti ditutupi tawa, masih tercetak jelas di wajahnya.             “Kamu kenapa?”             Kali ini dia menggeleng.             Gue mulai bertanya-tanya apa Khayana yang sekarang cuma bisa ngangguk dan geleng-geleng ketika ditanya. Gemas, gue meraih bahunya. Mencoba mengembalikan peran gue yang dulu. “Kamu bisa cerita ke Kakak, Na. Kak Sena ini Kakak kamu. Kamu nggak lupa itu, kan?”             Wajah Khayana terangkat, matanya menatap gue sejenak lantas berpaling dan tersenyum. “Kalau ada hal yang nggak akan pernah aku lupain seumur hidup, itu adalah fakta kalau aku punya kakak namanya Sena.”             Gue tersenyum. Kemudian mengenyahkan keraguan untuk mengacak pelan rambutnya. “Anak pinter.”             Khayana tertawa. Akhirnya. Dia merapikan rambutnya, kemudian berjalan mendahului. “Aku mau cari bunga yang pernah aku tanam dulu. Kayaknya di sebelah sana.”             “Bunga yang kamu stek dari potnya Bu RT, ya?”             Khayana menoleh, rambutnya yang sebahu sedikit melambai saat berbalik. Matanya agak melebar karena terkejut. “Kakak masih ingat?”             Gue berjalan menyusulnya. “Kan Kakak yang nganterin kamu ngetuk rumahnya Bu Rt waktu itu.”             Mendengar itu, Khayana nggak menjawab apa-apa. Matanya yang berbentuk sleepy eyes itu berbinar seolah menghidupkan sesuatu. Dan tanpa butuh waktu lama, kami menemukan tanaman itu. Bunga anggrek yang kebetulan sedang mekar. Membuat senyum pemiliknya ikut merekah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN