KHAYANA
Aku tidak tahu kenapa mendadak kesal ketika mendapati Kak Sena dan Kiara malam itu. Juga kenapa Kak Sena seolah-olah berusaha menjelaskan apa yang dilakukannya dengan Kiara. Seolah aku membutuhkannya. Seolah kami membutuhkannya. Membuatku merasa dijejali kenyataan.
Aku tahu. Sekeras apapun Kak Sena mencoba menunjukkan padaku bahwa apa yang dilakukannya dengan Kiara bukan apa-apa, tidak akan merubah fakta bahwa mereka adalah pasangan.
Dan ketika ia mendekapku untuk menghindarkanku dari pengendara motor yang nyaris menyerempet tubuhku, aku merasa harus menghindari situasi serupa di kemudian hari jika tidak ingin tertusuk duri lebih dalam.
Itu sebabnya aku menerima ajakan Romeo untuk menjadi pasangannya di pesta. Dan inilah yang terjadi. Sheryl mendandaniku dengan antusias. Bahkan beberapa hari sebelumnya ia sengaja pulang lebih awal untuk mencarikan gaun yang cocok untukku. Ya, dia yang mencarikan. Bukan aku. Karena dialah yang sangat antusias dengan acara ini.
Menjelang pukul tujuh, Romeo tiba bersama Pak Armand, supir pribadinya. Ia mengenakan setelan biru tua, perpaduan sempurna dengan gaya rambut dan wajahnya yang rupawan.
Apa aku pernah bilang bahwa bosku masuk kategori rupawan? Mungkin belum. Tapi rasanya, curang kalau aku tidak memberi tahu kalian. Mungkin saking rupawannya bagi seseorang yang pertama kali melihatnya dari dekat, Sheryl sampai beberapa kali mati gaya dibuatnya. Ehm, untuk yang ini memang paket bonus dari Romeo. Dia jago merayu wanita.
ROMEO
Dan gue memang nggak salah pilih calon istri! Oke, silahkan teriaki gue ngayal atau apa. Tapi makin ke sini, gue tahu bahwa apa yang gue rasakan ke Khayana nggak main-main. Setelah tadi Khayana banyak membantu gue dengan gambar yang dibuatnya setelah tiba-tiba gue kehilangan peraga untuk presentasi, kali ini Khayana menunjukkan sisi lain darinya yang langsung membuat poinnya di hati gue meroket. .
Tahu lagu Christina Perry yang buat soundtrack Twilight? Apa tuh judulnya? Kiara suka banget tuh lagu. Kalau nggak salah ada lirik : I will not let anything take away what’s standing in front of me. Nah, alam seakan mengiringi gue untuk mendendangkan dan menyetujui kalimat itu saat ini.
Gimana enggak? Khayana membuat gue rela menebas apapun yang bakal menghalangi gue demi menjemputnya di ujung gerbang kontrakannya dan menuntunnya masuk ke mobil. Dia mengenakan dress berwarna putih dengan renda di bagian d**a atas dan lengannya. Menampilkan kulitnya yang terbungkus malu-malu. Rambutnya ditata ke samping sehingga memperlihatkan lehernya yang bikin gue mati-matian menegakkan leher supaya nggak jatuh bersandar ke sana sepanjang perjalanan. Matanya yang biasanya tegas terlihat lebih teduh dengan bulu mata lentik yang sedikit ditonjolkan. Juga rona merah pipi yang entah bagaimana membuatnya lebih tampak berisi. Padahal biasanya Kiara bilang, rona merah pipi dia pakai untuk menampakkan kesan tirus di pipinya yang agak tembem. Tapi kenapa Khayana justru tampak lebih berisi dan manis? Gue benar-benar kehilangan ide soal makhluk bernama wanita sekarang. Gimana mereka bisa seajaib ini? Sepertinya sejak gue jatuh cinta ke Khayana, gelar penakhluk wanita bakal cabut dari nama gue.
“Apa kedengeran basi kalau saya bilang kamu cantik, Na?”
Khayana menoleh. Oh, gue lupa bilang kalau bibirnya terlihat alami tapi tampak begitu lembab dan manis. Dan gue bersyukur banget mata gue masih berfungsi dengan baik ketika akhirnya bibir itu menarik senyuman. Senyumnya yang mahal.
“Memuji wanita dengan kata cantik memang kedengaran basi. Tapi saya tahu kamu bukan pembual.”
Hei dunia! Kalian dengar itu? She knows the good about me!
“Boleh saya kasih sesuatu buat kamu?”
Sebelum dia membuka mulut untuk menjawab, gue buru-buru menambahkan. “Bukan apa-apa.”
Gue meraih dan membuka kotak bludru hitam berisi hiasan rambut yang tampak berkilau saat cahaya lampu jalanan menerobos jendela dan menerpanya. “Kalau kamu nggak mau nggak apa-apa. Sebenernya ini ide Kiara.”
“Saya nggak akan bikin Kiara kecewa di hari ulang tahun mamanya,” ucapnya lembut.
Akhirnya, dengan jantung bertalu-talu karena terlalu bersemangat, gue mengambil hiasan itu. Kemudian dengan bergetar, tangan gue mendekat perlahan ke kepala Khayana. Saat dia sedikit maju untuk memberikan kepalanya, sambil menahan napas, gue menyematkan hiasan itu ke rambut Khayana dengan hati-hati. Dan nyawa gue seakan lolos dari tubuh saat hiasan itu akhirnya berhasil tersemat di rambutnya. Gue pun mengamini kenapa wanita bisa disebut bidadari jatuh dari surga meski gue berani taruhan nggak ada cowok di bumi yang pernah lihat bidadari yang sebenarnya. Karena wanita yang udah bertakhta di hati kita memang seindah itu, Man! Gue bersyukur aja karena nyawa gue disegel kuat oleh Tuhan sehingga nggak begitu aja lolos saat gue dibuat melayang berkali-kali sepanjang perjalanan ini.