BAB 15

1368 Kata
SENA             Suasana kediaman Syadiran ramai oleh para tamu yang merupakan kerabat dan kolega terdekat. Tahun ini Tante Wulan memasuki usianya yang ke lima puluh satu. Kerut halus di lipatan matanya saat tersenyum menyambut tamu, menegaskan bahwa beliau sudah melewati setengah abad pertama di dunia. Meski begitu, seperti semboyan Grup Syadiran di dunia bisnis, nggak ada kata tua untuk bergeliat di pasar, yang ada adalah kematangan dan pengalaman. Seperti ketegasannya yang masih kental saat beliau menatap tajam pelayan yang sempat melakukan kesalahan kecil di acara agungnya. Diam-diam gue mendesah.             Gue baru aja menyesap koktail saat Kiara mendekat. Dia mengenakan gaun malam gelap, warna favoritnya. Seperti otomatis, tangan gue langsung terulur untuk bertemu dengan jari-jarinya yang lembut.             Kiara selalu suka saat tangannya digenggam. Kalau sudah begini, bisanya dia menyandarkan kepalanya di bahu gue. Kali ini sembari mengamati tamu yang berdatangan. Namun, demi sesuatu yang masuk melewati pintu utama, Kiara menghentikan aktivitas yang disukainya itu.             “He really did it!” pekiknya riang, sehingga bangun dari sandarannya.             Gue mengikuti arah pandangnya. Benar saja, Romeo sedang memasuki pesta sambil menggandeng seorang gadis. Gadis yang kami kenal. Khayana, yang ..., gue bahkan lupa kalau dia adalah gadis yang sama dengan gadis kecil yang beberapa tahun lalu sempat mencoreng-coreng wajahnya dengan cat air.             Gue masih enggan melepas tatapan dari sosok itu ketika mengikuti Kiara menghampirinya.             “You look great, Na!” ujar Kiara usai memeluk dan mencium pipi kanan dan kiri Khayana. “Don’t play with her!” katanya sengit, yang kali ini ditujukan pada Romeo, pria beruntung di dunia yang sedari tadi nggak berhenti menorehkan senyum. Ya, senyum kemenangan.             “Heh, Sena aja udah percaya sama gue. Masa adek gue sendiri masih ragu!” balas Romeo tanpa repot-repot melepas tangannya yang menggandeng Khayana untuk mengacak rambut Kiara seperti biasanya. “Ya nggak, Sen?” sambung Romeo yang seketika bikin gue menelan ludah.             Diam-diam gue melirik Khayana. Tangannya masih merangkul lengan Romeo. Aneh rasanya melihat adik sendiri bersama seorang laki-laki. Oke, Khayana memang udah sering jalan bareng Romeo. Tapi dengan format seperti ini, gue nggak pernah membayangkannya.             “Udah buruan deh nemuin Tante Wulan! Kenalin juga gandengannya sama yang lain.” Suara Kiara memecah lamunan gue, dia berkata dengan nada menggoda sambil menyenggol Romeo. Benar-benar menikmati keberhasilan sepupunya yang bengal ini. ****             Romeo mendapat kue pertama, disusul Opa. Riuh tepuk tangan menggema di dalam ruangan. Saat berkumpul di satu titik seperti ini, gue bisa melihat mayoritas tamu yang datang. Selain kerabat dekat seperti mama Kiara dan beberapa kolega bisnis yang sering gue lihat, hadir juga istri mantan wakil gubernur. Nggak ketinggalan juga Teresa, putri salah satu pengusaha kondang Amerika yang juga teman seangkatan gue saat belajar di negeri itu. Dan tentunya salah satu korban pesona Romeo Syadiran. Seingat gue, dia salah satu mantan Romeo yang punya usia hubungan dengan Romeo cukup lama.             “Selain merayakan lewat lima puluh tahun usia saya, kami juga mengundang hadirin sekalian untuk mengumumkan kerja sama perusahaan kami dengan Agency modelling ternama di Manhattan, yang hari ini diwakili putri tunggal pemiliknya.” Tante Wulan berujar dengan suara menawan dan anggun sembari menoleh ke arah Teresa yang berdiri di antara tamu barisan depan, sehingga menggiring tatapan hadirin ke gadis yang sedari tadi memang sedikit menarik perhatian karena parasnya.             Anak perusahaan yang bergerak di bidang kecantikan memang diatasnamakan pada Tante Wulan, sebagai sehingga kali ini wanita itu pula yang memberikan pengumuman. Bukan Romeo.             Tante Wulan tersenyum. Alih-alih mengisyaratkan Teresa untuk maju, beliau malah menoleh ke putranya yang berdiri di sampingnya. “Romy, tinggalin mainan kamu sebentar dan ajak Teresa ke depan,” ujarnya kepada Romeo yang tengah berdiri di sisi Khayana.             Sebutan itu kontan memudarkan senyum putranya. Begitu pula gadis yang sedari tadi ditempelnya, Khayana. Seolah letupan yang mengalirkan bara, sekujur tubuh gue memanas memikirkan makna kalimat itu. Kalau aja Kiara nggak mengetatkan genggamannya ke tangan gue, gue nggak tahu lagi apa yang bakal dilakukan sama tangan ini.             Romeo belum juga melangkah. Hingga nada Tante Wulan yang merupakan ultimatum nggak terbantahkan, mengambang di udara. “Romeo,” panggilnya lagi. Bersamaan dengan tatapannya yang menuntut.             Dengan rahang terkatup rapat, Romeo pun mengambil langkah beratnya. Seiring itu, gadis yang ditinggalkannya hanya diam tertunduk. KHAYANA            Peresmian itu ditutup dengan pengenalan brand kecantikan kolaborasi kedua grup. Romeo kembali menghampiriku ketika tamu mulai bubar dari pusat lingkaran untuk menikmati jamuan pesta.             “Maaf, saya nggak bermaksud ninggalin kamu,” katanya.             “It’s okay,” balasku disertai anggukan.             Romeo memandangi sekeliling lalu kembali menatapku. “Ehm .., mau dansa?”             Aku berpikir sejenak, ikut melihat sekeliling. Dan mendapati beberapa tamu berdansa diiringi lagu Ed Sheeran. Tampak juga Kiara dengan tangan Kak Sena bertengger di pinggangnya. Aku menghela napas dan kembali menatap pasanganku di pesta ini. Dan seolah bisa membaca jawabanku, Romeo tersenyum sambil mengulurkan tangannya.             Aku menyambut uluran tangannya yang kemudian menuntunku ke tengah. Ia membimbing tanganku untuk diletakkan di kedua pundaknya yang kokoh. Dan dengan hati-hati, ia meletakkan tangannya sendiri di pinggangku. Membuatku sedikit tersengat sampai-sampai aku harus meremas jas yang membungkus bahunya. Karena di usiaku yang sekarang, untuk pertama kalinya aku bersedia diperlakukan seperti ini oleh seorang pria.             Musik berganti lagu klasik yang dinyanyikan penyanyi wanita tahun 90-an. Mengikuti irama, Romeo mulai bergerak dengan luwes. Untuk pertama kalinya, kami sedekat ini. Aku bisa melihat dengan jelas setiap lekuk wajahnya. Rahangnya yang setajam granit, namun terlihat ramah karena ia banyak mengurai senyum dan tawa. Irisnya yang berwarna cokelat tua, juga garis kecil di alis kirinya yang seperti disilet.             “Kamu lebih cantik kalau dilihat dari dekat, ya.” Romeo nyaris berbisik. Aku yang sedikit terkejut kontan memalingkan wajah. Rupanya, ia melakukan hal yang sama. Mengamatiku dari dekat.              Saat seperti ini, wajahku justru dihadapkan pada bahu dan lehernya. Membuatku bisa mencium bau parfumnya yang maskulin, namun menenangkan. Mengalihkan pikiranku dari Kak Sena dan Kiara.             “Apa saya bikin kamu gugup?”             Mendengar itu, aku kembali menatapnya. “Kamu memang jago mengintimidasi. Tapi itu nggak berlaku untuk saya,” kilahku.             Senyumnya mengembang, menyentuh matanya. Membuat tatapanku kembali jatuh ke gurat tipis di alisnya.             “Apa itu bekas luka?” tanyaku.             Romeo mengedikkan bahu. “Cuma bonus dari kenakalan masa kecil.”             Sebelum berkomentar lebih jauh, lagu berganti. Dan pasangan paling flamboyan di pesta ini mendekat di sebelah kami. Membuatku dan Romeo sedikit melonggarkan pegangan satu sama lain dan beralih melemparkan pandangan ke arah mereka.             Untuk satuan waktu yang paling kecil, aku tidak tahu kapan jantungku mulai berdebar kencang ketika sebuah tangan terulur padaku. Aku menatap Romeo, yang dibalasnya dengan isyarat setuju. Sambil berdoa supaya tanganku tidak sedingin es, atau selicin belut karena tiba-tiba berkeringat, aku menyambut uluran tangan lelaki itu. Kak Sena.             Aku mulai berdansa dengan Kak Sena. Berusaha tidak salah tingkah sehingga memilih menatap ke arah Romeo dengan Kiara yang melakukan gerakan-gerakan lucu nan kompak. Menggambarkan betapa dekatnya hubungan mereka sebagai saudara sepupu. Namun, semuanya buyar ketika aku merasakan hembusan napas Kak Sena di pipiku yang sedari tadi berhadapan dengan wajahnya karena bagian depan wajahku mengarah ke dua saudara di sebelah kami. Tersentak, aku pun beralih menatap ke arah yang seharusnya. Wajah pasangan dansaku.             “Dulu kayaknya kita pernah nari-nari seasyik mereka deh.” Kak Sena membuka suara.             Aku tersenyum. “Udah lama banget ya. Mau coba sekarang?” sahutku yang kini mulai rileks.             Kak Sena menggeleng. “Sementara begini aja. Kakak lagi nggak pingin ngelepas kamu untuk beberapa saat. Boleh kan?”             Sambil mengendalikan degup jantung yang mulai tidak karuan, aku mengangguk. Dan kurasakan tangannya makin kokoh di tubuhku. Kami berdansa diiringi kebisuan di mulut masing-masing. Hanya mata yang saling menatap. Menyalurkan apa saja yang lidah tidak sanggup menyampaikannya. Sesuatu yang aku sudah bertekad untuk menghindarinya, tapi malah terjebak di dalamnya.             Tak terasa, beberapa menit yang menakjubkan, manis, juga pahit itu berakhir ketika kami akhirnya kembali ke pasangan masing-masing. Berbeda dengan tadi, kali ini Romeo membawa kedua tanganku ke lehernya yang hangat. Menautkan jemariku di sana, seiiring dengannya menautkan jari-jari dari sepasang tangannya ketika berada punggungku. Membuat tubuh kami jauh lebih rapat dibandingkan sebelumnya.             “Senang bisa kembali sama kamu,” bisiknya, yang kali ini bahkan bukan hanya mempengaruhi indera pendengaranku. Tapi juga penciumanku karena aroma napasnya yang seperti permen. Entah sejak kapan sosok Romeo berubah jadi seperti ini. Atau mungkin, sejak kapan interaksi kami berubah jadi sedekat ini. Diam-diam aku berusaha mengingatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN