Bab 13

815 Kata
Yasmin melangkah masuk ke rumah dengan langkah tenang, tas kecil masih tergantung di bahunya. Sepatu dilepas rapi di dekat pintu, seperti kebiasaannya. Ia tidak tergesa. Tidak pula menunjukkan gelagat cemas. Matanya langsung menangkap sosok Eliona yang duduk di ruang tengah, punggungnya tegang, jari-jarinya sibuk meremas ujung bantal sofa. Yasmin berhenti beberapa langkah dari sana. “Ada apa?” tanyanya datar, sekadar formalitas. Eliona mendengus. “Kamu berani tanya begitu?” Nada suaranya dingin, matanya menajam. “Kamu pulang seperti tidak terjadi apa-apa.” Yasmin mengangkat bahu kecil. “Memangnya harus terjadi apa?” Ia berniat melangkah lagi menuju kamarnya, namun suara Eliona menahan langkahnya. “Jangan sok tenang,” ucap Eliona tajam. “Kamu benar-benar menikmati hidupmu sekarang, ya. Menikmati semua harta peninggalan ayahku.” Yasmin berhenti. Ia menoleh perlahan, wajahnya tenang, bahkan tampak sedikit geli. Ia tertawa kecil. “Itu juga harta peninggalan suamiku,” jawabnya ringan. “Dan aku istrinya. Wajar kalau aku menikmatinya.” Eliona berdiri. “Istrinya tiga tahun,” katanya sinis. “Sementara aku anak kandungnya.” Yasmin mengangguk. “Aku tidak pernah menyangkal itu.” “Lalu kenapa kamu bersikap seolah rumah ini milikmu sepenuhnya?” desak Eliona. “Karena memang begitu secara hukum,” jawab Yasmin tanpa emosi. “Pengacara sudah menjelaskan. Kalau kamu lupa, itu bukan salahku.” Eliona mengepalkan tangan. “Kamu selalu berlindung di balik kata ‘hukum’.” “Karena itulah satu-satunya hal yang tidak bisa kamu bantah,” sahut Yasmin. Hening beberapa detik. Eliona menarik napas dalam, mencoba menahan emosinya. “Kamu ke mana saja beberapa hari ini?” tanyanya tiba-tiba. Yasmin menatapnya sekilas. “Pergi.” “Dengan siapa?” Nada Eliona menajam. Yasmin tersenyum tipis. “Itu urusan pribadiku.” Eliona tertawa pendek, pahit. “Kamu pikir aku bodoh?” Yasmin mengangkat alis. “Aku tidak pernah memikirkanmu sejauh itu.” Ucapan itu membuat Eliona tersentak. “Kamu benar-benar tidak tahu diri,” katanya pelan namun penuh tekanan. “Datang ke keluarga kami, menikmati semuanya, lalu bersikap seolah kamu tidak punya tanggung jawab apa pun.” Yasmin melangkah mendekat satu langkah. Suaranya tetap tenang. “Aku merawat suamiku saat dia sakit. Aku menemaninya sampai akhir. Aku tidak memaksa siapa pun memberiku apa pun. Kalau itu tidak cukup disebut tanggung jawab, aku tidak tahu lagi definisimu apa.” Eliona terdiam sejenak, lalu berkata, “Dan Rio?” Yasmin menatapnya lurus. “Apa hubungannya?” “Jangan pura-pura tidak tahu,” kata Eliona cepat. “Sejak kamu sering tidak di rumah, suamiku juga menghilang. Semalaman tidak pulang. Tidak bisa dihubungi.” Yasmin tidak langsung menjawab. Ia menghela napas kecil. “Kalau suamimu tidak pulang, kenapa kamu menanyakannya padaku?” “Karena kamu terlalu tenang,” bentak Eliona. “Seolah kamu tahu persis ke mana dia pergi.” Yasmin tersenyum kecil. “Aku selalu tenang.” “Itu yang mencurigakan,” balas Eliona. Yasmin memiringkan kepala. “Kamu menuduhku tanpa bukti.” Eliona melangkah mendekat. “Aku tidak butuh bukti untuk merasakan ada yang salah.” Yasmin menatapnya lama. “Perasaan sering kali salah, Eliona.” “Tidak kali ini,” jawab Eliona mantap. Hening kembali. Ketegangan terasa tebal di ruangan itu. Yasmin akhirnya berkata, “Aku lelah berdebat.” Ia berbalik hendak pergi, namun Eliona kembali membuka suara. “Kalau sampai aku tahu kamu bermain di belakangku,” katanya lirih namun tegas, “aku tidak akan diam.” Yasmin berhenti, lalu menoleh setengah. “Ancaman tidak akan mengubah apa pun,” ujarnya. “Kenyataan tetap kenyataan.” Pintu depan tiba-tiba terbuka. Keduanya refleks menoleh. Rio berdiri di ambang pintu, wajahnya tampak lelah. Ia berhenti melihat dua wanita itu berhadapan. “Ada apa?” tanyanya pelan. Eliona langsung berbalik. “Kamu baru pulang sekarang?” Rio mengangguk. “Aku ada urusan.” “Urusan apa sampai semalaman?” desak Eliona. Rio melirik Yasmin sekilas, lalu kembali menatap Eliona. “Pekerjaan.” “Kamu selalu bilang begitu,” sahut Eliona. Yasmin mengambil tasnya. “Aku ke kamar,” katanya singkat. Rio menatapnya, ingin mengatakan sesuatu, namun Yasmin sudah berjalan menjauh. Eliona menatap Rio dengan mata menyipit. “Kamu lihat?” katanya. “Dia bahkan tidak peduli.” Rio menghela napas. “Eliona, jangan mulai lagi.” “Jangan mulai?” Eliona tertawa pahit. “Kamu yang memulainya dengan menghilang.” Rio duduk di sofa, menyandarkan punggung. “Aku capek.” “Aku juga,” jawab Eliona. Mereka terdiam. Rumah itu kembali sunyi, namun bukan sunyi yang menenangkan. Di kamar, Yasmin duduk di tepi ranjang. Wajahnya tetap tenang, tapi pikirannya bekerja. Ia tahu, kecurigaan Eliona sudah mulai tajam. Dan Rio kini berada di tengah, semakin sulit menghindar. Ia berdiri, menatap pantulan dirinya di cermin. “Pelan-pelan saja,” gumamnya. Di luar kamar, Eliona menatap punggung Rio dengan curiga yang belum padam. Sementara Rio, duduk diam, menyadari satu hal yang tidak bisa ia hindari lagi. Semua mulai mendekati titik di mana tidak ada lagi ruang untuk berpura-pura.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN