Bab 14

1177 Kata
Yasmin berdiri di dekat tangga saat Eliona merapikan tasnya. Wanita itu tampak rapi seperti biasa—kemeja berwarna netral, celana kerja yang jatuhnya pas, rambut disanggul sederhana namun terlihat terawat. Eliona tidak menoleh, tidak pula menyapa. Hanya langkahnya yang tegas menuju pintu, seolah ingin segera keluar dari rumah itu. Yasmin memperhatikannya dengan tatapan tenang. Bibirnya melengkung tipis, hampir tak terlihat, namun cukup untuk menunjukkan isi kepalanya. Saat pintu dibuka dan Eliona bersiap melangkah pergi, Yasmin berkata santai, “Pulangnya malam?” Eliona berhenti sesaat. Ia menoleh setengah, menatap Yasmin dengan sorot mata yang sulit ditebak. “Aku tidak tahu,” jawabnya dingin. “Tergantung urusan.” Yasmin mengangguk pelan. “Hati-hati di jalan.” Eliona mendengus kecil. “Tidak perlu pura-pura peduli.” Yasmin tersenyum tipis. “Aku tidak berpura-pura.” Tidak ada balasan. Eliona menutup pintu dengan suara yang cukup keras, meninggalkan rumah dalam keadaan sunyi. Yasmin berdiri beberapa detik, memastikan mobil itu benar-benar pergi. Ia melangkah ke jendela, menarik tirai sedikit, melihat mobil Eliona keluar dari halaman. Begitu halaman kosong, Yasmin menghembuskan napas panjang. “Sendiri,” gumamnya. Ia berbalik dan melangkah ke ruang tengah. Rio sedang duduk di sofa, ponselnya di tangan, wajahnya tampak lelah namun lebih rileks dibandingkan tadi pagi. Mendengar langkah Yasmin, ia mengangkat kepala. “Dia pergi?” tanya Rio. Yasmin mengangguk. “Sudah.” Rio meletakkan ponselnya. “Ke kantor, mungkin.” “Sepertinya begitu.” Yasmin duduk di sofa seberang, menyilangkan kaki dengan santai. “Kamu kelihatan capek.” Rio tersenyum kecil. “Beberapa hari ini memang berat.” “Kenapa tidak istirahat saja hari ini?” Yasmin mencondongkan tubuh sedikit. “Kita di rumah. Tenang.” Rio terdiam sesaat. “Aku masih harus menyelesaikan beberapa hal.” “Bisa nanti,” sahut Yasmin ringan. “Atau besok.” Rio menatapnya, lalu menghela napas. “Kamu selalu bilang begitu.” “Karena aku benar,” jawab Yasmin sambil tersenyum. Ia berdiri, berjalan ke rak televisi, lalu mengambil beberapa DVD lama yang tersusun rapi. “Kamu masih ingat film ini?” tanyanya sambil mengangkat satu sampul. Rio menyipitkan mata, lalu tersenyum. “Film lama.” “Kita dulu sering menontonnya,” kata Yasmin. “Sebelum semuanya jadi ribet.” Rio terdiam, lalu mengangguk pelan. “Aku ingat.” Yasmin menoleh. “Kita nonton?” Rio ragu sejenak. “Sekarang?” “Sekarang,” jawab Yasmin mantap. “Rumah sedang sepi.” Rio akhirnya mengangguk. “Baiklah.” Yasmin memasang film, meredupkan lampu ruang tengah, lalu kembali duduk. Kali ini ia memilih duduk lebih dekat. Jarak mereka tidak terlalu jauh, cukup untuk merasakan kehadiran satu sama lain tanpa perlu bersentuhan. Film dimulai. Suara musik pembuka memenuhi ruangan. Beberapa menit pertama mereka menonton dalam diam. Yasmin sesekali melirik Rio dari sudut mata. Lelaki itu menatap layar, namun pikirannya tampak melayang. “Kamu tidak fokus,” kata Yasmin pelan. Rio menoleh. “Maaf.” “Kamu memikirkan Eliona?” tanya Yasmin, nada suaranya datar. Rio terdiam. “Aku… memikirkan banyak hal.” Yasmin mengangguk. “Aku bisa mengerti.” “Kadang aku merasa terjepit,” lanjut Rio. “Apa pun yang aku lakukan, selalu ada yang salah.” Yasmin menatap layar, lalu berkata, “Kamu terlalu sering memikirkan orang lain.” Rio menoleh padanya. “Maksudmu?” “Kamu lupa memikirkan dirimu sendiri,” jawab Yasmin. “Apa yang kamu mau.” Rio tersenyum pahit. “Aku sudah menikah.” “Aku tahu,” kata Yasmin lembut. “Aku tidak pernah lupa.” Mereka kembali terdiam. Adegan film berganti, namun perhatian mereka tidak sepenuhnya tertuju ke sana. Beberapa menit kemudian, Yasmin berdiri. “Aku buatkan minum.” Rio mengangguk. “Terima kasih.” Yasmin ke dapur, membuat dua cangkir teh hangat. Gerakannya tenang, teratur. Ia kembali ke ruang tengah dan menyerahkan satu cangkir pada Rio. “Hati-hati panas,” katanya. Rio menerima. “Terima kasih.” Yasmin duduk kembali. Kali ini lebih dekat. Bahu mereka hampir bersentuhan. “Kamu tidak keberatan?” tanya Yasmin. Rio menggeleng. “Tidak.” Mereka menonton lagi. Kali ini, Rio tampak sedikit lebih rileks. Ia menyandarkan punggung, menghela napas pelan. “Rumah ini terasa berbeda tanpa Eliona,” katanya tiba-tiba. Yasmin menoleh. “Lebih tenang?” Rio tidak langsung menjawab. “Lebih… sunyi.” Yasmin tersenyum tipis. “Sunyi tidak selalu buruk.” Rio menatapnya. “Kamu suka sunyi?” “Aku terbiasa,” jawab Yasmin. “Sejak lama.” Rio mengangguk. “Aku sering melihatmu sendiri.” “Dan kamu?” tanya Yasmin. “Kapan terakhir kali kamu benar-benar sendirian?” Rio berpikir. “Aku tidak ingat.” Yasmin tersenyum kecil. “Mungkin itu sebabnya kamu lelah.” Rio tertawa kecil, singkat. “Mungkin.” Film terus berjalan. Adegan demi adegan berlalu. Tanpa sadar, waktu bergerak. Jam di dinding menunjukkan siang menjelang sore. Ponsel Rio bergetar. Ia melirik layar. Nama Eliona muncul. Rio menghela napas, lalu mematikan layar tanpa menjawab. Yasmin melihat itu. Ia tidak berkata apa-apa. “Kamu tidak menjawab?” tanya Yasmin akhirnya. “Nanti,” jawab Rio singkat. Yasmin mengangguk. “Baik.” Beberapa menit kemudian, ponsel itu bergetar lagi. Rio menatapnya lebih lama, lalu bangkit berdiri. “Aku harus mengangkatnya,” katanya. Yasmin menatapnya, lalu mengangguk pelan. “Silakan.” Rio menjauh sedikit, menerima panggilan. Yasmin tidak mendengarkan dengan jelas, hanya potongan kata yang terdengar samar. Nada Rio terdengar datar, singkat. Setelah beberapa menit, Rio kembali dan duduk. “Dia akan pulang agak malam.” Yasmin tersenyum tipis. “Berarti kita punya waktu.” Rio menatapnya. “Untuk apa?” Yasmin menoleh ke layar televisi. “Menyelesaikan film.” Rio tertawa kecil. “Kamu selalu punya jawaban sederhana.” “Karena hidup sebenarnya sederhana,” kata Yasmin. “Manusia yang membuatnya rumit.” Rio tidak menjawab. Ia kembali menatap layar. Sore berubah menjadi malam. Lampu ruang tengah dinyalakan. Film hampir selesai. Saat kredit penutup muncul, Yasmin menoleh ke Rio. “Bagaimana?” Rio tersenyum kecil. “Masih bagus.” “Seperti dulu,” sahut Yasmin. Rio mengangguk. “Seperti dulu.” Hening kembali. Kali ini lebih lama. “Aku akan ke kamar sebentar,” kata Yasmin akhirnya. “Kamu mau makan?” “Nanti saja,” jawab Rio. “Aku tidak terlalu lapar.” Yasmin berdiri. “Kalau berubah pikiran, bilang.” Ia melangkah pergi, meninggalkan Rio sendirian di ruang tengah. Rio menatap layar hitam beberapa detik, lalu menunduk. Ia tahu, hari itu tidak akan mudah dilupakan. Di kamar, Yasmin duduk di tepi ranjang. Ia menatap pintu, seolah masih bisa mendengar langkah Rio di luar. Senyum tipis muncul di wajahnya. “Pelan-pelan,” gumamnya lagi. “Tidak perlu terburu-buru.” Sementara itu, di luar rumah, Eliona duduk di mobilnya. Tangannya menggenggam setir erat. Ia tidak langsung menyalakan mesin. Pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan yang tidak ingin ia akui. “Kenapa perasaanku begini?” gumamnya kesal. Ia akhirnya menyalakan mobil dan melaju, membawa serta kecurigaan yang semakin sulit ditekan. Malam itu, tiga orang berada di tempat berbeda, dengan pikiran yang saling terhubung—namun tidak ada satu pun yang berani mengucapkan semuanya dengan jujur. Dan rumah itu, untuk sementara, menyimpan semua rahasia di dalam dindingnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN