Suara mobil terdengar dari luar rumah, cukup jelas di tengah malam yang sunyi. Yasmin yang terbaring di sofa ruang tengah langsung membuka mata. Ia tidak bergerak terburu-buru, hanya menoleh ke arah Rio yang tertidur di sebelahnya, punggung lelaki itu menghadap ke sandaran sofa.
Yasmin menegakkan badan pelan. Ia mendengarkan lagi. Kali ini suara pintu pagar terdengar ditutup, disusul langkah kaki mendekat ke teras.
“Eliona pulang,” ucap Yasmin dengan suara rendah.
Rio langsung terbangun. Matanya terbuka lebar, tubuhnya menegang seketika. Ia duduk dan mengusap wajahnya cepat.
“Sekarang?” bisiknya.
Yasmin mengangguk. “Masuk ke kamar kalian. Jangan ke kamar tamu. Ke kamar utama.”
Rio tidak membantah. Ia berdiri, merapikan bajunya sekilas, lalu berjalan cepat ke arah kamar utama. Pintu kamar dibuka dan ditutup kembali dengan hati-hati. Tidak ada suara keras.
Yasmin segera berdiri. Ia mengambil gelas bekas minum Rio yang ada di meja kecil ruang tengah. Tanpa tergesa, ia melangkah ke dapur. Keran dinyalakan, gelas dicuci hingga bersih, lalu diletakkan rapi di rak. Semua dilakukan dengan gerakan tenang, seolah memang hanya itu kegiatannya sejak tadi.
Beberapa detik kemudian, pintu depan terbuka.
Eliona masuk dengan langkah berat. Wajahnya tampak lelah, matanya sedikit sembab. Ia langsung berhenti di ruang tengah dan menatap sekeliling.
“Kamu belum tidur?” tanyanya dingin ketika melihat Yasmin sudah duduk di sofa.
“Baru saja mau masuk kamar,” jawab Yasmin santai. “Kamu pulang larut.”
Eliona tidak menjawab. Ia menaruh tasnya di meja, lalu kembali menatap ruang tengah, seolah memastikan sesuatu.
“Rio sudah pulang?” tanyanya.
“Sudah,” jawab Yasmin singkat. “Dia kelihatan capek. Langsung ke kamar.”
Eliona mendengus pelan. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berjalan menuju kamar utama. Yasmin tetap duduk di tempatnya, tidak mengikuti, tidak terlihat gugup.
Di dalam kamar, Eliona membuka pintu pelan. Lampu kamar redup. Ia melihat Rio sudah terbaring di ranjang, mengenakan pakaian tidurnya, tubuhnya menghadap ke samping. Napasnya tampak teratur, seperti orang yang benar-benar sudah tertidur cukup lama.
Eliona berdiri beberapa detik di ambang pintu, memperhatikan suaminya.
“Katanya capek,” gumamnya pelan.
Ia masuk ke kamar, menutup pintu, lalu mengganti pakaiannya. Setelah itu, Eliona berbaring di sisi lain ranjang, membelakangi Rio. Tidak ada percakapan. Tidak ada sentuhan. Ia hanya menarik selimut dan memejamkan mata, lelah dengan pikirannya sendiri.
Beberapa menit kemudian, suasana kamar benar-benar sunyi.
Di luar, Yasmin berdiri dari sofa setelah memastikan tidak ada suara lagi dari kamar utama. Ia melangkah menuju kamarnya sendiri dengan langkah ringan. Wajahnya tetap tenang, seolah malam itu berjalan biasa saja.
Pagi harinya, suasana rumah terlihat normal.
Yasmin sudah berada di dapur, menyiapkan sarapan sederhana. Eliona keluar dari kamar dengan pakaian rapi, wajahnya kembali datar seperti biasa.
“Kamu bangun pagi,” ucap Eliona singkat.
“Iya,” jawab Yasmin. “Kebiasaan.”
Tak lama, Rio keluar dari kamar utama. Ia terlihat segar, seolah malamnya benar-benar dihabiskan untuk tidur.
“Pagi,” katanya.
Eliona menoleh. “Kamu pulang jam berapa semalam?”
“Larut,” jawab Rio tenang. “Aku ketiduran di kantor, lalu langsung pulang.”
Eliona menatapnya beberapa detik. Ia tidak berkata apa-apa lagi. Setelah itu, ia duduk dan mulai sarapan.
Tidak ada yang terlihat janggal pagi itu.
Semua berjalan seperti rumah tangga biasa.
Namun justru karena semuanya terlihat normal, Yasmin tahu satu hal:
selama Rio selalu terlihat pulang dan tidur di kamar bersama istrinya, Eliona tidak akan langsung menaruh kecurigaan.
Dan permainan itu, bagi Yasmin, harus dijaga tetap rapi.
**