Bab 16

865 Kata
Yasmin menggeliat pelan di atas ranjang ketika ketukan keras terdengar dari pintu kamarnya. Ketukan itu tidak sabar, nyaris seperti hentakan. Ia menghela napas, lalu bangkit duduk. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya masih tenang meski jelas terganggu. “Yasmin!” suara Eliona terdengar dari balik pintu. “Bangun! Buatkan sarapan!” Yasmin memejamkan mata sejenak, menahan kesal. Ia turun dari ranjang, berjalan ke pintu, lalu membukanya tanpa senyum. “Ada apa pagi-pagi begini?” tanyanya datar. Eliona berdiri di depan pintu dengan wajah masam. “Kamu masih tanya? Jam segini rumah belum ada sarapan. Kamu di rumah, jadi buatkan.” Yasmin menyandarkan bahunya ke kusen pintu. “Aku bukan pembantumu.” Eliona menyipitkan mata. “Kamu tinggal di rumah ini.” “Dan aku bukan asisten rumah tangga,” balas Yasmin tenang. “Kalau kamu mau sarapan, dapur ada. Bahan makanan lengkap. Buat sendiri.” Eliona tertawa sinis. “Kamu benar-benar tidak tahu diri.” Yasmin mengangkat alis. “Aku tahu persis posisiku.” “Eliona!” suara Rio terdengar dari ujung lorong. Ia baru keluar dari kamar, rambutnya masih sedikit basah. “Ada apa?” Eliona menoleh cepat. “Aku menyuruh Yasmin buat sarapan. Dia menolak.” Rio melirik Yasmin sekilas, lalu kembali ke Eliona. “Ya sudah, nanti aku yang buat.” Eliona menatap Rio tajam. “Kamu membelanya?” “Tidak,” jawab Rio singkat. “Aku hanya tidak mau ribut pagi-pagi.” Yasmin tersenyum tipis. “Tuh. Masalah selesai.” Eliona mendengus keras. “Kamu selalu begitu,” katanya pada Yasmin. “Sok tenang, sok dewasa.” Yasmin menatapnya lurus. “Dan kamu selalu memerintah seolah aku ini bawahanmu.” Eliona hendak membalas, tapi Rio memotong. “Cukup. Aku ke dapur.” Rio berjalan menjauh. Eliona masih berdiri di depan pintu kamar Yasmin, dadanya naik turun. “Kamu pikir aku tidak tahu apa yang kamu lakukan?” ucap Eliona pelan namun tajam. Yasmin menyilangkan tangan. “Aku tidak melakukan apa pun yang perlu kamu tahu.” “Kamu menikmati ini,” kata Eliona. “Tinggal di rumah ayahku, memancing masalah, membuat semuanya tidak nyaman.” Yasmin tersenyum kecil. “Aku tinggal di rumah suamiku. Dan aku tidak memancing apa pun. Kalau kamu merasa tidak nyaman, itu urusanmu. Dan rumah ini atas namaku.” Eliona menggertakkan gigi, lalu berbalik pergi. Yasmin menutup pintu kamarnya pelan, bersandar sebentar. Ia menghela napas panjang, lalu berjalan ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian, aroma makanan mulai tercium dari dapur. Yasmin keluar kamar, berjalan santai ke ruang makan. Rio sudah menyiapkan sarapan sederhana. “Terima kasih,” ucap Eliona dingin sambil duduk. Rio mengangguk. “Makan saja dulu.” Yasmin duduk di kursi lain, mengambil segelas air. Tidak ada percakapan beberapa menit. Hanya suara sendok dan piring. “Eliona,” kata Rio akhirnya. “Aku berangkat kerja agak siang.” Eliona menoleh. “Kenapa?” “Ada rapat siang,” jawab Rio. Eliona mengangguk singkat. “Aku juga keluar sebentar.” Yasmin tidak menanggapi. Ia bangkit setelah selesai minum. “Aku ke butik,” katanya ringan. Eliona tertawa kecil tanpa humor. “Tentu saja.” Yasmin menatapnya. “Ada masalah?” “Eliona,” Rio memperingatkan. Eliona berdiri. “Tidak. Lakukan saja apa yang kamu mau.” Yasmin mengambil tasnya. “Aku memang akan melakukannya.” Ia melangkah keluar rumah dengan langkah tenang. Di luar, udara pagi terasa segar. Yasmin masuk ke mobilnya, menyalakan mesin, lalu pergi. Di dalam rumah, Eliona menatap ke arah pintu dengan tatapan tidak suka. “Kamu terlalu membiarkannya,” katanya pada Rio. Rio menghela napas. “Aku hanya ingin rumah ini tenang.” “Tenang?” Eliona menatapnya. “Selama dia ada di sini, tidak akan pernah tenang.” Rio tidak menjawab. Ia mengambil kunci mobilnya. “Aku berangkat.” Eliona duduk kembali, pikirannya penuh. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres, tapi belum bisa membuktikannya. Sementara itu, Yasmin tiba di butik miliknya. Ia disambut staf, memeriksa laporan, berbincang ringan. Hidupnya berjalan baik, stabil. Namun pikirannya sesekali melayang ke rumah, ke ketegangan yang semakin terasa. Siang hari, Rio mengirim pesan singkat: sudah makan? Yasmin membaca, tersenyum tipis, lalu membalas: sudah. kamu? Beberapa detik kemudian: nanti malam kamu di rumah? Yasmin mengetik pelan: lihat nanti. Ia meletakkan ponsel, melanjutkan pekerjaannya. Ia tahu setiap langkahnya harus hati-hati. Eliona bukan orang bodoh. Sedikit saja kesalahan, semuanya bisa terbongkar. Sore menjelang, Yasmin pulang lebih awal. Rumah masih sepi. Ia masuk, meletakkan tas, lalu duduk di ruang tengah. Tak lama, Rio pulang. “Kamu sudah pulang,” katanya. “Iya,” jawab Yasmin. “Eliona?” “Belum,” kata Rio. Mereka terdiam sejenak. Jarak di antara mereka tidak dekat, tidak jauh. Cukup untuk membuat suasana canggung. “Kita harus lebih hati-hati,” kata Rio pelan. Yasmin menatapnya. “Aku tahu.” “Dia mulai curiga,” lanjut Rio. Yasmin mengangguk. “Aku juga merasakannya.” Rio berdiri. “Aku ke kamar.” Yasmin memperhatikannya pergi. Ia tahu, permainan ini semakin berbahaya. Setiap tatapan Eliona, setiap pertanyaan, adalah ancaman. Malam itu, Eliona pulang dengan wajah lelah. Ia makan malam tanpa banyak bicara. Yasmin bersikap biasa, Rio pun demikian. Namun di balik sikap biasa itu, ada ketegangan yang terus tumbuh. Dan Yasmin tahu, cepat atau lambat, Eliona akan menuntut jawaban.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN