Rio berdiri di depan cermin kamar hotel, merapikan kemejanya. Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan pikirannya sendiri. Di luar jendela, suara ombak terdengar pelan, berirama. Seharusnya suasana itu menenangkan, namun pikirannya justru penuh.
Di tempat tidur, Yasmin duduk sambil mengikat rambutnya. Ia mengenakan pakaian santai yang pantas untuk berjalan di pantai. Wajahnya terlihat cerah, berbeda dari kesehariannya di rumah yang selalu penuh ketegangan.
“Kamu yakin Eliona tidak akan curiga?” tanya Rio akhirnya.
Yasmin tersenyum kecil. “Kamu sudah bilang ada urusan ke luar kota. Aku juga sudah bilang liburan dengan teman-teman. Kita tidak pernah terlihat bersama di depan siapa pun. Tidak ada yang bisa dicurigai.”
Rio mengangguk, meski masih tampak ragu. “Dia semakin sensitif akhir-akhir ini.”
“Karena dia takut kehilangan,” jawab Yasmin tenang. “Dan orang yang takut biasanya mulai curiga pada hal-hal kecil.”
Rio tidak membalas. Ia tahu ada benarnya.
Mereka keluar dari hotel bersama, menjaga jarak seperti dua orang yang kebetulan berjalan di waktu yang sama. Baru setelah sampai di area pantai yang lebih sepi, Rio berjalan mendekat.
Pantai itu tidak terlalu ramai. Matahari mulai turun perlahan, langit berubah warna menjadi jingga lembut. Angin laut bertiup pelan. Yasmin berjalan di bibir pantai, sesekali membiarkan air menyentuh kakinya.
“Sudah lama aku tidak merasa setenang ini,” ucap Yasmin.
Rio menatapnya. “Kamu terlihat berbeda di sini.”
“Karena di sini aku tidak perlu berpura-pura,” jawab Yasmin. “Tidak perlu tersenyum palsu, tidak perlu waspada.”
Rio mengangguk. “Aku juga.”
Yasmin berhenti berjalan. Ia menatap laut, lalu menoleh ke arah Rio. “Tapi kamu tahu, ini tidak akan selamanya bisa seperti ini.”
Rio terdiam. “Aku tahu.”
“Dan aku tidak suka kebohongan yang terlalu lama,” lanjut Yasmin. “Semakin lama, semakin berbahaya.”
Rio menatapnya serius. “Apa maksudmu?”
Yasmin menghela napas. “Aku tidak ingin selamanya berada di posisi tersembunyi.”
Rio tidak langsung menjawab. Ia menatap ombak yang datang dan pergi. “Aku punya tanggung jawab.”
“Aku tahu,” jawab Yasmin. “Dan aku tidak pernah memaksamu memilih sekarang.”
Mereka berjalan lagi. Rio akhirnya meraih tangan Yasmin, menggenggamnya pelan. Tidak ada orang di sekitar mereka yang memperhatikan. Sentuhan itu sederhana, tapi cukup membuat Yasmin tersenyum.
Beberapa saat kemudian, mereka duduk di kursi pantai. Yasmin menyandarkan punggung, menikmati suasana. Rio duduk di sampingnya.
“Kamu tidak takut?” tanya Rio.
“Apa?” Yasmin menoleh.
“Kalau semua ini terbongkar.”
Yasmin berpikir sejenak. “Takut, tentu. Tapi hidupku sudah terlalu lama diatur oleh orang lain. Sekarang aku ingin memilih sendiri.”
Rio menghela napas. “Aku tidak ingin menyakitinya.”
Yasmin menatapnya. “Tapi kamu juga tidak bahagia.”
Kalimat itu membuat Rio terdiam lama.
Malam mulai turun. Lampu-lampu kecil di sepanjang pantai menyala. Mereka makan malam di restoran sederhana dekat pantai, duduk berhadapan seperti pasangan biasa. Tidak ada pelukan berlebihan, tidak ada sikap mencolok. Semuanya terlihat wajar.
Di rumah, jauh dari sana, Eliona duduk sendirian di ruang tengah. Ia menatap ponselnya. Tidak ada pesan baru dari Rio sejak pagi. Ia sudah mencoba menelepon beberapa kali, tapi selalu masuk ke pesan suara.
“Ke luar kota, katanya,” gumam Eliona.
Ia berdiri, berjalan mondar-mandir. Ada perasaan tidak enak yang sulit dijelaskan. Ia mencoba menghubungi Yasmin, tapi ponsel wanita itu juga tidak aktif.
“Eliona, tenang,” katanya pada dirinya sendiri. “Mereka punya urusan masing-masing.”
Namun hatinya tidak benar-benar tenang.
Kembali ke pantai, Yasmin berdiri di tepi air, membiarkan ombak kecil menyentuh kakinya. Rio berdiri di belakangnya, tidak terlalu dekat, menjaga jarak.
“Besok kita pulang,” kata Rio.
Yasmin mengangguk. “Kembali ke kenyataan.”
Rio tersenyum tipis. “Sementara.”
Yasmin menoleh. “Jangan memberi harapan kalau kamu sendiri belum yakin.”
Rio menatapnya. “Aku sedang mencari keberanian.”
Yasmin tersenyum kecil. “Aku bisa menunggu. Tapi tidak selamanya.”
Keesokan paginya, mereka berpisah dengan cara yang rapi. Yasmin keluar hotel lebih dulu, Rio menyusul satu jam kemudian. Tidak ada yang bisa mengaitkan mereka.
Saat Yasmin kembali ke rumah, Eliona sudah ada di ruang tengah. Wanita itu menatap Yasmin dari ujung kepala sampai kaki.
“Kamu baru pulang?” tanya Eliona.
“Iya,” jawab Yasmin tenang. “Liburannya melelahkan.”
“Dengan siapa?” Eliona bertanya cepat.
“Teman-teman,” jawab Yasmin tanpa ragu. “Kamu mau lihat fotonya?”
Eliona terdiam sejenak. “Tidak perlu.”
Tak lama, Rio juga pulang. Eliona langsung menoleh.
“Kamu?” tanyanya. “Katanya ke luar kota.”
“Iya,” jawab Rio. “Baru sampai.”
Eliona menatap mereka bergantian. Tidak ada yang terlihat janggal. Tidak ada tatapan aneh. Tidak ada sikap berlebihan.
Namun di dalam hati Eliona, kecurigaan itu tidak sepenuhnya hilang.
Malam itu, masing-masing masuk ke kamar mereka. Rumah kembali sunyi.
Di kamarnya, Yasmin duduk di tepi ranjang, menatap jendela. Di tempat lain, Rio berbaring di samping Eliona, menatap langit-langit kamar tanpa bisa tidur.
Dan Eliona, meski memejamkan mata, merasa ada sesuatu yang perlahan menjauh dari genggamannya.
Permainan ini belum selesai.
Dan setiap dari mereka tahu, suatu saat, semuanya akan menuntut kejujuran.