Bab 18

1060 Kata
Yasmin menyeret Rio melintasi ambang pintu. Ruangan hotel mewah itu menyambut mereka dengan kemilau lembut lampu redup, kain-kain mahal, dan aroma samar bunga lily yang tertinggal di udara. Yasmin tidak melepaskan Rio. Lengannya melingkari leher Rio, jemarinya membelai tengkuknya. Sebuah senyum nakal bermain di bibirnya, matanya berbinar penuh gairah. Rio balas mencengkram pinggang Yasmin, menariknya lebih dekat. Bibirnya menemukan bibir Yasmin, sentuhan pertama terasa seperti kejutan listrik yang menjalar ke seluruh tubuh mereka. Yasmin membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama, lidahnya menari-nari, mengundang. "Kamu nakal sekali," bisik Yasmin, tawanya mengalun rendah, teredam di antara ciuman mereka. Rio tersenyum, merasakan gigi Yasmin menggigit bibir bawahnya pelan. Ciuman mereka semakin dalam, semakin menuntut. Rio mendorong Yasmin mundur, langkah demi langkah, sampai punggung Yasmin menyentuh dinding yang dingin. Tangannya bergerak cepat, mencari ritsleting gaun Yasmin. Sensasi kain sutra yang meluncur turun dari bahu Yasmin membuat Rio bergidik. "Tidak sabaran, ya?" goda Yasmin, suaranya serak. Gaun itu jatuh ke lantai, membentuk genangan kain di sekitar kaki Yasmin. Hanya tersisa lingerie hitam renda yang membalut tubuhnya. Rio menatap Yasmin, matanya memancarkan kekaguman. Yasmin membalas tatapan itu, lalu menarik tangan Rio, membimbingnya ke ranjang besar di tengah ruangan. Ranjang itu tampak mengundang, bantal-bantal empuk dan selimut sutra terhampar rapi. Yasmin mendorong Rio hingga ia terjatuh di atasnya, lalu menindihnya. Ia merangkak di atas tubuh Rio, lututnya berada di kedua sisi pinggang Rio. Rambutnya yang panjang tergerai, menyentuh kulit Rio. "Lihat apa yang kamu lakukan padaku," kata Yasmin, suaranya bergetar. Rio balas meraih pinggang Yasmin, menariknya lebih dekat. Ia membenamkan wajahnya di leher Yasmin, menghirup aroma tubuhnya yang memabukkan. Ciuman-ciumannya turun dari leher ke bahu, lalu ke tulang selangka Yasmin. "Aku bisa melakukan lebih dari itu," bisik Rio, suaranya parau. Yasmin tersenyum, memiringkan kepalanya, memberi akses lebih untuk Rio. Rio menjilat dan menghisap kulitnya, meninggalkan jejak kemerahan. Yasmin mendesah, punggungnya melengkung. Tangan Rio bergerak ke atas, membelai p******a Yasmin yang terbungkus renda. Jari-jarinya mengusap p****g Yasmin, yang sudah menegang. "Ah..." desah Yasmin. Rio semakin berani. Ia membuka pengait bra Yasmin, membebaskan p******a indah itu. p******a Yasmin membusung, putingnya yang kemerahan menonjol. Rio menunduk, bibirnya menyentuh salah satu p****g, menghisapnya pelan. Yasmin menjerit kecil, tangannya mencengkeram rambut Rio. "Lebih... lebih keras," pinta Yasmin, napasnya tersengal. Rio menurut, menghisap p****g Yasmin dengan lebih rakus, sesekali menggigitnya pelan. Lidahnya membelai lingkaran areola, sementara tangan satunya meremas p******a Yasmin yang lain. Yasmin menggeliat di atas Rio, pinggulnya bergerak tak sabar. "Kamu membuatku gila," ucap Rio, mengangkat kepalanya sejenak, menatap Yasmin. Mata Yasmin berkaca-kaca, bibirnya sedikit terbuka. "Kamu juga," balasnya, lalu menunduk, mencium bibir Rio dengan dahaga. Ciuman itu dalam dan basah, lidah mereka bertarung, saling membelit. Yasmin meremas rambut Rio, menariknya pelan. Rio membalas, tangannya meluncur ke bawah, menyentuh celana dalam renda Yasmin. Jari-jarinya mengusap gundukan di balik kain tipis itu. "Basah sekali," bisik Rio, tersenyum. Yasmin mendesah, pinggulnya terangkat, menekan tangan Rio. "Aku ingin kamu," katanya, suaranya nyaris tak terdengar. Rio merasakan panas yang membakar di bawah sentuhannya. Ia menyelipkan jari-jarinya ke dalam celana dalam Yasmin, menyentuh inti basah itu. Yasmin terkesiap, tubuhnya menegang. Jari-jari Rio bermain di sekitar k******s Yasmin, mengusapnya pelan. "Oh... Rio..." desah Yasmin, matanya terpejam. Rio tersenyum puas. Ia tahu Yasmin sudah benar-benar terbakar gairah. Ia terus mengusap k******s Yasmin, sesekali menekannya, lalu menariknya, membuat Yasmin semakin gelisah. Yasmin menggeliat, napasnya memburu. "Aku... aku tidak tahan..." Yasmin memohon. Rio mengabaikan permohonan itu. Ia ingin menyiksa Yasmin sedikit lagi, ingin membuatnya merengek. Ia menyisipkan satu jari ke dalam lubang Yasmin, merasakan kehangatan dan kebasahan yang luar biasa. Yasmin menjerit, tubuhnya bergetar. "Sempit sekali," bisik Rio. Yasmin tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa mendesah dan menggeliat, merasakan jari Rio bergerak di dalam dirinya. Rio menambah satu jari lagi, meregangkan lubang Yasmin. Yasmin mencengkeram bahu Rio, kuku-kukunya menusuk kulit Rio. "Ah... ahh..." Rio terus bergerak, jari-jarinya menelusuri dinding v****a Yasmin, mencari titik sensitifnya. Ketika ia menemukannya, Yasmin menjerit lagi, kali ini lebih keras. Rio menekan titik itu, memutar jari-jarinya. "Itu... itu dia..." Yasmin terengah-engah. Rio terus menekan, mempercepat gerakannya. Yasmin mulai bergerak tak terkendali, pinggulnya terangkat dan bergetar. Rio merasakan otot-otot Yasmin mengencang di sekeliling jari-jarinya. Ia tahu Yasmin akan segera mencapai puncaknya. "Rasakan ini," bisik Rio. Ia mempercepat gerakannya lagi, memompa jari-jarinya di dalam Yasmin. Yasmin menjerit, tubuhnya melengkung, lalu menegang. Ia merasakan kontraksi yang kuat di dalam dirinya, tanda bahwa ia sedang o*****e. "Rio!" teriak Yasmin, suaranya pecah. Tubuhnya bergetar hebat, lalu lemas. Ia ambruk di atas Rio, napasnya terengah-engah. Rio memeluknya erat, mencium keningnya. "Sudah lebih baik?" goda Rio. Yasmin mendongak, matanya berkaca-kaca. "Belum," katanya, suaranya serak. "Sekarang giliranmu." Rio tersenyum. Ia membalikkan Yasmin, menempatkannya di bawahnya. Ia menatap Yasmin, matanya penuh gairah. Yasmin balas menatapnya, bibirnya sedikit terbuka, mengundang. "Kamu yakin?" tanya Rio. "Sangat yakin," jawab Yasmin, tangannya meraih kancing celana Rio. Ia membuka kancing itu dengan cepat, lalu menarik ritsletingnya. Rio merasakan ereksi kerasnya membebaskan diri, membusung di antara paha Yasmin. Yasmin membelai ereksi itu, merasakan kehangatannya. "Besar sekali," bisik Yasmin. Rio tersenyum bangga. Ia mendorong Yasmin lebih dekat, membiarkan ereksinya menyentuh k******s Yasmin yang masih sensitif. Yasmin mendesah, tubuhnya menggeliat. "Masukkan," pinta Yasmin, suaranya bergetar. Rio mengangguk. Ia mengangkat pinggul Yasmin, lalu mendorong ereksinya ke dalam lubang Yasmin. Yasmin menjerit, merasakan sensasi penuh dan hangat yang memenuhi dirinya. Rio merasakan otot-otot Yasmin mengencang di sekeliling ereksinya. "Sempit sekali," desah Rio. Yasmin mencengkeram punggung Rio, kuku-kukunya meninggalkan jejak merah. Rio mulai bergerak, memompa pinggulnya pelan. Setiap dorongan membuat Yasmin mendesah, suaranya semakin keras. "Ah... ahh..." Rio mempercepat gerakannya, memompa lebih dalam dan lebih cepat. Ia merasakan sensasi yang luar biasa, gesekan kulit ke kulit, suara desahan Yasmin yang memabukkan. Keringat mulai membasahi tubuh mereka. "Lebih... lebih keras," pinta Yasmin. Rio menurut, mendorong lebih dalam, lebih cepat. Ia merasakan ereksinya berdenyut di dalam Yasmin, mendekati puncaknya. Yasmin menjerit, kakinya melilit pinggang Rio, menariknya lebih dekat. "Aku... aku akan..." Rio menggeram, memompa lebih keras lagi. Ia merasakan kontraksi di dalam dirinya, tanda bahwa ia akan segera o*****e. Ia menekan titik sensitif Yasmin, membuatnya menjerit lagi. "Rio!" teriak Yasmin, suaranya pecah. Mereka mencapai puncak bersamaan, menjerit nama satu sama lain. Tubuh mereka bergetar hebat, lalu lemas. Rio ambruk di atas Yasmin, napasnya terengah-engah. Yasmin memeluknya erat, mencium lehernya. "Itu... luar biasa," bisik Yasmin. Rio tersenyum, mencium kening Yasmin. "Kamu juga," katanya. Mereka berbaring berpelukan, napas mereka masih memburu. Keringat membasahi tubuh mereka, bercampur dengan aroma gairah. Rio membelai rambut Yasmin, merasakan detak jantungnya yang masih cepat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN