Keduanya keluar dari mobil saat mereka sampai di sebuah salon ternama di kota Malang, dengan senyum yang dibuat seceria mungkin mereka berjalan memasuki tempat salon kecantikan dan memesan sebuah paket perawatan lengkap untuk memanjakan tubuh.
Pegawai salon pun tampak mengarahkan mereka masuk ke dalam ruangan untuk melakukan treatment yang sudah diminta. Uang bukanlah masalah bagi mereka, hal apa pun bisa mereka dapatkan dengan uang, lain kecuali kesempurnaan pasangan. Ya, karena memang pada hakikatnya kembali lagi manusia itu tidak ada yang sempurna, selalu saja ada kurangnya di banyaknya kesempurnaan diri.
Keduanya sedang bersama-sama berada di satu ruangan tertutup, tidur telungkup dengan mata terpejam. Seorang pegawai salon perempuan sedang memijat kaki keduanya memberikan kenyamanan untuk customer mereka.
"In, lo pasti bahagia banget punya suami si Aldi?" tanya Sella tiba-tiba, kedua matanya masih terpejam, sementara Inka jadi membuka mata saat mendengar pertanyaan temannya itu.
"Tentu sajalah, Sell. Dia pria sempurna yang dateng ke hidupku. Hidupku yang jauh dari kata sempurna," sahut Inka sedikit sendu.
Sella pun membuka matanya juga. "Tapi lo cantik, In. Pantaslah kalau Aldi tergila-gila sama elo. Siapa juga yang nggak mau punya istri cantik terus setia juga."
"Aku setia karena mas Aldi juga setia," sahut Inka.
"Jadi, kalau suami lo ketahuan selingkuh, lo juga mau selingkuh?" celetuk Sella.
"Ya tidak begitu juga konsepnya, Sell. Maksudnya aku bisa saja minta cerai terus pulang ke Jawa. Mana tahanlah aku diselingkuhi." Inka merubah posisi kepala menjadi menopang dagu pada tangannya lantas menutup kedua matanya lagi.
"Tapi, gue tahan sama perselingkuhan mas Arta, In. Gue sebenernya udah tahu kayak apa selingkuhannya, dia cantik dan lebih muda dari gue." Terdengar getaran dari nada bicara Sella, Inka yakin sahabatnya itu ingin menangis.
Inka membuka matanya terkejut, dia tak menyangka kalau suami Sella benar-benar tega mengkhianati sahabatnya ini. "Apakah ini alasan mas Arta nggak mau ajak kamu ikut dia ke Jakarta?" tanya Inka pelan. Sella tak bersuara, wanita itu hanya mengangguk sedih.
***
Setelah dari salon mereka jalan-jalan berkeliling mall, memborong banyak barang, barang yang mungkin tidak terlalu dibutuhkan karena yang mereka butuhkan itu hal lain. "Jam tangan buat siapa?" tanya Inka, saat Sella mengambil sebuah jam tangan mahal dari etalase sebuah toko jam.
"Buat Adit," jawab Sella seraya tersenyum.
"Adit? Adit pacar kamu?" tanya Inka memastikan.
Sella tersenyum lantas berjalan menuju kasir. "Iya, siapa lagi," jawabnya acuh.
Inka segera berjalan menyusul dan berdiri di samping Sella. "Harganya empat puluh sembilan juta, Mbak," kata si Pelayan toko.
Inka menoleh pada Sella, dan melihat wanita itu dengan santai mengeluarkan kartu kredit pada Pelayan untuk membayar jam tangan yang harganya fantastis itu. Memanglah bagi mereka harga segitu sudah biasa dikeluarkan dari dompet mereka setiap Minggu atau mungkin lebih, tapi Sella membelikan barang mahal untuk kekasih gelapnya itu?
Kini keduanya sudah berada di dalam mobil, mereka akan bersiap pulang. "Sell, kamu belikan barang mahal seperti itu buat selingkuhanmu. Apa kamu tidak takut kalau si Adit Adit itu cuma mau manfaatin kamu aja?" tanya Inka, ia hanya takut sahabatnya ini kecewa pada dua laki-laki yang berbeda.
"Nggak apa-apa, In. Hal ini nggak masalah bagi gue, soalnya hanya dia yang bisa bikin gue bahagia," sahut Sella.
"Tapi, Sell. Aku hanya takut kamu kecewa dan sakit hati, aku takut kalau Adit cuma mau morotin harta kamu aja, aku takut dia nggak tulus sama kamu, Sell."
"Memangnya di dunia ini ada yang tulus, In?" tanya Sella seraya tersenyum dengan pandangan yang masih fokus pada jalanan.
Inka terdiam masih memandangi sisi wajah Sella yang berada di sampingnya. "Mas Aldi tulus sama aku, Sell. Dia pria yang sempurna, tapi mau menerima aku wanita yang berasal dari keluarga miskin dan lahir di desa."
"Ya karena kamu cantik, In."
"Tidak gitu, Sell."
"Ya karena kamu baik juga, In."
"Tapi, Sell--"
Sella menoleh pada Inka yang mau mendebat apa yang jadi pendapatnya. "Tapi apa, In? Semua orang pasti punya alasan melakukan sesuatu. Tidak mungkin suamimu bisa sebaik itu kalau kamunya tidak cantik dan baik--" Sella menyela.
"Ya, tapi. Kamu juga baik dan cantik, Sell. Kenapa mas Arta selingkuh?" Inka balik menyela.
"Nasib, In. Kita beda nasib." Sella tersenyum pahit, sementara Inka terdiam dan ia juga memahami sesuatu. Bahwasanya memang tidak ada yang tulus di dunia ini, karena ketulusan tidak akan pernah ada alasan. Hanya nasib yang membedakan kehidupan seseorang yang menentukannya.
***
Inka keluar dari mobil dan menutup pintu. "Bye, Say. Besok jangan lupa nggak boleh telat!" peringat Sella.
Inka tersenyum lantas mengacungkan jari jempolnya. "Ya udah sana, hati-hati di jalan, Bestie!"
"Bye, Bestoy!" Sella terkekeh sebelum ia menutup kaca mobil dan melajukan kendaraannya.
Inka tertawa kecil selepas kepergian sahabat baiknya itu, lantas ia berjalan masuk rumah dan mencari anaknya di ruang makan. Inka yakin Raffa sudah pulang sekolah karena mobil dan supirnya sudah ada di rumah.
"Lagi, makan siang, Raf?" tanya Inka yang melihat putranya memang sedang duduk di kursi meja ruang makan menikmati makan siangnya.
Raffa menoleh dan tersenyum. "Iya, Ma. Mama dari mana?" tanya anak laki-laki itu.
Inka duduk di samping Raffa dan mengambil buah apel. "Mama habis ke salon sama tante Sella. Ya udah, kamu lanjut makan, mama mau istirahat dulu." Inka kembali berdiri.
"Mama enggak makan?"
"Enggak, Sayang. Mama udah makan siang tadi sama tante Sella." Inka mencium puncak kepala putranya penuh kasih, dan mengelusnya. "Kamu lanjut makan, jangan lupa istirahat setelahnya. Mama ke kamar dulu," pamit Inka dan Raffa hanya mengangguk.
Raffa melihat mamanya melenggang pergi meninggalkannya di ruang makan, lantas ia melanjutkan menghabiskan makanannya, sementara Inka yang kini sudah sampai di lantai atas wanita itu membuka pintu kamar dan menutupnya kembali, dengan langkah sedikit gontai ia berjalan menuju sofa, dan menghempaskan tubuh di sana.
Inka menghela napas lelah, meletakan tas dan menatap apel di tangannya seakan buah itu adalah Aldi. Inka tersenyum membayangkan wajah Aldi yang ia lihat di dalam buah apel yang merah. "Aku mungkin belum pernah merasakan kepuasan dalam bercinta, tapi aku lebih beruntung dari Sella yang suaminya tukang selingkuh. Sementara mas Aldi, dia tidak pernah macam-macam, jangankan selingkuh, melirik wanita lain saja dia tidak pernah." Inka menghempaskan punggung pada sandaran sofa dan menghela napas kembali.
Pandangannya menerawang jauh pada angan yang selalu ia dambakan, tapi tidak pernah ia dapatkan. Tiba-tiba saja tubuhnya merasakan reaksi berbeda, Inka menyesal telah membayangkan percintaan panas saat Aldi tak ada di rumah begini, setidaknya jika ada suaminya itu lebih baik.
Inka gelisah dan mulai tak bisa mengendalikan nafsunya. Wanita itu berdiri dan mengunci pintu kamar, ia tak mau siapa pun tiba-tiba masuk ke kamarnya saat ia ingin melakukan sesuatu yang ia inginkan.
Ia kemudian melepas perlahan satu per satu pakaiannya, hingga seluruhnya tanggal dan jatuh terongok di lantai, Inka melangkah ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya rapat.