Kecewa Lagi

1564 Kata
Waktu tanpa terasa terus bergulir, di sebuah kantor besar yang bergerak di bidang konstruksi ini adalah tempat Aldi Ferdinan berkutat dengan pekerjaannya sehari-hari. Pria tampan nan gagah berusia 35 Tahun ini sudah menjadi pengusaha sukses di usianya yang tergolong masih muda. Itu semua memang tidaklah luput dari usaha dan kerja keras yang tekun, Aldi memang orang yang sangat berdedikasi pantaslah semua itu ia dapatkan. Dia yang menikahi Inka Arinita 13 Tahun lalu di saat wanita cantik itu masih berusia belasan tahun. Inka memang berasal dari kampung, dan lahir di keluarga yang sederhana saja. Lantas Aldi dan Inka dipertemukan di saat pria itu tengah meninjau sebuah projeck pembangunan yang dilaksanakan di dekat tempat tinggal Inka. Keduanya lantas jatuh cinta dan Aldi tak ragu dan tanpa menunggu lama untuk melamar wanita pujaannya yang menjadi kembang desa tersebut. Setelah menikah tentu Inka langsung diboyong ke Malang dan menjadi ratu satu-satunya di rumah megah milik pribadi Aldi. Aldi yang sangat mencintai Inka tak segan memberikan segala hal yang ia punya pada wanita itu, tak pernah satu pun yang kurang dari kebutuhan materi yang ia berikan pada istrinya, cinta kasih sayang selalu ia curahkan kepada Inka, sungguh Aldi benar-benar mencintai Inka hingga mungkin nyawa pun akan ia berikan jika saja Inka menginginkannya. Aldi menatap arloji di pergelangan tangan sebelah kirinya, waktu sudah menunjukan 5 sore. Dia tersenyum dan segera menutup laptop yang sejak tadi berada di hadapannya. Dia tak sabar untuk pulang dan bertemu dengan istri dan anaknya, Aldi begitu sangat merindukan istrinya. Segera pria itu beranjak dari kursi kerjanya dan keluar dari ruangan lantas melewati ruangan seorang sekretarisnya. Wanita cantik dengan pakaian kerja yang seksi itu segera berdiri dari duduknya. "Selamat sore, Pak. Apakah Bapak mau pulang?" Aldi menghentikan langkahnya sejenak untuk menjawab sapaan sang Sekretaris. "Iya, Ir. Apakah Wijaya masih ada di kantor?" tanya Aldi balik kepada wanita bernama Irma yang menjadi sekretarisnya. "Pak Wijaya sejak pukul 2 tadi izin pergi ke proyek, Pak. Mungkin beliau akan langsung pulang jika waktu kantor sudah habis," jawab Irma seraya memberi senyum terbaiknya kepada Aldi, tapi pria itu tentu menanggapi hal tersebut dengan biasa saja. Aldi mengangguk paham. "Ya sudah, kalau begitu kamu pun bersiap pulang, sudah pukul 5. Ya sudah, kalau begitu saya duluan, Ir," pamit Aldi lantas segera melanjutkan langkahnya menuju pintu lift. Irma hanya memandang punggung tegap Aldi yang menjauh hingga pintu lift tertutup dan membawa pria itu turun ke lantas dasar. Terlihat Irma memanyunkan bibirnya manja. "Ih, pak Aldi bener-bener, deh. Masa ngga peka banget, harusnya ajak turun bareng, kek. Atau nawarin anterin pulang, ini enggak!" gerutunya kesal. Wanita itu mau tak mau segera membereskan semua barangnya lantas menenteng tas dan melenggang pergi juga. Kini Aldi sudah ada di dalam perjalanan, pria itu selalu mengulas senyum tak sabar ingin menatap wajah sang istri yang selalu ia rindukan. Pernikahan 13 Tahun tak pernah membuat cinta dan keromantisannya pudar, mungkin Inka benar-benar telah menjadi pemenang hati dari seorang Aldi Ferdinan sehingga pria itu tak pernah ingin berpaling darinya. *** Kendaraan mewah Aldi pun akhirnya memasuki pintu gerbang rumah besarnya, mobil segera diparkir dan seorang supir keluar lebih dulu untuk membukakan pintu. Aldi segera turun dan berjalan menuju pintu rumahnya, di dalam ada Raffa yang sedang membaca buku di ruang tamu lantas menoleh saat tahu papanya pulang. "Papa sudah pulang," sapa Raffa, anak laki-laki yang sebentar lagi akan lulus SD ini segera berdiri dan menyalami papanya. "Mama ada di rumah, Raf?" tanya Aldi seraya mengusap puncak kepala putranya. "Ada kok, Pa. Mama udah pulang dari siang," jawab Raffa. Aldi mengangguk kecil seraya tersenyum. "Ya sudah, kamu lanjut baca bukunya. Papa ke atas dulu." Raffa mengangguk. "Iya, Pa." Aldi pun pergi ke lantai atas dan Raffa kembali duduk di sofa untuk lanjut membaca buku. *** Aldi menekan handle pintu dan mendorongnya, pintu terbuka dan dilihatnya Inka yang sedang duduk di kursi rias itu menoleh. "Eh, Mas. Udah pulang," sapa Inka, wanita cantik itu segera bangkit dari duduk dan menghampiri suami tercinta. "Lagi apa istriku yang cantik?" tanya Aldi sebagai balasan sapaan sang istri, Inka tersenyum lalu menyalami suaminya dan Aldi pun mencium bibir istrinya sedikit lama sebagai tanda ia begitu sangat cinta dan merindukannya. Setelahanya keduanya tersenyum, Aldi dengan lembut mengusap bibir tipis sang Istri yang selalu membuatnya candu. "Ngga lagi ngapa-ngapain, lagi mau siap-siap aja, habis mandi soalnya. Mas juga mandi dulu sana, nanti aku mau siapin makan malam di bawah," kata wanita itu seraya membukakan jas milik suaminya. "Ya sudah, mas mandi dulu," timpal Aldi. "Heuem, nanti langsung turun aja ya, Mas," pinta Inka lantas melangkah menuju ke sudut ruangan dan meletakan jas kotor suaminya di keranjang cucian, setelahnya wanita itu melangkah menuju pintu keluar, sementara Aldi berjalan menuju kamar mandi. Inka turun dari kamar sesampainya di lantai dasar Raffa sudah tidak ada di ruang tamu, mungkin anak laki-laki itu sudah kembali ke kamarnya. Wanita itu melanjutkan langkah menuju dapur, di mana sudah ada Surti pembantu rumah yang sudah tengah memasak. "Udah siap semua, Bi?" tanya Inka saat ia memasuki dapur. Surti mengangguk seraya tersenyum. "Sudah semua, Nya. Tinggal dipindahkan ke ruang meja makan," jawab pembantu rumah itu dengan sopan. Inka mengangguk dan melihat memang semua menu sudah siap di dalam wadah masing-masing. "Ya sudah kalau begitu saya bantu pindahin aja, nanti jangan lupa buah dan air putihnya ya, Bi." "Baik, Nya," jawab Surti seraya mengangguk. Inka segera membawa wadah-wadah berisi makanan keluar dari dapur menuju ruang meja makan lantas menata semua makanan di atas meja dengan rapi. Surti datang dengan mangkuk buah juga teko bening berisi air mineral. Inka pun menatanya juga di tempat yang sesuai, setelah itu Surti masuk dapur lagi, membawa gelas juga sisa menu makanan yang belum terangkut oleh Inka. "Udah semua, Bi?" tanya wanita itu lagi. "Sudah semua, Nya," jawab Surti seraya tersenyum. "Ya sudah kalau gitu Bibi panggil Raffa deh, nanti mas Aldi juga pasti sebentar lagi turun," kata Inka. Benar saja tak lama suara langkah kaki terdengar menuruni tangga, dan itu memang Aldi yang datang ke ruang meja makan. "Loh, Raffa belum datang?" tanya Aldi seraya duduk di tempat biasanya. "Iya, ini Bibi tak suruh panggil Raffa, Mas," timpal Inka. Surti mengangguk kecil lantas berpamitan. "Ya sudah kalau begitu bibi panggil den Raffa dulu ya, Nya, Tuan." "Iya, Bi. Suruh cepat ya!" pinta Inka, Surti pun mengangguk dan segera berlalu meninggalkan ruang meja makan dan menuju ke lantai atas. Sesamapinya di depan pintu kamar Raffa, Surti segera mengetuk pintu tiga kali. "Den Raffa, waktunya makan malam, Den!" seru Surti. Suara handle pintu ditekan terdengar, tak lama Raffa muncul. Surti terseyum melihatnya lantas tanpa banyak bicara lagi Raffa segera keluar kamar dan menutup pintu. Mereka berdua menuruni anak tangga dan berjalan menuju ruang meja makan, sesampainya di sana tampak Papa dan mamanya tengah mengobrol santai, saat tahu putra mereka datang keduanya pun menghentikan percakapan. "Eh, Raff. Ayo cepat duduk kita makan malam," ajak Inka seraya menarik kursi untuk putranya. Raffa duduk dan berkata. "Terima kasih, Ma." Inka pun tersenyum lantas segera membalikkan piring kosong di hadapan Raffa. "Sama-sama, Sayang. Sekarang makannya mau sama apa?" tanya wanita cantik itu. "Sama ayam goreng dan sayur aja, Ma," jawab Raffa. Inka mengambilkan nasi lebih dulu. "Nasinya cukup?" tanyanya, lantas Raffa mengangguk sebagai jawaban. Inka segera mengambilkan apa yang putranya inginkan, lantas barulah ia beralih pada suaminya. Tanpa ia bertanya lagi Inka sudah tahu apa yang suaminya ingin makan, lantas seberapa porsi makan pria itu ia sudah hafal sehingga bisa langsung ia siapkan saja. Setelah menyiapkan makan anak dan suaminya barulah Inka menyiapkan makan untuk dirinya sendiri setelah itu acara makan malam pun berlangsung dengan semestinya. "Sekolahnya gimana, Raf? Lancar ujiannya?" tanya Aldi pada putranya. Raffa mengangguk setelah ia menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya. "Lancar kok, Pa." "Lulus SD mau lanjut SMP-nya ke mana?" tanya pria itu lagi. "Terserah Mama dan Papa aja, Raffa yakin kalian akan memberikan yang terbaik buat Raffa," jawab anak laki-laki itu bijak. Inka tersenyum dan mengusap kepala putranya. "Tentu saja, Raff. Mama dan Papa akan memberikan yang terbaik buat kamu. Iya 'kan, Pa?" tanyanya kepada sang Suami. Aldi mengangguk seraya tersenyum, dan suasana makan malam ini cukup terasa hangat seperti biasa dan berakhir sebagaimana semestinya. *** Seperti malam-malam kemarin, Aldi selalu bersikap romantis kepada sang Istri. Tak pernah lelah meski ia seharian bekerja di kantor, Inka juga senang dengan perlakuan ini maka wanita itu selalu totalitas dalam memberi pelayanan. Keduanya bercinta cukup panas, dalam posisi ini Inka begitu menikmati keindahan percintaannya dengan sang suami. "Aaakh!" Desahan Aldi membuat kedua kelopak mata Inka terbuka, hatinya melemah kala mendengar lenguhan panjang yang keluar dari rongga mulut suaminya. Benar saja, Aldi telah o*****e, tubuh pria itu lantas melemah dan jatuh lunglai di atas tubuh Inka yang masih memanas. Inka berusaha menahan segala sesak di dadanya, dia memejamkan mata pura-pura menikmati. Hingga Aldi mengangkat kepala untuk melihat wajah sang Istri, begitupun Inka yang juga membuka kelopak matanya sayu lantas menatap manik mata elang suami dengan penuh kesedihan yang ia tutupi agar Aldi tak merasa curiga. "Terima kasih, Sayang." Dikecupnya kening sang istri, lalu Inka pun memaksakan bibirnya tersenyum. Aldi merenggangkan pelukannya hingga memberi ruang pada Inka untuk bergerak, wanita itu lantas tidur miring membelakang Aldi, sementara pria itu lekas tertidur lelap seraya menikmati sisa-sisa kenikmatan yang ia dapatkan tanpa ia tahu ada hati yang merintih sedih. Inka menahan isakan di dalam d**a, mencengkram selimut dengan lelehan air mata tanpa suara. "Ya Allah, aku ikhlas jika aku tidak pernah terpuaskan. Aku ikhlas asal Mas Aldi bahagia."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN