Keluarga Harmonis

1095 Kata
Seperti hari-hari sebelumnya, Inka akan selalu menyambut pagi suaminya di saat pria itu membuka mata dengan senyuman manis seolah tak pernah ada kekecewaan hati di malam tadi. "Selamat pagi, Suamiku." Aldi tersenyum dengan wajah yang selalu berseri, pria itu meraih belakang kepala istrinya meminta Inka untuk mendekat dan melakukan morning kiss yang romantis. "Pagi juga istriku, udah mandi?" tanyanya saat ia melihat rambut panjang Inka masih basah. "Udah, Mas. Mas cepatlah mandi, kita shalat Subuh," pinta Inka seraya menegakkan duduknya. Aldi tersenyum lantas duduk dan turun dari tempat tidur, pria itu melangkah menuju ke kamar mandi dan lenyap di balik pintu. Inka menatap pintu kamar mandi yang tertutup itu dengan lelah dan sedih. Bukan apa-apa, sampai kapan ia merasa lelah dan sedih seperti ini? Karena jauh di lubuk hati paling dalam ia pun ingin merasakan hal indah yang jarang sekali ia dapatkan, dia juga hanya bisa diam atas kekurangan yang dimiliki Aldi karena tidak ingin membuat laki-laki itu merasa lemah. 'Tidak apa-apa, In. Mas Aldi hanya memiliki satu kekurangan, tapi tidak yang lainnya. Mas Aldi baik, dia setia, dan jangan lupa dia sangat mencintaimu, In!' Ya, itulah kalimat-kalimat yang selalu ia dawamkan di setiap kali rasa lelah, rasa kecewa, rasa sedih dan ingin menyerah ituenghinggapi perasaannya. 'Kamu harus ingat, In. Kamu dulunya itu siapa? Kamu siapa sebelum ini? Kamu bukan siapa-siapa jika bukan karena Mas Aldi!' Ya, suara hati Inka terus saja mengingatkan akan hal itu. Sehingga ia akan selalu kuat, tabah, sabar dan selalu ikhlas menerima satu kekurangan suaminya. Hanya satu, kan? Tidak yang lainnya, yang lainnya Aldi begitu sangat sempurna sebagai seorang suami. Suara pintu terbuka membuat lamunan Inka terbang bak asap terbawa angin, wanita itu lantas terpaku pada sosok Aldi yang baru saja keluar dari kamar mandi. Aldi yang masih mengenakan handuk putih yang melilit pinggang, menampakan tubuh bagian atasnya yang bidang dengan wajah segar dan sisa-sisa tetesan air dari rambutnya yang basah. Pria itu menatap Inka dengan senyuman heran. "Apa yang kamu pikirkan, Sayang?" tanyanya seraya tertawa kecil membuat Inka merasa canggung. Wanita itu menggeleng. "Ti-tidak apa-apa, Mas," jawabnya sedikit gugup, di hatinya takut kalau Aldi tahu apa yang ada di dalam isi kepalanya. Aldi semakin merasa lucu dengan tingkah istrinya yang tersipu malu, ia mengira kalau Inka tengah gugup karena terpesona padanya, meski memang benar. Memanglah tidak bisa dipungkiri pesona Aldi tak bisa diabaikan oleh siapa pun, dia memang sangat tampan dan gagah terlihat dari postur tubuhnya yang proporsional. Aldi mendekat dan Inka pun berdiri dari duduknya, keduanya berhadapan dan Aldi mencium kening istrinya sangat dalam sedalam perasaan cintanya pada Inka. "Masih pagi, jangan banyak melamun nanti kesambet," seloroh Aldi dengan tawa kecilnya. Candaan Aldi membuat Inka tersenyum bahagia, dipeluknya sang Suami dengan penuh kasih. Inka sangat mencintai Aldi sangat tulus dan akan menerima setiap kekurangan yang pria itu miliki, dia akan selalu setia sampai kapan pun asalkan Aldi juga selalu setia. "Aku cinta kamu, Mas," ungkapnya dengan sepenuh hati. Ungkapan sang Istri membuat d**a Aldi sangat berbunga, mereka berdua memang tak segan untuk saling mengungkapkan perasaan setiap harinya. Itu mereka lakukan untuk menjaga keharmonisan kehidupan rumah tangga mereka. "Mas lebih-lebih mencintai kamu, In. Mas sangat mencintai kamu, Sayang." Aldi memeluk Inka lebih erat, seolah ia takan ingin melepaskannya. Jujur saja, perasaan pria itu memang begitu dalam terhadap Inka. Rasanya ia tidak akan pernah bisa hidup baik jika tanpa Inka, sungguh di dalam mimpi pun ia tidak pernah ingin berpisah dengan wanita itu. Setelah berpelukan hangat saling menyalurkan perasaan lantas mereka saling mengurai dekapan. "Mas siap-siap dulu, kamu tunggu di tempat shalat saja," pinta Aldi. Inka mengangguk lantas menjauh dari Aldi melangkah keluar dari kamar. Sepeninggalan Inka, Aldi hanya menatap pintu yang tertutup itu seraya tersenyum. "Kamu adalah istri yang terbaik, In. Aku tidak akan pernah bisa sanggup jika kehilanganmu." *** "Assalamualaikum warahmatullah ... assalamualaikum warahmatullah ...." Aldi mengucap dua kalimat salam terakhir dalam shalatnya lalu diikuti oleh Inka dan juga Raffa yang berada di belakangnya. Mereka lantas berdoa sebentar, berdoa meminta yang terbaik untuk kehidupan keluarga mereka lantas barulah Aldi berbalik badan untuk bersalaman dengan anak dan istrinya. "Mas, aku langsung ke dapur aja, ya. Mau buatin kamu teh hijau seperti biasa," pamit Inka setelah ia bersalaman dengan suaminya dan menerima kecupan hangat di kening. "Iya, Sayang," jawab Aldi seraya tersenyum. Inka segera membuka mukena dan beranjak dari tempat shalat. "Pa, Raffa juga mau ke kamar, mau baca buku sebentar sebelum jam sarapan tiba," pamit anak laki-laki itu juga. Aldi mengangguk. "Iya, Raff, pergilah," sahut sang Ayah, lantas Raffa pun segera beranjak dari tempat shalat juga. Aldi tersenyum merasa bahagia atas kehidupan rumah tangganya yang jauh sekali dari masalah, Aldi tidak merasa bosan sama sekali dengan kehidupannya. Ini semua sudah cukup nyaman baginya, punya istri cantik, setia dan penurut, lalu punya anak laki-laki yang tampan, shalih dan tidak suka membantah. Aldi begitu banyak menaruh harap pada sang Putra yang kelak akan menjadi penerus bisnisnya kelak. Aldi pun melepas kopeah dan meletakannya di atas sejadah, lantas pria itu juga beranjak dari tempat shalat menuju kamarnya. Sementara Inka di dapur sedang berkutat dengan teh hijau yang sedang ia buat, saat ini juga Surti sang pembantu rumah sudah mulai menyiapkan masakan untuk menu sarapan nanti. "Bi, saya pergi dulu, Bibi masaknya hati-hati," pesan Inka kepada Surti. "Baik, Nya," jawab Surti seraya tersenyum dan mengangguk kecil, begitupun Inka yang membalas senyuman assistant rumah tangganya itu lantas melenggang pergi. "Bersyukur banget punya majikan dua-duanya baik-baik, nyonya Inka yang tidak pernah rewel, bicara pun selalu lembut dan bersikap ramah. Semoga kehidupan rumah tangga tuan Aldi dan nyonya Inka selalu langgeng dan dijauhkan dari masalah, amiin." *** Inka membuka pintu kamar dan melihat sang suami tengah duduk santai di sofa kamar seraya membaca buku, saat Inka masuk Aldi segera mengalihkan perhatiannya kepada sang Istri yang berjalan mendekat. Pesona Inka di mata Aldi memang tak pernah pudar, istrinya selalu cantik dan menggoda setiap waktu. Itu juga hasil dari usaha dia membahagiakan wanita itu, memberikan segala kebutuhan istrinya dan memastikan semuanya tidak ada yang kurang satu pun. "Mas, ini teh hijaunya," kata Inka seraya meletakan cangkir teh di atas meja. Aldi tersenyum dan mengulurkan tangan kepada istrinya seperti biasa, Inka tersenyum jika melihat suaminya begini. Inka lantas segera menyambut uluran tangan Aldi dan segera mendekat padanya. Pria itu seperti biasa meminta sang Istri untuk duduk di pangkuannya, ia ingin bermesraan sambil menunggu teh hijaunya hangat dan menghabiskan waktu sebelum ia akhirnya meninggalkan rumah dan istrinya untuk bekerja. Inka juga tak pernah mengecewakan harapan Aldi, dia selalu menyambut hangat suaminya yang selalu menggebu-gebu saat bersamanya. Melayani dengan sepenuh hati, tanpa ia memikirkan akan kecewa lagi dan lagi di ujungnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN