Bata, Abian serta Lalisa menyelesaikan makan malamnya dan bersiap meninggalkan restoran. Bata berjalan lebih dulu lalu di ikuti oleh Lalisa dan Abian.
"Mana kunci mobilnya?" tanya Lalisa.
"Buat apa? biar gue anterin lo kerumah" balas Abian yang dapat terdengar oleh Bata.
"Gak usah.. lo balik sama pak Bata aja---biar gue pulang sendiri aja" bisik Lalisa pada Abian.
Namun Abian tetap kekeuh untuk mengantarkan Lalisa dan juga mendapat persetujuan dari Bata yang membuat Lalisa tidak dapat menolaknya.
Abian kembali mengambil kemudi mobil milik Lalisa mengantarkannya menuju rumah. Sepanjang jalan Lalisa merasa canggung dengan sikap Abian yang memaksa untuk mengantarkannya pulang. Namun di sisi lain, sikap Abian pada Lalisa justru merasa bahwa Abian sedang mengasihani dirinya. Dimana Abian yang telah tau tentang penyakit mental yang di deritanya.
Abian dan Lalisa kembali cekcok. Abian dibuat kesal karena pikiran Lalisa yang selalu buruk padanya. Tak ingin membuat suasana semakin memanas, Abian menepikan mobil Lalisa.
"Lo tuh kenapa sih, selalu aja berpikiran buruk tentang gue! Gue mau niat baik juga---kalo lo merasa gue kayak gini karena kasihan sama lo, ya udah terserah lo!" ucap Abian sebelum turun dari mobil Lalisa.
Lalisa yang juga sedang dalam kondisi kesal dan hanya mengikuti egonya saja. Ia kemudian turun dari mobil dan mengambil alih kemudi lalu meninggalkan Abian yang turun di tengah jalan.
Sepanjang perjalanannya kembali kerumah, pikirannya terus saja terarah pada Abian dan juga pertengkaran keduanya yang baru saja terjadi. Lalisa juga terkadang menyalahkan dirinya dan pikirannya yang selalu saja negatif pada seseorang yang bersikap baik padanya. Entah itu karena ia hanya ingin melindungi dirinya atau memang karakter Lalisa.
Lalisa tiba di rumah namun pikirannya masih saja tertuju pada Abian yang tadi ia tinggalkan dipinggir jalan karena kesal.
"Ah sial!" batin Lalisa gelisah namun ia berusaha untuk menghilangkan pikiran tersebut.
Setelah selesai membersihkan dirinya dan mengambil waktu istirahatnya di atas tempat tidur sembari menatap langit-langit kamarnya. Pertengkarannya dengan Abian kembali terlintas dan mengganggu pikirannya.
"Apa dia udah balik yah?" batinnya.
"Aduh gak bisa nih gue kayak gini" lanjutnya.
Lalisa menghubungi Yeri dan meminta nomor Yuna adik Abian. Walaupun sebenarnya Lalisa memiliki nomor Abian, namun hanya saja Lalisa terlalu gengsi untuk menanyakan langsung pada Abian setelah apa yang tadi terjadi diantara keduanya.
Yeri menayakan alasan Lalisa meminta nomor Yuna, namun Lalisa hanya memberitahunya kalau ada urusan kantor yang harus ia selesaikan dengan Abian dan tidak sempat memberitahunya tadi. Walaupun terdengar tidak masuk akal, dimana Abian yang sudah lama berkerja dan Lalisa tidak memiliki nomor ponselnya, namun Yeri tidak dapat mengulik lebih karena Lalisa yang mematikan panggilannya lebih dulu.
Lalisa mengirimkan sebuah pesan singkat pada Yuna.
"Hai, Yuna. Ini Aku, Lalisa. Oh iya, Aku cuma mau tanya apa Abian udah sampai dirumah? Hm.. maaf yah, Aku hubungin kamu. Tadi ada sesuatu yang terjadi antara Aku dan Abian karena masalah kantor gitu, Aku sedikit kesal jadi ninggalin dia di jalan. Tapi Aku kepikiran, jadi mau tau aja" tulis Lalisa pada pesan singkatnya.
Tampaknya Lalisa tidak perlu menunggu terlalu lama untuk mendapat balasan dari Yuna.
"Nah ini Aku lagi di jalan kak sama kak Abian. Pantes aja dia nyuruh Aku jemput, yah emang kebetulan sih Aku baru pulang dari rumah sakit" balas Yuna.
Lalisa tercekat membaca pesan balasan dari Yuna yang mengatakan kalau dirinya masih bersama Abian saat ini.
"Abian gak tau kan kalau Aku ngechat kamu?" tanya Lalisa kembali untuk memastikan.
"Gak kok kak---kak Abian emang sering bikin kesel, Aku juga kalo ada di posisi kakak bakalan turunin dia di pinggir jalan wkwkwk" balas Yuna kembali.
Lalisa mengakhiri pesannya dengan Yuna setelah mengetahui kalau Abian sudah dalam perjalanannya pulang kerumah bersama adiknya.
Sedangkan Yuna dan juga Abian masih sedang dalam perjalanan. Seperti dengan penjelasan Yuna pada Lalisa, kalau dirinya di hubungi oleh Abian dan memintanya untuk di jemput di jalan yang ia berikan. Awalnya Yuna tidak mengetahui alasan Abian berada di pinggir jalan tanpa mobilnya, namun karena pesan dari Lalisa akhirnya Yuna menemukan alasannya.
Wajah kesal Abian juga masih terlihat saat dirinya mengemudikan mobil milik Yuna.
"Makanya jangan sering buat orang kesel, di turunin kan lo!" ucap Yuna.
"Apa sih lo?" balas Abian ketus.
Tak ingin membahasnya lebih lanjut, Yuna mengalihkan topik selagi Abian yang tidak mengerti dengan maksud perkataan adiknya.
Yuna memberitahu Abian kalau kakak dari Greeta di rawat dirumah sakitnya karena kecelakaan. Yuna juga memberitahu Abian kalau tadi Greeta menanyakan tentang dirinya. Mendengar hal tersebut, Abian menepikan mobilnya lalu menatap kearah adiknua.
"Ah gue tau! jadi lo yang ngasih nomor gure lagi sama dia?" tanya Abian.
"Ih siapa yang ngasih? orang dia punya nomor kakak kok!" balas Yuna.
"Mana ada? orang gue udah ganti nomor pas balik dari Amerika kok!" jelas Abian mengelak.
Lalu Yuna kembali teringat alur pertemuannya tadi dengan Greeta. Dimana ia menyebutkan nomor Abian lebih dulu pada Greeta. Melihat raut wajah adiknya yang seketika berubah membuat Abian membenarkan ucapannya.
"Benerkan? ulah lo?" ucap Abian kembali memojokkan adiknya.
"Yah maaf! Gak tau Yuna kalau dia gak punya nomor lo" balas Yuna.
"Pantes aja dia ngirimin gue pesan, mana panjang banget lagi---belum gue baca sampai sekarang" jelas Abian yang kembali mengemudikan mobilnya.
"Bukannya lo emang masih suka kan sama dia, ngaku aja deh kak?" sela Yuna menggoda kakaknya.
"Eh udah nggak yah!" tegas Abian.
Abian yang fokus mengemudikan mobilnya, namun ia juga terganggu dengan pertanyaan adiknya yang mempertanyakan soal perasaannya pada Greeta. Dimana setelah kepulangan Abian dari Amerika memang dirinya masih menyimpan perasaan pada Greeta, alasan itu juga lah yang membuat hatinya menggebu-gebu untuk masuk ke dalam perusahaan ayahnya dan mendapat jabatan tertinggi untuk memamerkannya pada Greeta.
Namun setelah ia mendapat pesan dari Greeta seketika rasa itu telah hilang dan entah kapan ia tak merasakan hal tersebut. Semuanya hanya berjalan begitu saja. Abian juga masih ingat saat dirinya baru saja menjadi staf di perusahaan ayahnya, dimana launching produk pertamanya ia yang tak sengaja mendapati Greeta namun tak memiliki nyali untuk bertemu dengannya.
"Yakin lo udah nggak ada?" goda Yuna kembali yang membuyarkan pikiran Abian.
"Dibilangin nggak juga!" tegas Abian kesal pada adiknya.
"Udah deh jangan nambah kekesalan gue, udah cukup Lalisa buat gue kesel!" lanjutnya keceplosan di hadapan Yuna.
"Oh jadi kak Lalisa yang turunin lo di pinggir jalan tadi?" ucap Yuna sembari tertawa puas.
"Pantes sih karena emang lo ngeselin orangnya!" lanjut Yuna.
"Lo mau gue turunin ju---"
"Berani turunin adik lo tengah malem gini---gak tau terima kasih banget sih, udah Yuna juga nolongin malah Yuna yang mau di turunin" sela Yuna yang juga kesal pada kakaknya.
Abian berusaha menormalkan dirinya yang sudah kesal hingga kepalanya karena Yuna dan juga Lalisa.
***
Abian dan Yuna berhasil tiba dirumahnya. Nisya tampak sudah menunggu kedatangan putra dan putrinya diruang tengah. Bata yang juga sudah pulang lebih dulu, menegur Abian menanyakan apakah dia sudah mengantar Lalisa pulang kerumahnya. Mengingat percakapan keduanya tadi yang dapat di dengar olehnya.
Mendengar pertanyaan dari Bata membuat Yuna tertawa namun tidak mengatakan apa yang sebenarnya terjadi dimana Abian yang lebih dulu berbohong pada ayahnya kalau ia sudah mengantar Lalisa pulang kerumahnya.
Yuna naik lebih dulu menuju kamarnya lalu di susul oleh Abian.
Abian menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur sembari memijit pelipisnya bersamaan dengan beberapa pesan singkat yang sejak tadi di kirimkan Greeta untuknya.
Abian menatap lama pesan yang dikirimkan Greeta. Dimana sebelumnya ia sangat berharap kalau Greeta menghubunginya kembali, namun entah apa yang ada di perasaannya saat ini ditambah dengan pertengkarannya bersama Lalisa tadi membuat perasaan Abian menjadi tak menentu.
Abian masih belum menjawab satupun pesan yang dikirimkan oleh Greeta. Justru ia menunggu pesan dari Lalisa yang menanyakan kabarnya setelah tadi ia turun di pinggir jalan. Namun Abian tak mendapatkan satu pesan pun dari Lalisa.
"Wah! bener-bener yah lo Lalisa, bisa-bisanya lo gak khawatir setelah tadi gue turunin diri gue send---ya iya sih emang gue yang mau turun tapi setidaknya kan itu terjadi karena dia juga yang selalu nilai gue jelek" batin Abian menggerutu kesal.
"Ah persetan lah!" ucapn Abian melempar ponselnya dan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
*****