Matahari terbit seperti biasanya, dimana terik paparannya berhasil menembus masuk kamar milik Lalisa yang kini masih terlelap dalam balutan selimutnya. Waktu kini menunjukkan pukul 9 pagi, tak ada aktifitas seperti biasanya di saat hari libur.
Terdengar ketukan dari balik pintu kamar Lalisa, Bu Dewi masuk mendekat ke arah tempat tidurnya.
"Mba sarapan dulu yuk..." pinta Bu Dewi.
"Nanti aja Bude" balas Lalisa yang masih terdengar malas untuk beranjak dari tempat tidurnya.
"Udah hampir siang loh mba" ucap Bu Dewi kembali.
"Iya deh, Nanti Aku turun" balas Lalisa yang membuat Bu Dewi pergi meninggalkan kamarnya.
Lalisa meraih ponselnya dan hanya mendapati beberapa notif dari operator maupun lainnya, tak ada pesan yang diterimanya pagi ini.
Sembari menguap Lalisa memisahkan dirinya dari selimut untuk beranjak dari tempat tidurnya. Sesekali masih menguap Lalisa menuju meja makan, dimana Bu Dewi telah menyiapkan sarapan untuknya.
"Loh pak Jaya gak ada, bude?" tanya Lalisa sembari berjalan menuju meja makan.
"Iya mba.. bapak lagi ke kampung dulu---katanya ibunya sakit" jelas bu Dewi.
Lalisa mengangguk mengerti lalu menyantap sarapannya. Lalisa juga selalu meminta bu Dewi serta pak Jaya untuk makan bersamanya.
Ponsel Lalisa berdering dengan menampilkan nama Yeri pada panggilannya. Tak ingin membuat Yeri menunggu, Lalisa langsung saja menjawab panggilannya.
Dalam panggilan tersebut Yeri hanya bercerita seperti biasanya pada Lalisa, ia juga terdengar mengeluh saat mendapat jadwal dirumah sakit di saat hari libur seperti ini. Hanya tawa yang dapat membalas keluhan Yeri pada Lalisa.
Lalisa memberitahu Yeri kalau ia akan mengunjunginya dirumah sakit sembari mengecek kondisinya, mengingat beberapa hari ini Lalisa yang hanya di sibukkan dengan pekerjaannya hingga lupa dengan kondisi tubuhnya.
Mendengar hal tersebut tentu saja membuat Yeri bersemangat. Ia juga meminta Lalisa membelikan kue kesukaannya saat datang kerumah sakit nanti.
Lalisa dan Yeri mengakhiri panggilannya.
Setelah selesai dengan sarapannya, Lalisa kembali menuju kamarnya dan bersiap untuk ke rumah sakit bertemu Yeri sekaligus mengecek kondisi kesehatannya.
***
Lagi dan lagi suara pertengkaran Abian dan Yuna terdengar dari lantai dasar rumahnya yang membuat Nisya serta Bata menggeleng melihat kelakuan kedua anaknya.
"Bian ada apa sih?" teriak Nisya.
"Loh tuh yah, kalau udah minjem barang balikin kenapa sih?" keluh Abian pada Yuna.
"Ya udah.. nanyanya gak usah teriak dong kak! Nanya baik-baik ke adiknya apa salahnya sih?" balas Yuna tak mau kalah.
"Lo tuh yah kalau ditanyain juga selalu aja ngebantah" sela Abian kesal.
Abian meninggalkan Yuna yang pada saat itu sedang ingin berangkat ke rumah sakit karena jadwal piketnya. Sedangkan Abian harus terburu-buru menuju tempat bermain golfnya, namun karena barangnya yang selalu di pinjam Yuna, waktu Abian harus tersita karena pertengkarannya.
Yuna turun dengan wajah kesal yang ia tampilkan di hadapan Nisya dan Bata.
"Kamu kenapa lagi sih sama kakak mu?" tanya Nisya menatap wajah putrinya.
"Ih kak Bian selalu aja marah---udah ah, Yuna berangkat dulu" jelas Yuna dengan wajah tertekuknya.
Disaat Yuna berjalan meninggalkan kedua orang tuanya, Abian baru saja turun dan mendapat perintah oleh Bata.
Bata meminta Abian untuk mengantar Yuna ke rumah sakit, mengingat pergelangan tangan Yuna yang semalam terkilir akibat kecerobohannya sendiri. Awalnya Abian menolak karena kejadian tadi yang membuatnya kesal pada adiknya, Namun tak di pungkiri juga kalau Abian juga mengkhawatirkan adiknya dengan kondisi tangan yang masih sakit karena semalam.
Abian menyusul Yuna menuju mobilnya dan merampas kunci tersebut saat Yuna akan membuka pintu mobil.
"Biar gue!" ucap Abian menarik Yuna menjauh dari pintu mobil.
Yuna yang mengetahui dirinya salah karena telah meminjam barang kakaknya dan tidak menaruhnya kembali, tak lagi mencoba bersuara setelah Abian mengambil kunci mobil miliknya.
Sikap mengesalkan Abian memang selalu melekat dalam dirinya, namun Abian selalu mendapat tempat di hati Yuna karena sikap khawatirnya yang gengsi untuk dia ungkapkan pada adiknya.
Yuna menuruti permintaan kakaknya, ia duduk di samping kursi pemudi setelah Abian masuk lebih dulu.
Abian melajukan mobil dan kembali mengoceh, namun kali ini ia tidak mengoceh karena barangnya yang di pinjam oleh Yuna. Abian mengoceh karena kecerobohan Yuna yang membuat tangannya terkilir.
"Kenapa gak ijin aja sih? bilang aja kamu lagi sakit" ucap Abian peduli.
"Gak bisa kak---lagian hanya tangan Yuna aja kok, gak apa-apa" balas Yuna.
"Yah tetep aja Yuna---kalo tambah parah gimana?" ucap Abian kembali sembari melirik pergelangan tangan Yuna yang masih merah.
"Ngga kok kak Bian----jangan khawatirin yah.." goda Yuna yang membuat Abian tiba-tiba meliriknya dengan wajah kesal namun mampu membuat Yuna tertawa.
Abian dan Yuna hampir tiba dirumah sakit, lalu tiba-tiba saja pandangan Abian teralihkan saat melihat sebuah mobil yang ia kenali juga menuju kearah yang sama dengannya.
"Loh ngapain dia kesini juga?" batin Abian.
Melihat hal itu dan mengingat Yuna yang juga mengenali Lalisa. Abian mencegat adiknya turun dan menanyakan apa yang di lakukan Lalisa di rumah sakit.
"Orang kerumah sakit emang mau apa kak kalau gak sakit atau ga mau ngejengukin orang? tapi mungkin juga kak Lalisa mau ketemu dengan kak Yeri" jelas Yuna.
"Udah ah.. Yuna mau turun nih" lanjut Yuna menepis tangan kakaknya.
"Eh sini kak Abian yang nganter mas---"
"Ih apaan sih! gak usah---"
"Kan kamu lagi sakit Yuna!" sela Abian kekeuh.
Tak menuruti perkataan Abian, Yuna langsung saja turun dari mobil. Namun Abian yang juga tetap kekeuh mengikuti Yuna turun dari mobil.
"Kak Bian, ini tangan Yuna aja yang sakit bukan kaki Yuna--udah gak---"
"Loh Yuna?" sela Lalisa tiba-tiba.
Pertengkaran kecil antara Yuna dan Abian tampaknya mengalihkan perhatian Lalisa saat berhasil memarkirkan mobilnya.
Yuna dan Abian melihat secara bersamaan ke arah Lalisa.
Lalisa mengabaikan Abian, ia hanya melihat ke arah Yuna saja. Tanpa disadari hal itu membuat perasaan Abian sedikit kesal.
"Ini kak Bian lebay banget mau anterin Yuna masuk ke dalam" jelas Yuna.
"Yuna tangan kamu kan sakit" balas Abian.
Mendengar hal tersebut membuat Lalisa tercekat dan melihat kearah tangan Yuna yang memang merah.
"Kamu sakit, kenapa gak ijin aja sama Yeri?" tegur Lalisa.
"Kan gue bilang apa! tadi kamu ijin aja dulu---gak mau denger sih!" sela Abian mendahului.
Perkataan itu mendapat lirikan sinis dari Lalisa.
"Yuna biar sama gue aja, lo balik aja!" pinta Lalisa.
Lalisa memegangi pundak Yuna bersiap untuk meninggalkan Abian, namun langkah Lalisa tercekat dengan pertanyaan Abian.
"Tunggu! Lo ngapain disini?" tanya Abian penasaran.
"Apa peduli lo? bukan urusan lo juga kan?" balas Lalisa yang membuat Abian semakin kesal.
Lalisa memegangi Yuna masuk ke dalam rumah sakit dan meninggalkan Abian.
Abian menatap kepergian Lalisa dan adiknya dengan perasaan kesal karena sikap Lalisa hari ini dengannya.
"Apa dia masih marah?---harusnya kan gue yang marah karena kejadian kemarin" batin Abian menggerutu kesal.
Abian kembali ke dalam mobil, memutar haluan menuju tempat bermain golfnya hari ini.
***
Lalisa bersama Yuna tiba di loby rumah sakit dan berpisah di lift saat Yuna akan ke ruangannya sedangkan Lalisa akan pergi ke ruangan Yeri. Yuna berterima kasih pada Lalisa yang mengkhawatirkan dirinya.
Yuna keluar lebih dulu dan masih menyisahkan Lalisa di dalam lift. Pintu lift kembali terbuka dan menampakkan seorang wanita yang tengah berdiri menunggu lift tiba. Wanita berambut hitam legam sepundak itu masuk ke dalam lift yang sama dengan Lalisa. Lalisa tak sengaja mendengar wanita itu yang menggerutu kesal karena pesannya yang tak kunjung di balas oleh seseorang.
Namun Lalisa tidak terlalu mengambil pusing hingga lift itu terbuka dan Lalisa keluar meninggalkan wanita tersebut.
Lalisa menuju ruangan Yeri yang berada di pojok lantai sepuluh tersebut sambil membawa kue yang diminta oleh Yeri. Lalisa mnegetuk pintu lebih dulu sebelum membukanya, dimana Yeri terlihat duduk di kursi kerjanya sambil memainkan ponselnya.
"Lama banget sih!" keluh Yeri beranjak dari kursinya dan menyusul Lalisa duduk di sofanya.
"Macet kali, Ri! Tadi gue juga gak sengaja ketemu Yuna dan kakaknya tuh di bawah" jelas Lalisa.
"Kakak Yuna, anak dari bos lo kan?---yang biasa lo ceritakan itu!" tanya Yeri memastikan.
Lalisa mengangguk setuju sembari menatap Yeri yang telah menyantap kue yang di belikannya.
"Kok lo bisa ketemu di bawah?" tanya Yeri kembali.
"Dia nganterin si Yuna karna pergelangan tangannya abis terkilir katanya---yah gue gak sengaja aja soalnya denger mereka berantem gitu" jelas Lalisa.
"Trus mana si Yuna?" tanya Yeri.
"Tadi pisah sih sama gue di lift, dia turun di lantai empat" balas Lalisa.
"Oh iya.. kak Sheril gak masuk yah hari ini?" lanjut Lalisa menanyakan Sheril.
"Kak Sheril lagi ke Singapura ada pertemuan dengan dokter disana juga---baru semalam berangkat" jelas Yeri.
Seperti perkataan Yeri kalau kue yang di mintanya memang kue yang disukainya, terbukti tidak sampai setengah jam kue tersebut telah habis di lahap olehnya. Yeri juga menanyakan tentang kondisi Lalisa saat ini, dimana beberapa hari yang lalu ia telah memberikan obat untuknya saat Lalisa mengatakan kalau dirinya akan berangkat ke Korea untuk acara amal perusahaannya.
Lalisa menceritakan pada Yeri tentang kondisinya saat itu, namun ia tidak memberitahunya kalau Abian telah mengetahui penyakit mental yang di deritanya. Lalisa menyembunyikan hal tersebut dari Yeri. Lalisa memberitahu lebih jelasnya pada Yeri, dimana saat itu panggilannya tiba-tiba terputus karena Abian.
"Kemarin jantung gue tuh kenceng banget, udah gue minum obatnya sebelum pergi pas nyampe hotel gitu lagi, Ri" jelas Lalisa.
"Sesak juga lo rasa?" tanya Yeri memastikan.
"Iya sih.. tapi bukan sesak seperti biasanya" balas Lalisa jujur.
"Berlangsung berapa lama?"
"Gak lama juga sih---aneh sih gue rasa kemarin tuh" jelas Lalisa yang juga bingung.
"Kalau sekarang gimana lo rasa?"
Lalisa menatap Yeri cukup lama hingga ponsel Yeri berdering dan menghentikan percakapan keduanya.
*****