Mobil berwarna merah menyala itu berhasil terparkir di halaman rumah keluarga Ganendra, Abian dan juga adiknya masuk bersamaan di dalam rumahnya. Nisya mendekati putri bungsunya setelah melihatnya pulang bersama Abian.
"Loh dek gimana mobilnya? Udah di bawa ke bengkel kan?" tanya Nisya.
"Iya, mah. Tadi udah Aku hubungin orang bengkelnya" balasnya.
"Bian yang ngejemputin kamu?" tanya Nisya kembali.
"Hm.. untung aja dia mau--tadinya kak Bian gak mau loh, mah.." keluh adik Abian mengadu pada Nisya.
"Tapi kan ini udah gue jemputin lo, kan?" balas Abian membela diri.
"Oh iya.. papa mana? Tega banget tadi ga negur Abian di tempat launching itu---astagaa!!" ungkap Abian kesal.
"Iya lah papa ga mungkin negur lo, ntar malah banyak stafnya yang manfaatin lo---harusnya lo paham alasannya papa ngela--"
"Yuna, gue gak suruh lo ngomong yah!" sela Abian semakin kesal karena ucapan Yuna.
Abian berjalan masuk menuju kamarnya yang berada di lantai dua rumah milik keluarga Ganendra, lalu di susul Yuna adiknya.
Nisya hanya bisa menggeleng melihat Abian dan juga Yuna sebelum ia kembali ke kamarnya, dimana Bata sedang berada di ruang kerjanya.
Abian menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur miliknya, hari ini sepertinya banyak hal yang membuatnya kesal. Mulai dari sikap Lalisa dan juga Bata di tempat launching itu, pertemuannya dengan Greeta serta perkataan Yuna adiknya.
Abian menghela napas kasarnya sebelum ia beranjak untuk membersihkan dirinya yang begitu berkeringat saat ini.
***
Lalisa tampak menikmati percakapannya dengan Yeri di salah satu cafe tempat produk launching Daisy Company. Percakapan yang begitu heboh membuat Lalisa dan juga Yeri hanya dapat tertawa, bahkan Yeri harus membungkam mulutnya agar tawanya tidak mengusik para pengunjung cafe tersebut.
Lalisa juga sempat membicarakan tentang Abian, dimana Lalisa mengeluarkan keluh kesahnya pada Yeri tentang sikap Abian.
"Dia memang anak pemilik perusahaan itu, tapi sepertinya sikap dan tingkah lakunya sangat jauh berbeda dengan ayahnya---pak Bata sangat baik dan penyayang" ungkap Lalisa sembari memuji Bata.
"Tapi dia lumayan ganteng, Lis!" goda Yeri.
"Attitude paling utama, Ri" balas Lalisa.
Hanya percakapan singkat mengenai Abian, dimana Lalisa langsung merubah topik pembahasannya kembali.
Yeri teringat dengan acara pernikahan teman kampusnya dulu, Yeri menawarkan Lalisa untuk menemaninya pergi ke acara tersebut. Namun Lalisa belum bisa memastikannya karena pekerjaannya yang selalu padat dan menyibukkan.
"Kalo lo bisa, kabarin gue yah!" ucap Yeri sebelum menyeruput ice vanilla pesanannya.
"Iya besok gue kabarin deh.." balas Lalisa santai.
Setelah selesai dengan pembahasannya, Lalisa dan Yeri meninggalkan cafe tersebut dan mengambil jalur masing-masing menuju rumahnya. Lalisa mengambil jalur berbeda dengan jalur menuju rumah Yeri.
Lalisa melajukan mobilnya dengan kecepatan biasa, dimana jalanan masih ramai di padati beberapa kendaraan. Sambil menyetel lagu milik one direction, Lalisa melajukan kembali mobilnya setelah terkena lampu merah di perempatan jalan.
And I'll be gone, gone tonight
The ground beneath my feet is open wide
The way that I been holdin' on too tight
With nothing in betweenThe story of my life, I take her home
I drive all night to keep her warm and time
Is frozen (the story of, the story of, the story of)
The story of my life, I give her hope
I spend her love until she's broke inside
The story of my life (the story of, the story of)
Lalisa turut melantunkan lagu dari salah satu penyanyi kesukaannya pada jaman dirinya masih berada di Bunka College Fashion di Jepang.
Tanpa terasa Lalisa berhasil tiba dirumahnya, ia memarkirkan mobilnya di halaman rumah yang kini hanya di huni dirinya, ibu Dewi dan pak Jaya yang mengurusi rumah. Dimana Dewi dan Jaya adalah orang-orang kepercayaan kedua orang tuanya dan Maharani oma Lalisa.
Lalisa dengan langkah kecil berjalan masuk dimana mba Dewi yang membukakan pintu untuknya.
"Mba Lisa, gimana udah makan? apa bude siapin makan malam?" tanya bu Dewi.
"Aku ga usah bude, tadi udah makan sama Yeri. Bude aja sama pak Jaya---Aku langsung ke kamar aja yah, capek banget soalnya tadi abis launching produk juga di mall" jelas Lalisa sembari berjalan.
"Oh gitu.. ya udah, istirahat aja mba" balas bu Dewi sopan.
Lalisa melempar senyum tipis ke arah bu Dewi sebelum ia berjalan masuk mendekat ke arah kamarnya. Dimana letak kamar Lalisa dan juga kedua orang tuanya berada di lantai dua, hanya saja ia memutuskan untuk menggeser semua barang miliknya dan di pindahkan ke kamar omanya yang berada di lantai dasar rumahnya.
Aroma coconut yang begitu lembut menyapu penciuman Lalisa saat ia masuk ke dalam kamarnya. Lalisa meletakkan tas jinjing miliknya di atas meja rias lalu menjatuhkan tubuh lelahnya di atas ranjang berukuran sedang tersebut.
Lalu tidak lama setelah itu bu Dewi kembali dan mengetuk pintu kamar Lalisa sebelum di persilahkan masuk.
"Ada apa bude?" tanya Lalisa.
"Mba, apa mau bude pijitin?" ucap bu Dewi.
"Boleh deh.. tapi Aku mandi dulu aja kali yah? Biar lebih segaran?" balas Lalisa.
"Terserah mba Lisa aja.. panggil bude aja kalo udah selesai nanti bude pijitin" jelas bu Dewi.
Lalisa mengangguk dan berterima kasih pada bu Dewi yang selalu menjaga dan membantu Lalisa setelah dirinya di tinggalkan kedua orang tua serta omanya dalam waktu yang hampir bersamaan.
Lalisa membersihkan dirinya, mengguyur tubuh lelahnya dan membalut dirinya dalam gumpalan busa yang menyegarkan. Cukup lama Lalisa bergelut dengan dirinya di dalam kamar mandi hingga ia selesai dan memanggil bu Dewi.
Bu Dewi memijit pundak hingga punggung Lalisa yang terasa sakit setelah seharian ini bekerja. Pijitan bu Dewi memang selalu membuat tubuh Lalisa menjadi lebih ringan setelah memforsir semua tenaganya saat sedang bekerja.
Bu Dewi juga tau tentang masa-masa terburuk Lalisa beberapa tahun lalu, Bu Dewi selalu menjaga Lalisa seperti anak kandungnya sendiri. Dimana bu Dewi dan pak Jaya kehilangan anak satu-satunya karena sakit parah. Uluran tangan kedua orang tua Lalisa lah dan juga Maharani oma Lalisa yang saat itu selalu membantu membayar rumah sakit anak Dewi dan Jaya, namun tak ada satupun yang bisa menentang ajal. Sejak saat itu Dewi dan Jaya berhutang balas budi pada keluarga Lalisa.
"Bude, kepala Lalisa juga yah---rasanya berat banget" pinta Lalisa sopan pada bu Dewi.
Mendengar permintaan Lalisa, bu Dewi memijit kepalanya hingga Lalisa sesekali memejamkan matanya.
"Bagaimana mba? apa sudah mendingan?" tanya bu Dewi.
"Eh iya, bude.. astagaa, Aku ketiduran" balas Lalisa menyadari.
"Udah bude, udah mendingan---bude istirahat aja" lanjut Lalisa.
"Yowes mba, kalu gitu bude keluar yah.." ucap bu Dewi sebelum meninggalkan Lalisa di kamarnya.
Lalisa membalikan posisi tidurnya menjadi terlentang, menarik selimutnya dan mematikan lampu kamarnya untuk beristirahat setelah mendapat pijatan dari bu Dewi.
***
Hari berikutnya...
Seperti biasanya Lalisa berangkat ke kantor sebelum jam delapan pagi dan seperti biasa juga jalanan sudah terlihat padat. Lalisa memarkirkan mobilnya di parkiran kantor dan berjalan sembari menenteng tas jinjing berwarna hitam hasil desainnya sendiri.
Terdengar beberapa staf kantor menyapa Lalisa pagi ini, Lalisa melemparkan senyum tipis untuk membalas sapaan dari para stafnya.
"Hei.. selamat pagi Lalisa" sapa Jeje lebih dulu.
"Ah.. iya, selamat pagi pak Jeje" balas Lalisa sopan dan juga ramah.
Lalisa dan Jeje bersamaan memasuki lift, namun beberapa staf mengurungkan langkahnya untuk masuk di lift yang di tempati Lalisa dan juga Jeje.
"Loh kenapa kalian ga masuk?" tegur Lalisa pada staf tersebut yang berdiri di ambang pintu lift.
"Gak apa-apa, masuk aja!" lanjut Jeje mempersilahkan.
Para staf yang segan satu lift bersama Lalisa dan juga Jeje akhirnya masuk di dalam lift yang sama.
Salah seorang staf wanita memencet tombol angkat tujuh dimana ruangan Lalisa dan Jeje berada.
"Terima kasih.." balas Lalisa.
Lift itu melaju dan berhasil membawa Lalisa dan Jeje menuju lantai tujuh kantornya, suara dentingan lift yang berbunyi membuat Lalisa dan Jeje keluar dari lift tersebut. Beberapa staf telah berada di kursinya masing-masing dan menyapa Lalisa serta Jeje.
Lalisa masuk lebih dulu di dalam ruangannya, dimana ruangan berada di bagian pojok lantai tersebut.
Seperti biasanya, beberapa map folder telah tersedia di atas meja kerja Lalisa serta secangkir teh hijau yang menjadi kesukaan Lalisa.
Lalisa berjalan menuju sebuah tanaman kecil yang di pajanginya tepat di samping jendela transparan ruangannya. Dimana pancaran matahari menembus masuk ke dalam ruangannya yang akan membantu fotosintesis dari tanaman tersebut. Tanaman yang tidak memiliki ukuran yang besar, hanya berukuran sedang namun terlihat begitu estetic di dalam ruang kerja Lalisa.
Lalisa menyemprotnya beberapa kali hingga daun yang berwarna hijau itu sedikit basah. Setelah selesai ia baru duduk di kursi kerjanya memisahkan beberapa map yang akan di periksanya lebih dahulu.
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Lalisa yang tampak sibuk mengecek laporannya.
"Iya.. masuk aja!" ucap Lalisa mempersilahkan.
"Permisi bu, saya di suruh oleh pak Henry untuk membawakan bingkisan ini.." balas seorang staf bagian finance.
"Untuk saya?" tanya Lalisa memperjelas.
"Iya bu.. pak Henry meminta saya membawakan bingkisan ini pada semua manajer" balas staf itu kembali.
"Oh iya sudah, simpan di situ aja yah... terima kasih" ucap Lalisa ramah.
"Baik ibu.. saya permisi mau keruangan pak Jeje" tutupnya.
Kepergian staf itu membuat Lalisa kembali melanjutkan pekerjaannya. Lalisa tampak serius menatap laptop dan sesekali melirik ke arah laporannya kembali. Sedangkan sejak tadi ada seseorang yang tengah menatapnya dari balik jendela kaca ruangannya.
Abian menatap Lalisa setelah seorang staf itu keluar dari ruangannya. Namun tiba-tiba saja Abian di kejutkan oleh kedatangan Zafira yang langsung berada di hadapannya dan mengganggu pandangannya.
"Hei.. jangan melamun dong---gak baik tau!" ucap Zafira bersemangat.
"Ada apa sih?" tanya Abian.
"Lagi liatin siapa sih kamu?" tanya Zafira balik.
"Gak ada--gak apa-apa" balas Abian.
"Oh iya.. gimana kontrak periklanannya, udah kamu buat.. bi?" tanya Zafira.
"Iya lagi sementara, Zaf---udah minggir, gue pengen lanjutin!" pinta Abian menggeser tangan Zafira yang sedang memegangi mouse laptop miliknya.
"Kalo udah selesai, kita perginya bareng yah.. bi" ungkap Zafira meminta Abian pergi bersamanya.
"Hm" balas Abian singkat dan membuang pandangannya.
Abian menatap layar laptopnya yang tengah membuat kontrak periklanan yang akan ia serahkan pada perusahaan periklanan yang telah bekerja sama dengan Daisy Company.
Kepergian Zafira dari meja Abian membuat Abian sesekali lagi melirik ke arah ruangan Lalisa yang saat ini sudah di tutupi oleh tirai. Dimana Lalisa yang memiliki remote pengendali tirai tersebut.
"Ngapain gue liatin dia mulu sih.." batin Abian bingung.
Abian melanjutkan kembali membuat kontrak periklanannya dan mengabaikan Lalisa.
Suasana kantor terlihat begitu serius, dimana semuanya sibuk mengerjakan pekerjaan masing-masing. Hanya suara ketikan keyboard komputer serta laptop, kertas yang di bolak-balik, suara print dan mesin fotocopy. Hanya sesekali suara orang berbisik terdengar di lantai tujuh tempat ruangan Lalisa serta meja kerja Abian.
Matahari semakin terik, dimana jam akan mendekati pukul 12 siang. Lalisa merenggangkan otot-ototnya setelah sejak tadi hanya menatap laptop, map folder dan laporan mingguannya. Begitupun para staf lain yang masih mengentikan pekerjaannya untuk makan siang, walaupun beberapa juga masih ada yang melanjutkannya.
Abian yang baru saja ingin beranjak dari kursinya mendengar percakapan beberapa staf wanita yang menyebutkan nama Lalisa. Hal itu membuat Abian kembali duduk dan mendengarkan percakapan tersebut.
"Eh tadi gue liat si Lalisa itu datengnya bareng loh sama pak Jeje"
"Eh kalian gak perhatiin si Lalisa itu kemaren pas launching produk itu? Cari muka banget tau di depan pak Bata---dia sok ngelayanin pengunjung mall yang lagi nanya produk kita"
"Gila yah! gak ada puas-puasnya dia jadi orang!"
"Jabatan manajer desain kurang apa yah?"
"Pantes aja banyak yang gak suka sama dia, mainnya licik banget. Deketeinnya yang punya jabatan bagus aja!"
"Iya.. dari dulu emang tuh cewe gak punya temen di kantor---si Indira aja tuh yang mau aja di manfaatin sama dia!"
"Dia gak mau temenan atau deket sama staf biasa kayak kita, maunya sama manajer sama CEO doang! idih murahan banget sih!"
Semua percakapan yang menjelekan Lalisa di dengarkan oleh Abian yang masih setia mendengar perkataan beberapa staf wanita tersebut hingga Danie yang menghentikan mereka.
Setelah mendapat teguran dari Daniel mereka pergi dan terdengar masih membicarakan Lalisa.
Abian beranjak dari kursinya bersamaan dengan Lalisa yang baru saja keluar dari ruangannya.
Abian berjalan dengan langkah besar menyusul Lalisa yang hampir sampai di depan lift. Lalisa mengambil ponselnya dan membalas pesan yang di kirimkan Yeri padanya.
"Temen lo gak ikut lagi?" tanya Abian tiba-tiba.
"Siapa?" tanya Lalisa balik setelah membalas pesan dari Yeri.
"Indira" balas Abian santai bersamaan dengan lift yang telah kembali.
Awalnya Abian sama sekali tidak tertarik menghapal semua nama-nama orang di kantornya. Namun setelah mendengar percakapan teman departemennya, ia mengingat nama Indira yang memang selalu bersama Lalisa.
"Ah.. kayaknya dia udah pergi duluan ke pantry---kenapa memangnya?" tanya Lalisa penasaran.
"Gak apa-apa, temen lo hanya dia kan?" tanya Abian memperjelas.
Mendengar perkataan Abian, membuat pandangan Lalisa menunduk dan tidak mengatakan apapun lagi pada Abian.
Suara dentingan lift mengalihkan perhatian Lalisa dan berjalan keluar lebih dulu meninggalkan Abian di belakangnya.
Dengan langkah yang jenjang Abian menyusul Lalisa dan berada di belakangnya karena antrian yang sudah panjang.
"Kenapa lo gak jawab?" tanya Abian pada pertanyaannya kembali, namun Lalisa berpura-pura sibuk dengan ponselnya dan mengabaikan pertanyaan Abian.
"Hei.." tegur Abian yang membuat orang di hadapan Lalisa menoleh dan menatap mereka berdua.
"Apa sih?" ucap Lalisa pelan pada Abian.
"Lo gak jawab pertany----"
"Emang lo sangat penasaran dengan pertanyaannya lo itu?" sela Lalisa kesal.
"Iya, kenapa?!" jelas Abian jujur.
"Iya! gue gak punya temen---gue gak bisa bersosialisasi yang baik seperti yang lainnya--puas?!" ungkap Lalisa jujur.
Lalisa menarik pasokan udaranya yang menipis setelah tadi ia tak dapat mengontrol emosionalnya karena pertanyaan Abian. Hal itu juga membuat tangannya mulai berkeringat serta rasa cemasnya yang kembali membuat ia kehilangan percaya diri. Jantungnya berpacu dengan begitu cepat hingga membuat dadanya terasa sesak.
Kini tiba giliran Lalisa untuk mengambil nampan makan siangnya, petugas pantry itu menatap tangan Lalisa yang gemetaran serta wajahnya yang juga berkeringat.
"Ibu gak apa-apa?" tanyanya.
"Ah.. iya--hm, gak apa-apa" balas Lalisa dengan nada suara yang pelan.
Abian yang juga menyadari hal tersebut melihat Lalisa dan menegurnya.
"Lo kenapa?" tanya Abian.
Namun Lalisa hanya diam dan tidak melakukan kontak mata seperti biasa pada Abian.
*****