PART 5. KENANGAN YANG BURUK

1531 Kata
Kini tiba giliran Lalisa untuk mengambil nampan makan siangnya, petugas pantry itu menatap tangan Lalisa yang gemetaran serta wajahnya yang juga berkeringat. "Ibu gak apa-apa?" tanyanya. "Ah.. iya--hm, gak apa-apa" balas Lalisa dengan nada suara yang pelan. Abian yang juga menyadari hal tersebut melihat Lalisa dan menegurnya. "Lo kenapa?" tanya Abian. Namun Lalisa hanya diam dan tidak melakukan kontak mata seperti biasa pada Abian. Lalisa berjalan mencari kursi kosong setelah mengabaikan pertanyaan Abian. Lalisa berusaha menenangkan dirinya, berjalan menunduk dan tidak berani melakukan kontak mata dengan siapapun. Lalisa berusaha mengontrol dirinya, mengatur pernapasannya, menyeka keringat yang membasahi telapak tangan serta wajahnya. "Lalisa lo harus tenang.." "Jangan panik---ingat pesan Yeri dan juga kak Sheril" Lalisa terus mengulangi kalimat itu di dalam dirinya hingga Abian datang dan memecahkan konsentrasinya. "Ngapain lo?" tegur Abian. Lalisa mulai mengankat wajahnya, menatap mata Abian yang kini juga tengah menatapnya. Lalu Lalisa juga melirik sekelilingnya yang sedang menatap Abian duduk bersamanya. Dimana hanya Indira saja yang biasa duduk menemani Lalisa makan siang. Beberapa staf lainnya sedang membicarakan Lalisa dan juga Abian yang sedang makan siang bersama. Dimana semua staf tau kalau Abian adalah anak baru di perusahaan tersebut. "Udah biarin aja--- anak baru!" "Kasihan juga kalau dia menjadi pengganti Indira" "Udah sih ngapain urusin yang gak penting jugaa---makan aja udah" Lalisa berusaha agar tetap tenang dan menyantap makan siangnya. Pikirannya kembali kosong, ia hanya menatap makan siang itu dan mengabaikan semua cerita Abian yang sejak tadi bercerita padanya. "Lo denger gue gak sih?" "Abian bisa gak sih lo gak usah deket-deket gue kalau di kantor!" ungkap Lalisa dengan nada sedih. "Kenapa emangnya? apa karna gue cuman staf biasa aja dan lo seorang manajer----" "Lo kenapa sih selalu buat gue kesel?" sela Lalisa kesal beranjak dari kursi dan meninggalkan Abian. "Sial! salah lagi gue!" batin Abian menggerutu. Lalisa meninggalkan pantry dengan rasa kesalnya pada Abian. Suara higheels yang di pakai Lalisa terdengar jelas bergema di lantai tujuh yang sudah kosong. Lalisa masuk ke dalam ruangannya, duduk di kursi kerjanya dan mengambil cermin yang terpanjang di atas meja lalu menatap pantulan wajahnya pada cermin tersebut. "Kenapa sih dia selalu ngajak gue ngomong di kantor!" keluh Lalisa dalam batinnya. "Iya! Gue emang buruk sosialisasinya sama semua orang! karena gue takut, mereka nantinya akan ninggalin gue lagi! gue gak pengen bergantung pada orang lain! gue bisa dengan diri gue sendiri! gue gak pengen berada di sana lagi!" lanjut Lalisa bergelut pada dirinya sendiri. Setelah mengeluarkan keluh kesahnya Lalisa kembali menenangkan dirinya, menarik pasokan udaranya dan melakukan relaksasi seperti yang di ajarkan Yeri padanya kalau dadanya kembali terasa sesak. *** Indira yang baru saja ingin makan siang, memilih meja yang sama yang di tempati Abian saat ini. Indira dengan dua temannya duduk bersama. Abian yang akan selesai dengan makan siangnya menatap Indira dan dua wanita lain yang duduk di mejanya. "Loh gue pikir lo udah selesai makan.." ungkap Abian mengingat perkataan Lalisa sebelumnya. "Ngga kok, emangnya siapa yang ngomong?" tanya Indira. "Lalis---hm, ibu Lalisa" ucap Abian. "Oh.. hm, tadi gue ada urusan bentar sama mereka. Makanya baru sempet makan" jelas Indira yang hanya di balas anggukan oleh Abian. "Oh lo anak baru di bagian promosi itu yah?" celetuk salah satu teman Indira. "Hm" balas Abian singkat. "Oh lo akrab juga sama Lalisa?" tanyanya kembali. "Kenapa emang?" balik tanya Abian penasaran. "Gak apa-apa. Tumben aja si Lalisa itu mau ngobrol sama staf biasa kayak lo" jelasnya. "Sssstt!! Suara lo kecilin napa, ntar di denger orang lain" tegur Indira. Mendengar teman Indira menyinggung hal tersebut membuat Abian tidak akan melewatkan kesempatan tersebut untuk mencari tau tentang Lalisa. Dimana kedatangan Abian yang ingin mengambil posisi tertinggi di perusahaan milik ayahnya, memilih Lalisa sebagai alat untuk mendapat kepercayaan Bata. Bata yang selalu memuji Lalisa di depan Abian, membuat Abian mendapatkan ide untuk menjalankan misinya. Abian harus mengambil langkah yang tepat agar perjuangannya tidak sia-sia menuju puncak keberhasilannya. "Emangnya Lalisa itu gak pernah mau deket sama staf biasanya yah?" tanya Abian memancing topik. "Iyalah.. sejak dia gabung juga disini gak mau ngomong sama siapapun---sok bisa jalanin semuanya sendiri banget, iya kan?" jelas Kila menatap Indira untuk mendapat pembenaran. "Bukannya dia deket sama lo yah?" lanjut Abian bertanya pada Indira. "Iya karna waktu itu, gue setim sama dia untuk buat desain tas gitu deh" balas Indira jujur. "Gue pikir setelah tas itu launching dia udah gak mau ngomong sama gue, tapi ternyata dia masih sama kok" lanjut Indira sambil mengingat kejadian tersebut. "Ya iyalah! Ntar sifatnya keliatan kalo dia langsung abaikan lo setelah itu!" sela Kila sinis. "Tapi yang gue denger, dia anak emasnya pak Bata yah?" tanya Abian pada topik utamanya. Mendengar perkataan Abian membuat Indira, Kila dan juga Mawar saling melirik lalu mengukir senyum tipis di wajahnya. "Wah! Lo anak baru cepet dapat gosip itu juga yah.." sela Mawar tertawa. "Emang benar?" lanjut Abian tak sabar. "Iya! dia satu-satunya kandidat wanita yang di promosiin sama pak Bata saat itu" jelas Kila. "Mungkin karena kerjanya si Lalisa itu baik di mata pak Bata" "Bukan kerjanya baik, cari mukanya yang baik!" ledek Kila sembari tertawa yang di ikuti oleh Indira dan juga Mawar. Abian satu-satunya orang yang tidak tertawa di meja tersebut. Ia hanya melirik para wanita itu secara bergilir dengan opini personalnya setelah mendengar cerita dari ketiganya. Abian juga mengklaim kalau Indira tidak setulus yang dia pikir. Abian tetap memilih Lalisa sebagai batu loncatannya untuk mencapai puncak di perusahaan ayahnya. Abian mengakui kerja keras Lalisa, mendengar semua cerita ayahnya sejak malam itu dimana ia, Bata dan juga Nisya pulang dari makan malam dua minggu yang lalu. Sepanjang jalan Bata hanya membicarakan kerja keras serta loyalitas Lalisa. Bata juga memberitahu Abian kalau Lalisa sangat tertutup, karena keluhan beberapa staf yang selalu mengadu padanya. Namun Bata merasakan hal yang berbeda dengan penilaiannya sendiri dengan karakter serta sikap yang di tampilkan Lalisa langsung padanya. "Gue deluan yah..." ucap Abian yang lebih dulu meninggalkan meja tersebut. Kepergian Abian membuat Indira, Mawar serta Kila melanjutkan topiknya. Namun Mawar menyela dan memuji ketampanan Abian. Begitupun Indira dan juga Kila yang membenarkan perkataan temannya. *** Abian dengan wajah risihnya setelah tau kalau Zafira akan ikut dengannya membawa kontrak kerja sama kantornya dengan perusahaan periklanan yang akan membantu mempromosi produk dari Daisy Company. Hanya berdua dengan Zafira, Abian tidak mempunyai pilihan selain pergi bersama Zafira. Daniel memberikan kunci mobil perusahaan pada Abian untuk di pakainya. Sedangkan Zafira sudah sejak tadi menunggu Abian di mejanya. "Kita pergi berdua aja nih?" tanya Zafira. "Hm" balas Abian singkat dan berjalan lebih dulu. Abian melewati ruangan Lalisa dan pandangan itu tak sengaja saling berpaut. Abian berjalan sambil menatap mata Lalisa, namun tiba-tiba saja pandangannya hilang saat tirai itu menutup ruangan Lalisa. "Ngapain sih lo Abian!" gerutu Abian dalam batinnya. "Astaga hp gue ketinggalan, Bi---tunggu bentar yah!" ucap Zafira. "Ya udah cepetan--gue tunggu di bawah aja!" balas Abian. Sesuai dengan perkataan Abian, ia menunggu Zafira di parkiran setelah menyalakan mesin mobilnya. "Duh.. sorry yah, Bi" ucap Zafira setelah kembali mengambil ponselnya. "Udah gak ada kelupaan lagi kan?" tanya Abian mempertegas. "Iya udah nih.. yuk jalan yuk.." pinta Zafira sambil memasang sitbeltnya. Abian mengumdikan mobilnya, dimana sepanjang perjalanannya Zafira terus saja berbicara tentang dirinya dan beberapa kali menanyakan tentang keluarga Abian. Namun Abian tak ingin mengancurkan semua perjuangannya, hanya demi mendapat pengakuan dari Zafira, kalau Abian adalah anak Bata, pemilik dari Daisy Company. Abian tak menjelaskan apapun tentang Bata dan juga Nisya sebagai kedua orang tuanya. Abian memberitahu Zafira kalau kedua orang tuanya sedang berada di Amerika, sedangkan dirinya di Indonesia hanya tinggal berdua dengan seorang adik perempuannya. Tak cukup dengan pertanyaan itu, Zafira juga menanyakan tentang adik Abian. Namun Abian tak lagi menjawabnya. "Kita puter musik aja kali yah, Zaf" ucap Abian keluar dari topik percakapannya dengan Zafira. "Oh iya.. kamu suka lagunya siapa, Bi?" tanya Zafira. "Gue sih penikmat musik, jadi lagu yang menurut gue enak di denger yah gue suka-suka aja sih" balas Abian santai. "Kalau film? lo suka nonton gak, Bi?" lanjut Zafira pada pertanyaannya yang lain. "Iya.. suka juga sih" balas Abian. "Kita nonton yuk nanti!" ungkap Zafira bersemangat. Abian seketika itu menoleh kearah Zafira lalu memusatkan kembali perhatiannya ke jalan. "Sial banget! ngapain dia malah ngajakin gue nonton astaga.. Abian!" keluh Abian dalam batinnya. "Oh bareng temen-temen gitu?" "Berdua aja.. kalau terlalu banyak mah berisik" ungkap Zafira. "Lah justru gak enak kali nonton berduaan, Zaf.." elak Abian. "Kenapa? enakan berdua aja.." ucap Zafira kembali. Tak ingin terlalu lama membahasnya dengan Zafira, Abian dengan cepat memarkirkan mobilnya dan meminta Zafira turun dari mobil untuk menyudahi percakapannya. Abian dan juga Zafira tiba di salah satu perusahaan periklanan yang akan menjadi rekan kerjasama Daisy Company. Abian berjalan lebih dulu lalu di ikuti Zafira yang berusaha sejajar dengan langkahnya. Seorang sekuriti perusahaan tersebut menanyakan maksud kedatangan Abian serta Zafira. Abian memberitahu sekuriti tersebut kalau dirinya sudah membuat janji terlebih dulu untuk bertemu dengan pimpinan perusahaan tersebut. Salah seorang staf wanita membantu Abian serta Zafira menuju lantai empat ruangan pimpinan perusahaan iklan tersebut. Zafira melirik sinis kearah wanita tersebut yang tampak menggoda Abian dengan lelucon garingnya menurut Zafira. Abian dan Zafira tiba di ruangan pimpinan perusahaan iklan tersebut. Lelaki berumur kepala empat titu mempersilahkan Abian serta Zafira duduk untuk memulai percakapannnya membahas kontrak kerjasama perusahaannya dengan Daisy Company. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN