Lalisa berjalan sambil menenteng tas jinjing miliknya di rumah sakit milik keluarga Sheril dan juga Yeri. Langkah kecil itu berjalan menuju lift yang saat ini di padati beberapa pasien serta perawat yang sedang menunggu lift tersebut terbuka.
Suara dentingan lift membuat semua yang sejak tadi menunggu bergegas masuk, begitupun dengan Lalisa yang juga bersiap masuk. Namun Lalisa mempersilahkan para pasien untuk lebih dulu masuk, sedangkan dirinya masih berdiri menunggu lift lain untuk membawanya menuju ruangan Yeri.
Disaat masih menunggu lift, tiba-tiba seseorang menyebutkan nama Lalisa yang membuatnya menoleh mencari sumber suara tersebut. Namun yang terlihat oleh Lalisa hanya dua orang wanita lengkap dengan jas putih yang melekat di tubuhnya berjalan mendekatinya dengan wajah yang ramah.
"Apa kalian yang tadi memanggil ku?" tanya Lalisa.
"Hm iya kak--- namanya benar kak Lalisa, kan?" ucap salah satunya.
"Iya.. kok tau?" balas Lalisa ramah.
"Temennya kak Yeri, kan?" lanjutnya kembali.
"Iya!" balas Lalisa membenarkan.
"Hm.. Aku yang kemaren gak sengaja kotorin sepatu kakak itu loh pas kita tabrakan di lobi rumah sakit---inget gak, kak?" tanyanya menyinggung kejadian tersebut.
"Oh iya.. Aku inget, eh kok tau nama Aku sih?"
"Tau dari kak Sheril sama kak Yeri, kak..." balasnya santai bersamaan dengan pintu lift yang kembali membuka.
"Mau ketemu kak Yeri, kan?" lanjutnya kembali.
"Iya nih, Yeri ada di ruangannya.. kan?" tanya Lalisa sambil berjalan masuk ke dalam lift di ikuti kedua wanita tersebut.
"Sepertinya masih rapat kak, semua dokter lagi rapat sekarang" balasnya.
"Oh iya? Hm.. ya udah Aku nunggu diruangan Yeri aja kalo gitu" tutup Lalisa.
"Kalian emang gak ikut rapat?" lanjut Lalisa.
"Kami berdua masih magang kak, belum resmi jadi dokter di rumah sakit ini" balasnya sembari tertawa bersama.
Lalu Lalisa meminta keduanya ikut dengannya setelah mengetahui kalau keduanya memiliki waktu yang senggang. Lalisa mengajak kedua wanita itu ikut ke dalam ruangan Yeri sambil menunggu Yeri selesai dengan rapatnya.
"Oh iya, Aku belum nanya nama kalian berdua loh! Namanya siapa?" tanya Lalisa ramah saat sudah berada di dalam ruangan Yeri yang sepi.
"Aku Yuna-hm, dan ini temen ku Riza" balas Yuna.
Riza melemparkan senyuman ramah pada Lalisa.
Lalisa melemparkan beberapa pertanyaan pada Yuna dan juga Riza hingga percakapan itu menjadi panjang dan semakin melebar.
Yuna menceritakan awal mula dirinya dan juga Riza magang di rumah sakit milik keluarga Sheril serta Yeri. Begitupun Lalisa yang juga menceritakan awal pertemuannya dengan Yeri serta Sheril di rumah sakit itu beberapa tahun yang lalu. Namun Lalisa tidak menceritakan secara detail pada Yuna dan juga Riza.
"Oh iya.. setau Aku selama kalian magang udah harus jatuhin pilihan untuk memilih spesialis, kan?" tanya Lalisa.
"Iya kak" balas Riza mendahului.
"Jadi gimana pilih yang mana?" tanya Lalisa kembali.
"Kalau Riza spesialis bedah--hm, Aku belum sih" balas Yuna.
"Loh kok belum kamu?"
Yuna menjelaskan pada Lalisa tentang dirinya yang belum bisa menetukan pilihannya menjadi dokter spesialis di bidang tertentu. Yuna kembali menceritakan tentang dirinya dan menyinggung keluarganya. Dimana ayah Yuna menginginkan Yuna sebagai wanita karir yang bekerja di sebuah perusahaan, sedangkan ibu Yuna memintanya untuk menjadi seorang dokter seperti yang di pilih Yuna saat ini.
Lalisa mendengarkan semua cerita Yuna dengan nyaman. Yuna terus saja bercerita hingga ia tersadar kalau ia sudah terlalu banyak bercerita pada Lalisa.
"Aduh maaf kak, kayaknya Aku keenakan deh cerita terus" ucap Yuna malu sambil tertawa.
"Gak apa-apa kok, Yuna. Aku seneng jadi pendengar ceritanya orang, soalnya jarang banget ada orang yang cerita panjang lebar kayak kamu tadi ke Aku" jelas Lalisa jujur.
Mendengar perkataan Lalisa membuat wajah Yuna sedikit berubah, ia seketika itu teringat dengan perkataan Yeri tentang Lalisa. Dimana Yeri pernah bercerita pada Yuna tentang apa yang sudah di alami Lalisa dan dirinya.
Yuna semakin percaya dengan cerita yang pernah di beritahukan Yeri padanya. Dan Yeri meminta Yuna untuk merahasiakannya pada siapapun.
Mendengar perkataan Lalisa yang tadi membuat raut wajahnya berubah, Yuna kini menjatuhkan pilihannya berkat ucapan Lalisa.
"Kayaknya Aku udah jatuhin pilihan Aku deh kak.." ucap Yuna tiba-tiba.
"Lah beneran, Yun?" tanya Riza yang juga terkejut.
"Oh iya? bukannya tadi belum bisa yah? masih di lema gitu.." balas Lalisa tertawa tipis.
"Iya tadi. Tapi karna ada sesuatu yang akhirnya buat Aku yakin dengan pilihan ku" jelas Yuna percaya diri.
"Jadi apa dong?" tanya Lalisa.
"Dokter anak.." balas Yuna bersemangat.
"Wow! kok kamu pilih dokter anak sih?" tanya Lalisa penasaran.
"Hm.. Aku hanya ikutin kata hati ku saja" balas Yuna jujur.
Lalisa terdiam sejenak mendengar jawaban atas pertanyaan pada Yuna. Lalu Lalisa mengangguk mengerti dan memperlebar senyumannya.
"Aku ingat cerita salah satu dokter dirumah sakit ini yang pernah cerita kalau waktu itu juga dia susah nentuin pilihannya. Karna katanya waktu itu dia pengen jadi dokter ahli bedah cuman tapi gak jadi..." jelas Yuna.
"Loh kenapa gak jadi katanya?" tanya Lalis penasaran.
"Yah.. karna dia lebih milih ngikuti kata hatinya dari pada obsesinya" lanjut Yuna.
Lalisa mengangguk mengerti dan sama sekali tidak tau kalau dokter yang di maksudkan Yuna adalah Yeri sahabatnya. Dimana sejak sebelum pertemuannya dengan Lalisa, Yeri sangat menginginkan menjadi dokter ahli bedah yang sukses. Namun karena pertemuannya dengan Lalisa, ia menjatuhkan pilihannya sebagai seorang psikiater hanya untuk membantu Lalisa keluar dari masa lalunya.
Yeri di buat sadar oleh Lalisa kalau kesehatan mental pada seseorang itu sangatlah penting. Dengan dirinya mengambil pilihan tersebut, Yeri akan banyak membantu orang-orang yang terpuruk dan orang-orang yang sulit untuk membenahi masalah yang ada di dalam dirinya tersebut.
Karena cerita yang saat itu di ceritakan Yeri pada Yuna membuatnya menjatuhkan pilihan menjadi seorang dokter anak seperti apa yang di mau oleh hati Yuna.
"Boleh tau gak kenapa kamu pengen jadi dokter anak?" tanya Lalisa.
"Kayaknya karena Aku suka banget deh sama anak kecil, kak.. lucu aja gitu mereka, kasihan kan kalo sakit. Jadi Aku pengen nolongin mereka.." balas Yuna sambil tertawa.
"Wow.. jawaban dari hati banget yah.." ledek Lalisa yang juga ikut tertawa bersama Yuna dan juga Riza.
Di saat yang sama Yeri telah kembali dari rapat. Ia mendapati Lalisa, Yuna serta Riza yang berada di dalam ruangannya.
"Hm.. sorry, gue yang ngajakin mereka masuk buat nemenin gue sambil nunggu lo selesai rapat kata mereka.." ucap Lalisa lebih dulu.
"Iya gak apa-apa, Lis! Bagus juga sih ada mereka yang nemenin lo, soalnya tadi gue rasa rapatnya lama banget astagaa---sampai ngantuh gue nungguin.." keluh Yeri duduk di kursinya dan meneguk segelas air miliknya.
"Loh kok Yuna kamu girang banget sih? kenapa?" lanjut Yeri mempertanyakan ekspresi wajah Yuna.
"Oh iya.. Yuna katanya udah jatuhin pilihannya loh, kak.." sela Riza mengadu pada Yeri.
"Oh iya? bagus dong.. jadinya kamu pilih apa, Yuna?" tanya Yeri yang juga penasaran.
"Spesialis anak, kak.." balas Yuna bersemangat.
"Loh.. kok tiba-tiba pengan pilih itu? Bukannya itu gak masuk di kedua pilihan kamu itu?" tanya Yeri.
"Iya.. tapi karna sesuatu--hm, Aku mantep pengen jadi dokter spesialis anak aja.." jelas Yuna.
"Sesuatu apa?" tanya Yeri.
"Nanti deh kita cerita lagi yah kak.. kayaknya kak Anneth udah nyari Aku deh sama Riza, soalnya kan rapat udah selesai gitu.." ucap Yuna.
"Ya udah.. sana gih!" pinta Yeri.
Yuna dan juga Riza meninggalkan ruangan Yeri, dimana saat ini hanya menyisahkan Lalisa serta Yeri.
"Lama yah nungguin gue?" tanya Yeri.
"Gak juga sih.. karna ada mereka tadi--lumayan Yuna cerita panjang lebar" ungkap Lalisa sembari tertawa.
"Iya.. Yuna tuh anaknya cerewet banget, kalo udah cerita ampun deh gak kelar-kelar---dia cerita soal keluarganya juga tadi?" tanya Yeri.
Lalisa kembali tertawa sebelum menjawab pertanyaannya Yeri dan membenarkannya.
"Cerita soal kakaknya gak? hampir tiap hari yah kalau ketemu gue sama kak Sheril dia tuh curhat tentang kakaknya terus astaga.. berentem terus dia, tapi lucu ceritanya jadi gue tuh sama kak Sheril tawa doang kalo anak itu cerita, kocak deh!" jelas Yeri sambil tertawa.
"Iya.. anaknya lucu emang! Tadi aja gue banyakan tawa denger cerita dia" balas Lalisa menyetujui.
"Oh iya.. gak ada keluhan kan lo datang nemuin gue?" tanya Yeri kembali pada pertanyaan Lalisa yang hari ini datang mengunjunginya di rumah sakit.
"Ngga kok, Ri. Aman.. lagi pengen singgah aja sih, pekerjaan gue juga udah selesai jadi bisa nyantai" jelas Lalisa membaringkan tubuhnya di atas sofa ruangan Yeri.
"Lah dateng tidur aja loh?" tegur Yeri sambil tertawa.
"Gue capek sih.. tapi males balik---bude sama pak Jaya soalnya lagi pulang kampung, jadinya gue sendirian aja deh di rumah" jelas Lalisa.
Mendengar jawaban Lalisa membuat Yeri tak lagi menggubrisnya. Dimana Yeri sangat tau kalau Lalisa sangat tidak menyukai suasana yang sepi terlebih lagi itu di rumahnya. Hal tersebut akan membuat Lalisa kembali teringat masa bahagianya dulu bersama kedua orang tua serta omanya dan Yeri tidak menginginkan itu yang akan mengganggu kesehatan mental Lalisa kembali.
"Mau gue pesenin yang seger-seger gak?" tanya Yeri.
"Boleh deh.. mumpung tadi gue emang lupa singgah belinya" balas Lalisa dengan matanya yang terpejam.
"Eh.. btw, lo udah gak punya pasien untuk konsul.. kan?" lanjut Lalisa tiba-tiba terbangun dari sofanya.
"Iya udah gak ada, aman terkendali deh! tidur aja lo!" balas Yeri.
"Kaget gue! takutnya gue ketiduran eh, ada pasien lo masuk" ucap Lalisa kembali membaringkan tubuhnya di atas sofa.
Yeri menatap Lalisa yang terbaring di atas sofanya dengan wajah penuh kasih sayang. Yeri tidak pernah membayangkan sebelumnya, kalau ia begitu menyayangi Lalisa. Dimana Lalisa bukan lah saudara ataupun seseorang yang memiliki darah yang sama dengan Yeri. Namun rasa sayangnya seperti rasa sayangnya pada kak Sheril kakak kandungnya. Semuanya karena Yeri sangat tau bagaimana usaha serta kerja keras Lalisa selama ini untuk keluar dari depresi yang di alaminya.
Yeri membuang jauh keinginannya untuk menjadi dokter ahli bedah yang sukses demi keinginannya untuk membantu Lalisa. Sheril juga mendukung penuh pilihan Yeri saat itu untuk memilih menjadi seorang psikiater seperti halnya Sheril.
Dimana biasanya orang hanya memandang seorang psikiater sebelah mata, karena pekerjaannya yang hanya mengobati kejiwaan seseorang. Namun siapa yang sangka kalau penyakit mental juga adalah salah satu penyakit yang akan membahayakan nyawa seseorang.
*****