PART 7. PERMINTAAN ABIAN

1980 Kata
Tepat satu bulan Abian bekerja di perusahaan milik ayahnya sebagai staf bagian promosi, Abian bekerja sebaik mungkin untuk menarik semua perhatian staf serta Jeje selaku manajer promosi. Namun tetap saja semua itu tak berarti bila ia belum mendapatkan apa yang dia inginkan dari Lalisa. Jeje meminta semua staf departemennya untuk berkumpul di ruang dua untuk melakukan meeting bersama dengan seluruh staf desain untuk membahas pembuatan produk serta membicarakan tentang market share bulan ini. Zafira meminta Elsa untuk memberitahukan pada Lalisa permintaan dari Jeje. Dengan langkah ringan Elsa berjalan menuju ruangan Lalisa, mengetuk pintu dan masuk ke dalam. "Ada apa Elsa?" tanya Lalisa lebih dulu. "Hm.. gini bu---katanya pak Jeje ingin bertemu di ruangan dua dengan seluruh staf prmosi dan juga desain" balas Elsa sopan. "Jam berapa yah?" tanya Lalisa kembali. "Sekarang ibu, kalau ibu gak terlalu sibuk" jelas Elsa. Lalisa beranjak dari kursi kerjanya, menyimpan beberapa map yang di peganginya dan menutup laptopnya. Elsa keluar lebih dulu lalu di susul Lalisa keluar dari ruangannya. Ruangan dua juga berada di lantai tujuh tempat departemen promosi serta desain berada. Lalisa menutup pintu ruangannya lalu berjalan dengan sepatu hak tingginya menuju ruangan dua yang telah di pinta oleh Jeje. Tampaknya seluruh staf promosi dan desain telah berkumpul serta mengambil posisinya masing-masing selagi menunggu Lalisa dan juga Jeje untuk masuk ke dalam ruangan tersebut. Lalisa lebih dulu tiba dan duduk di kursinya, kedatangan Lalisa mengalihkan perhatian Abian yang sejak tadi di tempeli oleh Zafira. Abian menatap Lalisa yang tampak serius membuka note kecil yang di bawanya masuk ke dalam ruangan tersebut. Sambil memainkan ponselnya, Lalisa menunggu kedatangan Jeje untuk memulai meeting antar departemennya. Suara decitan pintu menandakan Jeje telah bergabung di dalam ruangan tersebut. Jeje mengambil posisinya yang duduk tepat di sebelah kanan Lalisa. "Okay! Selamat siang semuanya.." ucap Jeje sebelum masuk pada poin utama pertemuannya. Semuanya membalas sapaan Jeje dengan tenang. "Hm.. jadi gini, Aku minta kalian berkumpul disini bersama karena ingin membahas beberapa hal yah---kita mulai aja yah biar gak terlalu banyak nyita waktu kerja kalian.." lanjut Jeje. "Daniel bisa paparkan apa-apa saja kegiatan kita bulan ini?" pinta Jeje pada Danie. Daniel yang mendapat perintah dari Jeje, berdiri dari kursi sambil memegangi secarik kertas di tangan kanannya. Danie mulai memaparkan kegiatan bagian prmosi bulan ini, serta beberapa kontrak iklan yang telah ia lakukan. Begitupun Lalisa meminta Indira menampilkan beberapa produk yang saat ini tengah di rancang staf desain untuk produk-produk yang akan di luncurkan perusahaan. Selama meeting tersebut, Abian hanya fokus pada Lalisa walaupun sesekali ia juga melihat dan mendengarkan isi dari pertemuan tersebut. Cukup lama kedua departemen itu melakukan pertemuan hingga Jeje menyelesaikan dan meminta semuanya untuk kembali bekerja. Jeje meninggalkan ruangan itu lebih dulu lalu di susul para staf promosi serta desain. Sedangkan Lalisa masih saja duduk membalas pesan yang di kirimkan Yeri padanya. Setelah ia membalas pesan tersebut, Lalisa beranjak dari kursi namun pandangannya masih saja tertuju pada layar ponselnya. Abian yang menyadari dapat mengambil kesempatan itu dengan sengaja menabrak Lalisa. "Aduh..!" keluh Abian. "Eh sorry!" balas Lalisa terkejut. "Sorry yah.." lanjut Lalisa kembali. "Fokus dikit dong lo!" ucap Abian. Lalisa melihat sekelilingnya dan hanya mendapati dirinya bersama Abian di ruangan meeting tersebut. "Iya.. sorry yah.." balas Lalisa kembali meminta maaf. Melihat Lalisa yang meminta maaf dan mengabaikan Abian kembali membuatnya bingung lalu mengekor di belakang Lalisa. "Eh lo gak pernah ketemu sama bokap gue yah?" ucap Abian tiba-tiba. Mendengar Abian menanyakan pertanyaan seperti itu membuat langkah Lalisa terhenti lalu menoleh ke arah Abian yang saat ini berada di belakangnya. "Memangnya kenapa?" tanya Lalisa dengan nada sinis. "Kalo dia tanya tentang gue, lo muji-muji gue yah!" balas Abian sembari mengidikkan bahunya. "Ngapain gue muji lo?" "Bukannya gue udah bekerja dengan sangat baik di departemen promosi ini?" "Iya.. berarti yang punya tugas nilai lo itu pak Jeje bukan gue!" jelas Lalisa kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Abian. Lalisa kembali masuk ke dalam ruangannya, membuka laptop lalu melanjutkan beberapa laporan tadi yang belum sempat ia selesaikan. Abian pun kembali ke kursinya dengan tatapan yang terus saja mengarah ke arah ruangan kerja Lalisa. "Susah banget sih buat dia baik ke gue" batin Abian mengeluh akan sikap Lalisa padanya. Abian yang melihat Zafira selalu berada di sekitarnya membuat ia juga ikut memanfaatkan Zafira untuk turut membantu kesuksesan dirinya mendapatkan jabatan yang ia inginkan di perusahaan milik ayahnya. "Zaf.." panggil Abin pada Zafira. "Eh iya, Bi.. ada apa?" balas Zafira mendekat. "Gue mau nanya nih---hm, pak Jeje pernah nanya ke elo gak sih soal kinerja gue?" tanya Abian langsung pada poinnya. Zafira mencoba mengingat maksud dari pertanyaan Abian padanya. Cukup lama Zafira berpikir hingga ia mengangguk membuat Abian penasaran. "Hm! pak Jeje pernah nanya ke Daniel sih bukan Aku.." balas Zafira jujur. "Trus kata si Daniel apa?" tanya Abian kembali semakin penasaran. "Katanya kamu cukup kerja keras dan tanggung jawab kalo di kasih tugas" jelas Zafira. "Trus? Daniel gak ngejelekin gue di Je--pak Jeje kan?" "Hm.. dia cuman bilang kadang kamu sok aja gitu--itu aja sih!" ungkap Zafira pada Abian. "Oh gitu... emang gue sok banget yah?" "Ngga kok, Bi! kamu yang terbaik menurut Aku disini sela Zafira bersemangat. Abian menghela napas kasar mengalihkan pandangannya dari Zafira menuju ke Daniel, orang yang telah membuat reputasinya di Jeje buruk. Dimana Jeje sudah pasti akan menyampaikannya langsung pada Bata. Di saat yang sama Elsa selaku sekretaris Lalisa memanggil Abian dan memintanya masuk ke dalam ruangan Lalisa. "Dia manggil gue?" tanya Abian memperjelas pada Elsa. "Iya.. bu Lalisa minta lo masuk ke ruangannya" balas Elsa kesal dengan ketidaksopanan Abian pada Lalisa. Abian beranjak dari kursinya dan menuju ruangan Lalisa, membuka pintu dan berhasil masuk ke dalam. Diman Lalisa saat ini masih terlihat serius dengan beberapa laporan hariannya. "Lo manggil gue--ada apa?" ucap Abian. "Tunggu bentar yah! gue selesain ini dulu.." balas Lalisa tanpa melihat kearah Abian. Pandangannya hanya terfokus pada layar laptop serta beberapa map yang juga masih berserakan di atas meja kerjanya. Abian menunggu Lalisa menyelesaikan pekerjaannya yang tanggung. Abian menunggu hampir lima belas menit hingga Lalisa telah selesai dan fokus pada Abian. Lalisa menjelaskan pada Abian kalau tadi pak Bata menghubunginya dan memintanya mengambil alih Abian pada departemennya. "Jadi gue udah gak di bawah pimpinan Jeje lagi nih?" ucap Abian bersemangat. "Gak di bawah pimpinan pak Jeje lagi bukan berarti lo hilang hormat sama dia yah! Dia tetap bos lo!" tegas Lalisa. "Tapi kenapa tiba-tiba bokap gue pengen gue ke bagian desain?----lo ngadu yang macem-macem yah sama bokap gue?" pikir Abian. "Pikiran lo selalu buruk aja yang sama orang! pak Bata itu nyuruh lo pindah ke bagian desain karena mungkin dia pikir lo udah tau apa-apa yang di kerjakan di bagian promosi---lo udah cukup belajar disana!.." jelas Lalisa. "... Gue juga gak tau apa yang di katakan pak Jeje ke pak Bata soal lo! padahal lo masih harus banyak belajar di bagian itu!" lanjut Lalisa. "Gue udah bekerja sebaik mungkin yah di departemen promosi!" tegas Abian yang tak mau kalah. "Oh iya.. pulang kerja nanti---aduh nanti aja deh" ungkap Lalisa mengurungkan niatnya untuk memberitahu Abian kalau Bata memintanya datang makan malam dirumahnya setelah pulang kantor. "Apaan?" tanya Abian penasaran. "Gak apa-apa, keluar aja sana!" pinta Lalisa mengusir Abian setelah memberitahu amanat yang di berikan Bata padanya. "Oh iya.. jadi per kapan ini gue pindah departemen?" tanya Abian sebelum meninggalkan ruangan Lalisa. "Abian jam kantor deh kita bahasnya--lo keluar aja dulu, ganggu banget soalnya!" balas Lalisa mengusir Abian untuk kedua kalinya. Abian menatap kesal kepada Lalisa yang mengusirnya dari ruangannya. Dengan wajah kesal Abian meninggalkan ruangan Lalisa tanpa berpamitan seperti staf lainnya. *** Yuna sedang menyeruput ice vanilla latte miliknya di temani Riza yang sedang memakan cemilannya. Keduanya berada di dalam ruangan Anneth selaku dokter ahli bedah sabahat Sheril kakak Yeri. Yuna dan Riza yang masih berstatus anak magang di rumah sakit milik keluarga Sheril tampak dekat dengan Anneth, Sheril serta Yei yang sebagai dokter seniornya. Sheril tak hentinya tertawa bersama Anneth dengan percakapannya. Sedangkan Yeri masih melayani beberapa pasiennya. Anneth menyinggung soal pilihan Yuna yang di beritahukan Yeri padanya. Dimana Yuna menjatuhkan pilihannya menjadi seorang dokter anak. Pembahasan itu berubah terarah pada pilihan Yuna. Anneth serta Sheril mulai mewawancari Yuna terkait dengan pilihannya. "Jadi gimana nih? kamu udah fix sama pilihannya?" tanya Anneth. Yuna menyimpan minumannya dan fokus pada pertanyaan Anneth. "Iya.. kak" balas Yuna singkat. "Bukannya kata Yeri kamu juga pengen jadi dokter ahli bedah?---Riza kamu pilih spesialis bedah, kan?" ungkap Anneth. "Iya kak" balas Riza membenarkan. Yuna memberitahu Anneth alasan yang sama dengan yang beberapa hari lalu katakan pada Lalisa, kalau dia sangat menyukai anak kecil. "Hanya karena alasan itu saja, Yun?" lanjut Anneth. "Itu bukannya hanya loh kak Anneth---hm, itu di katakan passion. Melakukan sesuatu tanpa rasa letih, karena kita menikmatinya. Aku cuman ikutin kata hatiku aja sih kak.." jelas Yuna jujur. Anneth melirik tipis ke arah Sheril yang juga turut mendengar perkataan bijaksana Yuna. Alasan sederhana Yuna mampu membuat Sheril dan juga Anneth mengerti. Keduanya juga teringat dengan Yeri yang meninggalkan keinginannya hanya untuk mengikuti hatinya. "Kalau Riza gimana? milih sepsialis ahli bedah karena keinginan sendiri juga?" tanya Sheril beralih pada Riza. "Hm.. Aku sih lebih milih apa yang di mau kedua orang tuaku kak.." balas Riza jujur. Sheril mengangguk lalu tersenyum. "Tapi kamu juga memang pengen milih itu, kan?" lanjut Sheril. "Iya sih kak.." balas Riza membenarkan. "Gak apa-apa sih kalo emang kamu juga pengen milih itu, hanya saja kalau emang hati kamu berat ke jalan itu gak usah di lanjutkan. Karena tanggung jawab sebagai dokter spesialis bedah itu sangat berat karena resiko yang lebih tinggi---iya kan, Neth?" jelas Sheril. "... orang tua emang udah pasti pengen liat anaknya sukses, semangat yah kalian berdua!" lanjut Sheril. Di saat yang bersamaan Yeri baru saja selesai dari pekerjaannya dan bergabung di ruangan Anneth. "Loh pada bahas apa nih?" tanya Yeri yang baru saja datang. "Ini lagi nanya-nanya aja sih sama mereka berdua.." sela Sheril mendahului. "Gimana, Ri? udah selesai?" lanjut Anneth. "Iya nih kak.." balas Yeri yang kini duduk tepat di sebelah Yuna. "Oh iya.. bukannya lo sama Lisa ada janji yah?" lanjut Sheril. "Gak jadi kak, katanya dia ada janji sama bosnya gitu" balas Yeri setelah mendapat kabar dari Lalisa yang membatalkan janjinya malam ini. "Udah pada mau balik emang?" lanjut Yeri. "Iya nih gue udah mau balik---capek banget, gue ada tiga operasi tadi hari ini" jelas Anneth. "Trus lo kak? mau balik juga sama kak Anneth?" tanya Yeri pada Sheril. "Belum.. gue masih ada pasien, mungkin sejam lagi dia baru bisa dateng ke rumah sakit" balas Sheril sambil menatap jam pada layar ponselnya. "Ya udah gue balik duluan aja yah.." ucap Yeri. Sheril, Yeri, Yuna serta Riza keluar dari ruangan Anneth. Dimana Yeri kembali keruangannya untuk bergegas pulang, sedangkan Sheril masih harus menunggu paseinnya. Sheril juga meminta Yuna dan juga Riza untuk pulang beristirahat dirumahnya. Seperti permintaan Sheril, Yuna serta Riza berpamitan keduanya. *** Matahari tampaknya sudah tenggelam dan hari berganti menjadi malam, Lalisa masih saja sibuk dengan pekerjaannya yang harus ia selesaikan. Lalisa menatap jam pada dinding ruangannya yang sudah menujukkan pukul 06.30 malam. Lalisa teringat dengan janjinya dengan pak Bata hari ini untuk datang makan malam di rumahnya. Lalisa beranjak dari kursi kerjanya, melihat sekeliling ruangan dan hanya mendapati Abian dan Zafira di sana. "Abian!" panggil Lalisa. Abian yang sejak tadi risih dengan Zafira akhirnya berhasil melepas diri berkat Lalisa. Abian menuju ruangan Lalisa dan meninggalkan Zafira. "Lo lama banget sih manggil gue! dari tadi gue nunggu nih!" keluh Abian kesal. Dimana sejak tadi Abian sudah menunggu Lalisa menyelesaikan pekerjaannya. Namun Abian juga tidak ingin membuat Zafira curiga kalau ia tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan Lalisa. "Loh lo kok marah sih?!" balas Lalisa. "Kesel aja gue, dari tadi tuh si Zafira nempel aja mulu---risih banget gue!" jelas Abian jujur. Mendengar hal itu Lalisa tertawa tipis yang membuat Abian pertama kalinya melihat Lalisa tertawa setelah sebulan lebih ia berada di perusahaan ayahnya. Gigi yang bersusun rapi itu membuat Abian kagum dan tanpa sadar memuji Lalisa dalam batinnya. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN