Abian menuju ruangan Lalisa dan meninggalkan Zafira.
"Lo lama banget sih manggil gue! dari tadi gue nunggu nih!" keluh Abian kesal. Dimana sejak tadi Abian sudah menunggu Lalisa menyelesaikan pekerjaannya. Namun Abian juga tidak ingin membuat Zafira curiga kalau ia tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan Lalisa.
"Loh lo kok marah sih?!" balas Lalisa.
"Kesel aja gue, dari tadi tuh si Zafira nempel aja mulu---risih banget gue!" jelas Abian jujur.
Mendengar hal itu Lalisa tertawa tipis yang membuat Abian pertama kalinya melihat Lalisa tertawa setelah sebulan lebih ia berada di perusahaan ayahnya.
Gigi yang bersusun rapi itu membuat Abian kagum dan tanpa sadar memuji Lalisa dalam batinnya.
"Ngapain lo tawa?" tegur Abian.
"Gak apa-apa---oh iya tadi yang pengen gue bilang---"
"Udah tau!" sela Abian mendahului.
"Apa emang?"
"Bokap gue nyuruh dateng kan di rumah?" jawab Abian.
"Iya.. pak Bata udah bilang yang sama lo?"
"Iyalah---secara gue anaknya!"
"Iya loh anaknya kalo dirumah, kalo disini lo anak bawahan gue!" jelas Lalisa.
Abian menghela napas kasar mendengar perkataan Lalisa yang tak dapat ia bantah, karena kenyataan yang memang terjadi diantara keduanya.
"Ya udah cepetan! Udah over nih jam kerjanya! nungguin lo lama banget astaga--kalo kerja tuh jangan lelet makanya!" keluh Abian.
"Lelet pala lo! kerjaan gue banyak, gak kayak kerjaan lo!" balas Lalisa yang tak mau kalah.
"Ssstt! Diem gak usah ngomong lagi!" sela Lalisa mendahului Abian yang ingin membantah ucapannya.
Lalisa meminta Abian keluar dari ruangannya dan menunggunya di tempat yang tak bisa di lihat oleh staf lainnya. Lalisa juga meminta Abian untuk mengurus Zafira agar Zafira tidak menyimpan curiga di antara keduanya.
Abian keluar setelah Lalisa memintanya. Sedangkan Lalisa lebih dulu meninggalkan lantai tujuh dan menuju parkiran kantor.
Lalisa melajukan mobilnya dan berhenti di salah satu perempatan menunggu mobil Abian keluar dari kantornya. Cukup lama Lalisa menunggu Abian hingga dirinya bosan, dimana Lalisa juga tidak dapat menghubungi Abian karena keduanya tidak saling menyimpan kontak.
Sambil memainkan game pada ponselnya, suara klakson mobil mengejutkannya. Lalisa membuka kaca mobilnya dan mendapati Abian di dalam mobil tersebut.
"Lama banget sih!" keluh Lalisa.
"Lama gue nungguin lo tadi!---udah gak usah ngebacot, ayooo!" balas Abian jalan lebih dulu menuju rumahnya.
Kedua mobil itu melaju, dimana mobil Abian berada di depan mobil milik Lalisa.
Ini adalah pertama kalinya Lalisa datang bertamu di rumah Bata, dimana sejak ia bekerja Lalisa tidak pernah mendatangi rumahnya. Bahkan pertemuan yang di adakan Bata juga seringkali di adakan di sebuah restoran ataupun hotel. Namun kali ini Bata meminta Lalisa mengunjungi rumahnya bersama Abian anak sulungnya.
Pekarangan rumah milik Bata begitu luas membuat Lalisa takjub dan menatap indah pada setiap tanaman yang di lewatinya.
Abian turun dari mobilnya setelah memarkirkannya, lalu di ikuti oleh Lalisa.
Abian juga berjalan lebih dulu masuk ke dalam rumahnya. Kedatangan Abian tampaknya sudah di tunggu oleh Nisya untuk di beritahukan pada suaminya yang sedang berada di ruang kerjanya.
"Loh kamu sendiran aja, Bi?" tanya Nisya yang hanya melihat Abian saja.
Tapi setelah itu wajah Lalisa terlihat membuat Nisya beranjak dari sofanya dan menyimpan ponsel yang di peganginya saat itu.
"Eh.. Lalisa" tegur Nisya bersemangat menyambut kedatangan Lalisa.
"Iya bu.. hm, maaf telat. Tadi Saya selesaiin dulu pekerjaannya biar ga deadline" balas Lalisa sopan dan ramah.
"Iya gak apa-apa---ayo sini, masuk.. Lis!" pinta Nisya.
Abian hanya memutar bola matanya melihat keramahan ibunya pada Lalisa. Sedangkan saat mengunjunginya di Amerika beberapa tahun lalu sikapnya pada kekasih Abian saat itu sangat ketus dan tidak ramah.
"Aku panggilin Bata dulu yah.. kamu duduk dulu" ucap Nisya.
"Iya bu, silahkan.." balas Lalisa memperlebar senyumannya.
Nisya menuju ruang kerja suaminya untuk memberitahu kedatangan Lalisa. Sedangkan Lalisa tampak menyusuri setiap sudut rumah milik Bata dengan kedua matanya. Terlihat begitu bersih dan klasik, dimana Bata sering mengoleksi beberapa barang vintage 80-an sebagai kesukaannya.
Tidak menunggu lama Bata keluar dan menyambut kedatangan Lalisa.
"Lalisa!!" tegur Bata bersemangat.
Lalisa beranjak dari sofanya dan menjabat tangan pak Bata sebagai bentuk kesopanannya pada pimpinan perusahaan tempat ia bekerja.
"Maaf Saya telat, pak. Tadi selesain pekerjaan dulu pak.." balas Lalisa tertawa tipis.
"Iya gak apa-apa, Lis! Oh iya.. Abian dimana, mah?" lanjut Bata pada Nisya.
"Udah masuk, mungkin ganti baju anak itu" balas Nisya.
"Kamu gak ada janjian kan, Lis! Saya tiba-tiba ngajak makan malam dirumah ini.." ungkap Bata sembari tertawa.
"Tidak pak.. nggak ada kok" balas Lalisa sopan.
"Baguslah--- oh iya, gimana Abian di kantor?" tanya Bata pada topiknya.
"Hm.. Saya sih gak bisa terlalu mendetail nilaiya pak.. soalnya kan yang bisa nilai banyak itu hanya pak Jeje aja" jelas Lalisa.
"Jeje udah kok ngomong sama Saya kok, Saya cuman mau denger penilaian kamu aja ini.." ungkap Bata.
Lalisa menarik pasokan udaranya sebelum menjawab pertanyaan dari Bata.
"Yang Saya liat sih pak, Abian anaknya bertanggung jawab sama pekerjaannya--hm, dia juga kayaknya cepat bersosialisasi gitu sama staf lainnya. Hasil pekerjaannya juga baik kok pak.." jelas Lalisa jujur.
".. hanya saja?"
"Hanya saja apa, Lis?" tanya pak Bata kembali.
"Hm.. gak apa-apa yah pak Saya ngomongnya?" tanya Lalisa segan.
"Aduh iya, Lis! Gak apa-apa, jujur aja yah.. karena Saya sangat tau Abian, jadi gak apa-apa jujur aja, jangan segen gitu karena status Abian anak Saya. Inget perkataan Saya kemaren, kan? Abian kalo di kantor itu bawahan kamu, bukan anak dari atasan kamu" jelas Bata mengingatkan Lalisa kembali dengan perkataannya saat membawa Abian bertemu dengan para jajaran manajernya.
"Hanya saja attitudenya kurang baik, pak.." ucap Lalisa dengan nada suara yang semakin mengecil.
Mendengar hal itu Bata dan juga Nisya tertawa dengan sikap Lalisa.
"Oh itu---Abian mah orangnya emang gitu, padahal Aku udah berapa kali loh tanyain ke dia kalo harus sopan sama orang di kantor---iya kan, pah?" sela Nisya yang di ikuti anggukan Bata.
"Iya.. apa lagi sama atasannya--hm, Saya bukannya bicarakan diri Saya sendiri sebagai atasannya. Hm.. jujur Saya sih gak apa-apa karena mungkin umurnya gak beda jauh sama Abian. Hanya saja untuk pak Henry, pak Okta beliau kan lebih tau gitu.. pak" jelas Lalisa kembali.
"Iya.. Saya paham maksud kamu" balas Bata yang masih juga tertawa.
"Trus apa lagi, Lis kekurangan anak itu?" lanjut Bata.
"Hanya itu aja sih pak.. menurut Saya attitude lebih penting dari segalanya" ungkap Lalisa jujur.
Bata mengangguk mengerti dan mempersilahkan Lalisa meminum minuman yang telah disediakannya.
"Ya udah.. minum dulu gih, abis itu kita makan malam yah.." ucap Bata ramah.
Lalisa mengangguk dan meminum minumannya.
"Mah.. panggil Abian dan adek makan malah gih!" pinta Bata pada Nisya.
Bata melanjutkan beberapa pembahasannya namun tidak lagi mengenai Abian ataupun pekerjaan. Ia lebih menanyakan kenyamanan Lalisa bekerja di perusahaannya.
Cukup lama Lalisa membahasnya dengan Bata hingga Nisya tiba dan meminta Lalisa menuju meja makannya.
"Sini, Lis!" pinta Nisya ramah.
Lalisa masuk setelah Bata mempersilahkannya berjalan lebih dulu menuju meja makannya. Lalisa mengambil kursi pertama bagian kanannya yang di pilihkan Nisya untuknya.
"Loh mana anak dua itu?" tanya Bata kembali.
Lalu di saat yang bersamaan Abian muncul dengan baju kaos hitam serta celana pendek yang lebih bisa di sebutkan sebagai boxer. Bahkan rambutnya juga masih terlihat setengah basah. Melihat pakaian Abian yang kurang sopan mendapat teguran dari Bata. Sedangkan Lalisa langsung saja memalingkan wajahnya dan menunduk menatap piringnya.
"Astaga.. Abian! kamu bener-benar yah! Ada tamu kok, pakaiannya kayak gitu!" tegur Bata kesal.
"Kan makan malamnya di rumah aja, pah.." balas Abian santai lalu duduk tepat di depan kursi Lalisa.
"Tetep aja, Bian.. kan ada Lalisa---kamu gak malu apa" lanjut Nisya.
"Nggak kok---ini mau makan gak sih?" ucap Abian.
"Maaf yah, Lis!" ungkap Nisya sembari memijit pelipisnya melihat sikap Abian.
Lalu seseorang kembali mengalihkan perhatian semuanya.
Lalisa di buat terkejut dengan anak kedua Bata yang tidak lain adalah Yuna, anak magang yang selalu di temui Lalisa saat mengunjungi rumah sakit Yeri.
"Loh.. Yu--Yuna, yah?" tegur Lalisa lebih dulu.
Semuanya menoleh kearah Lalisa yang mengenal Yuna di saat kunjungan pertamanya ke rumah Bata.
"Kak Lalisa? loh kok ada di sini?" lanjut Yuna yang juga bingung.
"Lah kalian berdua kok bisa kenal sih?" tanya Bata heran.
"Ah.. hm, Yuna magang di rumah sakit temen Saya pak.. trus sering ketemu dia disana makanya kenak" jelas Lalisa tertawa tipis.
Yuna mendekat dan duduk di samping Lalisa.
"Oh iya.. Yuna kan lagi magang, pah.." sela Nisya membenarkan.
"Oh gitu.. pantes aja---ya udah.. makan yuk!" pinta Bata yang kini sudah duduk mengambil posisinya.
Nisya melayani Lalisa dengan baik dan ramah di rumahnya. Dimana Yuna yang tak henti-hentinya mengajak Lalisa berbicara hingga percakapan keduanya yang hanya menghiasi makan malam tersebut.
"Berisik banget sih lo, dek!" keluh Abian.
"Ih apa sih lo, makan aja udah!" balas Yuna kesal.
"Oh jadi dia kakak yang selalu kamu ceritakan sama Yeri dan kak Sheril itu?" tanya Lalisa tertawa.
"Iya.. kak Yeri pasti udah cerita deh sama kak Lisa.. iya kan?" balas Yuna malu.
"Oh lo ngomongin gue sama temen dokter lo itu?" sela Abian tak terima.
Bata dan juga Nisya hanya dapat menggeleng dan saling melirik melihat Abian dan juga Yuna selalu saja berantem.
"Lisa.. maklum yah, mereka berdua emang suka gitu!" sela Nisya.
"Iya bu.. gak apa-apa kok" balas Lalisa tertawa.
Bata meminta Yuna dan juga Abian untuk berhenti dan melanjutkan makan malamnya serta menghormati Lalisa sebagai tamunya.
"Oh iya.. per kapan Aku pindah di departemennya dia?" tanya Abian.
"Per senin aja kali yah.. besok papa hubungin om Okta deh biar dia yang ngasih tau ke Jeje aja" balas Bata.
"Gitu kali yah, Lis?" lanjut Bata meminta pendapat Lalisa.
"Iya pak.." balas Lalisa sopan.
"Oh jadi lo bawahannya kak Lalisa di kantor papa, yah?" sela Yuna yang kembali membuat Abian kesal.
"Apa sih lo? makan aja udah!" pinta Abian sinis.
"Dia gimana kak? pasti songong banget kan yah di kantor? gak sopan dan semaunya kan?" lanjut Yuna bertanya pada Lalisa.
"Hm.. gimana yah?" ucap Lalisa menatap ke arah Abian lalu beralih pada Bata serta Nisya secara bergilir.
"Oke udah! Gak usah di jawab kak, udah tau Aku" balas Yuna tertawa.
Abian menyelesaikan lebih dulu makan malamnya dari pada lainnya, lalu di susul oleh Lalisa hingga semuanya selesai.
Lalisa kembali duduk minta Nisya untuk duduk di ruang tamu rumahnya, dimana Yuna kini ikut duduk bersama Lalisa sedangkan Abian lebih memilih masuk ke kamarnya.
Lalisa bercerita pada Bata tentang pertemuannya dengan Yuna dan memberitahu sikap ceria serta sopan Yuna pada semua orang di rumah sakit serta para pasien. Mendengar penilaian berbeda Lalisa untuk Yuna membuat Bata memuji anak bungsunya tersebut. Dimana Yuna memiliki sifat yang sama dengan Bata dari pada Abian.
Cukup lama Bata menanyakan tentang Yuna pada Lalisa hingga waktu terus saja berlalu dan menujukkan pukul sembilan malam. Lalisa berpamitan pada Bata, Nisya serta Yuna untuk kembali ke rumahnya.
"Biar Aku yang anter aja, mah.." ucap Yuna bersemangat.
"Saya permisi dulu pak Bata, ibu Nisya.." pamit Lalisa.
Yuna mengantar Lalisa keluar hingga ke mobilnya dengan sifat cerianya. Yuna kembali memberitahu Lalisa kalau ia tak menyangka Lalisa bekerja di perusahaan milik ayahnya.
"Oh iya.. Aku baru inget kata kak Yeri tadi astagaa.." ungkap Yuna.
"Emangnya apa kata Yeri?" tanya Lalisa penasaran.
"Kak Yeri bilang aja sih tadi, kalau kakak ngebatalin janjinya karna ada janji sama orang kantornya kak Lisa. Ternyata dan ternyata, janjinya sama papa Aku toh.." balas Yuna sembari tertawa.
"Btw... kak Abian emang menjengkelkan loh kak---beneran Aku tuh.." lanjut Yuna berbisik.
Lalisa hanya tertawa mendengar ucapan Yuna yang terlalu jujur untuk menjelekkan kakaknya.
"Ya udah.. Aku pulang dulu yah, kamu istirahat gih.." ucap Lalisa sebelum masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan rumah Bata.
Yuna melambaikan tangannya mengantar kepergian Lalisa.
*****