Sesuai dengan janji Bata tentang kepindahan Abian di bagian desain. Tepat di hari senin, Bata terlihat sedang berkeliling di dalam perusahaannya sembari melihat semua kinerja dari staf kantornya. Setiap mata yang memandang melemparkan senyuman pada Bata sembari menunduk mana kala kedua pasang mata itu saling berpaut.
Langkah Bata menuntunnya tiba di lantai tujuh dan menuju kearah ruangan Jeje. Abian tercekat melihat ayahnya dan sekretaris Bata berjalan di depan meja kerjanya. Namun seperti biasanya, Bata tak sedikit pun menoleh kearah putra sulungnya itu, pandangan Bata hanya terarah lurus sebelum ia masuk ke dalam ruangan Jeje.
Kedatangan Bata seketika membuat Jeje beranjak dari kursi kerjanya dan menyambut kedatangan pimpinannya.
"Selamat pagi, pak.." sapa Jeje sopan.
"Pagi, Je---gimana kerjaannya?" tanya Bata santai setelah ia duduk di sofa ruangan Jeje.
"Seperti biasa aja, pak.." balas Jeje sembari tersenyum tipis.
"Udah denger dari Okta ataupun Henry belum, kamu?" tanya Bata kembali.
"Tentang Abian yah, pak?" balas Jeje memperjelas kembali.
"Iya.. Saya rencana ingin mutasi dia ke bagian desain biar dia juga bisa banyak belajar di departemen itu" jelas Bata.
"Saya sih setuju aja pak, Abian juga anaknya bertanggung jawab sama pekerjaannya dan pandai bersosialisasi juga dengan yang lain.. pak" ungkap Jeje sama dengan apa yang di katakan Lalisa saat makan malam dirumahnya.
"Ya udah hari ini aja kamu sampaikan ke Abian dan staf kamu yang lainnya yah.. Saya juga udah sampaikan sama Lalisa sebelumnya" jelas Bata kembali.
"Baik pak.. Saya akan sampaikan setelah ini" ucap Jeje mengangguk.
Bata keluar dari ruangan Jeje dan menuju ruangan Lalisa, hanya sebentar saja Bata menghabiskan waktu di ruangan Lalisa selagi Jeje menyampaikan tentang mutasiannya Abian ke bagian desain. Bata keluar dari ruangan Lalisa bersamaan dengan Jeje yang telah menyelesaikan penyampaiannya.
Abian yang sudah mengetahui apa yang akan disampaikan Jeje tampak tenang dan bersemangat, karena ayahnya sudah semakin yakin dengan kinerjanya di perusahaan. Bahkan Abian merasa bangga karena kepindahannya ke bagian desain membuat peluangnya mendapatkan hati Lalisa semakin luas. Dimana kesempatan itu tidak akan ia sia-siakan demi mendapat hati Lalisa untuk mencapai titik puncaknya.
Zafira orang yang menaruh hati pada Abian merasa kecewa dengan keputusan Jeje yang telah memindahkan Abian ke departemen lain. Dimana ia semakin sulit untuk mendapatkan perhatian serta hati Abian.
"Bi, kamu buat salah yah sama pak Jeje?" tanya Zafira tiba-tiba menghampiri meja kerja Abian.
"Ah, salah? Salah apaan, Zaf?" tanya Abian kembali dengan wajah bingungnya.
"Iya.. itu, kenapa pak Jeje tiba-tiba mindahin kamu ke bagian desain kalau ga buat salah?" jelas Zafira dengan wajah murungnya.
Abian mengukir senyum tipis di ujung bibirnya namun berusaha kembali menormalkan wajahnya agar tak ada pertanyaan lagi dari Zafira.
"Yah ga tau juga gue apa alasannya, nanti deh gue tanyain ke pak Jeje atau La--ibu Lalisa" ungkap Abian sembari mengidikkan bahunya.
Lalu di saat yang bersamaan Elsa, tiba-tiba mendekat dan menegur Abin.
"Bi, lo dipanggil bu Lalisa ke ruangannya---sekarang yah!" pinta Elsa pada Abian.
Mendengar hal itu, Abian beranjak dari kursinya dan melangkah menuju ruangan Lalisa.
Langkah jenjang itu berhasil masuk ke dalam ruangan Lalisa, dimana Lalisa masih sangat fokus dengan layar laptop di hadapannya.
"Katanya lo manggil gue?" ucap Abian mendahului namun tak ada jawaban dari Lalisa.
Abian pun duduk lebih dulu tanpa di persilahkan oleh Lalisa.
Sekitar sepuluh menit Abian menunggu sambil memutar video di youtube ponselnya, dan Lalisa pun mengesampingkan laptop miliknya.
"Gue udah bisa ngomong?" ucap Lalisa menatap kearah Abian yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Dari tadi juga gue udah nungguin lo ngomong!" balas Abian tanpa menarik pandangannya dari ponsel miliknya.
"Simpen dong hp lo!" pinta Lalisa yang seketika itu di turutin oleh Abian.
"Lo udah denger langsung dari pak Jeje, kan? Kemaren juga udah di bahas di rumah lo tentang mutasinya lo ke bagian gue, di departemen desain..." jelas Lalisa santai.
"Hm.. trus?" balas Abian.
"... departemn gue agak berbeda dengan departemen promosi, dan gue gak perlu jelasin ke lo nanti lo aja deh yang rasain sendiri---jangan banyak ngeluh aja kalo lo di departemen desain, karna yah kerjaannya emang banyak gitu lah" lanjut Lalisa.
"Trus di sini gue bagian apa?" tanya Abian.
Mendengar pertanyaan Abian membuat Lalisa menarik pasokan udaranya lalu melepaskannya kembali. Mengingat permintaan Bata yang baru saja ia terima.
"Pak Bata minta lo jadi bayangan gue" ungkap Lalisa berat.
"Bayangan lo? maksudnya gimana nih?" tanya Abian bingung.
"Intinya beliau pengen lo itu tau, apa kerjaan gue sebagai manajer desain. Yah.. secara garis besar sih kerjaan semua manajer sama aja, hanya saja bidangnya yang membedakan. Dan yang gue tangkep dari permintaan beliau.. yah dia mau lo tau apa pekerjaan seorang manajer gitu.." jelas Lalisa dengan terkaannya.
Abian mengangguk sembari terseyum tipis mendengar perkataan sekaligus permintaan ayahnya pada Lalisa.
"Jadi gue di sini juga bareng lo di ruangan ini?" tanya Abian.
"Hm.. iya. Nanti gue minta di kasih meja dan kursi aja sih di ujung pojok sana" balas Lalisa menunjuk kearah depan jendela kaca dalam ruangannya.
Abian kembali mengangguk puas dengan keputusan yang di ambil ayahnya untuk dirinya.
"Dikit lagi nih.." batin Abian bersemangat.
"Gue gak perlu jelasin kan, apa yang harus lo katakan pada staf lainnya tentang hal ini? kenapa lo satu ruangan sama gue? Lo yang cari aja deh---gue rasa lo lebih bisa cari alasan dari pada gue sendiri" ungkap Lalisa.
"Tenang aja.. gampang itu mah" balas Abian santai.
Lalisa meminta Elsa menyiapkan meja dan kursi untuk di pakai Abian di dalam ruangannya. Cukup lama Abian menunggu dan duduk di sofa sedangkan Lalisa kembali melanjutkan pekerjaannya dengan mengabaikan kehadiran Abian setelah percakapannya. Tak ada pembahasan dari keduanya membuat Abian juga asyik dengan ponselnya.
Lalu sekitar lima orang pria masuk kedalam ruangan Lalisa dengan membawa kursi serta meja kerjanya yang berukuran sedang untuk Abian.
"Permisi bu.. ini Saya simpan dimana, yah?" tanya salah satu pria tersebut.
"Hm.. disitu saja pak, tolong. Pas di deket jendela kaca itu yang ada tanaman Saya" pinta Lalisa yang juga beranjak dari kursinya.
Para pria itu menuruti permintaan Lalisa dan meletakkan kursi serta meja kerjanya itu di tempat yang di inginkan Lalisa.
"Ada lagi, bu?"
"Udah pak, terima kasih yah.." balas Lalisa mengantar kepergian kelima pria tersebut.
"Angkut barang lo dan simpen disana" lanjut Lalisa pada Abian sebelum ia kembali ke kursinya dan melanjutkan kerjaannya.
"Iya bu.." balas Abian dengan nada mengejek.
Lalisa melanjutkan kembali kerjaannya selagi Abian membawa masuk beberapa barang yang berada di atas mejanya sebelumnya.
Keluarnya Abian dari ruangan Lalisa membuat semua pasang mata menatapnya dengan penuh penasaran. Dimana sejak di dalam ruangan tadi, semuanya pada membicarakan Abian dan juga Lalisa.
"Loh.. lo kok satu ruangan sama bu Lalisa sih, Bi?" tanya salah seorang staf desain.
"Iya, katanya diminta sama pak Henry---gue juga ga tau kenapa ngikut aja sih gue.." balas Abian santai sembari tersenyum tipis.
Dengan menyebutkan nama pak Henry staf tersebut tak lagi berani menanyakan alasan tersebut.
Lalisa yang juga kepo dengan alasan yang akan di berikan Abian pada staf lain menegok dan menatap Abian yang sedang berbicara dengan stafnya. Namun tak di sangka aksi itu mendapat tatapan juga dari Abian saat ia ingin masuk kembali kedalam ruangan Lalisa. Dengan cepat Lalisa memalingkan wajahnya dan menatap kembali layar laptopnya.
Abian berjalan masuk dengan sebuah kardus berukuran sedang yang di peganginya masuk ke dalam ruangan Lalisa.
"Penasaran yah dengan alasan gue?" ucap Abian tiba-tiba dengan tertawa tipis.
"Bilangnya apa ke Meli?" tanya Lalisa.
"Gue jual aja nama pak Henry---diam dah tuh si Meli" balas Abian santai sambil membenahi barangnya.
Lalisa mengangguk dan kembali mengabaikan Abian yang tengah merapikan mejanya dengan barang-barang miliknya.
***
Suara tangis yang pecah tampak memenuhi ruang gawat darurat rumah sakit Artama dimana baru saja sebuah kecelakaan yang menimpa seorang lelaki dan juga seorang perempuan. Anneth yang saat itu bertugas menerima pasien tersebut yang sudah berlumuran darah.
Seorang wanita paruh baya dan wanita berumur sekitar dua puluh limaan itu mengikuti Anneth yang sedang membawa kedua pasien itu.
"Apa kalian keluarga pasien?" tanya Anneth.
"Iya.. saya Ibunya" balas wanita paruh baya itu.
"Sepertinya lukanya terlalu parah ibu---hm, kami dari pihak rumah sakit harus meminta persetujuan ibu untuk melakukan operasi" jelas Anneth dengan nada yang tergesa-gesa.
"Ya! Tolong lakukan demi kesembuhannya, dok---Saya mohoh, tolong selamatkan anak saya.." pinta wanita itu sambil menangis tersedu-sedu.
"Tolong ikut dengan perawat saya, selagi saya menyiapkan semuanya" balas Anneth.
Kedua wanita itu mengikuti perkataan Anneth mengikuti perawat yang akan membawanya untuk menandatangini beberapa berkas persetujuan untuk melakukan operasi tersebut.
Anneth yang di dampingi beberapa dokter ahli bedah lainnya melakukan operasi kepada kedua korban kecelakaan tersebut. Dimana korban tersebut adalah putra dan juga kekasih dari anak wanita tersebut.
Ibu dan seorang anak perempuannya sedang menunggu di depan ruang operasi yang telah di lakukan Anneth sekitar sejam yang lalu. Dengan tangis yang masih memenuhi wajahnya, keduanya menunggu sembari berdoa.
Lalu tiba-tiba saja suara sahutan mengalihkan perhatian keduanya.
"Kak Greeta?"
Wanita itu menoleh mencari arah suara tersebut yang menyebutkan namanya.
"Yuna yah?" ucapnya kaku sambil menyeka air matanya.
"Loh kakak ngapain?" tanya Yuna tak tau.
Greeta memberitahu Yuna kalau kakaknya mengalami kecelakaan dan sedang di operasi. Greeta tak tau kalau rumah sakit saat ini adalah tempat Yuna sedang magang. Yuna bertemu Greeta sekitar beberapa tahun yang lalu saat mengunjungi Abian yang masih berada di Amerika waktu itu.
Mendengar penjelasan Greeta membuat Yuna juga sangat terkejut dan turut prihatin atas kecelakaan yang menimpa kakak dari mantan kekasih kakaknya tersebut.
Yuna juga menenangkan Greeta dan juga ibu dari Greeta, Yuna meminta tolong pada Riza untuk memberikan air pada Greeta dan juga ibunya.
"Kakak tenang yah.." ucap Yuna sambil menyodorkan air mineral itu pada Greeta dan juga ibunya.
"Kak Anneth yah, Riz?" tanya Yuna pada Riza.
"Iya.. Yun" balas Riza sambil mengangguk.
Disaat Yuna dan Greeta masih bercengkrama, Yeri yang juga sedang lewat di depan ruang icu tersebut terkejut melihat Yuna dan juga Riza berada disana.
"Yuna--Riza?" tegur Yeri.
"Loh kalian?---ada apa?" lanjut Yeri bertanya. Dimana Yeri berpikiran kalau salah satu keluarga dari Yuna dan Riza sedang melakukan operasi.
Riza lebih dulu menghampiri Yeri selagi Yuna masih mendengarkan perkataan Greeta yang membahas soal kecelakaan tersebut.
Riza memberitahu Yeri kalau orang tersebut adalah keluarga dari mantan kekasih kakak Yuna.
Mendengar hal tersebut Yeri sedikit lega karena terkaannya yang sebelumnya adalah salah.
Setelah mengetahui hal tersebut, Yeri hanya tersenyum tipis kearah kursi menunggu ruang icu itu lalu kembali melanjutkan langkahnya.
"Kak.. nanti Aku kembali lagi yah, ada yang masih harus Aku kerjakan dengan Riza" ucap Yuna pada Greeta.
"Iya.. gak apa-apa kok, Yun.. makasih yah" balas Greeta.
Kepergian Yuna dan juga Riza meninggalkan Greeta dan juga ibunya yang masih harus menunggu hingga operasi itu selesai.
***
Yeri tampak asyik sedang bercengkrama dengan Lalisa di dalam panggilannya. Sambil menguyah beberapa cemilan yang berada di atas mejanya, Yeri menceritakan pada Lalisa cerita lucu tentang dirinya yang kemarin malam bertemu dengan seorang lelaki.
Yeri memberitahu kalau lelaki itu sangat teramat sombong padanya, dimana lelaki itu memberitahu semua kekayaannya pada Yeri. Sedangkan Yeri sangat teramat ilfil dengan tipe lelaki seperti itu. Bahkan Lalisa yang juga mendengarkan hal itu tak dapat berkata apapun hanya suara cekikan saja yang saling terbalaskan dalam panggilan tersebut.
Sejak awal Yeri bertemu dengan lelaki itu sampai pertemuannya selesai, semuanya Yeri ceritakan pada Lalisa. Dimana cerita tersebut menyita waktu makan siang Lalisa saat itu, namun Lalisa tak menghiraukannya dan terus saja penasaran dengan cerita Yeri hingga suara seorang lelaki mengalihkan perhatian Yeri.
"Gak capek lo cekikan seperti itu?"
Namun Lalisa mengabaikan ucapan itu dan masih terus meminta Yeri melanjutkan ceritanya.
"Lo sama siapa sih?" tanya Yeri dan memotong ceritanya karena penasaran dengan pemilik suara tersebut.
"Di kantor, kan?" balas Lalisa santai.
"Diruangan lo?" tanya Yeri kembali untuk memastikan.
"Iyalah.."
"Trus siapa yang ngomong kayak gitu?" tanya Yeri penasaran.
"Oh.. dia---itu loh yang gue ceritain sama lo" balas Lalisa.
"Oh.. anak bos lo itu?" ucap Yeri mengingat kisah Abian yang di ceritakan Lalisa padanya sebulan yang lalu.
"Hm iya--udah, ngapain bahas dia sih? lanjut aja lanjut cerita lo!" pinta Lalisa kembali.
Yeri pun melanjutkan kembali kisahnya seperti apa yang dipintakan Lalisa padanya.
*****