- Seoul, Korea Selatan -
Lalisa bersama Abian tiba di Seoul atas permintaan Bata sebagai perwakilan dari Daisy Company untuk menghadiri acara amal yang rutin dilakukan tiap tahun. Dimana semua perusahaan-perusahaan sukses lainnya ikut serta menjadi donatur dalam acara tersebut. Lalisa yang sebelumnya tidak pernah datang ke acara tersebut, hanya pak Okta dan juga Henry yang biasa menggantikan Bata dalam acara tersebut, namun kali ini ia harus menuruti permintaan Bata yang menujuknya bersama Abian sebagai perwakilan perusahaannya.
Lalisa dan Abian tiba di hotel untuk beristirahat sejenak sebelum menghadiri acara amal yang akan dilakukan pukul 8 malam nanti. Lalisa yang memiliki kamar tepat di seberang kamar Abian, mengistirahatkan tubuh lelahnya karena penerbangan yang cukup membuat kepalanya sedikit pusing.
Tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu, Lalisa menjatuhkan dirinya diatas ranjang sembari memejamkan kedua matanya yang terasa berat. Aroma vanila yang menyapu indra penciumannya membuat suasana dikamarnya begitu manis dan semakin membuat dirinya lelah. Lalisa menatap ponselnya yang berada di samping kanannya dan mendapati banyak pesan yang belum ia baca, termasuk pesan dari Yeri serta Bu Dewi yang juga selalu mengkhawatirkannya.
Tak memiliki tenaga lagi untuk membalas ataupun membaca semua pesan yang dikirimkan padanya, Lalisa memilih untuk tidur sejenak sembari menunggu matahari terbenam dan mempersiapkan dirinya datang ke acara amal tersebut. Sedangkan Abian, ia langsung saja membersihkan dirinya dan menyantap makan siangnya. Sambil memainkan ponselnya, ia menyantap makan siang yang disediakan oleh pihak hotel untuknya.
Abian menyantapnya dengan pelan hingga perutnya terasa kenyang. Abian mengambil ponselnya kembali dan menghubungi Lalisa, namun tak ada jawaban atas panggilannya. Abian membuka jendela kamarnya, menatap keindahan kota Seoul yang begitu menakjubkan. Dimana saat ini kota Seoul telah memasuki musim semi, langit begitu cerah namun cuaca yang terasa cukup dingin menyapu lengan Abian yang kini berdiri menatap keindahan tersebut.
Tak memakan waktu yang lama Abian menghabiskan waktunya berdiri menikmati keindahan kota Seoul, ia kemudian masuk kembali dan membaringkan tubuhnya. Baru saja kedua matanya ingin terlelap, ia dikejutkan oleh deringan ponselnya. Dimana dalam panggilan tersebut tertera nama ayahnya.
"Hm.. iya, Ada apa?" ucap Abian dalam panggilannya.
"Bagaimana kamu udah sampai di Korea?" tanya Bata dalam panggilannya.
"Iya, mungkin sekitar dua jam yang lalu. Kenapa memangnya?" balas Abian santai.
"Lalisa bagaimana?" tanya Bata kembali.
"Yah.. dia ada di kamarnya kan? Ga mungkin Abian satu kamar sama dia, pa.." jelas Abian.
"Abian---ingat pesan papa yah... kamu jaga nama baik papa disana, jangan menyusahkan Lalisa, okay?" pinta Bata pada Abian.
"Ya ampun.. papa ini selalu saja ga bisa percaya dengan Abian---tentu saja Aku akan menjaga nama baik papa dan perusahaan. Lagi pula, Aku lebih baik dari pada Lalisa itu!" tegas Abian kesal pada ayahnya.
"Baiklah.. kalau kamu berpikiran seperti itu---yah sudah, kamu istirahat sekarang" tutup Bata lebih dulu.
Panggilan itu berakhir, Abian melempar ponselnya dan memejamkan matanya hingga terlelap.
***
Hari mulai menggelap, alarm yang di setel Lalisa mulai berbunyi dan membangunkannya dari tidur. Lalisa menatap jam pada layar ponselnya yang sudah menunjukkan pukul 06.30 sore hari. Tanpa membuang waktunya, Lalisa dengan cepat beranjak dari tempat tidur dan berlari masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang tadi belum sempat ia lakukan karena rasa kantuknya.
Tak sempat menikmati waktunya di kamar mandi seperti yang biasa ia lakukan, Lalisa keluar dengan baju mandi yang membalut tubuh rampingnya. Lalisa meraih koper yang juga sama sekali belum ia sentuh sejak kedatangannya di hotel. Ia membuka dan mengambil gaun yang akan ia kenakan malam ini di acara tersebut.
"Cocok ga yah gaun ini..." ucap Lalisa saat menatap dirinya dalam pantulan cermin di hadapannya.
"Coba dulu deh.." lanjutnya sembari memakai gaun tersebut lalu kembali ke hadapan cermin tersebut.
Gaun berbentuk mermaid berwarna peach tanpa lengan yang juga memperlihatkan kedua pundak mulus Lalisa terlihat begitu manis dan juga elegan di tubuhnya. Gaun yang membentuk tubuh bagian atas namun melebar pada bagian bawah layak seperti sirip ikan, Lalisa menatap dirinya dengan senyuman cantik pada parasnya. Sambil berputar melihat dari segala sudut dirinya yang mengenakan gaun tersebut yang membuatnya puas.
"Bagus juga.." ucapnya.
Setelah selesai dengan pilihan gaunnya, Lalisa kini memoles wajahnya dengan polesan make up yang tidak terlalu tajam untuk malam ini. Rambut panjangnya ia biarkan terurai dengan begitu indah, hanya saja ia menambah sedikit perhiasan pada rambutnya.
"Pakai lipstik ini aja deh.." batinnya sembari mengambil lipstik berwarna merah muda di dalam pouch make upnya.
Lalisa menatap jam di tangan kanannya, dimana saat ini sudah menujukkan pukul 7 malam. Lalisa semakin bergegas, meraih parfumnya lalu menyemprotkannya. Tak lupa Lalisa menghubungi Abian untuk memberitahunya kalau dirinya telah selesai. Namun kali ini Abian yang tidak menjawab panggilan dari Lalisa.
"Apa dia ketiduran?---Astaga!" ungkap Lalisa panik.
Lalisa menuju pintu keluar kamarnya, membuka lalu menuju kamar Abian yang berada di seberang kamar miliknya. Lalisa mengetuknya beberapa kali karena tak ada jawaban lalu ia mengetuknya semakin keras hingga ia tersentak saat pintu itu tiba-tiba saja terbuka dan menampakkan Abian yang berada di hadapannya.
"Astaga.. lo ngagetin gue aja!" ucap Lalisa.
Abain terdiam sejenak menatap wajah Lalisa yang saat ini begitu dekat kepadanya, dimana tak pernah ia berada sedekat itu dengan Lalisa. Pancaran mata yang begitu indah membuat Abian terpaku.
"Hey!" tegur Lalisa.
"Abian!" lanjutnya hingga Abian tersadar.
"Apa sih?" balasnya mendorong Lalisa mundur agar ia dapat menutup pintu kamarnya.
"Udah selesaikan?" tanya Lalisa.
"Iya.. ini mau nutup pintu dulu--minggir!" balas Abian.
"Udah--ayo!" ungkap Lalisa menarik tangan Abian.
Abian kembali merasa aneh saat Lalisa memegang tangannya sambil berjalan di koridor hotel menuju lift.
"Ekkeehmm..."
Lalisa menoleh ke belakang menatap Abian yang tengah melirik kearah tangannya yang masih di peganginya.
"Ah.. sorry!" ucap Lalisa melepas tangan Abian.
"Gue takut telat" lanjut Lalisa bersamaan dengan pintu lift yang membuka.
Abian mengukir senyum tipis di sudut bibirnya menatap wajah panik Lalisa.
Lalisa yang baru kali ini diminta oleh Bata untuk menjadi perwakilan Daisy Company terlihat begitu gugup, dimana ini adalah kali pertama Lalisa datang keacara tersebut. Suara dentingan lift berbunyi dimana keduanya berhasil tiba di loby hotel. Abian berjalan lebih dulu menuju mobil yang telah di sediakan untuknya, diikuti oleh Lalisa yang mengekor di belakangnya sambil memegangi gaunnya.
"Astaga---tunggu bentar yah!" ucap Lalisa tiba-tiba.
"Ada apa lagi sih?" tanya Abian menoleh kearah Lalisa.
"Obat gue!" ungkap Lalisa panik.
"Obat apa sih, Lisa?" keluh Abian.
"Tunggu! Lo tunggu sini, gue gak bisa! gue harus ambil dulu, bentar doang.." pinta Lalisa kembali berlari kearah pintu lift.
Abian menghela napas kasar sembari memejamkan matanya menatap kesal kearah Lalisa, dimana kini waktunya hanya tersisa tiga puluh menit lagi untuk tiba di tempat acara tersebut yang berada di pusat kota Gangnam.
Abian masuk ke dalam mobil terlebih dulu sambil menunggu Lalisa kembali turun. Waktu terus berlalu.
"Astaga.. lama sekali!" keluh Abian.
Lalisa berlari menuju mobil sambil memegangi gaunnya dengan sebuah botol kecil ditangan kanannya.
"Lama sekali sih lo!" keluh Abian.
"Iya.. Sorry!" balas Lalisa dengan napas yang tersegal-segal.
Abian melirik botol kecil yang dipegangi Lalisa.
"Obat apa sih? kayaknya penting banget!" ungkap Abian sambil menginjakkan pedal gas pada mobilnnya.
Mobil yang dikemudikan Abian mulai melaju pelan meninggalkan hotel dan kini berada di jalan raya yang telah dipadati kendaraan.
"Iya emang penting obat gue!" jelas Lalisa.
"Ada air minum ga sih di---"
"Tuh di sebelah kiri lo" sela Abian.
Lalisa meminum obatnya, dimana obat tersebut diberikan Yeri sebelum keberangkatan Lalisa ke Seoul. Obat yang akan membuat Lalisa lebih tenang ditengah kerumunan orang yang mungkin akan memadati acara amal tersebut.
Abian sesekali melirik Lalisa sambil mengemudikan mobilnya. Sedangkan Lalisa tampak asyik dengan ponselnya membalas pesan dari Yeri dan beberapa stafnya.
"Menurut lo, disana bakalan banyak orang ga?" tanya Lalisa.
"Ngapain tanya gue? Kan lo yang lebih lama kerja di perusahaan bokap gue" balas Abian acuh.
"Iya.. tapi gue baru pertama kali hadirin acara ini---biasanya tuh pak Bata minta sama pak Okta atau ga yah pak Henry. Ya kali aja kan, lo...."
"Apa?" tanya Abian.
"Ah.. lo kan baru balik mana tau!" lanjut Lalisa yang membuat Abian kesal.
Abian dan Lalisa tiba di tempat acara tersebut, dimana suasana dari tampak luar gedung itu terlihat sudah begitu ramai. Begitu banyak kamera yang menyorot kearah keduanya, kilatan flash kamera membuat Lalisa mulai gelisah.
Lalisa menelan salivanya memegangi tangan Abian begitu erat hingga membuat Abian terkejut lalu menatap kearahnya.
Lalisa mulai panik, dimana sebelumnya ia tidak pernah berada di tempat dengan kilatan flash yang begitu banyak menyorotnya. Tangannya mulai berkeringat membuat Abian semakin bingung menatapnya. Abian berusaha terlihat seperti biasa, tersenyum kearah kamera saat semuanya menyorot kepada keduanya.
"Lo kenapa sih?" bisik Abian.
"Gak.. gak apa-apa" balas Lalisa masih berusaha kuat.
Melihat wajah Lalisa yang berkeringat dan sedikit pucat membuat Abian khawatir dan berjalan lebih cepat meninggalkan para wartawan tersebut.
Lalisa merasakan rongga pernapasannya mulai lega dan tak sesak seperti tadi. Ia berusaha menenangkan dirinya agar tidak terlalu panik dan gelisah lagi.
"Lo gak apa-apa, kan?" tanya Abian kembali.
"Iya---"
"Tapi kenapa lo keringetan dan pucat gitu sih?" selanya.
"Gue gak apa-apa, Bian" tegas Lalisa.
Lalisa masuk lebih dulu, dimana semua tamu sudah memadati ballroom tersebut. Pandangan Lalisa teralihkan saat ia mendengar seseorang memanggil namanya.
"Nona Lalisa?"
"Tuan Hiroki?" balas Lalisa menyapanya dengan ramah.
Abian yang melihat Lalisa dengan seorang lelaki, mulai mendekat hingga kedatangannya di sadari oleh Lalisa dan Tn. Hiroki.
Melihat Abian yang mendekat, Lalisa memperkenalkan Abian pada Tn. Hiroki dengan kemampuan bahasa jepangnya. Dimana Lalisa menghabiskan hampir empat tahun berada di Jepang saat ia mengambil jurusan desainnya.
Tn. Hiroki menjabat tangan Abian, begitupun Abian sebaliknya. Ketiganya berbincang dengan menggunakan bahasa inggris yang membuat percakapannya saling mengerti satu sama lain.
Tn. Kang Mo Hyuk membuka acara amal tersebut dengan sambutan tepuk tangan yang meriah dari semua donatur yang berada ditempat tersebut. Begitupun dengan Abian serta Lalisa yang duduk bersama dengan beberapa investor dari perusahaannya.
Abian melihat bagaimana Lalisa berinteraksi dengan para investornya, Lalisa terlihat begitu ramah. Wajahnya juga terlihat begitu cantik, bahkan Abian dibuat kagum dengan kecerdasan Lalisa saat semuanya tengah membahas dunia bisnis.
"Gue ke toilet dulu yah.." bisik Abian pada Lalisa.
Abian meninggalkan kursinya di saat Lalisa masih asik bercengkrama dengan para investor asing yang terlihat nyaman berbincang dengannya.
Lalisa terus saja melanjutkan pembahasannya hingga ia tersadar kalau sudah hampir sejam Abian belum juga kembali ke kursinya. Lalu Lalisa meminta ijin pada para investor tersebut untuk pergi mencari keberadaan Abian.
"Dimana sih dia" keluh Lalisa saat mengitari ballroom tersebut namun tak kunjung menemukan Abian.
Lalisa menghubungi Abian dan panggilannya juga tak dijawab olehnya. Hingga ia keluar dari ballroom tersebut dan mendapati Abian sedang berdiri dengan segelas wine di tangannya.
"Abian?" panggilnya.
"Ngapain lo kesini?" balas Abian.
"Yah.. gue cariin lo---lo ngapain disini?" tanya Lalisa balik.
"Males aja gue di dalam" jelas Abian.
"Males kenapa sih?"
"Acaranya udah selesai apa belum sih?"
"Yah belum kan?" balas Lalisa.
"Gue balik duluan aja kali yah---"
"Loh kok gitu?" sela Lalisa.
"Tunggu bentar lagi, abis itu kita balik hotel deh kalo emang lo ga nyaman disini" lanjut Lalisa.
Mendengar hal tersebut membuat Abian terdiam, dimana tak biasanya Lalisa bersikap seperti itu padanya.
*****