PART 11. RASA PENASARAN

2030 Kata
Lalisa dan Abian kembali ke hotel setelah keduanya meninggalkan acara amal tersebut. Sepanjang perjalanan keduanya menuju hotel, tak ada percakapan sedikitpun. Hanya saja Abian yang sering melirik ke arah Lalisa. Lalisa berjalan lebih dulu menuju lift dan di ikuti oleh Abian tepat dibelakangnya. Namun tiba-tiba saja tangan Lalisa tertarik ke arah Abian sudah berada di sisi kanannya untuk melindunginya dari seorang lelaki yang berjalan dengan sempoyongan keluar dari lift. Menyadari hal itu, Lalisa menatap Abian cukup lama sebelum Abian yang lebih dulu menarik pandangannya. Abian masuk ke dalam lift, lalu disusul oleh Lalisa dan menekan tombol angka lima yang berada di dalam lift. "Kenapa lo ikutan balik ke hotel juga?" tanya Abian tiba-tiba. "Ngga--ngga apa-apa" balas Lalisa santai. "Gue ga terlalu suka dengan keramaian" lanjut Lalisa. Abian melirik tipis kearah Lalisa setelah mendengar jawabannya dan menarik pandangannya kembali saat pintu lift terbuka. Abian menarik tangan Lalisa hingga keduanya berdiri sejajar saat dua orang lelaki yang baru saja ingin masuk ke dalam lift. Namun disaat kedua lelaki tersebut telah masuk, tangan Abian belum melepaskan Lalisa hingga keduanya saling bertatapan. "Hm.. sorry" ucap Abian sembari melepas tangan Lalisa. Lift kemudian berbunyi lalu terbuka. Lalisa dan Abian keluar dari dalam lift dan menuju kamarnya. "Terima kasih" ucap Lalisa sebelum ia masuk ke dalam kamarnya. Abian menatap kepergian Lalisa yang hilang di balik pintu kamarnya. Abian mengidikkan bahunya dengan tanpa sadar melekukan senyum disudut bibir tipisnya. Lalisa menutup pintu kamarnya dengan jantungnya yang tiba-tiba berdegub hebat. "Kenapa jantung gue seperti ini lagi?" batin Lalisa mengingat dirinya yang sejak tadi sudah meminum obat yang diberikan Yeri kalau saja penyakitnya kambuh kembali. Lalisa berjalan menuju tempat tidurnya sambil memegangi dadanya, dimana jantungnya terus saja berdegub hebat. Kemudian Lalisa meraih air minum yang berada di atas nakas samping tempat tidurnya dan meneguknya dalam sekali tegukan. Lalisa tertegun saat sekilas kejadian tadi yang berulang, dimana Abian menarik tangannya saat melihat seorang lelaki yang mabuk hampir menabraknya lalu disaat Abian lagi dan lagi menarik tangannya saat berada di dalam lift. "Astaga.. apa sih yang gue pikirin!!!---ih, Lalisa lo mikiran apa sih!" batinnya mengelak. Menatap jam pada layar ponselnya yang sudah menujukkan pukul sepuluh malam, Lalisa beranjak dari tempat tidurnya mengganti gaunnya dan membersihkan wajahnya dari polesan make upnya. Lalisa menatap pantulan wajahnya pada cermin dihadapannya, menatapnya cukup lama dan lagi ia kembali mengingat kejadian dirinya bersama Abian. Seketika jantungnya kembali berdegub hingga membuat dirinya sangat terkejut, napasnya juga seketika menjadi sesak. Lalisa panik dan mencari obat yang diberikan Yeri padanya. "Astaga, Lisa!!" "Obatnya ada di dalam mobil!" Lalisa mencoba menengangkan dirinya sebelum menuju ke kamar Abian untuk meminta kunci mobil yang tadi keduanya pakai menuju acara amal tersebut. Dengan wajah polos serta piyama yang sudah ia kenakan, Lalisa menarik pintu kamarnya lalu menuju kamar Abian yang berada tepat di seberang kamarnya. Lalisa mengetuknya pelan, satu hingga beberapakali ketukan sampai pintu itu terbuka dan menampakkan Abian yang kini berdiri di ambang pintu. "Ada apa?" tanya Abian santai. Lalisa menelan salivanya saat mendapati Abian yang juga baru saja membersihkan dirinya. Rambutnya yang setengah basah serta wajahnya yang polos membuat jantung Lalisa kembali berdegub hebat. "Aw!" ucap Lalisa saat menyadari jantungnya yang kembali mengacau. "Kenapa lo?---sakit?" tanya Abian memegangi pundak Lalisa dengan kedua tangannya. "Ah! ngga---hm, ini gue mau minta kunci mobil" balas Lalisa sembari menepis tangan Abian yang tengah memeganginya. "Kunci mobil? buat apa?" tanya Abian bingung. "Obat gue ketinggalan disana" balas Lalisa jujur. Wajah Abian yang tadinya terlihat santai seketika berubah khawatir melihat kegelisahan Lalisa karena obat tersebut ditambah lagi dengan keringat Lalisa yang memenuhi wajahnya. "Biar gue ambilin---" "Gue aja, sini aja kunci mobilnya" sela Lalisa mendahului. "Gue aja! Lo tunggu disini aja" pinta Abian menarik Lalisa masuk ke dalam kamarnya, mengambil kunci mobil dan langsung saja meninggalkannya. Lalisa duduk di sofa sembari menunggu Abian kembali. Lalu tiba-tiba saja ponsel Abian berdering tepat di sebelah Lalisa. Lalisa menatap ponsel Abian dengan nama "Adik Yuna" yang tampil pada layar ponsel tersebut. Namun Lalisa tidak berani menjawab ataupun menyentuh ponsel Abian hingga Abian tiba. Abian menyodorkan botol kecil obat milik Lalisa. "Ini kan?" tanya Abian. Lalisa mengangguk sembari mengambil botol obat miliknya dari tangan Abian. Abian menatap Lalisa cukup lama, tatapan yang mungkin baru di dapatkan Lalisa dari Abian. Tatapan itu juga kembali mengacaukan jantung Lalisa, keringa kembali memenuhi wajahnya membuat Abian juga kembali khawatir. "Lo yakin baik-baik saja?" tanya Abian memastikan. "Iya, gue baik-baik aja---oh iya, tadi Yuna nelfon lo" balas Lalisa mengalihkan topik. "Apa katanya?" "Yah.. mana gue tau, gue kan ga nyentuh hp lo" jelas Lalisa. Lalu ponsel Abian kembali berdering dengan nama Yuna dalam ponselnya, melihat hal itu membuat Lalisa berpamitan dan berterima kasih pada Abian sebelum ia kembali ke kamarnya. Lalisa kembali ke kamarnya dengan tergesa-gesa, mengambil air minum lalu meneguk obatnya. Bahkan Lalisa juga menghubungi Yeri saat jantungnya masih saja belum stabil seperti biasanya. Lalisa melakukan percakapannya dengan Yeri, ia menceritakan penyebab jantungnya yang tak kunjung stabil setelah meminum obatnya. Lalu di saat ia tengah serius menjelaskan pada Yeri, suara ketukan dari balik pintu kamarnya mengalihka perhatiannya. Sambil menjelaskan pada Yeri, Lalisa melangkah menuju pintu dan membuka. Betapa terkejutnya Lalisa saat mendapati Abian yang berada di hadapannya. Lalisa terdiam disaat Yeri yang terus saja memanggil namanya dalam panggilan. "Nanti gue hubungin lagi yah.." tutup Lalisa. "Ngapain?" lanjut Lalisa menatap pada Abian. "Temenin gue makan yuk.." ucap Abian yang membuat Lalisa terkejut. Lalisa terdiam cukup lama hingga membuat Abian canggung. "Ya udah kalo lo ga---" "Yuk!" sela Lalisa mendahului. "Gue ada pesen makanan dari resto hotel, gue suruh bawa ke kamar aja soalnya udah males turun ke bawah makan" jelas Abian. "Iya, kayaknya gitu lebih bagus---gue males juga turun udah pake piyama gini" balas Lalisa menyetujui. Abian mengangguk mendengar penjelasan Lalisa, kemudian ia berbalik memunggungi Lalisa berjalan menuju kamarnya dengan senyum yang merekah di wajah tampannya. Lalisa mengekor di belakangnya, menutup pintu kamar dan masuk ke dalam kamar hotel Abian. "Hm.. lo baru mau pesen?" tanya Lalisa canggung. "Udah--udah dari tadi sih, sebelum lo nyari obat lo malah" jelas Abian sembari duduk di sofa kamarnya. Lalisa mengangguk dan duduk di hadapan Abian. "Oh iya, tadi Yuna nelfon kenapa?" ucap Lalisa memulai topik lebih dulu. "Oh itu--hm, ga tau sih tuh anak tiba-tiba nelfon bahas soal mantan gue kemarin yang di Amerika katanya mereka ketemu dirumah sakit tempat dia lagi magang" jelas Abian santai. Lalisa kembali mengangguk mengerti dan tak meneruskan lagi pertanyaannya setelah mendapat jawaban dari Abian. "Mumpung lagi bahas nih---lo punya mantan juga ga?" tanya Abian tiba-tiba. "Ah--hm, udah lama banget" balas Lalisa. "Kapan?" "Mungkin waktu gue masih kuliah di Jepang beberapa tahun yang lalu" jelas Lalisa jujur. "Orang Jepang atau----" "Ga, orang indonesia kok cuman sama kayak gue aja kuliah disana" jelas Lalisa santai. Abian terus saja melontarkan pertanyaan tentang mantan kekasih Lalisa bahkan ia juga sangat penasaran dengan perkuliahan Lalisa saat berada di Jepang. Percakapan itu terus berlanjut hingga posisi keduanya berganti. Dimana Lalisa yang kini melontarkan beberapa pertanyaan pada Abian. Lalisa menyakan tentang sikap Abian yang sangat begitu jauh dari pak Bata, ayahnya. Awalnya Abian menolak untuk bercerita, namun ia memilih untuk terbuka pada Lalisa. Abian menceritakan tentang kepergiannya beberapa tahun yang lalu ke Amerika yang mendapat penolakan dari Bata. Dimana Abian tetap kekeuh pergi ke Amerika walaupun tak di setujui oleh Bata yang saat itu meminta Abian untuk bekerja di Daisy Company. Namun Abian yang masih ingin bebas mengikuti kemauannya untuk berangkat ke Amerika. Kepergian Abian ke Amerika selama enam bulan yang ia habiskan membuatnya tersadar kalau ia tak bisa melakukan apapun tanpa bantuan dari ayahnya. Bata menjamin kehidupan Abian di Amerika dengan perjanjian kalau kepergiannya di Amerika, Abian harus melanjutkan pendidikannya. Tak memiliki piliha lain demi mendapat bantuan materi dari ayahnya, Abian terpaksa melanjutkan pendidikannya hingga ia bertemu dengan mantan kekasihnya yang di ceritakan Yuna padanya dalam panggilan tadi. Lalisa mendengar semua cerita Abian saat berada di Amerika, begitupun tentang mantan kekasih Abian. Suara ketukan dari balik itu mengalihkan perhatian Lalisa. Lalisa beranjak dari sofa menuju pintu dan membukanya. Dua orang pelayan membawa pesanan yang di minta oleh Abian. "Lo pesen banyak banget, Bi" ucap Lalisa. "Lo sejak tadi juga belum makan kan di acara itu?" balas Abian. "Iya.. tapi ini tetep banyak banget" lanjut Lalisa. Pelayan tersebut kembali meninggalkan kamar Abian. "Udah makan aja!" pinta Abian meminta Lalisa duduk di hadapannya. Lalisa duduk setelah diminta oleh Abian, menyantap makan malamnya dan melanjutkan kembali percakapannya yang sempat terputus karena pelayan tersebut. Abian menatap Lalisa yang terlihat begitu lahap menyantap makan malamnya hingga ia tercekat saat kedua matanya bertemu dengan mata Lalisa. Wajah Abian tiba-tiba berubah bahkan perlakuannya juga begitu terasa pada Lalisa. Ada apa? Abian juga menyantap makan malamnya sembari berpikir apakah ia harus jujur pada Lalisa tentang memanfaatkan dirinya untuk mendapat jabatan di perusahaan ayahnya atau tidak. "Lo kenapa sih?" tegur Lalisa yang membuat Abian terkejut. "Gak apa-apa" balas Abian berbohong. Lalisa mengerutkan alisnya dan melanjutkan makannya. "Gue boleh nanya ga?" tanya Abian tiba-tiba. "Nanya aja" balas Lalisa santai. "Kenapa lo jarang bersosialisasi sih di kantor?" Pertanyaan Abian membuat Lalisa berhenti menyantap makan malamnya lalu menatap kearahnya. "Kok lo tiba-tiba nanya ke arah sana?" tanya Lalisa curiga. Seketika pikirannya tertuju pada kejadian dimana tadi Abian mengambil obat miliknya. "Yah gak apa-apa. Soalnya gue banyak denger cerita tentang lo waktu gue pertama kali masuk kantor sih" jelas Abian berbohong. Abian berusaha menormalkan mimik wajahnya untuk menghindari kecurigaan Lalisa. Lalisa cukup lama terdiam memikirkan alasan apa yang akan ia berikan pada Abian. Ia juga sibuk dengan terkaannya pada Abian dengan pertanyaannya yang begitu tiba-tiba membahas soal hubungan Lalisa dengan para staf perusahaan. "Gue gak pandai sosialisasi aja" ucap Lalisa. "Katanya setelah lo dapat jabatan manager desain lo udah gak mau terlalu deket yah sama orang lain?" tanya Abian kembali. Karena pertanyaan itu Lalisa seketika menjadi lebih sensitif. "Gue bukannya gak mau terlalu deket sama orang lain---hanya saja, gue gak mau kalau terlalu percayaan dengan orang lain! Gue gak mau ditinggal lagi sama orang yang gue sayang dan orang yang gue butuh!" jelas Lalisa. "Masa lalu lo sama mantan lo yah pasti" ungkap Abian yang yakin dengan terkaannya. Namun karena ucapan itu lagi membuat Lalisa menatap Abian dengan wajah kesal. "Lo gak tau masa lalu gue! dan lo gak tau apa yang selama ini gue jalanin sampai gue bisa berada di titik ini sekarang" jelas Lalisa dengan wajah marahnya. Abian mencegat tangan Lalisa saat beranjak dari kursi. "Lo mau kemana?" "Harusnya tadi gue gak terima ajakan lo makan bareng---gue tau alasan lo ngajak gue, itu karena lo penasaran aja!" jelas Lalisa menepis tangan Abian. "Maksud lo apaan?" cegat Abian kembali. "Lo pasti penasaran kan dengan obat yang tadi gue cari! gue baru sadar kalo sikap lo berubah sejak tadi, sejak lo ngambilin obat gue di mobil. Dan lo ngajak gue sekarang temenin lo makan, karena lo pengen mastiin aja kan tentang obat itu!" ungkap Lalisa marah. Kemarahan Lalisa membuat dirinya tak terkontrol. Pernapasannya menjadi kacau, matanya yang merah karena menahan air mata. Abian sangat tidak menyangka dengan kejadian yang baru saja terjadi antara dirinya dan juga Lalisa. Napas Lalisa menjadi sejak membuat Abian khawatir dan juga panik. "Lisa.. lo gak apa-apa kan?" tanya Abian mendekat kearah Lalisa. "Gue pikir kita bisa jadi teman, tapi ternyata gue salah. Lo penasaran aja dengan penyakit gue!" ungkap Lalisa keceplosan tentang penyakitnya. Perkataan itu membuat Abian yakin kalau Lalisa menderita penyakit yang di sembunyikannya. Dimana Abian yang selalu memperhatikan kegelisahannya saat berada ditengah kerumunan. Lalisa menyeka air matanya sebelum ia meninggalkan kamar Abian dan menuju kamarnya, membanting pintu kamar tak membiarkan Abian masuk ke dalam. "Lisa! Buka pintunya dulu" teriak Abian. "Lisa!" Abian terus saja meneriaki dan memanggil Lalisa namun Lalisa tidak membukakan pintu kamarnya. "Sial! kenapa gue jadi khawatir gini sih sama dia!" batin Abian gelisah setelah memastikannya. Apa yang di terkaan Lalisa memang benar. Abian tak sengaja mengetahui obat yang di miliki Lalisa. Dimana obat tersebut memang di peruntukkan dengan seorang pasien yang memiliki penyakit mental, semacam obat untuk membuat dirinya akan selalu tenang saat kepanikannya melanda. Untuk memastikannya, Abian memilih pilihan untuk terbuka pada Lalisa dan mendapat respon padanya. Namun tampaknya hal tersebut tidak berjalan sesuai dengan keinginannya. Abian tidak menyangka kalau Lalisa berhasil mengetahui rencananya. Karena hal itu pula saat ini Abian berdiri di depan pintu kamar Lalisa dengan rasa kekhawatirannya. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN