PART 12. BERHARAP KEMBALI

2003 Kata
Lalisa membuka matanya di pagi hari setelah semalam rasa kesal serta kemarahannya memuncak karena ulah Abian. Cuaca Seoul di pagi hari memang sangat membuat Lalisa enggan beranjak dari tempat tidurnya, suara ketukan pintu yang terdengar beberapa kali mengharuskan Lalisa meninggalkan tempat tidurnya dengan terpaksa. Sambil berjalan Lalisa sesekali menguap dan memperbaiki rambutnya yang kusut, ia menarik pintu kamarnya lalu terbuka dimana terkaan itu ia mengira bahwa petugas hotel yang akan memberinya sarapan, namun tampaknya ia salah. Justru malah yang sedang berdiri di hadapannya saat ini adalah Abian yang tampak sudah terlihat lebih rapi darinya. Mata Lalisa terbelalak menatap Abian yang kini menatapnya dari ujung rambut hingga kakinya. "Lo!" ucap Lalisa terkejut. "Wow!" balas Abian yang juga tak kalah terkejutnya. "Ngapain lo pagi-pagi ketuk pintu kamar gue?" keluh Lalisa kesal. "Ya.. gue pengen ajakin sarapan bareng di bawah" jelas Abian jujur. "Gak! gak perlu---gue udah suruh pelayan hotel bawaiin sarapan gue ke kamar!" tutup Lalisa menutupkan Abian pintu kamarnya. "Lisa!" teriak Abian beberapa kali. "Lo masih marah yah?" lanjutnya namun tak ada gubrisan dari Lalisa. Lalisa berjalan menuju cermin dan menatap pantulan dirinya yang terlihat begitu kacau di pagi hari. Tak dipungkiri ia juga merasa sedikit malu saat Abian mendapati dirinya saat ini. Tak ada lagi sahutan dari balik pintu kamar Lalisa, dimana Abian meninggalkan kamar Lalisa dan turun untuk sarapan. Sedangkan Lalisa ia masih berada di dalam kamar menunggu sarapannya tiba sembari menyisiri rambutnya yang terlihat berantakan. Ponsel Lalisa kemudian berdering dengan nama Elsa pada layarnya. Tak membiarkan sekretarisnya menunggu, Lalisa menjawab panggilannya. Dalam panggilan tersebut Elsa memberitahu Lalisa kalau dirinya harus melakukan penerbangan hari ini menuju Indonesia, dimana sore nanti ia memiliki jadwal temu dengan salah satu investor perusahaan. Lalisa menutup panggilannya dan menghubungi Abian. Seperti apa yang di katakan Elsa padanya, Lalisa memberitahu Abian kalau keduanya harus bersiap untuk melakukan penerbangan lebih awal. Panggilan itu berakhir bersamaan dengan suara ketukan pintu yang kembali terdengar. Tak ingin mengulangi kesalahan yang sama, Lalisa terlebih dahulu mengintip untuk memastikan kalau yang berada di balik pintu kamarnya saat ini bukanlah Abian melainkan pihak hotel yang sedang membawakan sarapan untuknya. Setelah memastikannya, Lalisa membuka pintu dan meminta pelayan hotel tersebut menaruh sarapannya di atas nakas lalu kembali keluar meninggalkan sarapannya. Lalisa menyantap sarapannya sebelum ia bergegas untuk mengemasi barang dan bersiap untuk penerbangannya pagi ini. Begitupun dengan Abian yang lebih dulu menyelesaikan sarapannya, ia naik kembali menuju kamarnya dan mengemasi barang miliknya. Abian juga mendapat panggilan dari ayahnya memintanya untuk kembali lebih awal ke Indonesia. Panggilan itu berakhir, dimana Abian kembali mengetuk pintu kamar Lalisa. "Tunggu!" teriak Lalisa dari dalam kamarnya. Setelah sekitar lima menit Abian menunggu untuk di bukakan pintu oleh Lalisa, pintu pun terbuka dan menampilkan Lalisa yang sangat jauh berbeda dari penampilan ia sebelumnya. "Udah rapi aja lo" ucap Abian sedikit menyindir sembari tertawa. Lalisa hanya menatapnya sinis dan juga kesal. Abian berjalan masuk ke dalam kamar Lalisa, dimana koper milik Lalisa telah siap. "Udah selesai nih?" tanya Abian kembali. "Iya udah" balas Lalisa sembari mengambil tas miliknya yang berada di atas tempat tidur. "Ya udah.. yuk jalan!" pinta Abian berjalan lebih dulu meninggalkan kamar Lalisa. Keduanya berjalan menuju lift untuk menuju loby hotel untuk chek out. Mobil yang akan di tumpangi keduanya juga telah siap mengantar Lalisa dan Abian menuju bandara incheon. Tidak memakan waktu yang lama keduanya berhasil tiba di bandara dengan penerbangan 10.30 waktu korea. Dimana penerbangan keduanya akan memakan waktu hampir sepuluh jam untuk tiba di Indonesia. *** - Indonesia - Suasana diruangan Yeri tampak begitu hangat dimana Sheril, Yuna, Riza dan juga Anneth sedang berbincang sembari menyantap cemilan di atas meja yang berbentuk setengah lingkaran. Percakapan itu terkadang terdengar begitu serius lalu tiba-tiba berubah dengan sebuah candaan. Sheril membicarakan tentang masa magang Yuna dan juga Riza yang hampir sebulan lagi. Anneth kemudian kembali menyinggung tentang pilihan Yuna dan juga Riza tentang spesialis yang mereka inginkan. Dimana Riza memilih untuk menjadi dokter spesialis bedah dan Yuna menjadi seorang dokter spesialis anak. Namun keduanya tetap kekeuh dengan pilihannya, bahkan Yuna ingin meminta dirinya nanti untuk bisa menjadi dokter yang tetap di rumah sakit Artama. Yuna kemudian teringat dengan kejadian dimana ia tak sengaja bertemu dengan Greeta mantan kekasih kakaknya. "Kak Anneth, gimana perkembangan pasangan kecelakaan itu yang kemarin?" tanya Yuna. "Oh.. udah membaik sih, hanya saja si cowoknya belum boleh terlalu banyak gerak karena tulang pada bagian lengannya masih belum pulih" jelas Anneth. "Oh iya, sampai sekarang Aku belum nanya loh ke kamu---emang dia keluarga kamu?" lanjut Anneth penasaran. "Bukan sih.. adik dari cowo itu mantan kekasih kakak Aku" jelas Yuna. Yeri mengangguk mendengar penjelasan dari Yun, dimana ia tau kalau yang dimaksudkan Yuna adalah Abian yang juga selalu di ceritakan Lalisa padanya. "Emang udah lama dia putus sama mantannya itu?" tanya Yeri tiba-tiba yang membuat semua orang terkejut karena terlihat begitu kepo tentang hubungan keduanya. Menyadari hal itu Yeri langsung saja menepis tatapan kecurigaan yang terarah kepadanya. "Aku kan cuma nanya aja sih.." sela Yeri sembari tertawa. "Yah udah lama sih kak" balas Yuna singkat. Tak lagi penasaran, Yeri memilih untuk mengangguk saja dan mengalihkan topik pembahasannya. Disaat percakapan itu semakin larut, Anneth dan juga Riza beranjak dari kursinya mengingat Anneth yang memiliki jadwal operasi setengah jam lagi. Anneth dan Riza meninggalkan ruangan Yeri bergegas untuk menyiapkan untuk operasinya, sedangkan ketiganya masih melanjutkan percakapannya. Yuna menawarkan diri untuk pergi keseberang rumah sakit untuk memesan ice cokelat pesana Yeri dan juga Sheril. Dengan langkah kecil Yuna menuju lift untuk menuju lantai dasar rumah sakit Artama. Selalu menebarkan senyum saat bertemu dengan orang-orang, begitulah Yuna yang terkenal dengan keramahannya. Tak memandang siapapun derajatnya, Yuna selalu memperlakukan semuanya sama. Ia selalu ramah dan rendah hati. "Mau kemana mba Yuna?" tanya salah seorang sekuriti yang tak sengaja mendapati Yuna keluar dari pintu rumah sakit. "Ini pak, mau ke depan beliin kak Yeri dan kak Sheril ice cokelat" balas Yuna ramah. Sekuriti itu mengangguk membalas senyuman Yuna dan membantunya untuk menyebrang ditengah kendaraan yang melaju begitu cepat. Disaat masuk ke dalam pintu cafe tersebut, ia juga tak sengaja bertemu dengan Greeta yang menegurnya lebih dulu. "Yuna!" tegur Greeta yang tengah duduk dengan seorang temannya di dalam cafe tersebut. Yuna mendatangi Greeta setelah memberikan pesanannya pada pelayan cafe tersebut. "Lo kak Greeta disini juga.." ucap Yuna. "Iya.. ini lagi nemenin temen--kebetulan abis dari rumah sakit juga sih, jadi singgah dulu disini" jelas Greeta. "Kamu bukannya adiknya, Abian yah?" tanya seorang perempuan yang duduk di hadapan Greeta. Yuna mengangguk dan membenarkan ucapannya. "Gimana sekarang Abian? Belum pulang dia?" tanyanya kembali. Yuna menatap bingung kearah perempuan tersebut lalu mengalihkan pandangannya ke arah Greeta. "Dia Amanda temennya Bian juga di Amerika" jelas Greeta. Yuna mengangguk mengerti dan memberitahu kalau Abian sudah kembali ke Indonesia dan sekarang dia berada di Korea sedang melakukan perjalanan dinasnya. Mendengar hal tersebut tentu saja membuat Greeta dan Amanda terkejut sekaligus penasaran. Dimana keduanya selalu meremehkan Abian karena selalu terlihat menyedihkan saat berada di Amerika. Abian tak pernah memberitahukan pada Greeta tentang keluarganya, namun kali ini keduanya di kejutkan dengan pernyataan Yuna yang polos. Baru saja ingin mengorek informasi dari Yuna, namun sayangnya Yuna harus berpamitan setelah pesanannya telah selesai. "Aku duluan yah kak.. udah ditungguin soalnya" ucap Yuna meninggalkan Greeta dan juga Amanda. Kepergian Yuna membuat Greeta dan Amanda saling bertukar pandang dengan wajah kebingungan. "Lo selama ini gak tau kalau bokap Abian pemilik Daisy Company?" tanya Amanda tak menyangka. "Gak gue tau! Abian cuman bilang bokapnya bekerja di perusahaan, dia bahkan gak bilang kalau bokapnya pemilik perusahaan!" jelas Greeta. "Lo tau Abian kan gimana dia kemarin disana? Lo tau juga alasan gue pacarin dia karna modal tampang doang, dari ujung kaki sampai kepala gak ada tuh dia keliatan tajir-tajirnya" lanjut Greeta yang masih tidak menyangka. "Dia kayak berandal sih emang" balas Amanda membenarkan. "Tadi kata adiknya dia udah balik tapi lagi di Korea sekarang?" lanjut Amana kembali memastikan. Dan di balas anggukan oleh Greeta. "Lo masih punya nomornya kan? hubungin gih coba" pinta Amanda. "Udah gue hapus, Man.." balas Greeta kecewa. "Minta sama adiknya lagi tadi aja, Ta" ucap Amanda bersemangat. "Kali aja kan, Bian masih belum bisa lupain lo---waktu lo putus kemarin lo ngomong kan ke gue kalo Abian ngemis balikan sama lo" lanjut Amanda yang membuat Greeta semakin percaya diri. "Gue coba deh bentar.." balas Greeta. "Sekarang aja! Gue juga udah mau balik, ada janji. Lo kabarin gue yah kelanjutannya" pinta Amanda sebelum meninggalkan Greeta. Greeta meninggalkan cafe setelah kepergian Amanda. Ia bergegas menuju rumah sakit untuk mencari keberadaan Yuna. *** Lalisa dan Abian berhasil tiba di Indonesia dengan selamat. Elsa telah menunggu keduanya sejak tadi. Mengambil kursi pemudi Elsa melajukan mobilnya menuju perusahaan. Sepanjang jalan hanya Elsa dan Lalisa saja yang bercakap sedangkan Abian tampak terlelap di kursi belakang. "Bagaimana kantor?" tanya Lalisa santai sembari menyandarkan punggung lelahnya. "Pak Henry meminta beberapa contoh produk lagi yang akan di launching, bu" jelas Elsa. "Udah kamu beritahu semua staff?" "Baru konfir ke Indira aja sih, bu" jelas Elsa kembali. "Ya udah.. abis pertemuan kita meeting---ah, besok aja deh. Ga yakin juga sih Aku kalau pertemuannya cepat selesai" ungkap Lalisa. Elsa meminta Lalisa untuk beristirahat selagi ketiganya berada di dalam perjalanan menuju kantor. Mendapat tidur hampir satu jam, Lalisa dan Abian berhasil tiba di kantor. Elsa memberitahu Abian kalau pak Bata sedang menunggunya diruangan. Mendengar hal tersebut, Abian memberitahu Lalisa sebelum meninggalkannya lebih dulu. Abian berjalan dan masuk ke dalam ruangan ayahnya. Dimana Bata sudah sejak tadi menunggunya. Berprilaku layaknya anak pada ayahnya, Abian langsung saja membaringkan tubuhnya di atas sofa ruangan Bata sambil memejamkan matanya. "Gimana disana?" tanya Bata sambil berjalan menuju sofa dan duduk di hadapan sofa Abian. "Membosankan" balas Abian santai. "Kamu tidak membuat Lisa kerepotan kan disana?" tanya Bata. "Ngga, pah" balas Abian singkat. Namun ia kembali mengingat kejadian saat dirinya dan Lalisa bertengkar karena masalah obat milik Lalisa. Disaat keduanya masih bercakap, tiba-tiba saja pintu di ketuk lalu terbuka dan menampilkan Lalisa. Abian sangat terkejut melihat Lalisa yang tiba-tiba saja masuk dan mendapati dirinya yang masih dalam keadaan terbaring di atas sofa. Lalisa melirik Abian yang dengan cepat memperbaiki posisinya. "Hm.. maaf permisi pak Bata---Tn. Ivan tadi meminta untuk mengajak Anda makan malam bersama nanti" ungkap Lalisa sopan. "Oh iya? Apa harus Aku ikut?" tanya Bata. "Sepertinya Tn. Ivan ada sesuatu yang ingin dia bicarakan dengan Anda" jelas Lalisa. "Hm.. baiklah---oh iya, bawa juga anak ini ke ruangannya dan dia juga akan ikut dengan ku malam nanti" pinta Bata. Lalisa dan Abian saling melirik mendengar perkataan Bata sebelum keduanya keluar bersama dari ruangan. Lalisa sangat membenci seseorang yang selalu berprilaku tidak sopan dengan orang yang lebih tua. Lalisa mengabaikan Abian yang terus saja bertanya padanya hingga membuat Abian kesal. "Lo masih marah sampai sekarang?" tanya Abian bersamaan dengan keduanya yang masuk ke dalam lift. "Siapa yang marah?" tanya Lalisa nyolot. "Nah ini sekarang lo apa coba?" balas Abian. Lalisa menarik pasokan udaranya lalu ia hembuskan kembali sembari menjelaskan semuanya pada Abian. "Gue udah gak permasalahin soal kelancangan lo tentang obat gue yah---cuman gue gak suka aja liat sikap lo tadi sama pak Bata. Bukannya lo pengen nunjukkin ke mantan lo, kalo lo bisa menjadi orang yang sukses? orang yang bisa di percaya sama bokap lo? tapi kenyataannya sikap lo belum mencerminkan hal itu, Bian!" jelas Lalisa kesal. "Lo kesal karena hal itu?" tanya Abian bingung. Namun di saat Lalisa ingin menjawabnya, pintu lift kemudian terbuka dan menampakkan beberapa staf yang akan masuk bergabung bersama Lalisa dan Abian di dalam lift. Abian menggerutu kesal karena timing para staf yang masuk ke dalam lift. Lift berhenti dan terbuka tepat di lantai tujuh, ruangan Lalisa berada. Abian mengekor di belakang Lalisa menyinggung tentang percakapannya tadi di dalam lift. Namun Lalisa mengabaikannya dan hanya berjalan terus hingga keduanya masuk ke dalam ruangan. "Gue lagi gak mau bahas masalah pribadi lagi----ini tolong lo periksa berkasnya. Karena berkas itu akan di bawa bentar pas pertemuan dengan Tn. Ivan" pinta Lalisa melemparkan berkas itu pada Abian. "Gue gak mau ada kesalahan, okay?" lanjutnya. Abian tak memiliki pilihan lain selain mengikuti permintaan Lalisa, dimana dalam dirinya rasa penasaran itu masih saja menganggu. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN