10. Sandiwara

1115 Kata
"Saat ini, saya minta kita bekerja sama untuk membuatnya berhenti mengejar saya," bisik Selim sembari merangkul erat gadis itu. "Ta-tapi, Pak ... saya-" "Kamu cukup diam dan mengikuti permainan saya. Mengerti?" desis Selim. Alara menghela napas panjang. "Baiklah. Kali ini saja, kan?" Selim mengangguk pelan. "Saya janji!" Zayna tertawa sinis pada pasangan yang tengah berbisik di depannya. "Bilang saja kalau kalian hanya sedang berakting!" Selim berdecak kesal. "Terserah kamu mau percaya atau tidak, yang jelas saya gak mau kita kembali terikat pertunangan sialan itu!" "Kita memang masih bertunangan, Selim!" teriak Zayna. "Sepertinya kau masih tertidur, Zayna! Segeralah bangun dan hadapi kenyataan yang ada!" cibir Selim. Selim menoleh ke arah Alara. "Kamu mau pulang, kan? Aku antar, ya, Sayang!" ujarnya seraya mengecup pipi mahasiswi yang harus jadi kekasih pura-puranya itu. Mata Alara mengerjap beberapa kali lalu menganggukkan kepala. "Sabar, Alara! Ini hanya sandiwara! Cuma sementara. Gak usah percaya diri dengan kata 'Sayang' dari dosen arogan lagi galak ini!" ucap Alara dalam hati, mengingatkan dirinya sendiri agar tidak jatuh pada pesona seorang Selim Rayyanka. Selim dan Alara pun pergi meninggalkan Zayna yang kini menjerit histeris karena kemesraan yang mereka perlihatkan. Zayna pun segera pergi dengan hati dongkol. Mereka sudah sampai di depan mobil Selim seraya mengembuskan napas lega. Namun, tangan Selim masih setia merangkul Alara. "Maaf, Pak! Tangan Anda!" Alara melepaskan tangan Selim dari pundaknya. "Eh, maaf!" Seketika Selim menurunkan tangannya. "Sekali lagi aku minta maaf karena melibatkanmu." Alara kembali tertegun. Selim yang melihat gadis itu diam saja langsung mencubit pelan pucuk hidungnya. "Sakit!" pekik Alara. Selim tertawa geli. "Masih sempat melamun rupanya. Kenapa? Kamu baru sadar kalau aku tampan?" Alara mendengus. "Tidak! Sudah, ya, Pak! Saya mau pulang." Gadis itu segera beranjak menuju tempat parkir motor khusus mahasiswa. Tanpa ia sadari, Selim terus menatap punggungnya sembari tersenyum lebar. "Tadinya aku hanya ingin bermain-main denganmu, tapi sekarang aku sadar kalau aku sudah terjerat pesonamu," gumamnya tanpa menghilangkan senyum di wajahnya. *** Beberapa kali Alara menguap. Ia terlihat susah payah menahan kantuknya karena tugas yang ia kerjakan belum selesai. Ini akibat ia terlambat pulang dari restoran tempatnya bekerja karena ramai oleh pengunjung yang menghadiri acara ulang tahun yang diadakan di sana. Ponselnya yang berdering mengalihkan perhatiannya. Begitu melihat nama Vino di layar, ia segera menggeser ke atas tombol hijau. "Lara, aku pikir kamu udah tidur. Jam segini kok belum tidur?" Alara menoleh ke arah jam dinding. Ia baru sadar sekarang sudah hampir jam dua belas malam. "Tugas dari Ibu Julie belum selesai soalnya. Gimana kakimu? Udah baikan?" "Alhamdulillah, lukanya mulai mengering. Cuma aku belum bisa ke kampus karena perihnya masih terasa." "Udah periksa ke dokter kulit?" "Udah kok. Kata dokter, lukanya gak sampai ke jaringan yang lebih dalam kok. Untung aja waktu itu kamu langsung bilas di air mengalir. Terima kasih, ya!" "Ck, dari kemarin bilang terima kasih mulu!" gerutu Alara. Derai tawa Vino terdengar di seberang sana. "Gak sabar ke kampus lagi. Aku kangen ngerjain kamu." "Sahabat macam apa kamu? Bahagia banget jahili orang!" "Yang aku jahili cuma kamu, Lara. Kapan coba aku jahili orang lain?" Wajah Alara menjadi merona. Untung saja Vino tak melihatnya saat ini. "Lara, kok diam? Udah mau tidur?" "Sepertinya belum. Mau selesaiin tugas dulu." "Ya udah. Maaf, ya kalau aku ganggu. Lain kali jangan telat tidur lagi!" "Iya, Alvino Wiratama!" Setelah mengucap salam, Alara mematikan sambungan teleponnya dengan Vino dan kembali menyelesaikan tugasnya. Tepat pukul 01.00 dini hari, tugasnya selesai. *** Alara memasuki area fakultas Sains dengan membawa beberapa buku yang tak muat masuk di tasnya. Tujuannya adalah ruang perpustakaan fakultas. Ia ingin mengembalikan buku-buku yang yang telah ia pinjam. Setelah ia mengembalikan buku-buku tersebut, ia segera keluar dari ruang perpustakaan menuju kelasnya. Namun, suara bariton seseorang memanggilnya. "Alara, ke sini sebentar!" Alara menghela napas kasar lalu berbalik menuju ruang kerja Selim. Ia pun diminta masuk. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Alara sopan. "Bisa buatkan saya kopi?" ujar Selim. Alara menarik napas lalu mengembuskannya pelan. "Baiklah, Pak." Alara pun bergerak lincah menyelesaikan perintah Selim agar ia segera masuk ke kelasnya. Lima menit kemudian, kopi untuk Selim sudah jadi. "Silakan, Pak!" "Hmm ... terima kasih!" ucap Selim tanpa mengalihkan matanya dari buku yang ia baca. Alara pun pamit pada Selim dan segera keluar dari ruangan itu. Setelah Alara keluar, Selim menutup bukunya lalu menyeruput kopinya sedikit demi sedikit. "Kamu jadi mood booster yang paling tepat, Lara." Selim sempat kesal pagi ini karena Efsun menghubunginya sambil marah-marah. Penyebabnya adalah Zayna yang telah mengadu pada ibunya tentang penolakannya pada wanita itu kemarin. Karena rasa kesal bisa membuatnya tak berkonsentrasi saat mengajar, ia memanggil Alara begitu ia melihat kedatangan gadis itu dari balik jendela ruang kerjanya. Ia segera keluar menunggu kedatangan sosok Alara melewati ruang kerjanya dan memanggilnya. Selim meminta Alara untuk membuatkan kopi untuknya, padahal keinginannya yang sebenarnya adalah ia ingin melihat gadis itu terlebih dahulu sebelum masuk mengajar di kelas lain pagi ini. Ia ingin terus melihat sosok gadis lugu dan sederhana itu meskipun jadwal mengajarnya di kelas Alara hanya dua kali seminggu. Modus, inilah kata yang tepat untuknya. Mengenai rencana pertunangan yang akan digelar oleh kedua orang tuanya meskipun ia bersikeras tidak menginginkannya, pikirannya semakin tak karuan. Rupanya Zayna masih belum mau menyerah untuk menjauh darinya. Karena ia terlanjur melibatkan Alara dalam rencana liciknya, ia pun terpaksa harus kembali memanfaatkan gadis itu untuk menjadi kekasih pura-puranya. Selim meneguk kopi buatan Alara hingga habis dan tersisa ampasnya. Ia pun berdiri, mengambil tas ranselnya, lalu keluar dan mengunci ruang kerjanya sebelum naik ke lantai empat untuk masuk ke ruang kelas C mahasiswa semester tiga. *** Selim berjalan menuruni tangga. Langkah kakinya membawanya menuju lantai dua. Namun, langkahnya tiba-tiba berhenti karena melihat sosok yang sudah membuatnya muak berdiri di depan pintu ruang kerjanya. "Bisa-bisanya dia ada di sana!" sungut Selim. Ia memilih segera bersembunyi dari balik tembok, memperhatikan Zayna yang terlihat kesal sambil menengok jam tangannya. "Sial! Kenapa dia masih di sana!" gerutu Selim. Tiba-tiba Alara lewat di depan ruang kerjanya dan ia pun mencoba memanggilnya dengan setengah berbisik. "Alara!" Yang dipanggil malah mengernyit bingung karena Selim memanggilnya dalam cara berbisik. "Anda kenapa bersembunyi di sini?" tanya Alara kaget. "Sstt ... Ibuku memintaku ketemu sama dia, tapi aku gak mau. Tolong, Lara! Aku ingin membuat mereka percaya kalau kamu adalah kekasihku," tutur Selim. Alara terdiam. Ia melihat Selim tersenyum penuh harap padanya. "Baiklah. Kapan?" "Lusa." Selim mengambil ponselnya dan meminta Alara memasukkan nomor ponselnya. "Nanti aku kabari lagi, ya!" Alara mengangguk pasrah sebelum ia pergi, meninggalkan Selim yang kini tersenyum lebar. Selim kembali menengok ke arah depan pintu ruang kerjanya. Ia melihat dengan jelas raut wajah kesal Zayna. Wanita itu pun segera pergi karena lagi dan lagi ia merasa diabaikan. Selim menghela napasnya. "Maafkan aku, Lara. Namun, aku gak akan pernah menyesal sama sekali!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN