Seluruh mahasiswa jurusan Kimia mengikuti praktikum di laboratorium. Mereka mengikuti instruksi yang diberikan oleh Selim. Mereka memakai masker dan sarung tangan karet agar aman dari reaksi bahan kimia yang tentu saja dapat mengganggu saluran pernapasan dan merusak kulit.
Namun, sebuah insiden terjadi. Vino yang sedang menuangkan cairan asam sulfat ke dalam labu erlenmeyer ukuran 50 mililiter disenggol oleh salah satu teman kelasnya dan Alara, menyebabkan cairan tersebut tumpah dan mengenai betis kanan Vino yang tertutup celana panjang.
"Argh!" pekik Vino.
Alara yang satu kelompok eksperimen dengannya terlihat panik dan menyimpan pulpen serta kertasnya. Ia langsung menarik tangan Vino dan melangkah menuju toilet yang letaknya di sudut ruang laboratorium. Ia meminta Vino duduk di atas kloset yang tertutup, membantunya membuka sepatu serta kaus kaki, lalu meminjam gunting dari salah satu mahasiswa dan menggunakannya untuk memotong sebagian kain celana yang sudah terkena cairan kimia itu agar tak melukai bagian tubuh Vino lainnya.
Alara memutar kran air dan mengarahkan betis Vino agar terkena air yang mengalir.
"Perih, ya?" tanyanya khawatir.
Vino hanya mengangguk sembari meringis perih.
"Salah satu di antara kalian harus ada yang membawa Vino ke poliklinik!" Suara Selim mengalihkan perhatian Alara, Vino, dan seluruh mahasiswa lainnya.
"Kamu!" Selim menunjuk salah satu mahasiswa yang kepalanya tertunduk lemas karena ia yang menyenggol Vino secara tak sengaja. "Kamu yang bawa dia ke poliklinik!" perintahnya tegas.
"Baik, Pak!" sahut mahasiswa itu.
"Saya ikut, Pak!" Alara berdiri dengan posisi tetap berada di toilet yang pintunya terbuka.
"Untuk apa, Alara? Lebih baik kamu tetap di sini. Kamu harus tetap mengikuti praktikum ini sampai selesai atau nilai tugas kelompokmu kosong!" ucap Selim.
Alara menoleh pada Vino. "Vin," cicitnya.
Vino tersenyum menenangkan. Tangannya terulur mengusap lengan sahabatnya. "Pak Selim benar. Lagi pula ada Gilang yang bawa aku. Aku percaya kamu bisa selesaikan semuanya. Maaf, ya, aku gak bisa bantu."
Alara hampir menangis, akan tetapi usapan lembut Vino kembali menenangkannya. "Udah, jangan nangis! Insya Allah aku baik-baik aja."
Alara mengangguk. Ia pun menoleh pada Gilang. "Aku minta tolong, ya!"
Gilang mengangguk pelan. "Maaf, ini gara-gara gue," ucapnya.
"Ya udah, gak apa-apa. Hati-hati, ya!"
Vino keluar dari toilet dipapah Gilang. Dengan langkah pelan, mereka meninggalkan laboratorium. Alara masih menatap kepergian mereka hingga suara dingin Selim mengalihkan pandangannya.
"Waktu terus berjalan, Alara!"
"Astagfirullah, maaf, Pak! Saya akan selesaikan sekarang!" sahut Alara. Ia pun bergegas kembali ke tempatnya semula.
Selim memperhatikan gadis itu dengan perasaan tak karuan.
Satu jam berlalu. Beberapa mahasiswa mulai meninggalkan laboratorium karena pekerjaannya sudah selesai. Alara pun telah menyelesaikan pekerjaannya, tinggal mencatat hasil praktikumnya. Beberapa kali gadis itu merapikan rambutnya yang menutupi wajahnya.
"Pakai ini!"
Alara tak menduga Selim mendekatinya untuk memberikan sebuah karet gelang.
"Terima kasih, Pak," ucapnya setelah mengambil karet gelang itu dan mengikat rambutnya.
Selim hanya menjawab dengan gumaman. Ia mundur sedikit agar ia bisa bersandar pada bagian tepi sink. Mata tajamnya tak lepas dari Alara yang kembali menyelesaikan catatannya. Beberapa mahasiswa kembali menyusul mengumpulkan catatan hasil praktikum padanya hingga kini tersisa Alara yang selesai paling akhir.
"Ck, terlambat!" cibir Selim. Padahal hatinya mengatakan sebaliknya. Ia senang bisa sedikit lebih lama memperhatikan gadis itu dari dekat.
"Maaf, Pak," ucap Alara, lirih.
"Sudahlah! Kamu bisa pergi sekarang!" titah Selim.
"Baik, Pak!"
Alara segera meninggalkan laboratorium. Satu tujuannya saat ini, poliklinik.
***
"Apa kata dokter, Vin?"
"Aku harus istirahat di rumah dulu. Harus benar-benar sembuh baru bisa beraktivitas lagi."
Alara mengangguk. "Sekarang kamu pulang aja, ya!"
"Kamu ngusir aku?" tanya Vino dengan seringai jahilnya.
"Ck, dokter yang bilang kamu istirahat, Alvino!"
Vino terkekeh seraya mengacak gemas rambut Alara.
"Eh, perasaan tadi rambutmu gak diikat deh!"
"Oh, ini!" ujar Alara sembari memegang karet gelang yang terikat di rambutnya. "Pak Selim yang kasih."
Vino tertegun. Rahangnya terlihat mengeras saat mendengar penuturan Alara. Itu artinya Selim mulai memberikan perhatian kecil pada sahabatnya ini.
"Vin, kamu kenapa?" Alara mengernyit, bingung dengan raut wajah Vino yang berubah secara mendadak.
Vino menggeleng.
"Jadi, mau pulang sekarang?" tanya Alara kembali.
"Gak sabar banget lihat aku pulang!" sungut Vino.
"Kamu harus istirahat, Vino! Gak usah keras kepala gitu!" balas Alara.
"Oke, deh! Kayaknya bakal lama kita gak ketemu," lirih Vino.
Alara tersenyum lembut. "Tenang! Nanti setiap ada tugas, aku bakal beritahu. Jadi, kamu tinggal fokus istirahat aja!"
"Lara," lirih Vino seraya mengusap punggung tangan Alara dengan jari jempolnya. "Terima kasih, ya!"
"Kayak sama siapa aja!" cibir Alara. "Ini tas kamu. Semua barang-barang yang kamu bawa udah masuk. Coba cek ulang!"
Vino menurut. Ia memeriksa kembali barang bawaannya.
"Gak ada yang ketinggalan, kecuali ...."
"Apa?"
"Hatiku. Dia ada sama kamu!"
"A-apa sih!" Seketika wajah Alara terasa panas.
Vino tersenyum.
"Begini, ya rasanya jatuh cinta sendirian? Aku gak masalah bila kamu masih belum bisa membuka hatimu untukku atau bila akhirnya hatimu tidak akan pernah jadi milikku."
***
Vino menatap luka bakar di betisnya. Seketika ia kembali mengingat Alara yang dengan sigap memberinya pertolongan pertama setelah insiden tertumpahnya cairan keras tadi. Bagaimana tangan Alara bekerja cepat dan penuh kehati-hatian serta tatapan khawatirnya bahkan nyaris menangis membuat hatinya menghangat.
Tangannya kembali membuka pesan terakhir Alara.
"Gak usah banyak gerak dulu. Makan teratur dan rajin minum obat! Kalau gak, aku aduin ke dokter!"
Vino tersenyum sembari mengetik balasan.
"Iya. Kalau anaknya Tante Winda udah kasih perintah, tak ada alasan bagiku menolak!"
Ponselnya kembali berdering. Bukan sebuah balasan atas pesannya, melainkan sebuah foto.
"Mau?"
Vino menelan kasar salivanya. Foto salad buah yang Alara kirimkan langsung membuatnya tergiur.
"Mau banget!"
Tak lama kemudian, balasan Alara muncul.
"Aku kirim ke rumahmu, ya! Ibu lagi gak bisa ditinggal. Katanya kepalanya pusing. Tunggu aja, ya! Nanti bilang sama asisten rumah tanggamu untuk ambil ini di luar. Dihabisin, ya!"
Vino kembali mengetik balasan.
"Asal itu buatan kamu, pasti bakal habis!"
Pesannya sudah dua centang biru, akan tetapi tak ada balasan apa pun dari Alara. Vino kembali merebahkan diri di atas ranjangnya dan memejamkan mata.
***
Dua hari terakhir Alara merasa kesepian karena Vino tidak hadir. Meskipun demikian, mereka tetap saling memberi kabar. Mereka bercerita apa saja kegiatan mereka di hari itu hingga sama-sama mengantuk dan terlelap.
Alara berjalan sendirian keluar dari kelas setelah perkuliahan berakhir. Tubuhnya lelah karena ia harus melewati dua praktikum. Nanti malam sepertinya ia absen dulu menelepon Vino karena ia harus membuat laporan praktikum yang sudah terlaksana tadi.
Dari kejauhan, ia melihat Selim sedang bertengkar dengan seorang wanita. Ia melihat wanita tersebut berusaha menarik lengan Selim, akan tetapi Selim menepis kasar tangan wanita itu. Tak ingin ikut campur, Alara berjalan melewati mereka. Namun, secara tiba-tiba tangannya ditarik oleh Selim.
"Dia kekasihku! Jadi, aku minta jangan menggangguku lagi, Zayna!"
"Hah?"