8. Numpang Makan

1085 Kata
Selim diminta pulang oleh kedua orang tuanya untuk makan malam. Sejak tiga hari yang lalu ia dihubungi, akan tetapi ia baru sempat datang karena cukup banyak pekerjaan di kampus yang harus ia selesaikan. Sebelum pria itu turun dari motornya, ia menghela napas kasar. "Sekarang apa lagi keinginan mereka?" ujarnya. Pria itu segera turun dari motor dan melepas helmnya. Ia melangkah cepat agar segera masuk ke dalam rumah. Namun, sebelum ia masuk, Efsun -ibu kandung Selim- sudah berdiri menyambut kedatangan putra satu-satunya. "Akhirnya, anak kesayangan Annem sudah datang!" ucap Efsun dengan wajah semringah. Wajah Selim terlihat datar, akan tetapi ia tetap membalas pelukan sang ibu. "Masuklah, Nak! Baba sudah menunggu di ruang makan." Selim mengangguk sembari melangkah masuk menuju ruang makan. Namun, ia terkejut karena tak hanya Farhat -ayah kandung Selim- yang ada di sana, tetapi juga seorang wanita yang seusia dengannya. Ia sangat mengenal wanita itu meskipun ia hanya menatap punggungnya. "Duduklah, Nak! Baba yakin kamu masih mengingat wanita ini," ucap Farhat. Wanita itu berbalik dan langsung tersenyum semringah. "Hai, Selim! Apa kabar? Lama tak berjumpa, ya!" celetuknya basa-basi. "Apa tujuanmu ke sini, Zayna?" tanya Selim dingin. Zayna berdiri hendak memeluk Selim. Namun, sayangnya pria itu mundur dua langkah darinya. "Tak usah menyentuhku, Nona! Katakan saja apa tujuanmu!" Zayna menghela napas dalam-dalam. "Aku merindukanmu, Selim." Selim tersenyum miring seolah apa yang dikatakan oleh Zayna hanyalah sebuah omong kosong belaka. "Sayangnya aku tidak sama sekali," sahut Selim santai. "Aku mau minta maaf. Aku salah waktu itu," ucap Zayna, lirih. "Minta maaf? Setelah apa yang kau lakukan waktu itu dan kau cuma mau minta maaf?" pekik Selim. "Rendahkan suaramu di hadapan seorang wanita, Selim!" tegur Farhat. "Tujuanku datang ke sini adalah untuk memenuhi keinginan kalian, Baba. Coba lihat apa yang kulihat saat ini! Seorang pengkhianat kembali muncul di hadapanku dengan tatapan meminta belas kasih!" ucap Selim. "Selim, aku minta maaf!" "Simpan saja pernyataan maafmu, Zayna! Sejak kamu pergi, aku sudah tidak peduli dengan pertunangan kita!" "Pertunangan kalian akan tetap dilanjutkan! Itu sudah menjadi keputusan kami, Selim!" ujar Efsun. "Apa? Apa kalian tak salah bicara?" tanya Selim. Ia mendelik tajam pada Zayna yang kini tertunduk. "Kalian tahu kan kalau tiga tahun yang lalu dia yang pergi? Dia yang memutuskan secara sepihak pertunangan sialan itu. Meskipun aku tak pernah menginginkannya sejak awal, tapi dengan senang hati aku menerimanya karena aku menghargai kalian. Bukankah tak ada sejarah dalam keluarga kita untuk memaafkan seorang pengkhianat? Tapi yang kulihat saat ini sangat berbeda. Kalian malah menerimanya kembali tanpa meminta persetujuanku!" ujarnya. Farhat dan Efsun hanya bisa membisu, sedangkan Zayna mulai terisak. Selim mendengus dingin melihat pertunjukan drama di depannya. "Lebih baik aku pulang daripada berada satu tempat dengannya!" cetus Selim, lalu ia melangkah keluar dari rumah. Telinganya mendadak tuli saat Efsun berteriak kencang memanggilnya. *** Selim merasa lapar. Tadinya ia ingin menikmati masakan ibunya, akan tetapi begitu melihat kedatangan Zayna, nafsu' makannya mendadak hilang. Saat ia masih mengendarai motornya sembari menengok kiri dan kanan mencari tempat makan yang pas, ia melihat Alara dengan pakaian santainya dan rambut panjangnya yang digulung dan dijepit asal karena beberapa helai rambut di sisi kiri dan kanan terjuntai indah. Selim memutuskan berhenti di warung sari laut di pinggir jalan. Setelah memarkirkan motornya, ia segera masuk dan mendapati gadis itu duduk menunggu pesanannya sembari memainkan ponselnya. Alara yang merasakan seseorang duduk di sampingnya langsung menoleh. Matanya terbelalak begitu melihat sang dosen arogan yang kini tersenyum tipis. "Makan di sini?" tanya Selim. "Tidak, cuma bungkus," jawab Alara jujur. Ia datang ke warung itu karena Winda ingin sekali makan lele goreng. "Berarti kamu makan di rumahmu." Alara mengangguk. Namun, dalam hati ia mencibir. "Namanya juga bungkus, ya pasti makan di rumah!" Selim pun memesan makanan yang sama dengan Alara. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Selim mendapatkannya lalu segera membayarnya. "Alara, tunggu!" teriak Selim seraya berlari mengejar Alara. "Ada apa?" tanya Alara. "Kamu mau pulang, kan? Saya antar saja!" "Maaf, Pak. Saya-" "Gak ada penolakan! Cepat naik!" sergah Selim sebelum Alara menolak permintaan yang terdengar seperti perintah. Alara mengangguk pasrah. Ia memilih menuruti keinginan dosennya itu daripada menjadi pusat perhatian pengunjung warung. Motor Selim melesat cukup kencang meninggalkan tempat itu dan membuat Alara terkejut setengah mati. "Anda gak bisa, ya hati-hati berkendara?" protes Alara. "Maaf!" sahut Selim. "Dia minta maaf aja kedengarannya menyebalkan!" Setelah mereka sampai, Alara turun dari motor sport Selim dengan susah payah. Setelah mengucapkan terima kasih, ia segera masuk. Namun, saat ia hendak menutup pagar, Selim mencegahnya. "Lara, bisa saya makan di sini?" tanya Selim. "Hah? Gimana? Apa saya gak salah dengar?" tanya Alara balik. Ia hanya ingin memastikan bahwa telinganya masih berfungsi dengan baik. "Kamu gak salah dengar. Boleh?" "Kenapa gak makan di rumah makan tadi atau di rumah Anda saja?" "Saya malas makan sendiri. Boleh, ya?" tanya Selim kembali. Selim meminta izin pada Alara sebagai tuan rumah, tetapi yang sampai ke telinga gadis itu adalah Selim memaksanya untuk masuk. "Baiklah. Silakan masuk, Pak!" ucap Alara lesu. Ia berjalan lebih dulu masuk ke dalam rumah diikuti Selim yang tersenyum lebar. "Assalamu 'alaikum, Ibu! Aku pulang!" seru Alara. "Wa 'alaikumussalam, Nak. Eh, siapa tuh di belakang kamu?" ujar Winda. "Saya Selim, Bu. Dosennya Alara." Selim memperkenalkan dirinya pada ibu kandung Alara. "Masya Allah. Kok Alara gak cerita kalau dia punya dosen ganteng begini, ya?" celetuk Winda. "Ih, Ibu! Buat apa aku cerita soal dia!" sungut Alara. "Lara, kenapa bilang begitu, Nak? Biar gimana pun, dia tetap dosen yang harus kamu hormati!" tegur Winda. Alara hanya bisa mengangguk pasrah. Berbeda dengan Selim yang mengulum senyumnya. "Ada apa, ya Anda datang ke sini? Alara nakal, ya di kampus?" tanya Winda khawatir. Alara memutar bola matanya jengah. "Ya Allah, Ibu. Aku beneran belajar lho di kampus!" protesnya. Winda terkekeh geli lalu kembali menatap Selim. "Jadi?" "Alara tidak pernah macam-macam di kampus kok, Bu," ujar Selim apa adanya. "Alara, siapkan piringnya, Nak!" "Iya, Bu!" *** "Terima kasih, ya!" Alara mendongak, menatap wajah Selim yang tersenyum tipis. "Lain kali kayaknya kita bisa makan berdua," ujar Selim santai. "Dan mengundang tatapan cemburu yang lain? No, thanks!" ujar Alara kesal. "Kenapa? Gak suka?" tanya Selim tak terima. "Jujur, saya gak nyaman, Pak. Kalau dipikir-pikir, dosen mana yang ngajak makan mahasiswanya yang sering ia hukum?" celetuk Alara. "Ada. Saya orangnya!" ungkap Selim. "Pulanglah, Pak! Sudah terlalu malam." Alara mengusir secara halus dosennya tersebut. "Baiklah. Saya pulang. Assalamu 'alaikum!" "Wa 'alaikumussalam!" Alara segera masuk ke dalam rumah meskipun Selim masih ada di depan. Selim menghela napasnya sebelum menyalakan mesin motor lalu motornya itu melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan rumahnya. "Kenapa dia seperti memiliki kepribadian ganda, ya? Aneh!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN