Beberapa kali Selim mematikan panggilan yang masuk di ponselnya. Donna -wanita blasteran Belanda yang menjadi teman tapi mesra pria itu- terus menghubunginya padahal saat ini ia sedang membaca dengan teliti skripsi salah satu mahasiswanya.
"Kenapa masih menghubungiku? Bukankah aku sudah tidak ingin diganggu olehmu lagi?" tanya Selim dengan nada dingin. Pria itu akhirnya menjawab telepon Donna.
"Kamu gak bisa mutusin aku gitu aja!"
"Tak pernah ada hubungan di antara kita selain teman, Donna."
"Hahaha ... tak ada hubungan katamu? Lantas selama sebulan ini kita berbuat selayaknya pasangan kekasih, tapi kau bilang kita cuma teman, hah? Kau jahat, Selim! Apa gara-gara gadis itu sampai kau berpaling dariku?"
"Sudah kukatakan sejak awal padamu saat mengejarku dulu kalau aku tak ingin berkomitmen. Bukankah kau sendiri yang menyetujui keinginanku, kan? Jadi, jangan salahkan aku jika aku meninggalkanmu karena merasa bosan!"
"Suatu saat nanti, kau akan merasakan sakitnya patah hati dan ditolak, Selim. Ingat itu!"
Selim tersenyum sinis setelah telepon dari Donna terputus sepihak. Selalu saja seperti ini jika ia mulai bosan dengan teman kencannya dan mengakibatkan mereka berteriak histeris karena tak terima diperlakukan seperti itu.
Selim mencari kontak Donna dan menekan tombol "Blokir" agar wanita itu tak lagi menerornya.
Pria itu pun melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
***
Alara menghela napas panjang sembari merapal doa dalam hati. Ia pun memberanikan diri mengetuk pintu. Namun, belum sempat tangannya bergerak, pintu itu terbuka dan sang pemilik ruangan menatap datar dirinya.
"Ada apa?" tanyanya.
"Maaf, Pak. Saya baru sempat membawakan kemeja Anda," jawab Alara dengan kepala tertunduk.
Selim mengangkat dagu Alara. "Kenapa kamu selalu menundukkan wajahmu? bisiknya tepat di depan wajahnya.
"Sa-saya ...."
"Letakkan di meja saya dan buatkan saya secangkir kopi! Kamu tahu menggunakan mesin itu?" ucap Selim seraya menunjuk filter coffee maker di sudut ruangan tepat di samping dispenser.
Alara menjawab dengan anggukan. Gadis itu segera bergerak agar ia bisa keluar dari ruangan Selim secepat mungkin.
"Silakan diminum, Pak!" ucap Alara seraya meletakkan cangkir kopi di atas meja. "Kalau begitu, saya permisi, Pak!" pamitnya.
"Mau ke mana?" tanya Selim.
"Kembali ke kelas, Pak."
"Masih ada mata kuliah lagi?"
"Iya, Pak."
"Ya sudah, pergilah!"
Alara membungkuk tanda hormat lalu segera keluar dari ruangan Selim dengan helaan napas lega.
"Perasaan tadi dia gak bilang terima kasih. Hah, semoga ini terakhir kalinya aku punya urusan di luar perkuliahan. Makan hati mulu!" Alara mendengus kesal seraya berjalan meninggalkan ruangan Selim.
"Lara, kamu dari mana saja?" tanya Vino. Ia memang mencari Alara yang tiba-tiba keluar sendirian dari kelas.
"Dari ruangan Pak Selim," jawab Alara.
"Eh, ngapain?"
"Cuma balikin kemejanya yang pernah tertumpah kopi waktu di kantin."
Vino menghela napas lega. "Ke kantin, yuk! Aku yang traktir!"
"Gak, kali ini aku yang traktir! Kemarin aku udah gajian, jadi sekarang giliranku!" cetus Alara.
"No! Simpan uangmu untuk kamu tabung! Bukankah kamu mau beli sesuatu buat Ibu?"
Alara tersenyum. "Memang, tapi kan kamu gak akan makan banyak di kantin. Jadi gak akan bikin aku jatuh miskin. Udah, ayo!"
"Tapi-"
"Please, Vin!"
"Oke!"
Sesampainya mereka di kantin, Vino langsung meminta Alara duduk sedangkan ia bergegas memesan makanan. Sambil menunggu Vino, gadis itu memainkan ponselnya.
"Lara, pesananmu agak lama deh kayaknya. Tuh, antriannya panjang."
Alara melirik ke arah yang Vino tunjuk, kemudian ia menoleh kembali pada Vino. "Ya udah, kamu makan duluan aja!"
Vino menggeleng. Ia mengambil sesendok gado-gado lalu menyodorkannya pada Alara.
"Eh?" Alara menatap bingung Vino.
"Daripada kamu kelaparan!"
"Menunggu sebentar gak masalah, Vin!"
"Cepetan!"
Alara merengut, tetapi tetap membuka mulutnya.
"Gak usah juga sampai kayak gini. Aku dilihatin orang-orang tahu!" ucap Alara setelah ia menelan makanannya.
"Biarin! Masih mending aku gak cium kamu!"
"Vino!"
Vino tertawa geli melihat ekspresi Alara yang merona.
"Santai aja, Lara! Mau lagi?"
"Kamu aja! Tuh punyaku udah datang."
Vino tersenyum, membuat Alara menatap heran sahabatnya.
"Kenapa?" tanya Alara.
"Gak apa-apa," jawab Vino.
"Dasar aneh!" cibir Alara.
Vino tak peduli. Ia memilih menikmati makanan sembari menatap gadis yang duduk di hadapannya itu.
***
"Masih sendiri aja lo!" celetuk seseorang.
Selim yang menikmati cocktail langsung mendelik padanya. "Bukan urusan lo!"
Pria itu tertawa mengejek sembari menepuk pelan bahu Selim. "Jangan gitu, Selim! Emang lo gak mau nyusul gue?"
"Nikah? Ya mau, tapi bukan dalam waktu dekat," jawab Selim.
"Gue cuma takut aja kalau ajal lo lebih dulu datang dibanding jodoh lo!"
"Sial! Lo doain gue mati?"
Pria bernama Roland itu tertawa terbahak-bahak. Setelah derai tawanya mereda, ia berkata, "Kenapa memangnya si Donna? Menurut gue dia sesuai buat jadi istri lo."
"Kalau gitu, lo aja yang nikahin dia!"
"Terus bini gue ngamuk? Sorry, Bro, tapi gue cinta sama istri gue!"
"Cih!"
"Suatu saat nanti, lo akan ngerasain apa itu bucin! Gimana rasanya merindukan seseorang, bahkan lo akan berusaha untuk membahagiakan dia."
Selim terdiam. Roland, sahabatnya itu memang sudah menikah dua tahun yang lalu dan sebentar lagi istrinya akan melahirkan anak pertamanya. Ia adalah saksi bagaimana Roland mengejar wanita yang bernama Daniella dan mempersuntingnya.
Jika ia ditanya apakah ia ingin menikah, jawabannya tentu saja iya. Ia tetap berangan tentang kehidupan rumah tangga. Namun, selama ia dekat dengan beberapa wanita, ia tak pernah merasakan apa pun selain nafsu'. Ia pria normal, tentu saja ia akan tergoda bila ia didekati wanita yang berpakaian terbuka.
Berbeda saat ia berdekatan dengan seorang gadis selama sebulan terakhir. Meskipun ia tak begitu mengenalnya, kesan pertama yang ia lihat darinya adalah sederhana. Beberapa kali ia mencoba menyangkal, terlebih lagi gadis itu jauh lebih muda daripada dirinya. Namun, tetap saja hati tak bisa berbohong bahwa perlahan ia menginginkan Alara Tsurayya untuk dirinya sendiri. Hanya saja ia bingung bagaimana caranya mendekati gadis itu. Saat wanita lain menawarkan diri padanya, Alara justru mencari seribu cara untuk menghindarinya.
"Yah, melamun! Siapa? Incaran baru lo?" ledek Roland.
"Ck, sembarangan!" kilah Selim.
Roland terkekeh sembari menepuk pelan pundak Selim. "Berhentilah bermain! Kalau lo udah ketemu seseorang yang bisa bikin hati lo nyaman, perjuangkan!"
Selim kembali dibuat terdiam.
"Gue pulang, ya! Jangan sampai istri gue marah gara-gara gue terlalu lama di tempat laknat ini! Lo juga, udah tahu gue udah nikah. Masih aja ajak gue ke klub!"
Selim tersenyum tipis seraya mengibaskan tangannya, meminta Roland cepat-cepat pergi.
"Ck, mungkin ini hanya rasa penasaran!"