Alara telah mengemasi barang-barangnya yang tak seberapa itu. Tekadnya sudah bulat, meninggalkan unit apartemen Selim beserta seluruh kenangan manis sekaligus pahit selama bersama dengan pria itu. Ia butuh waktu untuk membunuh perasaannya pada Selim. Gadis itu telah merencanakan segalanya dengan matang meskipun waktunya sangat singkat. Ia telah meminta tolong seseorang untuk memuluskan rencananya itu. Ia pun duduk di tepi ranjang sembari menghela napas lelah. Tak hanya lelah raga, tetapi juga pikiran dan hatinya. Ia masih berduka, tetapi ia harus memikirkan nasibnya sendiri ke depannya tanpa sosok orang tua di sisinya. Ponselnya yang berdering mengalihkan pikirannya. Seraya tersenyum, ia menjawab panggilannya itu. "Halo, Lara!" "Iya, Bang." "Kamu yakin?" Alara mengangguk meskipun ia

