Selim kembali ke apartemennya dalam keadaan sangat lelah. Saat ia memasuki unitnya, matanya langsung tertuju pada kamar Alara. Dengan setengah berlari, ia mendekati kamar itu dan langsung memutar kuncinya. "ALARA!" Ia segera berlutut dan menggendong tubuh Alara. "Alara, please, bangun! Maafkan aku!" Ia menggendong Alara yang masih tak sadarkan diri. Ia berteriak minta tolong pada salah satu tetangganya untuk menutup pintu unitnya. Setelah mengucap terima kasih, ia berlari menuju lift. "Terserah apa yang mau kamu lakukan sama aku setelah ini, yang penting kamu mau bertahan." Selim segera mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hanya butuh waktu sebentar untuk ia sampai di rumah sakit. Tentunya di rumah sakit tempat Winda dirawat. "Suster, cepat tolong dia!" Dua perawat dengan

