16

1407 Kata
"Lexa." "Hmmm..." Saat ini mereka sedang berbaring di atas ranjang setelah baru saja bercinta. Usia kandungan Lexa sudah 36 minggu sekarang dan dia sudah tidak sabar menantikan kelahiran bayinya. "Bagaimana kalau kita kembali ke Sydney saja?" tanya Colin. Tubuh Lexa menegang mendengarnya karena dia tidak ingin kembali ke sana. "Kenapa?" "Mama terus memintaku untuk membawamu kembali ke sana dari pada harus terus meninggalkanmu sendirian di sini dan benar apa yang Mama katakan. Aku tidak tenang setiap meninggalkanmu di sini, apalagi kehamilanmu semakin besar." "Tapi aku baik-baik saja, Colin." "Aku mohon, Lexa. Aku akan merasa lebih tenang jika kamu terus berada di dekatku." "Apa kita benar-benar harus kembali ke Sydney?" "Ya, lagi pula di sana juga dekat dengan kedua orang tuamu dan mereka bisa menjagamu." "Apa kita akan tinggal di rumah mamamu?" "Ya, jika itu yang kamu mau." "Tidak, aku tidak mau menyusahkan mama." "Kita bisa tinggal di apartemen." "Baiklah. Aku juga merindukan Mama dan Papa," ucap Lexa. Setelah membereskan semuanya dan berpamitan kepada orang-orang di hotel itu. Lexa dan Colin kembali ke Sydney menggunakan helikopter. Saat tiba di apartemen dan ternyata itu adalah tempat di mana dulu Colin tinggal mereka bergegas masuk dan beristirahat. Lexa lebih menyukai tinggal di sini daripada harus tinggal dengan mertuanya. Malam ini Colin mengajaknya ke rumah Scarlet untuk makan malam. Dengan enggan Lexa mengikuti keinginan Colin. Saat sampai di sana sudah terdapat seorang wanita yang akan makan malam bersama mereka. "Lexa, perkenalkan ini Linda. Yang akan di jodohkan dengan Colin," ucap Scarlet. "Maksud mama saat kamu meninggalkan Colin dulu. Maaf, Mama tidak tahu kalian akan datang malam ini." "Lexa," ucap Lexa memperkenalkan dirinya. "Linda," ucap Linda. "Jadi kamu wanita yang dulu meninggalkan Colin untuk laki-laki yang lebih kaya itu? Kalian sungguh berjodoh sekali, setelah sekian lama tapi bisa tetap menikah." Colin hanya menatap tajam Linda dan mamanya. Sedangkan Lexa pura-pura tidak mendengar apa yang wanita itu katakan. Saat ini dia rasanya hampir meledak karena marah. Kemudian mereka mulai makan. "Colin, tolong kamu temani Linda karena tiba-tiba kepala mama pusing dan Lexa tolong kamu suruh pembantu untuk membawakan obat mama ya," pinta Scarlet tersenyum manis menahan sakit. "Baik, Ma," ucap Lexa setelah menatap Scarlet sejenak, Lexa kemudian beranjak menuju ke kamar pembantu dengan tidak pasti karena dia tidak yakin di mana letaknya. "Tapi, Ma_," ucap Colin berusaha protes saat Lexa pergi. "Maaf, Sayang," ucap Scarlet sambil berjalan pergi untuk naik ke kamarnya. Dengan derap langkah kesal Colin pergi ke ruang keluarga. "Aku merindukanmu, Colin." "Aku sudah menikah, Linda. Lebih baik kamu cari saja laki-laki lain." "Ya, aku sudah tahu. Aku tidak buta dan aku tidak peduli. Aku rela menjadi istri keduamu." "Kamu sudah gila!" bentak Colin kesal. "Apa kelebihan wanita itu hingga kamu masih menginginkannya padahal dia sudah mengkhianatimu?!" teriak Linda kesal. "Itu bukan urusanmu." "Aku mencintaimu, Colin," ucap Linda sambil dengan tiba-tiba memeluk tubuh Colin dan mencium laki-laki itu. "Colin," panggil Lexa. "Lexa," panggil Colin saat melihat istrinya sudah berdiri di depan pintu dengan wajah pucat. "Ini tidak seperti yang kamu pikirkan," ucap Colin berusaha menjelaskan. "Ya, aku tahu. Bisakah kamu meninggalkan kami berdua." "Apa yang ingin kamu lakukan?" "Please...aku mohon." "Baiklah," ucap Colin dan pergi dari sana. "Ada apa wanita pengkhianat?" "Dan dirimu apa? p*****r? Memaksakan dirimu pada laki-laki yang tidak menginginkanmu. Jika kamu berani mendekati suamiku lagi maka aku tidak akan segan-segan menghajarmu." "Walau pun kamu sudah menjadi istrinya, kamu tidak berhak atas dirinya karena dulu kamu sudah mengkhianatinya." Lexa mendengus mendengarnya.  "Mungkin sebaiknya kamu harus tahu cerita lengkapnya, Nona. Sebelum kamu menghujatku dengan kata-kata itu. Tanyakan pada orang yang menyuruhmu melakukan semua ini cerita yang sebenarnya," ucap Lexa dan bergegas pergi dari sana mencari Colin. "Apa kamu baik-baik saja?" "Ya, bisakah kita pulang sekarang?" "Tentu." "Colin, tolong antarkan aku sekalian," ucap Linda dengan tidak tahu malu. Tubuh Lexa menegang mendengarnya. "Kamu datang ke sini naik taksi, maka pulanglah dengan naik taksi juga. Jika lain kali aku menemukanmu ada di rumah ini saat aku datang, maka saat itu juga aku akan melemparkanmu keluar dengan tanganku sendiri," ucap Colin dengan dingin. Lexa tersenyum mendengarnya dan memberikan Linda senyum mengejek. Lexa kemudian memeluk lengan Colin dan mereka bergegas pergi dari sana. Mereka berkendara dalam diam dan sesekali Lexa melirik wajah Colin yang tampak dingin. "Masuklah dan tidurlah. Kamu tampak lelah," ucap Colin. "Ya." Setelah berganti baju, Lexa segera berbaring dan hanya dalam waktu sekejap dirinya tertidur lelap. *** Keesokan harinya Lexa mengunjungi kedua orang tuanya saat Colin pergi bekerja. Mama dan papanya tentu sangat kaget saat melihat jika dia sudah berdiri di sana dengan perut besarnya dan Lexa bisa melihat raut kecewa di wajah mereka berdua tapi mereka berusaha menutupinya. Saat sudah sore Lexa pamit pulang karena dia tahu sebentar lagi Colin akan kembali. "Colin," ucap Lexa senang saat sampai di rumah dan ternyata Colin sudah pulang. Dengan bergegas dia menghampiri Colin tapi kemudian dirinya berhenti saat melihat tatapan dingin Colin padanya. Tatapan saat Colin baru menemukannya setelah tiga tahun Lexa meninggalkannya. "Colin, ada apa?" tanya Lexa takut. "Jelaskan apa ini?" tanya Colin dingin sambil melemparkan sebuah amplop pada Lexa. Dengan tangan gemetar dan bersusah payah Lexa mengambil amplop tersebut dan mengeluarkan isinya di mana di dalamnya terdapat foto-foto saat Lexa hampir di perkosa waktu itu dan dirinya akhirnya menyadari jika saat itu bukanlah ketidak sengajaan tapi mereka di bayar untuk melakukan hal itu. "Colin, aku bisa menjelaskannya." "Ternyata kamu memang pengkhianat, aku pikir kamu tidak akan lagi mengkhianati aku. Berapa? Berapa dia membayarmu untuk sekali main?" "Colin itu tidak seperti itu." "Benar apa yang mama katakan, sekali pengkhianat akan terus berkhianat dan aku bahkan ragu apakah itu memang anakku, mungkin mama juga benar jika itu mungkin bukan anakku." Tubuh Lexa menegang mendengarnya. Baiklah jika Colin memang ingin mempercayainya seperti itu. "Apakah itu artinya aku boleh pergi dari hidupmu? Apa sekarang akhirnya kamu akan melepaskan aku? Atau aku harus melayanimu dulu untuk terakhir kalinya?" Lexa bisa melihat kemarahan berkobar di kedua mata Colin. "Setelah kita bercerai dan aku memastikan jika anak itu memang anakku atau bukan, maka kamu boleh pergi sambil membawanya jika dia bukan anakku. Tapi jika itu anakku, maka kamu boleh pergi sendiri dan anak itu akan bersamaku," ujar Colin dingin dan beranjak bangun dari duduknya menuju pintu. "Kamu boleh terus tinggal di sini sampai kita resmi bercerai," tambah Colin saat dirinya sampai di pintu. Isakan lolos dari bibir Lexa dan dirinya jatuh berlutut di lantai saat Colin pergi meninggalkan dirinya. Tangis sedu sedan dan menyayat hati di keluarkannya. Colin melanggar janjinya untuk tidak pernah meninggalkan mereka. Dengan susah payah Lexa bangun dan menuju ke ranjangnya. Dia terus menangis hingga kelelahan dan akhirnya tertidur. Saat bangun jam menunjukkan pukul 03:00 dan dia sungguh merindukan Colin. Tapi tidak ada yang bisa Lexa lakukan jika laki-laki itu ingin mempercayai semuanya tanpa mendengar penjelasannya dulu. Hari-hari yang dilalui Lexa hampa sejak hari itu. Dirinya tidak nafsu makan dan bahkan dia tidak menyadari waktu lagi. Hari ini jadwal periksa kandungannya, Lexa ingat hanya karena alarm yang di pasangnya dan sepertinya dia harus ke sana sendirian. Ia bahkan tak menyadari jika sudah 6 hari berlalu sejak kejadian itu. Lexa keluar dan menutup pintu pelan. Saat itulah dia menemukan Colin berdiri di sana menunggunya. Lexa terus berjalan dan seolah-olah tidak melihat Colin. "Aku yang akan mengantarkanmu ke dokter." "Tidak perlu," ucap Lexa dingin. Dengan kasar Colin menarik lengan Lexa. "Sampai aku memastikan jika itu bukan bayiku maka aku akan tetap berurusan denganmu." Lexa diam dan akhirnya mengikuti Colin ke mobilnya. Saat sampai di rumah sakit dan dokter memeriksa kandungan Lexa mereka hanya saling diam. "Bayi kalian sehat dan saat ini sudah berusia 37 minggu. Sepertinya sebentar lagi dia akan bertemu dengan kalian," ucap Dokter sambil tersenyum. "Dan Mrs. Donovan Anda harus menjaga kesehatan Anda. Tekanan darah Anda sangat rendah dan aku lihat berat badan Anda juga berkurang. Jika terus seperti ini akan berbahaya saat Anda melahirkan nanti." "Ya, Dokter, terima kasih." Mereka kemudian keluar dari sana dan Lexa berjalan tanpa menunggu Colin lagi. "Apa kamu tidak makan beberapa hari ini?" "Itu bukan urusan Anda." "Itu urusanku jika mungkin itu bayiku yang akan kamu bahayakan." Lexa hanya diam dan tidak mengubris Colin lagi. "Antarkan aku pulang, berada di dekatmu lebih lama membuat aku semakin tidak sehat," ucap Lexa sinis. Saat tiba di apartemen Lexa bergegas turun dari mobil dan naik ke apartemen serta mengunci pintu. Setelah berada di dalam, Lexa membiarkan tangisnya meledak. *** Jangan lupa klik love & komentnya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN