Tiga hari kemudian bel pintunya berbunyi, Lexa begitu terkejut saat membuka pintu dan menemukan laki-laki yang berusaha memperkosanya sedang berdiri di depan pintunya.
"Kamu mau apa?" tanya Lexa ketakutan dan berjalan mundur. Kemudian laki-laki itu masuk dan menutup pintu di belakangnya.
"Katakan apa maumu?!" jerit Lexa.
Tiba-tiba laki-laki itu sudah berdiri di hadapannya dan menarik Lexa ke dalam pelukannya dan mencium Lexa dengan paksa. Lexa berusaha memberontak dan memukul laki-laki itu agar melepaskannya.
Akhirnya laki-laki itu melepaskan ciumannya.
"Aku begitu merindukanmu, Sayang. Kenapa kamu meninggalkan aku dan pergi jauh membawa anak kita dariku. Aku tahu jika dia sangat kaya tapi kenapa kamu tega memisahkan aku dari anak kita. Aku mencintaimu dan aku akan berusaha mencari uang yang banyak tapi tolong kembalilah padaku."
"Apa maksudmu?!" jerit Lexa tidak mengerti dan laki-laki itu kembali mencium Lexa dengan paksa.
Bum!
"b******n!" teriak sebuah suara saat terdengar pintu yang dibanting terbuka.
Laki-laki itu kemudian ditarik pergi darinya dan akhirnya ia bisa bernapas lega. Ternyata Colin yang baru saja datang dan saat ini Colin sedang memukul laki-laki itu hingga hampir kehabisan napas.
"Pergi dari sini sebelum aku menghancurkan tulang-tulangmu," ujar Colin dingin.
"Colin, kamu harus menenangkan dirimu," ucap Scarlet berusaha menenangkan anaknya.
Tubuh Lexa membeku saat mendengar suara Scarlet dan saat melihat wanita itu masuk ke apartemen ini juga.
Lexa melangkah mundur saat Colin menghampirinya dengan wajah merah padam karena marah.
"Kamu memang benar-benar w************n! Sekarang aku yakin jika yang kamu kandung itu bukan anakku," cerca Colin.
"Ini surat cerai kita, aku harap kamu segera menandatanganinya," sambung Colin membanting sesuatu di atas meja dan berbalik pergi.
Air mata mengalir di kedua mata Lexa. Sekarang dia tahu apa yang terjadi dan jika dia tidak berusaha menghentikan Colin pergi sekarang maka dia akan kehilangan Colin untuk selamanya.
"Aku mencintaimu, Colin."
Colin menghentikan langkahnya saat mendengar itu.
"Aku tidak pernah mencintai orang lain dan aku tidak pernah mengkhianatimu. Sejak dulu hingga sekarang aku tidak pernah berhenti mencintaimu. Aku mohon percayalah padaku."
Colin kembali melangkah.
"Jika kamu pergi sekarang maka aku anggap hubungan kita berakhir selamanya, walau akhirnya kamu tahu kebenarannya nanti," lirih Lexa. Colin terus melangkahkan kakinya walau pun sesaat merasa sedikit ragu tapi dia menepis keraguan itu.
"Aku kira kamu juga masih mencintai aku!" isak Lexa.
"Tapi ternyata aku salah karena jika kamu mencintaiku maka kamu akan percaya padaku dan kamu sudah berjanji tidak akan meninggalkan kami!" teriak Lexa saat Colin terus pergi dan akhirnya menghilang dari hadapannya.
Lexa jatuh berlutut di lantai dan menangis tersedu-sedu di sana. Kemudian dirinya memaksakan diri untuk bangun.
"Aku harap Tante bahagia sekarang," ujar Lexa saat Scarlet sampai di pintu dan akan menyusul Colin.
Scarlet mengurungkan niatnya untuk menyusul Colin dan kemudian menutup pintu pelan melangkah mendekati Lexa.
"Aku sudah merencanakan akan menjodohkan Colin dengan Linda sejak dulu tapi kehadiranmu merusak semuanya!" jerit Scarlet.
"Selamat, Tante. Sepertinya kali ini Tante akan berhasil menjodohkan Colin dengan wanita itu, menantu idaman Tante dan selamat juga untuk Tante karena sudah berhasil untuk kedua kalinya memisahkan aku dengan Colin," ucap Lexa pelan.
"Katakan apa salahku, Tante? Dulu Tante memaksaku untuk meninggalkan Colin dan memaksaku untuk menyakitinya, dengan bodohnya aku menurutinya demi kedua orang tuaku yang Tante ancam akan Tante hancurkan jika aku tidak mau menurutinya. Aku sudah berusaha pergi jauh selama ini, aku benar-benar berusaha, bahkan aku mengganti namaku. Bukan salahku jika takdir mempertemukan kami kembali dan aku kira Tante akhirnya akan menerimaku karena mengandung anak Colin, cucu Tante dan darah daging Tante! Tapi ternyata aku salah, bahkan Tante rela membayar orang untuk mendapatkan foto-foto itu, foto-foto seolah-olah aku sudah berselingkuh padahal kenyataannya aku hampir di perkosa olehnya!" jerit Lexa pilu.
"Salahmu hanyalah menjadi orang miskin dan aku tidak sudi memiliki cucu dari wanita miskin sepertimu."
Lexa terisak pilu mendengarnya dan dia merasa begitu lelah menghadapi semuanya saat itulah dirinya merasakan rasa sakit yang amat sangat di perutnya.
"Akhhh!" teriak Lexa dan jatuh berlutut sambil memegang perutnya.
"Sakit!" teriak Lexa lagi dan berusaha menggapai Scarlet yang tampak tidak peduli.
Hingga akhirnya kesadaran Lexa hilang dan kegelapan menelannya.
Pintu terbuka dan Colin melangkah masuk ke dalam dengan cepat.
"Colin, tolong Lexa," ucap Scarlet sambil pura-pura menangis saat melihat Colin masuk.
Colin segera mengangkat tubuh Lexa yang tidak sadarkan diri dan menggendongnya ke mobil.
"Mama, ikut."
"Tidak perlu," ucap Colin dan segera masuk ke bagian kemudi dan melajukan mobil ke rumah sakit.
"Dokter, cepat! Tolong istriku!" teriak Colin sambil menggendong Lexa saat sampai di rumah sakit.
Dengan cepat semua orang bergerak mengambil alih Lexa dari tangan Colin dan membawanya ke ruang operasi.
Colin menunggu di luar dengan cemas sambil berjalan mondar mandir.
Tuhan, tolong jangan ambil mereka dariku. Aku mohon berikan aku kesempatan ketiga. Aku tahu jika mungkin aku tidak pantas mendapatkannya lagi tapi tolong kabulkan permintaanku, ucap Colin berdoa di dalam hatinya.
Satu jam kemudian dokter keluar.
"Bagaimana, Dokter?"
"Istri Anda dan putri Anda baik-baik saja."
Colin begitu lega mendengarnya, dia sangat bersyukur karenanya dan dirinya berjanji dia tidak akan pernah menyakiti Lexa lagi. Sekarang dia sadar jika dia masih sangat mencintai Lexa dan saat istrinya nanti bangun dia akan memberitahunya.
Setelah Lexa dipindahkan di ruang rawat, Colin duduk di samping Lexa dan terus berada di sampingnya hingga tiga jam kemudian Lexa belum sadar juga dan Colin mulai merasa panik karenanya. Colin bergegas menemui dokter Lexa di ruangannya.
"Dokter apa yang terjadi?"
"Mrs. Donovan baik-baik saja, mungkin obat biusnya belum sepenuhnya hilang, Anda tenang saja istri Anda akan segera sadar nantinya."
Colin terdiam mendengarnya, mungkinkah apa yang dokter katakan benar adanya jika aku terlalu cemas? Tapi bagaimana jika bahkan Lexa tidak ingin terbangun karena merasa begitu lelah? Dan ini semua salahku.
Colin merasa begitu bersalah karenanya. Dirinya berusaha menenangkan diri sebelum kembali melihat Lexa.
Apa kamu tidak ingin bangun lagi karena membenciku, Lexa?
***
"Akhhh! Di mana aku?"
Perlahan Lexa membuka matanya dan menatap sekeliling tempat di mana dirinya berada saat ini.
"Tidak!" jerit Lexa saat sadar jika dirinya berada di rumah sakit dan saat menyentuh perutnya yang sudah rata dan pikiran jika telah kehilangan anaknya membuat dirinya begitu menderita.
"Kenapa?! Kenapa ini terjadi padaku, Tuhan?!" jerit Lexa yang semakin histeris menumpahkan semua rasa kehilangannya. Lexa kemudian berusaha turun dari ranjang agar dia bisa segera pergi dari tempat yang menyakitkan ini dan mungkin dari dunia ini.
"Lexa, kamu sudah sadar?" tanya Colin yang bergegas ke ruangan Lexa saat mendengar teriakannya.
"Aku membencimu, Colin! Apa lagi yang kamu inginkan dariku sekarang? Aku harap kamu puas karena berhasil merengut semua hal dariku dan berhasil menghancurkan aku seperti keinginanmu," lirih Lexa sambil tertawa dengan sedih dan akhirnya tawa itu kembali berubah menjadi isak tangis yang memilukan.
Colin terdiam saat mendengar dan melihat apa yang terjadi pada Lexa dan semua itu karena dirinya yang sudah menyakitinya.
"Kamu baru bangun, sebaiknya kamu istirahat dulu dan jangan turun dulu."
"Apa pedulimu?! Aku tahu kamu tidak peduli padaku. Pergilah Colin seperti yang kamu tahu hubungan kita sudah berakhir saat kamu melangkahkan kaki meninggalkan aku sendirian di sana dan aku kehilangan bayiku karena dirimu dan mamamu, aku harap kamu puas karena keinginanmu untuk menyingkirkannya berhasil," lirih Lexa dan kembali berusaha turun.
"Bayi kita baik-baik saja," ujar Colin tapi Lexa bergeming seolah-olah tidak mendengar ucapan Colin.
"Jangan sentuh aku!" bentak Lexa saat Colin ingin menyentuhnya.
"Panggil dokter," teriak seorang suster yang bergegas masuk sambil memegang Lexa yang berusaha turun dari ranjang dan memberontak.
"Mrs. Donovan, tenangkan diri Anda," ucap Dokter saat sampai di kamar Lexa.
"Biarkan aku mati, aku lebih baik mati karena sudah kehilangan anakku," isak Lexa pedih.
"Anak Anda baik-baik saja dan saat ini sedang berada di ruang bayi."
"Kalian semua pasti bohong! Saat itu aku merasa begitu kesakitan dan wanita itu tidak memedulikan aku, aku kehilangan anakku karenanya," ratap Lexa sambil menatap Colin.
"Suster, bawa bayinya ke sini."
Dengan cepat suster pergi untuk menjalankan instruksi dokter padanya.
"Lihat, itu putri Anda," ucap Dokter saat suster sudah kembali sambil membawa sesuatu yang terbungkus.
Lexa berhenti memberontak dan menatap sesuatu yang berada di dalam pelukan suster itu. Saat suster itu sampai di hadapannya dan Lexa bisa melihat jika itu adalah seorang bayi. Dirinya menutup mulutnya terharu.
"Apakah dia memang bayiku?"
"Ya, dia putri Anda," ucap suster itu lembut dan memberikan buntalan itu ke dalam pelukan Lexa.
Saat menggendongnya Lexa tahu jika itu memang putrinya dan dia menangis sangat bahagia.
"Terima kasih karena kalian sudah menyelamatkannya."
"Itu sudah tugas kami, Mrs. Donovan."
Lexa lupa akan keberadaan Colin saat tahu jika ternyata anaknya masih hidup. Dirinya menangis bahagia karena ternyata Tuhan masih peduli padanya dan tidak meninggalkannya seperti orang-orang di sekitarnya.
Ponsel Colin berbunyi dan dia berlalu dari sana untuk menjawabnya.
"Ada apa, Devon?"
"Mr. Donovan, ada masalah di sini yang harus ditangani oleh Anda."
"Apa tidak bisa ditunda?"
"Maaf tidak bisa, seseorang ingin bertemu Anda dan akan menuntut kita jika Anda tidak menemuinya."
"Minta dia menunggu, aku akan datang hari ini."
"Baik."
Colin menyugar rambutnya dengan rasa frustrasi karena tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dirinya tidak bisa meninggalkan Lexa dan dia harus mengatakan semuanya pada Lexa.
Colin kembali berjalan masuk ke dalam kamar Lexa dan menatapnya yang masih sibuk menggendong bayi mereka.
"Mrs. Donovan, maaf kami harus membawa kembali bayi Anda karena Anda harus beristirahat."
"Tidak! Aku tidak akan membiarkan kalian membawanya!"
Lexa tidak bisa membiarkan hal itu karena dirinya tahu dengan pasti jika ini adalah putri Colin dan dia ingat jika Colin akan merengutnya darinya jika itu anaknya dan Lexa tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Colin pasti ingin memastikan apakah ini anaknya atau bukan karena itulah dia masih berada di sini.
"Tapi Anda harus istirahat, Mrs. Donovan."
"Aku baik-baik saja."
"Biarkan saja," ucap Colin.
Lexa menatap Colin yang tidak disadarinya sudah kembali ke kamarnya.
"Tapi, Mr. Donovan..."
"Aku akan menjaganya."
"Baiklah."
"Kenapa kamu tetap di sini?"
"Tentu saja untuk menjagamu dan putri kita."
Lexa tertawa mendengarnya, dirinya pasti salah dengar.
"Dia bukan putrimu Colin jika kamu lupa, dia hanya putriku."
"Dia juga putriku."
"Apa yang sebenarnya kamu inginkan? Apa kamu ingin merebutnya dariku? Bukankah kamu sendiri yang mengatakan jika dia bukan putrimu?"
"Maafkan aku, aku tidak akan pernah merebutnya darimu."
Lexa terdiam mendengarnya.
Benarkah itu? Akankah aku bisa mempercayainya? Tapi dia pernah berjanji tidak akan meninggalkan aku. Kenyataannya dia meninggalkan aku lagi.
Sebutir air mata kembali mengalir di pipi Lexa saat ingat akan hal itu.
Dengan refleks Colin menghapusnya dari pipi Lexa hingga Lexa tersentak dan menjauhkan kepalanya dari sentuhan Colin.
"Maafkan aku, aku..."
"Pergilah, Colin. Aku ingin istirahat," ucap Lexa memotong apa pun yang ingin dikatakan Colin padanya dan Lexa tertolong saat ponsel Colin kembali berdering.
***
Setelah pergi selama lima belas menit, Colin kembali menemui Lexa di kamarnya.
"Aku harus pergi, kita akan bicara lagi setelah aku kembali nanti."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Colin. Jika kamu lupa, aku akan kembali mengingatkanmu, hubungan di antara kita sudah berakhir saat kamu pergi melangkahkan kakimu meninggalkan aku yang saat itu memohon padamu."
Colin menatap Lexa dan merasa berat meninggalkannya tapi dia tidak punya pilihan karena masalah hotelnya yang di Malbourne tidak bisa dia tunda lagi.
Colin mendekat pada Lexa dan mengecup lembut keningnya, tidak peduli jika Lexa mencoba menjauhinya bahkan dirinya menangkup dagu Lexa dan mengecup bibirnya lembut.
Jantung Lexa berdegup kencang saat Colin melakukan semua hal itu padanya bahkan hingga Colin menghilang dari hadapannya.
"Berhentilah berdebar-debar jantung sialan, itu bukan apa-apa untuknya, jika kami lupa dia tidak mencintaimu," ujar Lexa memarahi dirinya sendiri.