Hai...hai...hai... aku kembali lagi tapi maaf ya bakalan masih slow updatenya. Ini juga nyuri2 waktu ✌.
Happy Reading
***
Lexa menghembuskan napas lega saat Colin menghubungi pihak rumah sakit dan meminta mereka memberitahunya jika dia baru bisa kembali tiga hari lagi.
Ia sungguh-sungguh tidak tahu apa yang masih Colin inginkan darinya dan ia sama sekali tidak ingin menunggu untuk mengetahuinya.
Ia menatap pintu kamarnya yang kembali terbuka dan mengira jika suster yang datang.
"Ternyata kamu dan anakmu itu masih hidup," ujar Scarlet yang sudah masuk ke dalam ruang Lexa.
"Apa yang Anda inginkan?!"
"Sebaiknya kamu menjauh dari Colin karena seperti yang kamu tahu dia tidak peduli padamu bahkan saat ini dia meninggalkanmu sendirian tergesa-gesa pergi ke Malbourne hanya untuk menolong Linda yang sedang butuh bantuan di sana karena permintaanku, dia tak pernah bisa menolak permintaanku."
Perasaan Lexa terluka karenanya dan air mata kembali menetes di pipinya.
Bagus, dia sungguh percaya akan hal itu. Tidak sia-sia aku membayar seseorang untuk membuat masalah di sana hingga Colin tidak bisa menemani wanita ini jadi aku bisa memastikan benar-benar sudah memisahkan mereka selamanya, pikir Scarlet tersenyum senang.
"Pergilah sejauh mungkin dari hidup Colin dan dia masih percaya jika itu bukan anaknya, jadi sebaiknya kamu pergilah membawanya sebelum Colin menyakitimu lebih dalam, aku sungguh sangat kasihan padamu," ujar Scarlet dan meninggalkan Lexa di kamar itu memikirkan semuanya.
"Dan jika ingin anakmu tetap hidup sebaiknya kamu jangan pernah kembali pada Colin, kamu tahu aku mampu melakukan hal itu!" sambung Scarlet tanpa berbalik saat sampai di depan pintu.
"Aku harus segera pergi dari sini membawa Isabella," gumam Lexa.
Ia kemudian berusaha secepatnya memulihkan tubuhnya dalam waktu yang singkat ini sebelum Colin pulang karena ia tidak ingin Colin menyakitinya lebih dalam lagi.
Dua hari ini dia tetap tidak diizinkan turun dari ranjang dan bahkan tidak di izinkan bersama putrinya.
Ia menekan bel malam itu untuk meminta seorang suster datang.
"Ada apa, Mrs. Donovan?"
"Aku merindukan anakku dan aku tidak bisa tidur. Aku mohon bawa dia padaku," ucap Lexa dengan mata berkaca-kaca.
"Baiklah, Mrs. Donovan karena putri Anda sejak tadi juga terus menangis. Sepertinya dia juga merindukan Anda."
"Terima kasih," ucap Lexa senang.
Tidak lama kemudian suster itu kembali datang sambil membawa bayinya, dia memberikannya pada Lexa dan seketika bayinya langsung terdiam.
"Coba Anda susui, Mrs. Donovan."
"Apakah aku sudah boleh menyusuinya?"
"Ya."
"Baiklah," ucap Lexa dan segera membuka sedikit bajunya dan mencoba menyusui anaknya yang bersemangat saat merasakan sesuatu menempel di bibirnya.
"Lihatlah dia sangat pintar."
"Iya," ucap Lexa tersenyum sambil menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca.
Mama akan melindungimu sekuat tenaga Mama, walau nyawa Mama taruhannya.
"Baiklah, aku akan meninggalkannya bersama Anda dan jika butuh sesuatu pencet saja bel nya."
"Terima kasih."
Saat suster sudah pergi selama beberapa saat, akhirnya putrinya melepaskan hisapannya dan tertidur.
Dengan pelan ia meletakkan anaknya di atas ranjang dan dirinya berusaha mencoba turun dengan perlahan. Ia mencoba berjalan-jalan dan saat dirasakannya jika dia akan baik-baik saja, dirinya segera mengambil kertas dan pulpen yang ada di sana.
Ia melepaskan cincin pernikahannya dan juga kalungnya yang terdapat cincin pertunangan yang Colin berikan dulu padanya dan meletakkannya di meja. Selama ini ia terus berusaha menutupi cincin pertunangan itu saat bersama Colin karena dia tidak mau Colin tahu perasaannya yang sebenarnya karena masih terus menyimpan cincin itu hingga sekarang tapi saat ini sepertinya dia harus merelakan cincin ini.
Ini untuk membayar biaya rumah sakit dan lainnya. Aku harap ini cukup. Maafkan aku karena aku harus segera pergi dari sini dan terima kasih karena sudah menyelamatkanku dan anakku.
Lexa meletakkan surat itu di meja bersama cincinnya.
Setelah selesai ia mengambil bayinya dan dengan diam-diam pergi dari sana meninggalkan rumah sakit itu. Ia pergi ke apartemen Colin untuk mengambil barang-barangnya yang masih ada di sana. Beruntung penjaga memiliki kunci cadangan jadi dia bisa masuk. Sedikit tabungan yang ia punya akan bisa membiayainya bersama anaknya untuk sementara waktu.
Saat akan keluar dari apartemen Lexa melihat surat cerai yang Colin berikan padanya. Dia membuka dan membacanya. Air mata menuruni pipinya kemudian tanpa memikirkannya lagi dia mengambil pulpen dan menandatanganinya.
Setelah itu ia keluar dari apartemen dan menelepon kedua orang tuanya, mungkin aku bisa tinggal di sana sampai besok dan kemudian baru pergi sejauh mungkin.
"Mama," panggil Lexa saat telepon tersambung.
"Lexa?! Mama kecewa kepadamu. Dulu kamu meninggalkan Colin dan memutuskan pertunangan kalian dan sekarang kamu kembali mengkhianatinya. Mama tidak mengenalimu lagi."
Lexa terisak mendengarnya.
"Dari mana Mama tahu?"
"Dari mertuamu, mama sungguh malu sekali kepadamu. Jangan tunjukkan mukamu lagi di hadapan kami."
"Mama," isak Lexa tidak percaya. Bahkan mamanya lebih memercayai wanita itu dari pada dirinya.
"Selamat tinggal, Mama. Jaga diri kalian baik-baik," ucap Lexa dan kemudian mematikan sambungan telepon.
"Sekarang kita harus ke mana, Sayang?" tanya Lexa pada bayinya.
Akhirnya ia menyewa sebuah hotel murah untuk malam itu, besok ia akan memikirkan akan pergi ke mana selanjutnya.
***
Colin bergegas ke rumah sakit setelah kembali dari Malbourne. Apakah Lexa dan putri kami baik-baik saja? Karena rumah sakit tidak menghubungiku sama sekali.
Saat sampai di kamar Lexa dirinya terpaku karena istrinya tidak ada di sana. Di mana Lexa apa sesuatu terjadi padanya? Apa dia...? Tidak! Tidak! Itu tidak mungkin.
Sontak wajah Colin memucat dan seolah-olah tulang meninggalkan kakinya hingga dia hampir terjatuh jika tidak segera meraih pintu yang ada di dekatnya.
Colin berbalik dan keluar dari sana. Saat dia sedang berjalan di lorong, dirinya menahan suster yang sedang lewat.
"Suster, apakah istri saya ..." Colin tidak mampu menyelesaikan ucapannya.
"Mr. Donovan, Anda sudah datang. Sejak kemarin kami mencoba menghubungi Anda."
"Saya sedang di luar kota."
"Di mana istri saya?"
"Maaf, sebaiknya Dr. Morgan saja yang menjelaskannya pada Anda," ucap Suster dan membawa Colin menemui Dr. Morgan.
"Di mana istri saya, Dokter?" tanya Colin saat sampai di ruangan Dr. Morgan.
"Duduklah, Mr. Donovan."
Dengan terpaksa Colin duduk dan perasaannya merasa tidak enak.
"Maafkan kami istri Anda kabur bersama bayinya dari rumah sakit dan hanya meninggalkan sebuah surat dan dua buah cincin."
"Dua buah cincin?"
"Ya, dia mengatakan itu untuk membayar biaya rumah sakit. Aku menyimpannya sampai Anda datang."
Dr. Morgan kemudian membuka lacinya dan mengeluarkan sebuah surat dengan dua buah cincin.
Colin mengambil cincin-cincin itu. Satu buah adalah cincin pernikahan mereka dan satu lagi adalah cincin yang dulu dia berikan pada Lexa saat dirinya melamar Lexa. Tanpa dia sadari dirinya mengenggam cincin itu dengan erat karena bahkan hingga selama ini Lexa masih menyimpan cincin itu.
"Kenapa kalian tidak menghubungi aku?!" raung Colin marah.
"Kami sudah berusaha menghubungi ponsel Anda, tapi selalu tidak aktif."
Colin ingat jika dia sibuk rapat hingga tidak mengaktifkannya dan selesai rapat dia lupa menyalakannya karena disibukkan dengan hal lainnya.
"Dan saat kami menelepon rumah Anda, ibu Anda mengatakan jika Anda tidak peduli tentang keadaan istri Anda dan meminta kami tidak menghubungi Anda lagi dan dihari Anda pergi, ibu Anda kemari untuk menjenguk istri Anda. Saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan."
Colin bangun dengan marah meninggalkan ruangan itu dan setelah membayar biaya rumah sakit dirinya pergi ke rumah Scarlet.
"Apa hak Mama mengatakan hal itu kepada pihak rumah sakit? Dan apa yang Mama bicarakan saat menemui Lexa?!" raung Colin marah saat bertemu Scarlet.
"Colin, kamu sudah pulang."
"Jawab aku, Mama!"
"Mama tidak suka kamu terus bersamanya padahal dia sudah mengkhianatimu, masih ada Linda yang benar-benar mencintaimu dan Mama meminta dia pergi dari hidupmu karena tidak mau dia terus menyakitimu."
"Cukup, Mama! Tolong jangan campuri hidupku lagi!" ucap Colin marah dan berlalu dari sana.
"Dasar wanita sialan! Semua cara sudah aku lakukan tapi dia masih bisa menancapkan cakarnya pada Colin, padahal aku sudah berbaik hati memintanya pergi bersama anaknya," ujar Scarlet.
Dengan kesal Scarlet keluar dari rumah menuju rumah kedua orang tua Lexa.
Wanita itu pasti di sana dan aku akan membuat dia dan anaknya lenyap dari muka bumi ini.
***
Setelah pergi dari rumah Scarlet, Colin bergegas menuju apartemennya dan berharap Lexa ada di sana tapi saat sampai di kamarnya, dia tidak menemukan Lexa dan barang-barangnya juga sudah tidak ada.
"Di mana dirimu, Lexa? Maafkan aku," ucap Colin sambil terduduk dengan wajah muram di kursi.
Colin menatap surat cerai yang di berikannya pada Lexa hari itu. Dirinya membukanya dan sudah ada tanda tangan Lexa di sana. Dengan marah dia merobek surat itu hingga berkeping-keping.
Dia kemudian memutuskan mencoba mencari Lexa di rumah kedua orang tua Lexa. Saat akan keluar dari apartemen dan sampai di depan pintu, penjaga menyapanya.
"Mr. Donovan, selamat atas kelahiran putri Anda, putri Anda sangat cantik."
"Apa kamu bertemu mereka? Kapan?"
"Semalam Mrs. Donovan datang meminta kunci cadangan karena katanya kuncinya hilang."
"Apa kamu tahu setelah itu mereka pergi ke mana?"
"Maaf, saya tidak tahu."
"Terima kasih, James."
"Sama-sama."
Colin kemudian naik ke mobil dan bergegas ke rumah orang tua Lexa. Saat sampai di sana dia mendengar suara ribut-ribut.
"Di mana putri kalian?! Suruh dia keluar!" teriak Scarlet.
"Dia tidak ada di sini. Aku sudah membuangnya dan tidak menganggapnya sebagai putriku lagi."
"Kalian berbohong! Suruh dia keluar! Aku akan melenyapkannya. Sejak kedatangannya di hidup Colin, hanya membawa kesialan saja."
"Cukup, Mama!" raung Colin murka saat dirinya sampai di dalam rumah mertuanya.
"Aku sudah mencoba mengabaikan apa yang sudah Mama lakukan karena masih menghargai Mama. Aku biarkan saja Mama yang memisahkan aku dari Lexa dulu dengan cara mengancamnya kalau Mama akan menghancurkan orang tua Lexa jika tidak meninggalkan aku. Aku juga membiarkan saja saat tahu ternyata Mama membayar orang untuk mengambil foto seolah-olah Lexa berselingkuh dan aku juga membiarkan saja saat tahu jika Lexa hampir diperkosa karena hal itu. Aku bahkan membiarkan saja Mama yang masih mencoba memisahkan aku dari Lexa dengan cara membuat masalah di Malbourne sampai aku terpaksa meninggalkan Lexa yang baru melahirkan, sekarang aku kembali kehilangannya dan gara-gara Mama, tiga tahun aku membenci Lexa!" raung Colin membongkar semuanya.
Christie menutup mulutnya tidak percaya mendengar apa yang sudah terjadi pada putrinya dan dirinya malah membuang putrinya dua kali, padahal di sini dialah korbannya. Isakan keras lolos dari mulut Christie dan Daniel hanya bisa diam mematung mendengar semuanya.
"Dan apa Mama tahu? Karena Mama juga saat menemukannya untuk membalas dendam padanya aku memerkosanya berkali-kali hingga dia hamil dan saat dia hamil aku memaksanya untuk mengugurkan kandungannya. Hanya karena seorang dokter yang baiklah, yang berani menantang perintahku hingga putriku itu masih hidup," ucap Colin dan tanpa sadar air mata mengalir di pipinya.
"b******n!" teriak Daniel dan meninju Colin yang diam menerima perlakuan itu.
Setelah Daniel melampiaskan kemarahannya, Colin berlutut di kaki kedua mertuanya.
"Aku memang pantas mendapatkannya tapi aku mohon, Ma, Pa. Biarkan aku menebus semuanya, aku janji tidak akan pernah menyakiti Lexa lagi. Aku mohon biarkan aku bertemu dengannya."
"Dia tidak ada di sini," bisik Christie lirih.
"Semalam dia menelepon dan dengan kejam aku mengatakan tidak ingin melihat wajahnya lagi," isak Christie semakin kencang dan tersedu-sedu.
"Semua ini karenamu!" jerit Christie dan menghampiri Scarlet serta menarik rambutnya dan memukulnya.
"Dua kali aku membuang putriku dan mengatakan jika aku kecewa padanya dan semua ini ternyata ulahmu. Ibu macam apa dirimu hingga tega melakukan semua itu!" teriak Christie masih terus memukul Scarlet.
"Cukup, Christie!" ucap Daniel sambil menarik istrinya menjauh dari Scarlet.
"Ibu macam apa aku, Daniel hingga tidak memercayai putriku sendiri," isak Christie di dalam pelukan Daniel.
"Aku juga tidak lebih baik darimu karena membiarkan putri kita mengalami ini semua," ucap Daniel mencoba menghibur Christie.
"Sekarang kalian berdua tolong tinggalkan rumah ini!" ucap Daniel tegas mengusir Colin dan Scarlet dari rumahnya.