19

1307 Kata
Setelah keluar dari rumah kedua orang tua Lexa. Colin menyeret Scarlet ke mobilnya dan mengantarkannya pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan dia hanya diam saja dan bahkan tidak mau memandang pada Scarlet. Dia kembali mengingat hari di mana akhirnya dia tahu kebenarannya. Kebenaran yang membuat hatinya begitu hancur dan timbulnya penyesalan yang tak akan pernah bisa dia hilangkan seumur hidupnya. Colin berusaha terus melangkah pergi meski mendengar Lexa memohon padanya tapi hatinya begitu terluka saat melihat Lexa yang bersama laki-laki lain. Saat sampai di lorong dia meninju tembok untuk melampiaskan semuanya. Melampiaskan rasa marah, sakit hati dan perasaan kembali dikhianati yang bahkan kali ini lebih menyakitkan daripada saat Lexa meninggalkannya dulu. Saat dia sudah tenang dia baru ingat jika ponselnya terjatuh saat tadi memukul laki-laki itu. Dengan berat hati dia kembali ke apartemen. Dia baru akan masuk saat mendengar pembicaraan antara Lexa dan mamanya. Dia mengenggam tangannya dengan erat untuk menahan diri agar tidak langsung menerobos ke dalam. Dia bertahan agar dirinya bisa mendengarkan semua kebenarannya meski kebenaran itu sangat menyakitkan jika mama yang dia cintai tega melakukan semua itu padanya dan dirinya sama sekali tidak menyangka jika mamanya akan begitu tega. Dirinya tak mampu menahan diri lagi saat mendengar teriakan kesakitan Lexa. *** Saat sampai di rumah mereka, dia membuka pintu dan kembali menarik Scarlet masuk ke rumah. "Colin, maafkan Mama. Itu semua tidak benar, dia berusaha membuat kamu membenci, Mama." "Cukup, Mama! Aku mendengarkan semuanya sendiri langsung dari mulut, Mama!" raung Colin. "Hari di saat aku kira aku menangkap basah Lexa bersama selingkuhannya aku mendengarkan semua percakapan kalian. Aku kembali karena ingin mengambil ponselku yang terjatuh dan aku tidak menyangka mendengar itu semua hingga aku menyadari jika Mama juga yang sengaja mengatur agar laki-laki itu datang ke apartemen menemui Lexa karena itu bukan Mama begitu ngotot ingin menjenguk Lexa?" tanya Colin terluka. "Kenapa, Ma?! Kenapa Mama tega melakukan semua ini padaku?! Aku kira Mama mencintai aku! Aku kira Mama akan menerima siapa pun yang aku cintai tapi ternyata aku salah. Aku mencintainya dan aku terus menyakitinya karena Mama." "Mama sudah berjanji dengan orang tua Linda akan menjodohkan kalian dan Mama malu sekali jika Mama melanggarnya." "Aku tidak mencintainya, Mama! Yang aku cintai hanya Lexa saja dan sekarang aku akan mencarinya," ucap Colin sambil membalikkan badan. "Colin, jangan pergi," pinta Scarlet. "Jika Mama tidak bisa menerima Lexa dan putriku, maka mulai hari ini anggap aku sudah tiada," ucap Colin sebelum keluar dari rumah itu. "Jika kamu bersamanya, Mama akan terus membuatnya menderita! Dan kamu tahu Mama bisa melakukan hal itu jadi jika kamu ingin dia dan anakmu menderita atau mati maka carilah dia." Scarlet menangis pilu dan merosot di lantai saat anaknya tetap pergi darinya. *** Lexa akhirnya sampai juga di tempat tujuannya dan dirinya sangat kelelahan. Ia harap sesuatu yang buruk tidak terjadi padanya dan bayinya karena terlalu memaksakan diri melakukan perjalanan jauh bersama putrinya. Ting...tong...ting...tong... "Ya," jawab seorang wanita sambil membuka pintu. "Lexa!" serunya terkejut. "Kak Camellia," sapa Lexa dan tersenyum. "Apa yang kamu lakukan di sini? Dan apakah itu bayimu?" "Iya, perkenalkan Isabella Audree Donovan." Saat masih bersama Colin, mereka sempat mendiskusikan akan memberikan nama apa pada anak mereka dan mereka sudah menyiapkan nama saat mengetahui jika anak mereka perempuan. "Nama yang sangat indah. Ayo masuk." "Apa yang kamu lakukan di sini?" "Aku tidak punya tempat untuk pergi." "Kenapa? Bukankah kalian sudah menikah?" "Kami sudah berpisah." "Oh...Lexa. Aku ikut bersedih." Mata Lexa berkaca-kaca tapi dia menahannya agar tidak menangis. Mulai hari ini dia akan membuka lembaran baru dan melupakan semuanya. "Apa aku boleh tinggal di sini? Aku tidak punya tempat tujuan lain dan hanya Kakak saja yang terpikirkan olehku. Maafkan aku jika aku menyusahkan." "Apa yang kamu katakan?!" sergah Camellia marah. "Apa kamu lupa? Selamanya kamu akan selalu menjadi adikku dan tentu saja aku akan menerimamu setiap kamu datang." "Terima kasih," ucap Lexa haru dengan mata berkaca-kaca. Bagaimana pun dirinya sudah cukup merasakan penolakan belakangan ini, jadi dia berusaha tidak terlalu berharap. Dirinya merasa senang karena ternyata masih ada seseorang yang peduli padanya. "Ehmmm...Kak." "Ya?" "Jangan katakan pada Sienna jika aku di sini." "Kenapa?" "Karena aku tidak ingin menyusahkannya. Mantan suamiku adalah mantan atasannya dan aku tidak ingin Sienna kembali terkena masalah lagi karena diriku." Walaupun dia tidak tahu apakah Colin akan menemukannya atau tidak jika dia bersembunyi di sini tapi dia hanya tidak ingin Sienna kembali terlibat di dalam masalahnya dan terbebani olehnya. "Baiklah, aku janji," ucap Camellia. Lexa masuk ke dalam rumah bersama bayinya dan Camellia mengantarkannya ke kamar yang dulu ditempatinya. "Kak, apa Kakak tahu di mana tempat untuk membeli perlengkapan bayi?" Camellia menatap Lexa heran karena dia menyangka jika semuanya sudah dibeli. "Sudah berapa hari kamu melahirkan?" tanya Camellia tajam. "Emmm...tiga hari," jawab Lexa pelan sambil tersenyum. "Lexa! Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu dan bayimu." "Maaf, Kakak. Aku tidak punya pilihan. Aku tidak punya tempat lain untuk aku tuju selain ke sini," jelas Lexa dengan mata berkaca-kaca. "Oh...Sayang, kamu perempuan paling tangguh yang pernah aku kenal." "Terima kasih karena sudah mau menerima kami. Saat ini hanya Kakak dan Sienna saja yang aku dan anakku miliki," isakan akhirnya lolos dari mulut Lexa dan dia membiarkan dirinya menumpahkan segala perasaan sakitnya di dalam pelukan Camellia. Mata Camellia berkaca-kaca mendengarnya. Dia memeluk Lexa dengan erat dan membiarkan Lexa menumpahkan segalanya. Camellia membelai punggung Lexa sebagai bentuk dukungannya hingga akhirnya Lexa sudah tenang dan melepaskan pelukannya. "Kamu istirahatlah, biar Kakak yang akan membelikannya. Kamu tuliskan saja apa saja yang kamu butuhkan." "Aku tidak tahu," ucap Lexa tersenyum dengan salah tingkah. "Aku baru kali ini menjadi ibu." Selain itu aku tidak bisa bertanya pada Mama, pikiran itu membuat Lexa kembali merasa sedih. "Baiklah. Nanti aku akan bertanya pada penjual apa saja yang mungkin diperlukan oleh bayi dan ibu yang baru melahirkan." "Terima kasih, Kak. Ini kartu debitku, Kakak gunakan untuk membeli apa yang diperlukan." "Baiklah," timpal Camellia menerima kartu yang Lexa ulurkan padanya. "Sekarang kamu dan bayimu harus beristirahat." "Ya." Setelah menutup toko bunga yang dikelolanya, Camellia bergegas ke toko perlengkapan bayi dan membeli semua kebutuhan Lexa. Dengan gembira dia memilih semuanya seolah-olah dia sendiri yang mengalami itu semua. Setelah selesai dia bergegas pulang karena dia khawatir terjadi sesuatu pada Lexa. Bagaimana pun Lexa terlihat sangat pucat tadi. "Lexa," panggil Camellia saat sampai di rumah. "Kakak," panggil Lexa pelan dari tempat tidurnya. "Apa kamu baik-baik saja?" "Ya, aku hanya merasa lelah." Camellia kemudian memperlihatkan semua belanjaannya dan saat Lexa ingin menyusun dan merapikannya, Camellia tidak membiarkannya. "Terima kasih, Kak." "Ya." Dua hari kemudian Lexa mengalami demam dan Camellia begitu panik, dirinya mencoba membujuk Lexa ke dokter tapi dia tidak mau. "Haruskah aku menghubungi, Sienna?" ucap Camellia cemas di kamarnya. Camellia kemudian mendengar tangisan bayi Lexa dan selama beberapa hari ini dia berusaha merawat bayi itu sebisa mungkin. "Lexa," panggil Camellia menyentuh kepala Lexa yang masih panas. "Kakak," bisik Lexa pelan. "Apakah sebaiknya aku menghubungi Sienna saja?" "Tidak, Kak. Aku akan baik-baik saja. Maaf karena sudah menyusahkan Kakak." "Jangan katakan hal itu. Sekarang kamu harus sembuh demi anakmu." "Ya." Camellia bersyukur saat keesokan harinya Lexa sudah sembuh dari sakitnya dan bisa kembali beraktifitas seperti biasa lagi. "Kak Camellia, kenapa saldo tabunganku tidak berkurang?" tanya Lexa saat melihat isi saldo tabungannya. "Entahlah," jawab Camellia. "Kakak, aku sedang tidak bercanda. Apa Kakak membayarnya pakai uang Kakak?" "Aku ingin memberikan keponakanku hadiah apa tidak boleh?" "Boleh, tapi jika semua itu dibeli menggunakan uang Kakak itu terlalu berlebihan dan aku tidak bisa menerimanya." "Aku ingin kamu menerimanya, Lexa. Anakmu adalah keponakan pertamaku dan aku senang membelikannya semua itu." "Tapi_" "Ssst...aku tidak mau mendengar penolakan." "Baiklah, tapi aku akan bekerja membantu Kakak saat nanti sudah pulih." "Tidak! Kamu urus saja anakmu baik-baik." "Aku tidak bisa terus tinggal di sini jika Kakak tidak mengizinkan aku membantu." "Baiklah," ucap Camellia dengan berat hati. "Tapi aku tidak mau kamu bekerja terlalu keras nantinya. Kamu bisa mulai bekerja satu bulan lagi." "Setuju," timpal Lexa senang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN