Chapter 6 - Reuni

1346 Kata
Hari minggu adalah hari yang paling disenangin oleh siapa pun. Terutama untuk Bella, kalo biasanya hari minggu Bella ditemani oleh kasur dan drama-drama koreanya. Untuk kali ini berbeda, karena hari ini Bella ada janji reunian dengan temannya SMP. Memang sih, selama masa SMP Bella enggak punya banyak teman dan temannya cuma bisa dihitung pakai jari. Itu semua juga gara-gara Rey. Tapi, bukan berarti Bella tidak akrab dengan teman-teman sekelasnya. Bella juga terkenal saat SMP, terkenal karena memiliki calon tunangan yang super ganteng dan posesif. Maka dari itu, jam delapan pagi Bella udah rapi. Rambutnya dia kepang satu, dia juga memilih menggunakan baju putih lengan panjang dengan celana jeans panjang. Dia juga menambahkan sedikit bedak dan lipbalm di bibirnya. Setelah dia merasa pas dan nyaman, Bella mengambil tas hitamnya dan kacamatanya. Dia pun keluar dari kamarnya. "Ma, Bella mau keluar nih." Teriak Bella sambil turun dari tangga. Tika yang melihat Bella rapi, langsung menghampir Bella. "Kamu udah siap? Tuh Rey udah nungguin kamu di ruang tamu. Dia lagi sama abang kamu." Mendengar ucapan Tika, Bella menatap mamanya dengan terkejut. Setau Bella, Rey enggak tahu kalo Bella mau pergi reunian karena dia enggak ada bilang apa-apa sama Rey. Darimana Rey tahu? "Rey disini? Ngapain?" Tanya Bella bingung. "Lah? Katanya mau pergi bareng sama kamu. Makanya dia udah disini." Jawab Tika sambil berjalan ke dapur, Bella pun mengikuti Tika dari belakang. "Tapi kan Bella udah bilang sama Mama kemaren, kalo Bella mau reunian. Bella lho enggak ada janji mau pergi sama dia. Usir kek dia, Ma." Ucap Bella kesal. Setelah seminggu di sekolah Rey selalu mengikutinya dan membuat Bella enggak bebas. Sekarang, dia juga mau membatalkan acara reuniannya Bella? Enggak. Bella enggak bakalan biarin Rey ngerusak hari minggunya. "Usir gimana? Kamu kan bisa jalan dulu sama Rey, lagian kamu reuniannya jam sebelas. Ngapain udah siap sekarang?" Tanya Tika heran. Ini biar bisa lepas dari Rey, Ma. Ucap Bella dalam hati. "Udah sana temuin sih Rey. Punya tunangan ganteng kok dianggurin." Bella hanya bisa mendesah kesal, dia pun menghampiri Rey yang sedang di ruang tamu bersama Hans dan Sisil. Bella menaikkan alisnya sebelah saat melihat Rey dan Sisil tertawa bersama. Bella enggak tau kalo Rey dan Sisil dekat. Apa karena selama ini Bella enggak merhatiin Rey? "Rey." Panggil Bella hingga membuat Rey menoleh ke Bella dan bangun dari duduknya. Rey memerhatikan penampilan Bella, tunangannya selalu saja berpenampilan menarik dan simple. Mata Rey akhirnya jatuh kepada celana Bella yang sobek dibagian lututnya. "Celana kamu kekurangan bahan?" Tanya Rey datar Bella memperhatikan celananya, enggak ada salah. Memang sih di bagian lututnya sobek, tapi kan cuma di bagian lutut doang. Masa cuma karena ini Rey enggak suka? "Enggak, kenapa?" Tanya Bella bingung. "Tuh lutut kamu kelihatan, Bel." "Cuma lutut doang, Rey. Kayak ada yang mau ngelihatin lutut ku aja." "Ada. Pasti ada yang mau lihatin lutut kamu. Ganti." Perintah Rey menahan amarahnya. Rey sangat memperhatikan pakaian apa pun yang Bella kenakan. Rey enggak suka kalo Bella menggunakan pakaian yang kekurangan bahan, kayak celana dan rok pendek, baju crop tee, ataupun seperti sekarang. Dia enggak mau Bella memamerkan tubuhnya ke orang lain. Rey yang tunangannya aja enggak pernah lihat sampai ke dalam-dalamnya Bella, masa orang lain udah pernah? Enak aja. "Enggak mau, aku mau make celana ini. Enggak usah lebay deh." Ucap Bella kesal. Bella selalu kesal setiap Rey melarangnya memakai pakaian yang dia suka. Padahal menurut Bella sah-sah aja dia pakai celana kayak gini. Cuma orang gila aja yang mau ngelihatin lutut Bella. "Biarin aja, Rey. Bella udah gede, kasik aja dia pake celana itu. Kan cuma bagian lututnya doang yang kelihatan." Bela Sisil dan Bella mengangguk setuju. "Larang aja, Rey. Dia kebiasaan sekarang pake baju sama celana kekurangan bahan. Tuh lo cek aja sendiri isi lemari bajunya. Gue jamin lo mau bakar tuh isi-isinya. Udah kayak cabe dia tuh." Ucap Hans yang masih fokus ke gamenya. Bella mendelik enggak percaya, bisa-bisanya abangnya malah menuangkan bensin ke api yang lagi berkobar. Bella ingin sekali memukul kepala Hans dengan tasnya, tapi karena ada Rey disini. Dia enggak berani dan lebih baik Bella cepat-cepat pergi dari rumahnya sebelum Rey mengamuk. "Bel-" "Udah ya, aku pergi dulu. Aku ada janji, kamu main aja sama abang, dah." Potong Bella cepat lalu berlari keluar rumahnya. Rey hanya bisa terdiam enggak percaya. Bella yang selama ini enggak pernah melawannya, sekarang berani melawannya. Rey pun segera mengambil kunci mobilnya dan mengejar Bella. *** "Jadi, lo ninggalin Rey gitu aja? Lo udah gila, Bel?" Jerit Jennie enggak percaya. Bella mengangguk sambil mengganti lagu-lagu yang diputer di mobil Jennie. Setelah berdebat kecil dengan Rey tadi pagi, Bella langsung pergi ke rumah Jennie. Untung saja taksi yang Bella pesan udah ada di depan rumahnya. Jadi Bella bisa kabur dengan cepat. Mobil Jennie berhenti di depan Cafe yang mereka janjikan bersama teman-teman SMP mereka. "Sini, we." Teriak Amanda, salah satu teman mereka. Bella dan Jennie pun langsung menghampiri teman-temannya. Mereka pun duduk bersebelahan, tapi Bella duduk di sebelah teman cowoknya yaitu Tommy. "Gila, dari empat puluh orang yang cuma sebelas orang. Anjir, di grup doang koar-koar mau datang tapi nyatanya nihil." Gerutu Jennie hingga membuat teman-temannya tertawa. Hal seperti ini udah biasa terjadi di kehidupan sekarang. Di grup aja bilang mau datang, tapi pas hari H pasti ada aja yang enggak datang. Dan berbagai alasan pun muncul seketika. "Jen, tukeran. Nanti gue ketauan sama Rey, bisa mati sih Tommy." Bisik Bella kepada Jennie. "Enggak apa-apa. Jugaan Rey enggak ada disini." Balas Jennie lalu kembali bergosip dengan beberapa temannya. Bella sendiri risih karena sedari tadi Tommy memperhatikannya. Bella tau Tommy dari dulu menyukai dirinya, cuma karena Rey mungkin membuat Tommy enggak berani mendekati Bella. "Apa kabar, Bel?" Ucap Tommy tanpa melepaskan matanya ke Bella. "Hm, baik. Lo?" Tanya Bella tersenyum. "Baik kok. Ohiya, lusa sekolah lo tanding sama sekolah gue. Lo nonton kan?" "Nonton kok, gue enggak tau kalo lo sekolah di SMA Cahaya Pelita." Tommy terus berusaha mendekati Bella. Dia bahkan mulai berani menyentuh tangan Bella. Padahal Bella udah berkali-kali menghindar. Ingin rasanya Bella tuker tempat duduk sama Jennie, tapi Jennie malah asik gosip bersama temannya yang lain. Tanpa memperdulikan Bella yang mulai enggak betah dengan keadaan ini. Gimana enggak betah? Daritadi yang mengajak Bella ngobrol cuma Tommy doang. "Ohiya, Bel. Gue denger Rey di Indonesia, kok lo enggak ngajak dia kesini?" Tanya Gading Pertanyaan Gading membuat Bella dan Tommy menoleh kepadanya. Dalam hati Bella sangat bersyukur Gading mau mengajaknya berbicara dan membuatnya bisa menghindar dari Tommy. "Iya, udah seminggu di Indonesia. Gue enggak nanya dia mau ikut apa enggak, soalnya tadi gue langsung kesini sama Jennie." Jelas Bella "Lah? Jadi sih Rey kagak tau? Pantesan lo bisa disini sekarang." "Iya bener juga ya, Rey kan dulu udah kayak satpam lo. Kemana aja lo pergi harus ngelapor, main sama siapa juga harus lapor. Parah abis." Ucap Amanda sambil tertawa. Bella memaksa tertawa saat mendengar ucapan Amanda lalu memilih diam tanpa membalas perkataan Amanda. "Hati-hati, Tom. Satpamnya Bella udah balik. Tangan lo dijaga tuh." Ucap Gading lalu disambut tawa teman-temannya. Tommy sendiri tertawa lalu merangkul Bella erat, "Satpamnya juga kagak ada. Jadi, tangan gue bebas dong mau ngapain aja." Bella berusaha melepaskan tangan Tommy dari bahunya tapi enggak bisa. Tommy sangat erat merangkul Bella. "Lepasin tangan lo dari cewek gue sebelum gue patahin tuh tangan." Tommy melepaskan tangannya lalu melihat Rey yang sedang menatapnya tajam dan datar. Teman-teman Bella langsung terdiam tanpa berani berkata-kata. Bella langsung berdiri dari kursinya dan menundukkan kepalanya. Rey berjalan ke arah Bella dan menarik tangan Bella. "Pulang." Bella menggangguk tanpa berani protes. Lebih baik dia menurut kepada Rey, juga Bella enggak betah berlama-lama disini karena ada Tommy. "Jaga ucapan lo pada tentang gue, kalo lo pada enggak tau apa-apa lebih baik diam." Teman-teman Bella langsung menggangguk setelah mendengar ucapan Rey. "Jen, lebih baik lo siapin diri lo besok karena udah berani bawa cewek gue kesini dan ngebiarin dia duduk di sebelah sih b******k satu ini. Siap-siap." Ancam Rey lalu menarik Bella pergi dari Cafe. Jennie membeku saat mendengar ancaman Rey, matanya mulai memanas hingga membuat air matanya turun. Habislah dia besok. Entah apa yang akan dilakukan Rey kepada dirinya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN