Perhatian : Part ini lumayan panjang dan ngebosenin. Mohon maklum ya. Hehe
***
Hari yang ditunggu-tunggu oleh anak Harapan Bangsa pun akhirnya tiba. Hari dimana akhirnya mereka bisa menonton pertandingan basket antara sekolahnya dan rivalnya, Cahaya Pelita.
Mereka selalu bertanding dalam akademik maupun non akademik. Jadi, bukan hal baru lagi kalo kedua sekolah ini terkadang ikut dalam pertandingan yang sama ataupun mengadakan pertandingan antar sekolah.
Tapi, yang sebenarnya ditunggu-tunggu oleh siswa-siswi dari kedua sekolah ini adalah ngelihatin siswa-siswi dari sekolah rivalnya. Kayak menyelam minum air gitu deh.
Dan untuk sekarang pertandingan diadakan di Harapan Bangsa. Hal inilah yang membuat Bella selaku manajer tim basket sibuk. Dia harus siap kalo dipanggil anak-anak basket. Untung hari ini dia dibantu oleh Jennie, jadi enggak terlalu repot banget.
"Bel, lo udah bilang sama Rey kalo lo manajer tim basket kita?" Tanya Jennie saat mereka berjalan ke arah lapangan dan membawa dua dus minuman.
"Udah." Jawab Bella singkat.
"Terus tanggepannya Rey gimana?"
"Iya kayak biasa, gue diocehin dulu baru diijinin. Kayak lo enggak tau Rey aja, apalagi ditambah kejadian kemaren. Pusing gue." Curhat Bella panjang.
"Ngomong-ngomong, kok lo kagak masuk kemaren?" Tanya Bella
"Gue takut sama Rey, makanya enggak masuk kemaren. Gue kan diancam sama dia minggu kemaren." Jawab Jennie takut-takut.
Bella hanya menghela nafas, kalo diingat-ingat kemaren tuh Rey memang mencari Jennie seharian. Kayaknya Rey beneran mau melakukan sesuatu sama Jennie.
Bella harus memelas kepada Rey agar enggak melakukan apa-apa kepada Jennie dan sebagai gantinya kemaren Bella harus menemani Rey bermain playstation bersama Hans. Bahkan kemaren Hans sangat memperbudak Bella, disuruh ambil ini itu. Sebenarnya Bella bisa nyuruh Hans buat ngambil sendiri, tapi karena ada Rey. Mau enggak mau Bella yang ngambilin. Intinya kemaren Bella sangat dibully oleh Hans.
Bella bisa melihat Figo dan kawan-kawannya melakukan pemanasan. Bella bingung harus bagaimana sekarang, Rey memintanya untuk menjaga jarak dengan Figo maupun anak cowok lainnya.
Bella terus menatap Figo tanpa sadar tersenyum sendiri. Figo sangat ganteng saat melakukan pemanasan. Untuk Bella, Figo itu ganteng kalo udah berhubungan sama basket. Dan inilah yang membuat hati Bella kadang berdebar enggak karuan.
"Udah puas ngeliatnya?"
Bella terlonjak kaget dan menatap ke arah belakang. Rey sedang menatapnya dengan tajam.
"E-enggak kok, Rey. Emang aku ngeliatin siapa?" Tanya Bella sok enggak tau maksud Rey.
"Aku memperhatikan kamu daritadi, Bel."
Mendengar ucapan Rey, Bella cuma bisa diam. Mau gimana lagi? Bella udah ketangkep basah sama Rey.
"Bilang apa?"
"Sorry."
Rey pun mengelus kepala Bella lalu mengambil dus air minum yang dibawa Bella. Hingga membuat Bella terkejut.
"Rey, itu-"
"Kamu cewek, Bel. Enggak seharusnya bawa yang berat-berat." Potong Rey sambil tersenyum.
Senyum Rey membuat jantung Bella berdetak lebih cepat dari biasanya. Seandainya aja Rey tiap hari senyum kayak gini, Bella pasti jatuh cinta kepadanya.
"Lo ngapain disini, Jen?" Tanya Rey ketus.
Jennie yang ditanya malah salah tingkah dan gugup menjawabnya, "Ban-bantuin Bella."
"Lo pulang aja sono, biar gue yang bantuin Bella." Perintah Rey.
Jennie sendiri nampak bingung setelah mendengar perintah Rey.
"Pulang sana, dusnya taruh aja diatas sini. Gue bisa bawa dua kok."
Bella hanya menghela nafas, "Lo pulang aja, Jen."
"Bukannya gue enggak mau pulang, Bel. Tapi, gue mau nontonin Marco. Dia kan juga anggota tim basket kita." Bisik Jennie kepada Bella lalu memberikan dus berisikan air minum ke Rey.
"Yaudah, lo nonton di area penonton aja."
Jennie mengerucutkan bibirnya sebal, mau enggak mau Jennie menggangguk lalu pergi ke area penonton. Padahal Jennie mau nonton di dalam lapangan biar bisa ngelihat Marco dari dekat. Tapi, karena ada Rey semuanya berantakan. Sedangkan Bella dan Rey berjalan ke arah lapangan.
***
Pertandingan telah memasuki quater ketiga. Cahaya Pelita saat ini unggul empat angka dari Harapan Bangsa. Dan hal ini jelas membuat Bella cemas.
Figo dan timnya sangat sulit mengejar empat angka ini. Tim Cahaya Pelita selalu bisa membekukan serangan mereka. Seperti ngga ada celah untuk menerobos pertahanannya.
Jika Figo dan timnya ngga bisa menang, ini berarti mereka akan kalah tiga kali berturut-turut. Dan ada konsekuesi jika mereka kalah, yaitu mereka ngga diperkenakan untuk ikut dalam pertandingan antar sekolah tahun ini. Ini udah keputusan dari kepala sekolah mereka.
"Dia daritadi curang tuh dan kayaknya wasit ngga tau." Ucap Rey tiba-tiba sambil memperhatikan laju pertandingan.
Bella menautkan alisnya, bingung "Dia siapa maksud kamu? Kok kamu tau?"
"Itu yang memakai baju angka enam, namanya Maki. Aku memperhatikannya daritadi."
Bella memperhatikan cowok yang dimaksud Rey. Tapi, Bella ngga menemukan hal yang aneh. Daritadi Maki terus dijaga oleh Anton, teman sekelasnya Bella.
"Dia bakalan lolos dari penjagaannya lalu merebut bola dengan cara yang kasar, seperti menginjak atau menjegal kaki tim kita. Iya lebih simplenya dia mau membuat salah satu pemain penting kita terjatuh." Jelas Rey menguap.
Rey sangat mengantuk menyaksikan pertandingan sekolah. Jika dibandingkan dengan pertandingan SMA-nya dulu di UK, jelas lebih seru dan menegangkan. Dan Rey mampu membaca hampir semua langkah-langkah yang mau diambil oleh tim sekolahnya maupun lawannya.
Bella terpaku saat mendengar penjelasan Rey. Rey udah kayak peramal aja, bisa mengetahui kejadian yang akan datang. Tapi, bukan berarti perkataan Rey benar kan? Siapa tau Rey cuma menebak-nebak aja.
"Bagaimana kamu bisa-"
Ucapan Bella terhenti saat mendengar bunyi peluit. Dia pun menoleh ke arah lapangan, dilihatnya Anton terjatuh ke lapangan.
Figo dan timnya langsung berlari ke arah Anton, Bella sendiri langsung masuk ke lapangan bersama PMR. Anton meringis sakit pada kakinya.
"Bawa ke pinggir lapangan dulu." Ucap Bella lalu Figo dan timnya membantu Anton bangun.
Pertandingan dihentikan sementara, Anton pun segera diurus oleh PMR sekolah mereka.
Pak Dewa yang merupakan pelatih sekaligus guru olahraga mereka merasa geram. Dia tau bahwa Cahaya Pelita berbuat curang dan udah melaporkan ke wasit, namun wasit sendiri mengaku itu bukanlah tindakan curang melainkan ketidaksengajaan.
"Wasit bilang ini engga sengaja, jelas-jelas mereka sengaja ngelakuin ini ke Anton." Ucap Bella kesal.
"Kita engga bisa berbuat apa-apa Bella. Apalagi wasitnya berasal dari sekolah mereka. Jelas mereka bisa berbuat seenaknya." Ucap Figo lembut walaupun sebenarnya dia kesal juga.
Dan yang lebih kesal lagi adalah Rey, dia engga suka Figo berbicara dengan Bella lalu menarik Bella hingga membuat Bella duduk di pangkuannya. Hal ini tentu membuat Bella malu.
"Rey." Teriak Bella.
"Apa?" Tanya Rey engga bersalah lalu memeluk Bella dan meletakkan kepalanya di bahu Bella.
Bella hanya menghela nafas lalu tersenyum kikuk melihat teman-temannya. Pak Dewa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan fokus ke tim basketnya.
"Terus Anton diganti siapa dong, Pak? Engga mungkin kita pake anak kelas satu, mereka masih baru banget dan permainan anak-anak Cahaya Pelita kasar banget terus nanti kita kalah kayak tahun lalu." Keluh Marco
Pam Dewa berpikir sebentar, kalo dia memasukkan murid kelas satunya itu sama aja dia bunuh diri. Dulu dia pernah mencoba memasukkan murid kelas satunya dan ternyata kalah. Sedangkan cadangan kelas dua dan tiganya sedang engga ada, karena beberapa dari mereka masih terluka akibat pertandingan yang lalu.
"Rey aja, Pak. Dia anak mantan basket kok di sekolahnya dulu, dia juga pinter."
Mendengar perkataan Bella sontak membuat Pak Dewa menoleh ke Rey. Dia juga udah memperhatikan Rey daritadi, Rey mampu membaca pergerakan musuh-musuhnya. Tapi, masalahnya Rey bukanlah anggota tim basket.
"Engga bisa, Bel. Dia kan bukan tim basket kita." Jawab Pak Dewa.
"Dia tim basket kita kok, Pak. Dia juga udah punya kaosnya."
Rey menatap Bella engga percaya, bisa-bisanya Bella mengkambing hitamkan dia.
"Ngawur kamu. Aku mana punya kaos basket sekolahmu." Ucap Rey males dan Bella mencoba melepaskan pelukannya.
"Mau kemana?" Tanya Rey engga suka.
"Mau ngambil baju kamulah. Aku udah buatin kok."
"Emang aku mau?"
"Is, maulah. Kalo kamu engga mau aku marah sama kamu."
Rey tertawa kecil, "Emang berani marah sama aku?"
Pertanyaan Rey membuat Bella terdiam. Jelas Bella engga berani marah sama Rey, ngambek aja engga berani apalagi marah.
"Rey, please." Bella memelas kepada Rey.
"Hm, oke. Tapi ada syaratnya."
"Apa?"
"Malam minggu nanti kita ngedate."
Sialan, umpat Bella dalam hati.
Mau engga mau Bella mengangguk dan Rey tersenyum senang. Dia menang pada akhirnya.
"Oke, mana bajunya?" Tanya Rey.
Bella pun melepaskan pelukan Rey lalu mengambil kaos Rey di tasnya. Dan disana udah tertulis nama Rey dan nomor punggungnya yaitu 6.
Rey melepaskan bajunya langsung di lapangan hingga memperlihatkan tubuhnya yang atletis. Para siswi-siswi yang menonton langsung teriak heboh.
"Rey, ganti di kamar mandi. Jangan disini." Ucap Bella berusaha menutup matanya padahal dia mau banget ngeliat tubuh Rey yang sexy itu.
Rey hanya tertawa lalu pergi ke kamar mandi dan membuat para siswi mendesah kecewa karena engga bisa ngeliat tubuh Rey lagi.
Engga berapa lama Rey kembali dan ikut masuk ke lapangan bersama Figo dan timnya. Pertandingan pun dilanjutkan.
***
Semenjak Rey ikut dalam pertandingan kedudukan kini imbang yaitu 66-66. Awalnya mereka masih sulit mengejar Cahaya Pelita, bahkan hingga quater ketiga selesai. Mereka belum bisa mengejarnya.
Hingga pada quater keempat, Pak Dewa mengubah rencananya. Dia meminta timnya untuk mempercayakan Maki pada Rey dan mengoper bola ke Rey. Dan rencana itu berhasil.
Rey selalu berhasil mematahkan gerakan Maki dan timnya. Dia selalu berhasil merebut bola lalu mengoper ke timnya.
"Cih, keliatannya lo musuh gue yang seimbang. Dibandingkan Figo, lo lebih kuat dari yang gue duga." Ucap Maki berbisik saat dia sedang berhadapan dengan Rey.
"Lo tau peraturan dalam permainan basket?" Tanya Rey sambil mendribble.
Maki menautkan kedua alsinya bingung.
"Di permainan basket lo dilarang ngomong sama musuh lo ketika lagi ngejaga dia, karena itu bakalan ngebuat dia berhasil lepas dari lo."
Setelah mengucapkan hal itu Rey lolos dari penjagaan Maki dan membuat Maki mendecak kesal lalu mengejar Rey.
Waktu pertandingan semakin menipis, salah satu dari mereka harus berhasil memasukkan bola pada ring musuhnya.
Bella menautkan kedua tangannya lalu berdoa agar Rey bisa mengejar waktunya dan memasukkan bola ke ring Cahaya Pelita.
Waktu tingga tiga detik lagi, Bella engga sanggup melihatnya dan menutup matanya.
Tiga.
Dua.
Satu.
Peluit panjang berbunyi yang menandakan pertandingan telah selesai.
Bella membuka matanya dan melihat papan skor. Matanya membulat engga percaya, dia bahkan engga bisa berkata-kata.
66-69.
Itu artinya Harapan Bangsa, sekolahnya menang.
Bella menatap Rey, dia melihat Rey tersenyum menang dan melebarkan kedua tangannya. Bella langsung berlari ke arah lapangan dan memeluk Rey tanpa malu.
"Kita menang, Rey. Kita menang." Ucap Bella senang dan memeluk Rey erat.
Rey membalas pelukan Bella sama eratnya, "Kita menang, sayang."
Para siswa-siswi disana menonton aksi pelukan mereka hanya bisa melongo saja. Rey dan Bella engga sadar bahwa mereka telah menjadi pusat perhatian antara dua sekolah ini.
"Ehem."
Suara deheman Jennie membuat Bella sadar lalu melepaskan pelukannya. Muka Bella memerah dan malu. Dia tadi begitu reflek berlari ke Rey dan memeluk Rey begitu saja.
Rey sendiri melotot kepada Jennie dan memaki Jennie dalam hati.
***