Chapter 8 - Ini ngedate?

1623 Kata
Coba kalian pikiran apa yang ada dibenak kalian kalo udah denger kata 'ngedate'? Pasti ada beberapa orang yang berpikir ngadate itu nonton di bioskop, makan di restoran atau cafe , ataupun maraton movie ataupun hal lain asal dilakukan berdua dengan pasangan. Dan menurut para kaum yang memiliki pasangan, hari yang pas untuk ngedate itu malam minggu alias malming. Walaupun ada beberapa kaum dari mereka yang menggunakan hari-hari khusus untuk ngedate. Begitulah yang ada dipikiran Bella saat mendengar kata ngedate. Hal-hal seperti itu sempat ada dipikiran Bella dulu. Tapi, semua yang selalu dipikirkan Bella tentang hal itu hilang saat Rey yang mengucapkannya. Mungkin untuk beberapa cewek yang ngga tau maksud ngedate dari Rey itu apa, mereka pasti akan langsung meng-iya-kan begitu saja. Dan Bella pasti setuju-setuju aja kalo ada cewek yang mau ngedate bareng Rey. Mereka belum tau aja apa itu ngedate bagi Rey. Kalian mau tau? Arti ngedate bagi Rey adalah nemenin dia seharian buat main game. Kalian pasti ngga tau kalo Rey itu penggilanya game sama kayak Hans. Sebenarnya dulu Rey bukan gamers, namun semua itu berubah ketika Hans memperkenalkan game pada Rey hingga membuat Rey menjadi gamers walaupun ngga separah Hans. Awalnya Bella senang Rey gamers, itu artinya Rey akan cuek dengan sekelilingnya seperti para gamers lainnya. Tapi ternyata, itu salah. Rey malah menyuruh Bella menemani dia bermain game selama yang dia inginkan. Ketika Rey berkata ngedate itu artinya Bella harus menemani dia sampai dia puas dan yang lebih parahnya lagi, Rey terkadang mengajak Hans bermain bersama. Sehingga membuat Bella merasa seperti dikerjain oleh mereka berdua. Rey tau Hans senang ngerjain Bella, tapi tetap aja Rey menyuruh Bella menemani dirinya saat bermain game bersama Hans. Seperti saat ini, Rey lagi main playstation bersama Hans. Hal ini membuat suasana hati Bella jelek. Hampir tiga jam dia menemanin Rey bermain dan selama itu juga Hans terus menyuruh dia ini itu. Entah disuruh ngambilin minum, buatin mie goreng, ambilin kacamata yang cuma disebelahnya doang dan nyuruh Bella buat makein. Bella tau Hans sedang mengerjainnya, tapi Bella juga bisa kesal lama-lama. Ini udah hampir jam delapan malam tapi mereka berdua kayak ngga ada niatan untuk berhenti main. Padahal drama korea Bella udah menunggunya. Tadinya Bella memang nonton drama koreanya saat nemenin Rey main, tapi baru juga dia nonton lima menitan. Rey langsung menyuruh dia mematikan laptopnya. Rey bilang dia ngga bisa konsentrasi karena drama koreanya Bella, apalagi saat mendengar salah satu artisnya berkata oppa. Bulu kuduk Rey langsung berdiri. Mau engga mau ya Bella matiin daripada drama koreanya dihapus oleh Rey seperti dulu. Rey pernah marah sama Bella dan menghapus semua koleksi drama korea Bella karena Bella cuekin Rey. Dan hal itu membuat Bella menangis selama seharian. Mungkin lebay, tapi Bella mulai mencintai drama korea dan mengoleksinya sejak dia masuk kelas satu smp. Itu semua berkat Jennie. "Rey, aku bosen." Ucap Bella sembari tiduran di paha Rey. "Hm." Bella mengerucutkan bibirnya saat mendengar jawaban Rey. "Apa hm hm? Aku bosen tau." "Iya, Bella." Jawab Rey seadanya. Bella langsung memasang muka kesalnya, "Rey, dengerin aku. Aku bosen daritadi kamu main terus, aku mau nonton drama korea ku, kamu ngga ngasi. Aku tadi main hp, malah kamu sita hp ku. Sekarang aku harus ngapain?" "Nemenin aku mainlah." Ucap Rey tanpa memalingkan wajahnya dari layar televisi. Bella benar-benar kesal dibuat oleh Rey. Seandainya aja Bella bisa marah sama Rey. Mungkin Bella udah ninggalin Rey daritadi dan memilih untuk tidur. "Lo bosen, dek?" Tanya Hans tiba-tiba. "Iya." Jawab Bella cuek. "Itu di depan kompleks rumah kita katanya ada jualan martabak. Enak sih katanya, lo mau ngga?" Mendengar kata martabak, langsung membuat Bella merangkak ke Hans. Bella memang pencinta martabak. Bisa dua kali dalam seminggu dia makan martabak. "Serius, bang? Ayo cobain." Ucap Bella semangat. "Serius. Gue juga mau cobain, tapi lo yang jalan ya." Bella bengong melihat Hans, jadi maksudnya Hans Bella disuruh jalan gitu? "Gue traktir deh. Nih uangnya." Ucap Hans sambil ngasi uang lima puluh ribu ke Bella. "Lo kira gue mau jalan? Enak aja." Jawab Bella tanpa menerima uangnya lalu tiduran di lantai. "Tunangan lo, Rey. Ngomong sama kakaknya pake lo gue sekarang." Adu Hans sambil pause gamenya. Rey menatap Bella tajam, "Aku ngga pernah lho ngajarin kamu ngomong pake lo gue ke kakak mu, Bel." Bella menatap Hans kesal sedangkan Hans menahan tawanya. "Bella." Panggil Rey hingga membuat Bella menatap Rey. "Iya maaf." "Minta maaf sama Hans." Bella menatap Hans dengan kesal, "Maaf, bang." "Ngga apa-apa, gue ngerti lo lagi kesal. Nih gue kasi lo duit buat beli martabak di depan. Cepet ya." Ucap Hans sambil melempar uangnya ke Bella. Bella mengambil uangnya lalu memasukkan ke kantong celananya. "Rey, temenin yuk." Ajak Bella sambil memasang muka memelas. "Jangan manja, dek. Udah gede juga minta ditemenin segala. Rey lagi main, ganggu aja lo." Ucap Hans sambil start gamenya lagi. "Aku ngga ngomong sama kamu, bang." Jawab Bella menahan ke kesalan. "Rey." Panggil Bella dengan nada manja. "Jalan sendiri aja ya, aku lagi main nih. Tanggung." Jawab Rey datar. "Kamu lebih milih game daripada aku? Ini udah malem lho Rey, masa iya aku jalan sendiri." "Lo kan udah biasa jalan sendiri malem-malem gini di kompleks, juga cuma di depan. Ngga usah manja." "Jalan sendiri ya, sayang. Kapan-kapan aku temenin deh." Bella mendengus kesal lalu berjalan keluar. Tapi, langkahnya terhenti saat Rey memanggilnya. "Bel." "Apa?" Tanya Bella dengan penuh harapan. Bella tau Rey ngga mungkin tega ngebiarin Bella jalan sendirian malem-malem gini. Rey pasti nemenin Bella. Dasar Rey. "Mintain acarnya yang banyak." Dan setelah Rey berkata seperti itu, terdengar suara pintu yang ditutup dengan keras. *** Bella terus mengomel sepanjang jalan. Dia menendang-nendang angin ketika mengingat perkataan Rey yang tadi. "Minta acarnya yang banyak ya. Cih, enak banget dia ngomong. Dia kira gue istri penjualnya apa bisa minta acar banyak." Omel Bella. Sebenarnya jarak rumah ngga jauh-jauh banget dan Bella juga terbiasa jalan ke depan kompleks sendirian. Cuma tadi Bella alasan aja minta ditemenin Rey. Siapa tau dia bisa ngedate beneran sama Rey. Walaupun dia ngga berharap banyak sama Rey. Bella menghela nafasnya lelah lalu melihat ke arah langit, "Kenapa juga gue bisa punya tunangan kayak gitu? Rese, ngga punya hati, egois, kayak anak kecil. Papa Mama tuh ngawur banget sih main tunangin anaknya gitu aja." Setelah mengeluh kepada langit malam, Bella kembali berjalan ke depan kompleks. Bella ngga menyadari dari tadi ada yang mengikutinya dan mendengar semua omongannya. Akhirnya Bella sampai juga di Tukang Martabak. "Bang, martabaknya dua ya. Kalo bisa minta acarnya banyak, nanti saya bayar lebih deh." Pesan Bella sambil duduk di kursi yang disediakan. "Oke, Mbak. Tunggu ya." Jawab penjualnya Bella menunggu martabaknya sambil bengong. Entah apa yang dia pikirin, mungkin dia lagi mikirin Rey. "Bella?" Mendengar ada yang memanggilnya, Bella melihat ke arah sampingnya. "Figo? Kok kamu bisa disini?" Tanya Bella bingung. Setau Bella, Figo ngga tinggal di daerah sini. Tapi, Bella ngga tau pasti sih dimana Figo tinggal. Bodo amat dah, yang penting gue ketemu Figo. Figo tersenyum melihat Bella, "Beli martabaklah, Bel." Bella mengangguk, "Duduk, Fig." Figo pun duduk setelah memesan martabaknya. "Setau aku, kamu ngga tinggal di daerah sini deh. Kok kamu bisa ke sini?" "Memang. Aku lagi main di rumah temen ku, terus karena kalah taruhan jadinya aku disuruh martabak." Jelas Figo pada Bella. Bella hanya ber-oh ria saat mendengar jawabannya. "Kamu sendiri? Malem-malem gini kok jalan sendiri, ngga baik cewek jalan sendiri." Bella sendiri tersipu saat mendengar ucapan Figo. Dia merasa Figo khawatir kepada dirinya. Seandainya aja Rey kayak Figo, Bella pasti senang. Tunggu ngapain dia sama-samain Rey sama Figo? "Aku beliin abang ku martabak, dia lagi main game di rumah. Jadi, aku disuruh jalan deh." Jelas Bella sambil mengerucutkan bibirnya. Figo tertawa kecil saat melihat Bella mengerucutkan bibirnya. Bella terlihat sangat manis jika seperti ini. "Rumah kamu jauh dari sini? Nanti aku anterin pulang, mau?" Tawar Figo. Bella langsung menghadap ke Figo dengan antusias, "Ngga kok, lumayan deket kok. Serius mau nganterin aku pulang?" Figo hanya mengangguk dan Bella langsung tersenyum sendiri. Figo yang bukan siapa-siapanya aja mau nganterin Bella pulang. Seandainya mama papa ngga tunanganin aku, pasti aku sekarang udah pacaran sama Figo. "Mbak mas, martabaknya udah jadi." Ucap penjual sambil memberikan martabak ke Figo dan Bella. Mereka pun langsung membayar dan mengucapkan terima kasih. "Rumah temen kamu dimana, Fig?" Tanya Bella yang saat ini sedang jalan berdua sama Figo. "Itu yang pagar rumahnya warna hitam." Tunjuk Figo. Bella memperhatikan rumah temannya Figo, ngga jauh-jauh banget sama rumah Bella. Cuma beda lima rumah doang. "Ngga jauh dari rumah aku dong. Kamu anterin aku sampe sini aja deh." "Aku anterin kamu sampe rumah aja, Bel. Gapapa kok." Lo gapapa, gue yang kenapa-kenapa. Bella menggaruk kepalanya yang ngga gatal, "Sampe sini aja, lagian juga udah deket sama rumah aku." "Yaudah, aku tungguin di depan deh. Nanti pas kamu bener-bener masuk, aku juga masuk ke rumah temen aku. Gimana?" Bella mengangguk setuju, setelah sampai di depan rumah temannya Figo. Bella berhenti sejenak untuk pamit. "Duluan ya, Fig. See you." Bella tersenyum Figo yang gemas melihat senyum Bella, mengacak-acak rambut Bella. "Hati-hati. Aku tungguin dari sini." Bella melambaikan tangannya dan berjalan dengan senyum yang ngga lepas. Semua berkat Hans, baru kali ini Bella senang Hans menyuruhnya membeli makanan. Untung aja Rey ngga jadi nemenin Bella. Kalo jadi, pasti Bella ngga bakalan bisa jalan berdua sama Figo. Bella melihat rumah temannya Figo dan ternyata Figo benar-benar menunggunya. Dia pun kembali melambaikan tangannya dan membuka pagar rumah. Senyum Bella pudar saat melihat Rey berdiri di depan pintu rumahnya sambil menatapnya sinis. "Enak pacarannya?" "Ma-maksud kamu apa?" Bella mengenggam erat kantong isi martabaknya. "Kamu tau maksud aku. Ngga kapok ya?! Harus liat dia masuk rumah sakit dulu baru kapok?" Ucap Rey menahan emosinya. "Rey, aku-" Belum selesai Bella bicara, Rey langsung masuk begitu aja. Yang kini Bella tau, Rey sedang berusaha mengancamnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN