Chapter 9 - Maaf

1766 Kata
Setelah kejadian sabtu kemaren, Rey langsung pulang begitu saja dan ngga menghubungi Bella sama sekali. Bella udah mencoba menelfonnya dan chat, tapi Rey ngga membalasnya. Rey juga ngga menjemput Bella seperti biasa sehingga Bella diantar oleh Hans. Bella menanyakan Rey kepada Hans, tapi Hans ngga menjawab sama sekali. Ketika sampe di sekolah, Bella mencari Rey di kelasnya. Namun, Rey belum datang dan saat istirahat Bella mencari Rey lagi. Temannya Rey bilang kalo Rey hari ini ngga masuk. Saat ini Bella lagi di kantin bersama Jennie. Bella terus mengaduk-aduk jus alpukatnya tanpa ada niatan meminumnya. "Lo kenapa, sih? Daritadi minumannya di aduk-aduk aja." Tanya Jennie bingung. "Rey ngga masuk." "Kenapa?" "Ngga tau." Jennie hampir memuntahkan siomaynya saat mendengar jawaban Bella. Jika Bella udah mengucapkan ngga tau soal Rey, ini berarti tanda bahaya. "Lo apain dia?" Jennie menyingkirkan piring siomay di depannya. Selera makan dia tiba-tiba hilang. "Itu, gue ketauan jalan berdua sama Figo sabtu kemaren." Bella menaruh kepalanya di atas meja sedangkan Jennie menatap Bella ngga percaya. "Lo nyari mati? Lo mau bunuh diri apa bunuh Figo?" "Ceritain yang jelas, Bel." Bella akhirnya menceritakan semuanya sama Jennie. Dari awal dia gimana bisa ketemu sama Figo dan ancaman Rey. "Gila, tuh anak punya mata batin ya? Sampe tau lo pulang bareng Figo." "Gue harus gimana, Jen? Lo tau sendiri Rey gimana orangnya." Bella menatap Jennie dengan berkaca-kaca. Bella ngga mau Figo celaka karenanya. Bella sangat mengenal Rey, ketika Rey berkata seperti kemaren. Dia bakalan ngebuat Figo masuk rumah sakit. Apa pun caranya bakalan dia lakuin. Jennie menggengam tangan Bella, "Minta maaf. Itu cara yang paling bisa lo lakuin sekarang." "Gue capek sama dia, Jen. Selalu aja gue yang salah, padahal gue udah minta dia buat nganterin gue. Tapi dianya kan yang ngga mau." "Dan sekarang dia marah karena gua jalan berdua sama Figo. Itu juga Figo ngga nganterin gue sampe rumah. Gue capek." Keluh Bella menahan air matanya. Jennie yang merasa kasian kepada Bella juga ngga bisa berbuat banyak. Setelah berteman dengan Bella selama lima tahun lebih, membuat Jennie mengenal sosok Rey. "Bel, kita kenal Rey itu gimana. Jujur gue juga kesal sama dia selama ini, dia berbuat sesuka hatinya sama lo. Tapi, maaf gue ngga bisa bantu lo banyak." "Gue cuma bisa ngasi lo solusi buat minta maaf sama dia. Untuk kali aja lo ngalah lagi sama dia. Demi Figo." Jennie benar, Bella harus melakukan sesuatu demi Figo. Dia ngga mau ada korban lagi. "Ngga, ini bukan salah lo. Lo bener gue harus minta maaf sama dia. Demi Figo." Bella menghapus air matanya yang tadi keluar. Dia pun mengajak Jennie kembali ke kelas. Setelah ini dia harus menyimpankan mentalnya untuk bertemu Rey dan menyelesaikan semua masalahnya. *** Bella membuka pagar rumahnya, dia baru pulang sekolah dan dianterin pulang oleh Jennie. Sepanjang perjalanan pulang, Jennie terus menasehatin Bella. Dia menyuruh Bella melakukan ini-itu atau apa pun agar Rey mau memaafkan Bella. Walaupun Jennie kesal dengan Rey, tapi paling ngga dia harus memberikan solusi untuk Bella agar ngga makin panas masalahnya. Bella mengangkat alisnya sebelah saat melihat mobil Mamanya di rumah. Ngga biasanya Mamanya di rumah dan jam segini tuh seharusnya Mamanya arisan. "Bella pulang, Ma." Bella membuka pintu dan sepatunya. Dia berjalan masuk dan melihat Tika duduk di sofa. "Ma, Bella pulang." Ucapnya sekali lagi. Tika menatap Bella kesal, "Sini kamu." Bella merasa ada yang ngga beres, cara ucapan Mamanya menandakan sesuatu yang benar. "Kenapa, Ma?" Tanya Bella sambil duduk di sofa sebelah Mamanya. "Kamu selingkuh?" Tika menatap tajam Bella. Bella menatap Mamanya ngga percaya. Darimana Mamanya bisa menyimpulkan dia selingkuh? Dia selingkuh sama siapa? "Hah? Selingkuh sama siapa?" Tika memukul kepala Bella menggunakan majalah yang dipegang hingga membuat Bella mengaduh sakit. "Sakit, Ma." Bella mengusap-usap kepalanya. "Mama nanya serius." "Aku juga serius, Ma." "Katanya Rey, kamu selingkuh sama ketua basket kamu. Bener?" Tika terus menatap Bella tajam hingga membuat Bella kesal sendiri. "Fitnah tuh, mana ada Bella selingkuh sama ketua basket Bella." Ucap Bella kesal. Bisa-bisanya Rey menuduh Bella selingkuh. Ini yang namanya sayang? Cih. Kalo Rey sayang sama Bella, dia ngga mungkin menuduh Bella seperti ini. "Hans bilang gitu juga, dan tadi mama dapat telfon dari Clarisa. Dia bilang kemaren malem Rey pulang marah-marah, banting barang-barang yang ada di kamarnya terus ngga mau keluar dari kamarnya sampe sekarang." Jelas Tika. Bahkan Hans juga menganggap Bella selingkuh. Yang benar aja, masa cuma jalan berdua dibilang selingkuh? Besok kalo Bella ngga sengaja ketemu sama Figo, dibilang apa? Mau nikah? "Aku ngga selingkuh, Ma. Orang kemaren aku kebetulan ketemu sama Figo pas beli martabak abistu kita berdua pulang berdua. Masa kayak gitu namanya selingkuh?" "Mama ngga mau tau, sekarang kamu mandi terus ke rumahnya Rey. Clarisa khawatir sama Rey sekarang dan mama juga khawatir." Ucap Tika setelah itu pergi meninggalkan Bella yang hanya bisa mendesah kesal. Mamanya lebih khawatir sama Rey daripada anaknya? Jika, Bella ke rumah Rey sekarang itu sama aja dia masuk ke kandang harimau. Entah hukuman apalagi yang akan Bella dapatin. Bella berdiri dan membawa tasnya ke kamar. Dia harus siap-siap sebelum bertempur. *** Clarisa menyambut Bella dengan hangat. Dia menyuruh Bella duduk dan membawakan minuman untuk Bella. "Aduh, Mi. Ngga usah repot-repot, Bella bisa ambil sendiri kok." Ucap Bella ngga enak. "Kamu ini, sama Mami sendiri kok ngga enak." Ucap Clarisa tertawa kecil. Bella melihat ke arah kamar Rey yang ada di lantai dua. Kamar Rey ada di sebelah kanan dengan pintu berwarna coklat. Tempat itu adalah neraka bagi Bella. Dimana tempat itu menjadi saksi bisu setiap Rey menghukum Bella. Walaupun menghukumnya masih di atas wajar, ngga kayak kejadian di apartemen Rey dulu. Bella jadi ngeri sendiri saat melihat kamar Rey. Jujur, jantungnya saat ini berdetak lebih cepat dari biasanya dan tangannya mulai dingin. Bella ngga siap bertemu Rey saat ini. "Bella, Mami ngga tau apa yang ngebuat Rey marah sampe kayak gini lagi." Clarisa menggenggam tangan Bella hingga membuat Bella menatap Clarisa. "Tapi, Mami minta kamu ketemu sama Rey sekarang. Cuma kamu yang bisa ngontrol emosi Rey. Mami tau Rey itu emosian anaknya, jadi Mami minta kamu ngalah saat ini sama Rey. Bisa?" Pinta Clarisa dan Bella mengangguk. Ini bukan sekali ataupun dua kali, Bella udah biasa mendengar Clarisa memintanya mengalah sama Rey. Bella juga ngga bisa menolak permintaan Clarisa. Clarisa udah dianggap mama keduanya dan Clarisa sangat baik kepadanya. Mungkin saat ini memang pilihan terbaik adalah mengalah. "Yaudah, yuk sekarang ke kamarnya Rey." Dan ini yang gue benci. *** "Rey, bukain pintunya. Bella udah datang nih." Clarisa mengetuk pintu kamar Rey tapi ngga ada jawaban sama sekali. Prang. Bella dan Clarisa terkejut saat mendengar suara barang pecah. Bella meneguk ludahnya. Ini tanda kematian baginya. "Mi, biar Bella aja yang urus. Mami pergi aja." Ucap Bella halus, Clarisa mengangguk lalu pergi. Bella menarik nafasnya panjang baru mengetuk pintu kamar Rey, "Rey, bukain pintunya. Ini aku Bella." Karena ngga ada jawaban, Bella mau mengetuk kembali pintunya. Namun, pintunya udah dibuka oleh Rey. Bella melihat penampilan Rey saat ini, Rey nampak baik-baik aja. Ngga ada luka ataupun semacamnya. Bella pikir Rey akan menonjok tembok atau kaca seperti di drama koreanya. Tapi, ternyata Rey ngga melakukannya. Rey menatap Bella dengan tajam hingga membuat Bella mengalihkan pandangnya. "Masuk." Perintah Rey. Bella masuk ke kamar Rey, Bella nampak terkejut saat melihat kamar Rey. Kamar Rey sangat berantakan. Miniatur milik Rey sekarang ada dimana-dimana, televisi ada di lantai dengan kondisi mengenaskan. Belum lagi Bella melihat benda kotak persegi yang telah hancur. Bella menghadap ke belakang saat mendengar suara pintu dikunci. Rey mengunci pintu kamarnya dan bersadar di pintu sambil melipat kedua tangannya. Rey memperhatikan Bella dari atas hingga bawah. Dia tau Bella saat ini sangat takut kepadanya. Dia bisa menyadarinya karena badan Bella mulai gemetar walaupun Bella udah berusaha menutupinya. "Jadi, kamu udah tau kesalahan kamu?" Rey mulai percakapannya dan Bella mengganguk. "Kamu ngga belajar dari yang sebelumnya? Jawab aku kalo aku tanya!" Bentak Rey hingga membuat Bella mundur selangkah. "A-aku mi-minta maaf, Rey." Bella menahan air matanya, dia berusaha ngga menangis di depan Rey. Rey masih menatap Bella tanpa ada niatan mendekatinya. "Kamu mau aku apain dia?" Tanya Rey dengan nada pelan tapi Bella tau itu ancaman. Bella berusaha melihat Rey dan dilihatnya Rey menatap dirinya dengan dingin dan tajam. Dia kembali menundukkan kepalanya. "Jawab, Bella." "Jan-jangan." "Jangan apa?" "Jangan apa-apain Figo, Rey. Aku yang salah disini. Aku minta maaf." Bella menangis, air matanya turun begitu aja. Rey mendecak kesal, "Kamu mau ngelindungin dia? Iya?" "Ngga gitu, aku-" "Kamu memang ngelindungin dia. Bilang sama aku apa kelebihan dia? Apa yang dia punya dan aku ngga punya sampai kamu selingkuh sama dia?" Potong Rey sebelum Bella menyelesaikan kata-katanya. "Aku ngga selingkuh, kenapa sih kamu nuduh aku selingkuh?" Tanya Bella yang kini berani menatapnya. Dia bisa aja terima Rey marah sama dia karena jalan berdua sama Figo. Dia tau seberapa posesifnya Rey terhadap dirinya. Tapi, Bella ngga terima kalo Rey menuduhnya selingkuh. "Kamu lupa kejadian dulu? Dimana kamu bilang aku ini bukan siapa-siapa kamu? Lalu, bukannya aku udah nyuruh kamu buat jauhin dia?" Rey mulai mendekati Bella dan Bella mundur hingga jatuh di kasur Rey dengan posisi duduk. "Kamu mau aku buat dia masuk rumah sakit kayak Rico, teman cowok kamu dulu smp itu?" Rey mengelus pelan rambut Bella. Bella mengingat kembali kejadian dulu smpnya. Ketika Rey melihat dia duduk berdua dengan Rico, teman sekelasnya. Rey udah menyuruh Bella menjauhinya dan Bella menjauhinya. Tapi, sayangnya Rico ngga mau Bella menjauh dan dia sadar Rey yang memerintahkan Bella untuk menjauh darinya. Merasa ngga terima, Rico menembak Bella di kantin yang saat itu sedang makan bersama Rey. Anak-anak yang ada di kantin kaget saat Rico menembak Bella di depan Rey. Rey langsung memukul dan menendang Rico tanpa henti. Bella bahkan udah berusaha menarik Rey, tapi tenaga Rey lebih kuat dari Bella. Hingga akhirnya guru-gurulah yang melerai Rey dan langsung membawa Rico ke rumah sakit karena sebelum dilerai oleh guru, Rey sempat memukul kepala Rico dengan mangkok bakso. Untungnya keluarga Rico ngga menuntut apa pun, karena banyak bilang kalo Rico yang memulai duluan perkelahian itu. Mereka semua berkata seperti itu karena ngga berani melaporkan Rey, takut Rey akan berbuat hal yang sama seperti yang dia lakukan ke Rico. Dan setelah itu, keluarga Rico mendadak pindah ke luar kota tanpa ada alasan yang jelas. Bella menggeleng kuat, dia ngga mau Figo terluka seperti Rico. "Maaf. Aku minta maaf." Isak Bella pelan. "Kamu tau kan harus berbuat apa ? Jauhi dia atau aku buat kakinya lumpuh terus dia ngga bisa main basket lagi." Bella mengangguk dan Rey memeluknya erat. Rey ngga peduli, apa pun akan dia lakukan untuk membuat Bella tetap disisinya. Entah itu harus menggunakan cara kasar ataupun lembut. Karena Bella adalah miliknya seorang. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN