Chapter 10 - Party (a)

1804 Kata
Udah tiga hari Bella berusaha menjauh dari Figo, bahkan ketika cowok itu menyapa Bella, Bella ngga menggubrisnya. Bella juga berhenti sebagai manajer tim basket dan memberikan jabatan itu kepada adik kelasnya. Banyak yang merasa kehilangan Bella saat Bella menyatakan mundur dari jabatannya. Semua anggotanya dan Pak Dewa merasa ngga rela Bella berhenti. Bagi mereka, Bella adalah sosok yang sangat rajin, baik dan tegas. Bella ngga akan mengeluh jika mereka menyuruh Bella untuk melakukan sesuatu. Bella juga rela panas-panasan untuk menemani mereka latihan. Bella bahkan berani menghukum mereka jika ada yang telat. Kalo dibandingkan dengan Pak Dewa, sikap Bella lebih tegas. Dan hal inilah yang membuat tim basket kehilangan sosok Bella, terutama Figo. Entah mengapa Figo merasa tak semangat latihan hari ini. Jika biasanya, di pinggir lapangan ada cewek yang berteriak-teriak mengatakan semangat dan membawakannya minuman. Tapi, untuk saat ini cewek itu menghilang dan mungkin ngga akan kembali lagi. Sebenarnya apa yang membuat Bella berhenti dari jabatannya? Figo udah mendengar dari Pak Dewa bahwa Bella keluar karena mau fokus UN. Dia akan sibuk dengan segala macam les tambahan dan mungkin ngga akan bisa bagi waktu. Tapi, Figo merasakan ada hal lain yang ditutupi oleh Bella. Bella juga menghindar darinya, bahkan chatnya pun ngga dibalas oleh Bella. Figo mengacak-acak rambutnya frustasi lalu tiduran di lapangan dan menatap langit sore. "Bella, aku kangen." Lirih Figo. Marco yang sedari tadi melihat Figo tiduran di lapangan berjalan mendekati Figo. "Woy." Sapa Marco sambil duduk di sebelah Figo. "Apa?" Figo masih menatap langit sore. "Lo nanti malam jadi ke pestanya Caramel kan?" "Ngga tau. Udah ngga mood." Figo menutup matanya. Marco mencibir saat mendengar jawaban Figo. Marco bukannya ngga tau alasan kenapa Figo ngga mood datang ke pesta Caramel nanti malam. "Bella katanya datang, lho." Figo langsung membuka matanya saat mendengar nama Bella. "Serius lo?" Tanya Figo semangat bahkan dia langsung bangun dari tidurnya dan menatap Marco sepenuhnya. "Serius, bego." Jawab Marco kesal. "Kata siapa? Emang dia kenal Caramel? Ini beneran atau lo bohongin gue doang?" "Ya Tuhan, terserah lo dah. Yang penting gue udah ngasi tau lo. Lo mau datang apa ngga, terserah." Usai ngomong seperti itu Marco langsung pergi meninggalkan Figo sendirian. "Woy. Sini lo. Gitu aja ngambek, kayak cewek pms aja." Figo pun menyusul Marco. *** Bella terus menghapus air matanya yang ngga berhenti. Saat ini, Bella lagi di kamar Jennie, Jennie berusaha keras menghibur Bella. Entah udah berapa tisu dihabisin sama Bella. "Udah dong, Bel. Lo mau sampe kapan coba nangsinya? Ntar dikira Rey, gue yang buat lo nangis." "Ha-habis gimana, Jen? Gu-gue belum mau berhenti jadi manajer tim basket kita. Gu-gue kangen." Bella mengelap air matanya dengan tisu lalu membuangnya sembarang. "Iya kan lo bisa bilang sama Rey, kalo lo tuh masih pengen banget jadi manajer tim basket. Kasiklah dia penjelasan." Jennie mengelus punggung Bella. "Ngga mungkin dia ngasi, dia pasti bakalan mikir yang aneh-aneh kalo gue masih jadi manajer." Jennie menghela nafasnya panjang. Dia ingat banget bagaimana Bella menangis dan mengadu kalo Rey menyuruhnya berhenti untuk menjadi manajer tim basketnya. Jennie hampir dibuat gila karena Bella, masih mending kalo Bella cuma nangis doang abis tuh diem. Ini ngga, kalo Bella udah nangis kayak gitu. Dia akan memesan makanan yang banyak lalu menyuruh Jennie yang membayarnya. "Jen, gue laper. Pesen makanan dong." Pinta Bella dengan muka memelas. Tuh kan, baru juga diomongin Bella udah minta makanan. "Yang bayar siapa?" "Lo lah, masa gue? Gue kan lagi sedih, Jen." "Gundul mu!" Jennie dengan kesalnya melempar bantalnya ke muka Bella lalu pergi keluar. "Jen, lo mau kemana? GUE LAPER!!!!" Teriak Bella dari dalam kamarnya. Bella akhirnya memilih untuk tiduran di kasur Jennie. Dia memikirkan teman-teman basketnya, terutama Figo. Udah tiga hari dia berusaha keras menjauhkan diri dari Figo. Setiap bertemu dengan Figo, dia akan bersembunyi atau saat Figo menyapanya dia tak akan menggubrisnya. Berat bagi Bella untuk menjauh dari Figo, apalagi Figo itu cowok paling dekat sama Bella di sekolahnya. Tapi, apa boleh buat. Semua ini juga demi Figo. Line Bunyi nada dering dari iphonenya membuat Bella mengalihkan pikirannya dan membukanya. Rey Arsenio : "Masih di rumah           Jennie?" Bella : "Masih." Rey Arsenio : "Aku jemput ya? Mau ngajak kamu pergi." Bella : "Kemana?" Rey Arsenio : "Pesta." Rey Arsenio : "Siap-siap dari sekarang ya, aku otw." Bella : "Iya, hati-hati." Bella kembali tidur-tiduran, biarin aja Rey nanti menunggunya. Dia juga ngga bawa baju ganti. Mungkin nanti dia harus meminjam dress Jennie. Untungnya badan mereka ngga beda jauh, jadi terkadang mereka saling meminjamkan baju. Cuma badan Jennie lebih berisi sedikit. "Nih, gue buatin indomie kuah dengan telor setengah mantang dan cabe yang banyak, sesuai kesukaan lo." Ucap Jennie sambil memberikannya ke Bella. Bella langsung mengambil dan memakannya dengan lahap. Dia bahkan menghabiskan dalam waktu beberapa menit saja. Jennie sendiri ngga heran dengan kelakuan sahabatnya. Kalo habis nangis kecepatan dan nafsu makan Bella meningkat. Walaupun begitu badan Bella yang segitu-gitu aja. Ngga kayak dirinya, baru makan sedikit aja badannya udah melebar kemana-kemana. Sungguh, ini bentuk ketidakadilan. "Jen, pinjem dress lo dong." Bella menaruh mangkuknya di atas meja. "Buat apaan?" Tanya Jennie tanpa mengalihkan wajahnya dari televisi. "Mau ke pesta, tadi diajak Rey. Sekalian numpang mandi, terus nanti minta make up lo juga." "Dasar ngga modal. Mandi sekarang aja gih, gue juga mau pergi sama Marco nanti." Bella mengangguk lalu pergi ke kamar mandi Jennie. Sedangkan Jennie sendiri langsung memilihkan beberapa dress untuk Bella. Dia ngga mungkin memilihkan dress yang terbuka buat Bella. Bisa-bisa dirinya diamuk sama Rey. Dia tau, Rey sangat melarang Bella menggunakan baju atau celana yang terbuka. Dia sempat heran dengan tingkah Rey yang menurutnya terlalu over sama Bella. Bella terkadang harus mengenakan baju pilihan Rey. Bukan itu aja, kadang aja Rey mengatur makanan Bella, apa aja yang boleh dan ngga boleh Bella makan. Jennie terkadang kasian dengan Bella, tapi mau gimana lagi? Jennie ngga bisa ngelawan Rey, Rey itu terlalu sulit untuk dilawan. "Ngapain lo bengong gitu?" Bella menatap Jennie heran. "Anjir. Buat kaget aja lo." Jennie mengelus-elus dadanya, Bella benar-benar sukses membuatnya terkejut. Bella terkekeh, dia pun mengeringkan rambutnya dengan hair dry. Dia melihat ada tiga macam dress di atas kasur Jennie. "Gue make yang mana?" Tanya Bella. "Terserah lo. Menurut gue itu tiga doang yang lumayan ketutup. Pilih yang benar, gue ngga mau kena amukan laki lo." Jennie mengambil handuknya lalu pergi mandi. Bella mendengus kesal saat mendengar jawaban Jennie. Dia pun memilih dress berwarna hitam yang menurutnya simple. Bell menggulung rambutnya ke atas hingga memperlihatkan lehernya dan menggunakan make up bergaya natural. Line Rey Arsenio : "Aku udah di depan." Bella : "Oke, wait." Bella memasukkan iphonenya ke dalam tas tangan yang berwarna hitam. "Jen, gue pinjem tas lo juga. Gue pergi." Pamit Bella. Setelah mendengar jawaban Jennie, Bella keluar dari kamar Jennie dan menghampiri Rey yang udah menunggunya di luar. "Yuk." Ajak Bella saat dia tiba di luar. Rey ngga menjawab ajakan Bella dan memperhatikan Bella dari atas hingga bawah. Bella yang merasa diperhatikan menjadi salah tingkah. "Ke-kenapa? Aku aneh ya?" Tanya Bell gugup. Rey terkekeh, "Ngga kok, kamu cantik sampai buat aku paling." Pipi Bella terasa panas bahkan jantungnya berdebar lebih cepat saat mendengar pujian dari Rey. Rey memang sering memuji dirinya, tapi entah kenapa pujiannya kali ini membuat Bella malu. Bella akui malam ini Rey terlihat lebih ganteng dari biasanya. Dengan kemeja panjang hitam yang membungkus badannya juga rambutnya yang tertata rapi, membuat pipi Bella tambah merah. "Tapi, dress mu terlalu pendek. Maunya aku suruh ganti tapi nanti telat. Yuk berangkat." Rey membuka pintu mobil dan Bella masuk dengan muka betenya. Baru juga seneng dikit, udah dibuat down lagi. Emang dasar nyebelin. *** Rey sepertinya menguji kesabaran Bella. Sepanjang perjalanan Rey memberikan wejangan untuk Bella. Bella sendiri sampai hafal karena Rey terus mengulang-ulang perkataannya. "Jangan jauh-jauh dari aku." "Jangan deket-deket sama cowok lagi, apalagi sampai ngobrol sama mereka." "Harusnya tadi kamu ganti dress aja, mata cowok-cowok pasti ngeliatin kamu terus." "Atau aku antar kamu pulang ya? Aku pergi sendiri aja ke pesta, aku ngga mau kamu diliatin sama cowok-cowok nanti." Perkataan terakhir Rey membuat Bella kesal setengah mati. Rasanya dia ingin mendorong Rey keluar dari mobil saat itu juga. Biarin Rey ke lindes sama truk. Dia udah dandan seperti ini dan Rey menyuruhnya pulang? Yang benar aja! Rey benar-benar mengujinya. Rey terus mengenggam tangan Bella tanpa niatan melepaskannya. Dia sadar Bella udah menjadi pusat perhatian di pesta ini. Bella sendiri nampak biasa aja dan ngga menyadari hal itu. "Rey." Mereka menoleh ke belakang saat mendengar seseorang memanggil Rey. Bella memperhatikan cowok yang sedang berjalan ke arah mereka. "Gue kira lo ngga datang." Sapa cowok itu sambil melirik Bella. "Matanya dijaga ya, Mas." Sindir Rey kesal. Cowok itu tertawa, "Calm down, bro. Gue ngga bakalan ngambil cewek lo kali. Ohiya, kenalin gue Nick Pratama." Nick mengulurkan tangannya ke Bella. Bella yang ingin menyambut tangan Nick langsung ditahan oleh Rey. "Ngga usah modus." Rey menatap Nick tajam. Bella sendiri tertawa melihat tingkah Nick dan Rey, "Lo ngga berubah-ubah juga. Masih aja usil." "Mau gimana lagi? Cowok lo lucu kalo lagi kumat." Nick sengaja menekan kata 'kumat' hingga membuat Rey menatapnya kesal. "Jangan digodain lagi, ntar ngambul anaknya." Ucap Bella sambil melirik Rey. "Mana Tuan Putri lo? Gue ngga liat dari tadi." Tanya Rey yang berusaha mengalihkan topik. "Tuh, lagi sama temen-temennya. Yuk gue kenalin." Rey dan Bella mengikuti Nick dari belakang. Nick adalah temen SMP mereka atau bisa dibilang dia sahabat Rey. Jadi, ngga heran kalo Nick tau sebagaimana posesifnya Rey kepada Bella. Nick juga satu SMA dengan mereka. Bella juga baru tau dari Rey tadi, kalo pesta ini sebenarnya diadain oleh Nick sendiri buat ceweknya. Bella melihat Nick menghampiri cewek yang menggunakan dress biru. Bella memperkirakan cewek itu pacarnya Nick. "Baby, kenalin ini Rey sama Bella." Nick memperkenalkan Rey dan Bella kepada pacarnya. "Hai, gue Caramel. Pacarnya Nick." Sapa Caramel sambil mengulurkan tangannya ke Bella. "Bella." Bella menyambut uluran tangan Caramel dan kali ini Rey ngga menghentikannya. "Gue ngga nyangka lo cantik banget aslinya. Nick suka cerita tentang lo sama Rey." "Cerita apaan?" Kali ini Rey yang membuka suara. Dia merasa ada yang ngga beres, Nick pasti menceritakan yang aneh-aneh tentang dia dan Bella kepada Caramel. "Dia cerita kalo lo-" Nick langsung membungkam mulut Caramel dengan tangannya. Caramel berusaha melepaskan tangan Nick dari mulutnya. "Kamu ngapain sih, Nick?" Caramel menatap Nick kesal saat berhasil melepaskan tangan Nick. Rey menatap Nick kesal, dia udah bisa menjamin kalo Nick menceritakan dirinya yang aneh-aneh. "Itu rahasia. Mending kamu kenalin temen kamu ke mereka." Tawar Nick lalu Caramel mengangguk. "Marco, Figo. Sini." Panggil Caramel. Tunggu. Siapa yang tadi dipanggil oleh Caramel? Figo? Bella ngga salah denger kalo Caramel memanggil Figo. Bella yang daritadi diam aja, kini melihat kedua teman Caramel yang sedang berjalan ke arah mereka. Bella kali ini bisa melihat secara jelas dan memastikan kalo pendengarannya masih berfungsi baik. Ngga salah lagi, Caramel tadi memanggil Figo, Ketua Tim Basket SMA Harapan Bangsa. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN