Rasanya Bella mau pergi dari pesata ini sekarang. Kenapa disaat seperti ini dia malah ketemu sama Figo? Aih, dia merasa hidupnya semakin ribet semenjak Rey kembali ke Indonesia.
Bukan cuma Bella yang terkejut disini, Jennie juga sama terkejutnya. Jennie memang diminta Marco untuk ikut menemaninya pergi ke pesta ulang tahun salah satu temannya.
Tapi, siapa tau disini dia malah ketemu sama Rey dan Bella. Mungkin ini cara Tuhan buat mempertemukan Figo dan Bella, walaupun ditengah-tengah mereka ada Rey.
Suasana tiba-tiba menjadi suram, mereka semua bisa merasakan aura-aura yang tak menyenangkan di dekat mereka. Entah siapa pemilik aura itu.
"Kenalin dong, ini temen-temen SMP gue, Figo sama Marco." Caramel mencoba mencairkan suasana, dia sendiri merasa suasana saat ini ngga enak.
Caramel menyikut Nick pelan, seolah-olah memberi kode kepada Nick untuk membantu mencairkan suasana saat ini. Nick yang mengerti maksud Caramel langsung mencoba mencairkan suasana.
"Gue pacarnya Caramel, Nick. Gue rasa lo berdua udah tau gue."
"Gue Marco. Gue sering denger nama lo dari temen-temen cewek kelas gue, Mereka sering banget gosipin lo.
"Gue ngga nyangka cowok yang sering mereka gosipin ternyata mukanya begini."
"Lah? Muka gue emang kenapa?" Tanya Nick bingung.
"Standar banget, anjir. Masih gantengan juga gue. " Nick, Caramel dan Marco langsung ketawa mendengar candaan Marco.
Jennie menyubit pinggang Marco hingga membuat Marco mengaduh kesakitan.
"Kenapa sih, beb ?"
Jennie melirik matanya ke Bella, Rey dan Figo. Marco hanya bisa menghela nafasnya, dia tau masalah mereka bertiga ini dari Jennie. Tapi, kayaknya baik Caramel maupun Nick belum mengetahuinya.
"Ngga usah diliatin kayak gitu kali, kita lagi di pestanya Caramel." Bisik Marco kepada Figo.
Figo akhirnya mencoba mengubah ekspresinya, "Kita udah saling kenal kok, gue sama mereka satu sekolah."
"Ohiya? Bagus dong." Jawab Caramel antusias.
Bagus apanya? Ini celaka namanya. Teriak Bella dalam hati.
Rey merangkul Bella hingga membuatnya semakin dekat dengan Rey. Melihat hal itu, ekspresi wajah Figo berubah menjadi tak suka.
"Bener, kita semua udah saling kenal kok, bahkan sangat mengenal satu sama lain. Iya kan, Sayang?"
Dia sengaja menekan kata 'sayang' untuk memberitahu Figo bahwa Bella adalah miliknya.
Dan semua yang disana mengerti maksud perkataan Rey, terutama Figo.
Bella ngga tau harus berbuat apa sekarang, dia hanya ingin pergi dari tempat ini sekarang. Dia juga daritadi hanya menunduk, ngga berani menatap Figo.
Apa dia harus menjawab pertanyaan Rey? Atau memilih menghindarinya? Ini jebakan.
"Rey, aku mau ke kamar mandi. Jen, temenin dong." Bella melepaskan rangkulan Rey lalu menarik Jennie.
Dia ngga peduli lagi nanti Rey mau marah apa ngga, yang jelas saat ini dia harus kabur.
***
"Kenapa lo ngga bilang lo kesini sama Figo?" Tanya Bella kesal.
"Lah? Gue mana tau kalo di Marco ngajakin gue ke tempat pesta yang sama kayak lo." Jennie mempoles pipinya dengan bedak sedangkan Bella nampak berpikir.
Entahlah, perasaannya dia ngga enak semenjak bertemu Figo disini. Dia takut akan terjadi sesuatu saat ini.
"Terus gue harus gimana?"
"Yaudah, barengan aja terus sama Rey. Udah yuk keluar, ntar Rey curiga lo lama-lama disini." Jennie berjalan keluar dari kamar mandi diikuti oleh Bella.
Mungkin terus bersama Rey adalah jalan yang paling aman. Setidaknya dengan cara itu Bella bisa menjaga suasana agar ngga seperti tadi.
Iya seharusnya begitu.
Semua bisa aja berjalan sesuai rencana Bella, jika saja ngga ada yang menarik tangan Bella seperti sekarang.
"Figo." Bisik Bella.
Figo menarik tangan Bella dan memberikan tatapan -ikut-aku-sebentar-. Bella awalnya menolak, dia mencoba melepaskan tangan Figo. Tapi, tenaga Figo lebih besar darinya. Mau ngga mau dia harus mengikuti Figo.
Mereka saat ini berada di taman belakang, Bella terus menatap pintu. Dia takut nanti tiba-tiba Rey muncul. Masalah akan lebih panjang kalo Rey muncul.
"Bella." Panggil Figo membuat Bella menatapnya.
"Hah? Kenapa, Fig?" Tanya Bella bingung.
"Kamu ngga dengerin aku? Aku tanya kamu kenapa?" Figo terus menatap Bella, dia merasa Bella menutupi sesuatu darinya.
Apa ini ada hubungannya sama Rey?
"Ngga, aku ngga apa-apa." Jawab Bella seadanya dan melihat ke arah pintu lagi.
Figo menoleh ke arah belakang, pintu. Tidak ada apa-apa atau siapa pun. Tapi, daritadi Figo perhatikan mata Bella terus menatap ke pintu dan ada rasa takut dalam mata Bella.
Figo memegang pipi Bella dengan lembut hingga membuat Bella menatapnya.
"Ada apa? Kamu keliatan kayak takut gitu? Cerita sama aku." Tanya Figo lembut.
Dag-dig-dug.
Suara apa itu? Kenapa Bella mendengarnya sangat jelas?
Astaga!
Itu suara jantung Bella sendiri.
Jantung Bella berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Ini pasti karena Figo.
Apa Figo bisa mendengar suara jantung Bella?
Malam ini nampak sepi, suara jangkrik, katak atau teman sejenisnya bahkan ngga kedengaran. Atau mereka udah mengeluarkan suaranya tapi kalah sama suara jantung Bella?
Bulan pun nampak bersinar sangat terang. Seakan-akan menambah suasana untuk mereka berdua.
"Kamu melamun lagi." Ujar Figo.
"Ah-ma-maaf." Bella menatap jari-jari kecil kakinya, dia ngga berani menatap Figo.
"Kamu kenapa? Cerita sama aku." Kali ini salah satu tangan Figo memegang dagu Bella. Hal ini membuat muka Bella semakin merah.
"Ak-aku ngga apa-apa."
"Bohong. Akhir-akhir ini kamu kayak jauhin aku, dan tiba-tiba banget kamu mundur jadi manajer."
Bella melepaskan tangan Figo dan mundur selangkah.
"Liat. Kamu ngga pernah bersikap kayak gini sama aku. Kamu ini kenapa sih, Bel?"
"Fig, maaf. Aku ngga bisa ngasi tau kamu soal ini." Bella lagi-lagi menatap ke arah pintu.
"Kenapa? Bukannya selama ini kamu kalo ada apa-apa cerita ke aku?" Figo mulai mendekat dan membuat Bella mundur.
Figo menghela nafasnya,"Bel, aku ngga bakalan maksa kamu cerita saat ini, tapi ak-"
Figo menghentikan perkataannya saat mendengar suara iphone Bella.
Bella mengeluarkan iphonenya dari dalam tasnya. Muka dia memucat saat tau siapa yang menelfonnya.
Rey cayang.
Bella memutuskan untuk ngga mengangkat telfon Rey. Lebih baik dia langsung mencari Rey daripada disini.
"Intinya aku ngga bisa jelasin ini ke kamu. Aku duluan." Bella berjalan melewati Figo begitu aja.
Namun, baru beberapa langkah Bella berjalan, tubuhnya berputar sendiri dan menabrak tubuh Figo.
Figo memeluk Bella.
"Jangan pergi." Lirih Figo.
Figo akui, dia telah jatuh hati kepada manajernya ini. Dia udah sadar akan hal itu dari dulu. Namun, dia berusaha sekuat mungkin mencegahnya karena ada rumor yang mengatakan Bella udah bertunangan.
Maka dari itu, Figo memilih untuk menjadi teman. Seiring dengan waktu, perasaan yang dia cegah itu bertambah besar apalagi Bella merespon Figo dengan sangat positif.
Bella ngga pernah menolak kehadiran Figo didekatnya. Bella juga ngga pernah menceritkan cowok lain saat bersamanya. Dia lebih memilih untuk mendengarkan semua cerita Figo.
Dan sekarang, semuanya berubah ketika Rey datang.
Bella menjadi sangat jauh untuk Figo capai.
Itu semua karena kehadiran Rey, tunangan Bella dan Figo sadar akan hal itu.
"Fig, lepasin." Bella berusaha melepaskan pelukan Figo.
"Apa ini semua ada kaitannya sama Rey?"
Mendengar perkataan Figo membuat Bella berhenti. Dia ngga menyangka Figo akan cepat sadar akan hal ini.
Figo melepaskan pelukannya dan memegang pundak Bella dengan erat. Dia menatap Bella dengan sangat dalam.
"Benerkan ini semua karena Rey? Rey yang minta kamu jauhi aku?"
"A-aku-" Bella ngga bisa menjelaskan ini semua. Dia bingung harus gimana.
"Aku udah tebak. Marco udah cerita semua. Rey itu tunangan kamu kan? Kenapa kamu ngga pernah cerita sama aku?"
"Kenapa kamu ngga pernah bilang kalo kamu punya tunangan? Aku kira omongan satu sekolah soal kamu udah punya tunangan itu rumor, Bel. Aku pikir itu cuma rumor iseng doang."
"Figo, aku-"
"Kalo kamu bilang ini semua dari awal, aku ngga bakalan berharap banyak sama kamu!" Ucap Figo dengan keras hingga membuat Bella terkejut.
Bella terkejut dengan perkataan Figo. Figo berharap kepada Bella? Apa artinya Figo suka sama Bella?
"Iya. Aku suka sama kamu. Aku sayang sama kamu, Bel. Aku sayang banget sama kamu." Ucap Figo pelan dan perlahan-lahan tangannya melepaskan pegangnya di pundak Bella.
Air mata Bella turun satu per satu. Dia ngga menyangka Figo akan menyukai dirinya, dia pikir cintanya bertepuk sebelah tangan.
"Fig, ka-kamu-"
"Aku serius. Aku serius sayang kamu. Apa itu salah?" Lagi-lagi Figo memotong perkataan Bella.
Bella ngga menjawabnya dan diam dalam tangisnya.
Figo ngga seharusnya membalas perasaan Bella. Figo ngga seharusnya menyukai dirinya.
Karena sekuat apa pun perasaan Figo, dia ngga akan pernah bisa memiliki Bella.
Bella juga ngga bisa membiarkan perasaannya terus seperti ini untuk Figo. Dia udah menjadi milik Rey, seharusnya dia ngga boleh jatuh hati kepada cowok lain.
Bukankah seharusnya dia jatuh hati kepada Rey?
"Jawab aku, Bel. Apa aku salah sayang sama kamu?" Figo menatap Bella sedih. Hatinya sakit saat Bella memilih diam dan menangis.
Ini seperti memberikan jawaban untuk Figo.
"Salah."
Bella berhenti menangis. Bukan dia, dia ngga merasa menjawab pertanyaan Figo. Itu juga bukan suara Bella.
"Salah kalo lo punya perasaan ke tunangan gue."
Bella membeku saat ini juga. Ngga salah lagi ini suara Rey.
Bella menoleh ke arah belakang dan melihat Rey berjalan ke arahnya bersama Nick, Marco, dan Jennie.
Dan yang membuat Bella semakin terkejut adalah Rey melewati dirinya begitu saja dan menonjok Figo detik itu juga.
Figo terjatuh ke tanah dan menghapus darah yang keluar dari bibirnya. Baru juga dia menghapus darahnya, Rey menonjok kembali dirinya.
Marco dan Nick mencoba menarik Rey, tapi tenaga Rey ternyata lebih besar dari dugaan mereka.
"Lo salah banget kalo punya perasaan sama Bella. Karena Bella cuma punya gue." Rey kembali menonjok Figo dan Figo ngga membalasnya.
Jennie memeluk Bella yang menangis semakin keras. Nick dan Marco juga mencoba kembali melerai mereka berdua.
"Rey, udah. Udah cukup." Ucap Nick saat berhasil menarik Rey jauh dari Figo.
"Lepasin gue, anjing. Gue mau hajar tuh sampah sampe mampus. Dia berani banget nyentuh cewek gue." Rey berusaha melepaskan dirinya dari Nick dan Marco.
"Lo ng-ngga pantas buat Bella. Ng-ngga pantas." Ucap Figo terbata-bata.
Rey semakin karap saat mendengar ucapan Figo. Ucapan Figo berhasil membuat dia lepas dari Marco dan Nick.
Rey udah mau menonjok kembali Figo, tapi dia berhenti saat merasa ada yang memeluk dirinya dari belakang.
"Aku mau pulang. Aku capek." Bella memeluk Rey dengan erat. Dia ngga mau ngeliat Figo dipukulin terus sama Rey.
Kemarahan Rey seakan hilang begitu saja saat Bella memeluknya. Dia melepaskan pelukan Bella dan memutarkan tubuhnya ke Bella.
"Kita pulang, oke?" Ajakan Rey langsung di-iya-kan oleh Bella.
Rey merangkul Bella dengan erat dan pergi begitu aja tanpa mempedulikan yang lain.
Marco dan Jennie berlari ke Figo dan membantunya berdiri.
"Lo nekat banget sih, Fig. Udah tau Bella punya anjing pengawas kayak gitu." Canda Marco.
"Cinta tuh butuh pengorbanan, Co. Kalo dengan ini gue bisa memiliki Bella, gue siap." Jawab Figo mantap dan membuat Jennie mencubitnya.
"Aw, sakit, Jen." Teriak Figo kesakitan.
"Lagian, udah tau kayak gini, masih aja sok-sok ngomongin cinta." Jennie melepaskan rangkulannya.
Figo tertawa mendengar jawaban Jennie.
"Galak banget deh neng." Goda Figo dan membuat Jennie memutarkan matanya malas. Dia pun memilih meninggalkan Figo begitu aja.
"Yee, gue ditinggal. Woy, Nick bantuin gue jalan sini. Gue dihajar sama temen lo nih." Panggil Figo dan Nick dengan malas berjalan ke Figo lalu membantunya.
Cinta memang butuh pengorbanan , bukan? Jika dengan dengan pengorbanan, cinta bisa didapatkan maka Figo akan siap.
Tapi, bukannya ada pengorbanan yang ngga berbuah manis? Yaitu, pengorbanan yang sia-sia. Dan Figo rasa, dia juga harus mempersiapkan hal itu.
***