Alarm Bella terus berbunyi entah sudah berapa kali alarm itu berbunyi tapi Bella ngga bangun-bangun. Sisil mendecak kesal saat melihat Bella masih tidur. Dengan kesalnya dia menarik selimut Bella dan membuat Bella berguling ke samping.
"Bella, bangun. Nanti kamu terlambat upacara." Ucap Sisil sambil menepuk tangannya pelan.
Bella nampaknya tak terpengaruh sama pukulan Sisil. Nyatanya dirinya masih asik tertidur.
"Dasar kebo."
"Biarin aku aja yang bangunin Bella, Kak." Ucap Rey di depan pintu kamar Bella.
"Yaudah, usahain sampe bener-bener bangun ya. Kamu tau sendiri Bella gimana kalo udah tidur."
Rey hanya mengganguk lalu Sisil pun keluar dari kamar Bella dan menutup pintunya.
Kini gantian Rey yang harus berpikir keras. Bagaimana dia harus membangunkan kebo cantik ini? Bella memang sangat sulit dibangunkan kalo udah nyenyak tidurnya.
Rey menyeringai, pelan-pelan dia naik ke kasur Bella. Dia pun menumpukan tangannya di kedua sisi kepala Bella dan dia mengarahkan mulutnya ke telinga Bella.
"Bangun, Baby. Kalo kamu ngga bangun, aku cium lho." Bisik Rey nakal.
Bella hanya menggumam tidak jelas. Hal ini membuat Rey tersenyum. Tunangannya benar-benar sangat menguji dirinya.
Bibir Rey mendekati pipi Bella.
Cup
Dia mencium pipi Bella dan membuat Bella membuka matanya. Betapa kagetnya saat dia melihat Rey berada di atas tubuhnya.
"Selamat pagi, baby." Sapa Rey lembut
"KYAAAA!!!"
***
"Kan udah Bella bilangin, bukan salah Bella. Reynya aja yang mesum." Bela Bella.
Saat ini dirinya sudah berada di ruang makan dan menikmati sarapan bersama keluarga juga tungannya. Dia masih kesal atas kelakuan Rey. Bisa-bisanya dia masuk ke dalam kamar Bella tanpa ijinnya. Walaupun dari dulu memang begitu, Rey selalu aja langsung masuk ke kamarnya tanpa ijin.
"Tapi, bukan berarti kamu harus mendorong Rey hingga dia jatuh dan kepalanya kena lantai kan? Untung Rey ngga apa-apa, kalo dia gegar otak gimana?" Omel Tika panjang.
"Tau lo, mau tanggung jawab lo kalo anak orang gegar otak karena lo?" Kompor Hans, ia sengaja membuat Bella makin kesal dan akhirnya berkata kasar seperti biasanya.
Bella sudah menahan diri untuk tidak membalas perkataan Hans. Bisa mati jika Rey tahu kalo dia suka berkata kasar kepada Abang satunya yang resek ini. Rey sangat tidak suka Bella berkata kasar entah itu disengaja atau tidak.
"Hei, denger ngga? Kalo orang ngomong disautin, bukannya diem aja." Pancing Hans.
Sabar Bel, entar ada waktunya buat bales semuanya kok, ucap Bella dalam hati.
"Iya Bang, lain kali Bella hati-hati. Maaf Rey." Ucap Bella menahan emosinya dan membuat Hans terbahak.
Tapi, kalo boleh jujur Bella menyesal telah membuat Rey jatuh dari atas kasurnya tapi bukan berarti dia mengaku salah. Tetap aja Rey yang salah. Bisa-bisanya mengambil kesempatan dalam kesempitan.
"Ngga apa-apa, Baby." Jawab Rye lembut sambil mengelus rambut Bella pelan dan hal ini membuat muka Bella merah.
"Ehem, ayo makan. Udah laper nih." Ucap Sisil.
Setelah itu, mereka melanjutkan kembali sarapannya.
***
Hari ini Rey yang mengantarkan Bella ke sekolah. Selama Rey ngga ada, Hanslah yang bertugas mengantar jemput Bella, sedangkan Sisil dia berangkat ke kantor bersama Handi.
Bella hanya terdiam selama perjalanan dan terkadang memainkan kakinya untuk mengikuti alunan lagu yang diputar di mobil Rey.
Rey tersenyum saat melihat Bella menikmati lagunya. Untung saja tadi pagi dia udah memasukkan lagu-lagu kesukaan Bella. Bella suka lagu yang selow melow, dia tidak suka lagu yang mempunyai musik keras, seperti rock.
Menurut Bella, lagu yang selow melow lebih enak didengar dan membuat hati lebih tentram. Selain itu ngga membuat stress.
"Udah sampai, Baby." Ucap Rey.
Bella langsung melepaskan seat belt lalu merapikan rambutnya. Rey menatap Bella bingung, ngga biasanya Bella mementikan penampilannya. Dia selalu cuek dengan penampilannya, walaupun cuek Bella tetap terlihat manis di depan Rey.
"Makasih ya Rey. Kamu nanti ngga usah jemput aku, aku pulang sama temenku nanti." Ucap Bella cepat dan membuka pintu mobil tapi sayangnya pintunya masih dikunci oleh Rey hingga membuat Bella menoleh ke arah Rey.
Rey sedang menatapnya datar dan tajam. Bella pun menghela nafas, baru juga kemaren manis-manis sekarang kambuh lagi.
"Kamu ngga mau menjelaskan sesuatu kepada ku?" Tanya Rey datar.
"Apa? Rey, kalo kamu terus mengunci pintunya aku bakalan telat. Hari ini ada upacara." Pinta Bella.
"Aku ngga peduli. Jelasin, Bella." Perintah Rey.
Kalau udah begini Bella mau ngga mau harus menjelaskan kepada Rey.
"Hari ini ada upacara wajar kalo rapiin rambutku. Peraturan di sekolah ku ketat Rey. Kalo ngga rapi dikit bisa kena poin."
"Terus, nanti pulang sekolah aku mau ke Gramed sama Jennie. Ingat Jennie? Sahabat ku dulu smp."
Rey hanya mengganguk setelah mendengar penjelasan dari Bella lalu membukakan kunciannya. Bella pun langsung keluar, dia ngga mau lama-lama bersama Rey di dalam. Bahaya.
Setelah itu, mobil Rey pergi melaju begitu saja. Bella pun bergegas masuk ke sekolahnya.
"Dasar tunangan kampret." Maki Bella.
***
Bel pulang sekolah berbunyi keras, para siswa-siswi pelan-pelan mulai meninggalkan kelasnya. Bella pun merapikan buku-bukunya dan memasukkan ke dalam tasnya.
"Bel, jadikan ke gramed? Lo udah ngasi tau abang lo belom?" Tanya Jennie, sahabat Bella.
Jennie Fransiska Zara, gadis keturunan Jogja-Tionghoa ini memiliki mata yang sedikit sipit, berwajah asia, badan berisi dari Bella, kulitnya putih bersih, juga rambutnya model bob dan berwarna hitam.
Ia merupakan sahabat Bella sejak duduk di kelas satu smp. Dia juga sangat tahu bagaimana hubungan Bella dengan Rey.
"Ngga." Jawab Bella singkat sambil berjalan ke arah pintu luar disusul oleh Jennie.
"Maksud lo ngga? Lo ngga ngasi tau? Nanti lo diomelin sama abang lo itu, dan kalo udah gini ntar gue kena juga diomelin sama dia." Keluh Jennie. Dia tidak mau kena amukan dari Hans.
"Ngapain gue ngasi tau dia? Gue tadi berangkat bareng Rey." Jelas Bella malas.
"What? Rey udah balik? Kok lo ngga cerita-cerita sama gue sih? Gitu namanya sahabat?" Teriak Jennie hingga mengundang siswa lainnya menoleh ke arahnya.
Bella memutar matanya malas, Jennie itu memang sekali-kali harus di racun dikit. Biar cemprengnya hilang, dirinya selalu saja membuat heboh apa pun yang ada di sekitarnya.
"Ups, sorry. Gue keceplosan ya?" Tanya Jennie tidak bersalah.
Bella pun tidak menjawab dan memilih meninggalkan Jennie di belakang sendirian. Jennie yang merasa di tinggal oleh Bella, berlari kecil menyusulnya.
"Lo kok ngga cerita sama gue sih? Cerita dong sama gue." Desak Jennie.
"Astaga, anak satu ini. Ntar gua ceritain di jalan. Ayo buruan jalan. Keburu sore, lo tau sendiri Rey itu ngga ngasi gue pulang malem." Jawab Bella kesal karena daritadi Jennie memaksanya untuk bercerita.
Mereka berjalan ke arah parkiran, mereka melewati lapangan basket terlebih dahulu sebelum ke parkiran. Jarak antara parkiran dan lapangan basket sangat dekat.
Selain dekat dengan parkiran, lapangan basket dekat dengan kantin.Hal ini agar mempermudah para siswa beristirahat.
"Tapi, lo kagak penasaran Bel?" Tanya Jennie ketika mereka berbelok ke arah kantin.
"Penasaran tentang apa?" Bella berbalik tanya kepada Jennie, dia pun membeli sebotol air minum dan membayar ke penjualnya. Setelah itu mereka berjalan ke arah lapangan basket.
"Sekolah Rey. Rey kan pasti harus ngelanjutin studi-nya. So, dimana dia bakalan lanjutin?"
Pertanyaan Jennie membuat Bella sadar. Dimana Rey akan melanjutkan sekolahnya? Apakah Rey akan melanjutkan di sekolah lain? Atau?
"Siapa Rey?" Tanya seseorang hingga membuat lamunan Bella hilang.
Bella tersenyum saat melihat Figo berdiri di depannya. Bella memberikan botol air yang tadi dia beli di kantin ke Figo. Figo meneguk hingga sisa sebagian saja.
Figo Prasetyo, Ketua klub basket SMA Harapan Bangsa ini memiliki wajah seperti wajah laki-laki Indonesia lainnya, badannya sangat terbentuk dan tinggi, warna kulit yang sedikit coklat karena sering berjemur di bawah sinar matahari.
"Siapa itu Rey? Pacar kamu Bel?" Tanya Figo sekali lagi.
Bella kini bingung harus menjawab apa. Dia ngga mungkin bilang ngga. Tapi emang kenyataannya Rey bukan pacarnya kan? Dia kan tunangannya Bella.
Masa Bella harus bilang dia tunangannya? Ngga mungkin juga. Dia dan Figo udah dekat sejak empat bulan yang lalu. Bella juga sepertinya telah jatuh cinta pada Figo.
Siapa juga yang ngga bakalan jatuh cinta sama Figo? Figo adalah cowok yang terbaik, teramah, tersopan, ter ter pokoknya. Dia sangat berbeda dari cowok jaman sekarang. Kalo jaman sekarang cowok-cowok suka ngerokok, vape, pergi ke club dan mabuk-mabukan, maka Figo sebaliknya. Dia tidak pernah menyentuh rokok, vape, alkohol dan club.
Karena bagi Figo, lelaki sejati itu bukan diukur dari berapa banyak lo ngisep rokok dan sejenisnya tapi bagaimana caranya lo bisa ngejaga diri lo sendiri demi masa depan lo dan orang yang lo cintai.
Jennie sendiri menunggu jawaban Bella, dia ingin tahu apa Bella berani mengatakan bahwa Rey adalah tunangannya. Dan jawaban Bella membuat Jennie tidak bisa berkata-kata. Dirinya terlalu shock mendengar jawaban Bella.
"Bukan siapa-siapa." Jawab Bella terkekeh dan membuat Figo gemas hingga Figo memeluk dirinya.
"Siapa yang kamu bilang bukan siapa-siapa?"
Suara itu.
Bella langsung melepaskan pelukan Figo lalu menoleh ke sumber suara.
Rey.
Rey sedang berdiri di depannya. Bella menelan ludahnya sendiri, kakinya mulai melemah seakan-akan tidak kuat menopang dirinya. Jennie sendiri pun menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia tidak menyangka Rey ada disini.
Rey berjalan mendekati Bella, Bella bahkan sampai mundur beberapa langkah hingga menabrak tubuh Figo. Figo yang sadar tubuh Bella gemetar, lalu memegang kedua lengannya dan membalikan tubuh Bella.
"Kamu kenapa, Bel?" Tanya Figo khawatir sekaligus bingung.
"Ja-jangan-"
Belum selesai Bella berbicara, lengannya ditarik oleh Rey. Dan Rey langsung memukul wajah Figo hingga membuat Jennie, Bella dan beberapa siswi disana berteriak.
"Don't touch my Bella, bastard." Ucap Rey marah lalu menarik Bella pergi menjauh dari lapangan.
***