Bella hanya bisa terdiam saat Rey menarik tangannya. Ia tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan, ia sadar Rey marah atas kelakuannya. Tapi, sungguh ia tidak tahu Rey akan melihat kejadian itu.
"Masuk." Perintah Rey saat mereka tiba di parkiran.
Tanpa pikir panjang, Bella langsung masuk ke dalam mobil Rey. Ia tidak ingin membuat Rey tambah marah pastinya. Setelah menyuruh Bella masuk ke dalam mobil, Rey pun menyusulnya.
"Jadi, seperti itu kelakuanmu saat aku tidak ada?" Tanya Rey datar.
Bella tahu saat ini Rey benar-benar marah.
"A-aku, Maaf Rey. Aku benar-benar minta maaf." Ucap Bella pelan sambil meremas ujung rok abu-abunya.
"Siapa laki-laki itu? Selingkuhan mu?"
"Bukan! Ia hanya teman ku, Rey. Ku mohon maafkan aku."
"Cih. Teman katamu? Apa ada teman yang seperti itu? Saling berpelukan seperti seorang kekasih?" Ucap Rey sambil menatap Bella tajam.
Bella tidak berani membalas perkataan Rey, untuk menatapnya saja Bella tidak berani.
"Lupakan lelaki itu. Atau kamu tahu akibatnya. Mengerti?" Perintah Rey.
Bella hanya mengangguk saat mendengar perintah dari Rey. Ia tidak mungkin membantah perintah Rey.
"Dan satu lagi, mulai besok aku akan satu sekolah denganmu. Dengan begini aku sendiri yang bisa melihat semua kelakuan mu di sekolah."
Dan saat itu juga, Bella tahu. Bahwa kebebasannya terancam kembali.
***
Mobil yang dibawa oleh Rey semakin melaju kencang, Bella sendiri semakin takut hingga memegang seat belt-nya dengan erat. Dia bahkan hampir menangis saking takutnya. Dia sadar telah melakukan kesalahan besar, membuat Rey marah adalah hal yang paling ingin dia hindarkan. Dasar bodoh.
"Rey, pelan-pelan. Ku mohon, a-aku takut." Ucap Bella pelan dan gemetar.
Dia benar-benar takut sekarang. Dia belom mau mati muda, dia masih mau merasakan apa itu namanya kuliah, berkerja, menikah, dan mempunyai anak.
Rey tidak menanggapi perkataan Bella. Dia semakin melajukan mobilnya dengan cepat, dia bahkan tidak peduli dengan bunyi klakson dari pengendara lainnya. Hati Rey sakit saat mendengar perkataan Bella.
Bukan siapa-siapa.
Kata-kata itu terus terniang di kepala Rey. Apa yang kurang dari Rey? Rey bahkan lebih dari cowok itu. Tapi, kenapa Bella masih bisa berpaling darinya? Apa dirinya kurang menjaga Bella? Atau Bella bosan selama dua tahun ini ngga bertemu dengan Rey dan bisa berkomunikasi lewat sosial media?
Sial.
Padahal dulu dia sudah meminta Papi dan Maminya untuk tidak membawa dirinya ke UK. Dia ingin tinggal di Indonesia dan menjaga Bella. Tapi, mau apa dikatakan ? Dulu dia masih terlalu muda untuk melawan keinginan orang tuanya dan terpaksa ikut pergi ke UK bersama kedua orang tuanya.
Namun, Rey udah berusaha keras dan sebisa mungkin untuk menghubungi Bella. Bahkan di sela-sela kesibukannya membantu Andreas menjalankan perusahaannya, dia tetap berusaha menghubungi Bella.
Apa Bella menganggap semua usahanya? Jika iya, tidak mungkin Bella setega ini kepadanya. Berselingkuh selama Rey tidak ada. Selama ini Rey selalu optimis Bella tidak akan berselingkuh, dia juga berusaha mempercayai Bella walau sebenarnya dia merasa takut Bella akan berpaling darinya.
Dan hal itu benar-benar terjadi hari ini.
***
Rey membanting pintu mobil dan menarik lengan Bella dengan kasar. Dia bahkan ngga peduli dengan suara ringisan Bella. Dia menekan angka empat belas pada lift. Setelah sampai lantai empat belas, Rey menarik Bella ke kamarnya.
Bella sendiri mencoba melepaskan pegangan Rey. Dia ngga mau masuk ke dalam kamar apartemen Rey. Bella sadar ia akan dihukum.
"Ak-aku ngga mau Rey. Maafin aku, maaf." Ucap Bella meronta.
Dia benar-benar takut pada Rey yang sekarang. Dia takut Rey akan melakukan hal yang tidak diinginkan.
"Diam Bella! Atau aku akan menambah hukuman mu!" Ancam Rey dan berhasil. Bella akhirnya pasrah.
Rey membuka pintu apartemennya dan melempar Bella ke sofa. Bella terkejut Rey bisa sekasar ini kepadanya. Dia pun duduk dan memegang lengannya yang dia yakini biru.
Bella menunduk saat menyadari Rey menatap Bella tajam. Tatapan itu seolah-olah membunuh Bella.
"Jelaskan, Bella." Ucap Rey menahan amarahnya. Bagaimana pun juga dia tidak ingin menyakiti tunangannya.
"Ak-aku hanya berteman dengannya dan aku juga baru mengenalnya selama empat bulan." Jelas Bella pelan.
"Empat bulan katamu? Kamu baru mengenalnya empat bulan lalu membiarkan dia memeluk dirimu? Kamu udah kehilangan mu akal, Bella?"
Rey benar-benar ngga habis pikir. Gadisnya yang selama ini dia kira polos dan lugu membiarkan seorang laki-laki yang baru dia kenal memeluk dirinya?
Bella hanya terdiam, dia tidak berani menjawab pertanyaan Rey. Dia tidak mungkin berkata bahwa Figo dan dirinya sudah cukup dekat juga Figo biasa merangkul, mengenggam tangannya dan hal lainnya semacam itu.
"Jangan katakan dia juga udah pernah menyentuhmu?" Tanya Rey geram dan Bella hanya terdiam seolah-olah menjawab semua pertanyaan Rey.
Rey langsung mencengkram dagu Bella dengan keras. Bella meringis saat merasakan cengkraman Rey. Dagunya akan terluka juga.
"Katakan dimana dia sudah menyentuh mu, Bella?"
Bella hanya terdiam dan enggan menjawab. Kediaman Bella membuat amarah Rey semakin naik. Rey mendekatkan tubuhnya ke tubuh Bella.
"Apa disini?" Ucap Rey sambil mencium telinga Bella.
"Atau disini?" Ciuman Rey beralih ke leher putih Bella. Sekali-kali dia mengecupnya.
Bella merasakan bahaya segera mendorong badan Rey agar menjauh dari dirinya.
"Rey, he-hentikan. Ku mohon. Ak-aku takut." Pinta Bella menangis. Rey tidak pernah sejauh ini kepadanya, dia takut Rey akan kelewatan.
Rey merasa terganggu oleh tangan Bella langsung mencengkram lengan Bella dengan tangan kiri.
"Bella bisa diam kan? Semakin Bella meronta, semakin berat hukuman mu." Bisik Rey pelan tapi penuh ancaman di telinga Bella.
Tangisan Bella semakin keras, dia kali ini benar-benar membuat kesalahan besar. Rey pun menatap Bella yang sedang menangis. Rey sadar bahwa saat ini Bella sedang ketakutan kepadanya.
Tapi, saat ini dia benar-benar membutakan hati dan matanya. Gadis nakalnya memang harus dihukum secara berlebihan agar tidak mengulangi kesalahannya.
Rey pun kembali mengecup leher Bella, dirinya bahkan meninggalkan tanda disana. Rey tersenyum saat melihat tanda miliknya ada di leher Bella. Matanya kini beralih ke bibir Bella. Ibu jari Rey mulai mengelus bibir bawah Bella.
"Kurasa, aku harus mengambil ini sekarang. Bolehkan Bella?" Tanya Rey dengan nada mengejek.
"A-aku menyesal, Rey. Maaf, maafin aku. Ku mohon hentikan." Lirih Bella.
Rey menyeringai saat melihat Bella tidak berdaya di bawahnya. Dia pun mendekati bibirnya ke bibir Bella. Dia bahkan melumat bibir bawah Bella. Manis. Itulah yang dirasakan Rey saat mencium bibir Bella.
Bella berusaha melepaskan genggaman Rey. Rey harus dihentikan saat ini juga, jika tidak Rey akan melewati batas.
"Lep-lepas-mmphhhhh" Ronta Bella dan Rey pun melepaskan ciumannya.
Bella menghirup nafasnya dengan kuat, dia kira dia akan mati karena kehabisan oksigen. Bella menatap Rey dengan tatapan memohon. Dia sudah tidak kuat.
"Rey, hentikan. Aku minta maaf dan menyesal. Ku mohon maafkan aku. Aku lelah, Rey." Isak Bella.
Dia pikir dengan memohon seperti ini akan membuat Rey melepaskan dirinya. Tapi, dugaan dirinya salah. Dia merasakan tangan Rey mengelus perutnya yang rata.
Badan Bella seketika gementar, jangan bilang Rey mengingikannya?
"Ah, aku belum puas menghukum mu sayang. Kau tau perbuatan dan perkataan mu membuat hati ku sakit."
"Dan lagi, dengan cara ini aku yakin kamu ngga akan lari dari aku, Sweetheart." Ucap Rey menyeringai.
Bella menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dia ngga mau kehilangan mahkotanya secepat ini. Bella semakin meronta dari Rey. Dan ini membuat Rey kesal.
"Bukankah udah ku katakan tadi, semakin kamu meronta semakin berat hukuman mu." Bentak Rey
"A-aku ngga mau, Rey. Cukup, jangan hukum aku lebih dari ini. Aku paham Rey. Aku paham. Aku ngga bakalan dekat-dekat sama cowok mana pun, aku janji." Isak Bella semakin keras, dirinya sudah putus asa.
"Kamu janji? Kamu tau kan aku paling benci orang yang suka ingkar janji." Ucap Rey menghentikan ancamannya.
Apa yang tadi Rey katakan memang cuma ancaman semata. Dia tidak mungkin dengan cepat mengambil mahkota Bella dengan cepat. Bisa-bisa dia dibunuh duluan oleh Papi dan Maminya.
Bella mengangguk cepat, dia ngga mau Rey berubah pikiran dan melanjutkan hukumannya. Hukumannya yang tadi saja bisa membuat dirinya gila.
Rey melepaskan cengkramnya dan memeluk Bella dengan erat.
Dia takut Bella akan meninggalkannya, bagaimana pun juga dia harus menjaga Bella dari cowok-cowok lainnya. Dia ngga peduli Bella akan risih atau ngga, yang jelas Bella ngga akan lepas darinya.
Rey melepaskan pelukan dan menatap Bella. Bella nampak ketakutan saat Rey menatapnya dan hal ini membuat hati Rey semakin sakit. Betapa jahatnya dia terhadap Bella, ngga seharusnya dia sekasar itu pada Bella.
"Kamu takut padaku?" Tanya Rey sambil memegang kedua pipi Bella dengan lembut.
Bella ngga menjawab apa-apa, dia masih shock atas apa yang terjadi tadi. Bagaimana jika nanti dia melanggar janjinya dan Rey akan melakukan itu padanya? Bella belum siap menikah muda.
"Bella." Panggil Rey dan membuat Bella tersentak kaget, kini matanya fokus ke arah Rey.
Rey menghela nafasnya, "Kamu takut padaku?"
Bella bingung harus jawab apa. Dia benar-benar takut tadi, tapi jika dia bilang iya, apa Rey ngga nambah ngamuk? Tapi, jika dia bilang ngga itu sama saja dia berbohong. Rey benar-benar membuat dirinya bingung.
"A-anu, ak-aku-"
"Maafin aku, aku kelewatan tadi. Bella mau maafin Rey kan?" Potong Rey dan menatap Bella dengan memelas.
Sial, kenapa cowok yang di depan Bella sangat manis. Bella secara tak sengaja menggangguk karena tidak fokus menatap cowok yang ada di depannya ini.
Rey menghela nafas lega, dia pikir Bella akan marah karena perbuatannya. Namun, ternyata dia dimaafkan oleh Bella dengna mudahnya.
"Malam ini menginap disini ya?"
Hah?
***
Sesuai janji ku, aku update langsung dua part. Semoga kalian tidak kecewa hehe.
Ada yang kangen sama Rey?
Terima kasih karena kalian mau menunggu.