Dr. Jane Alister

1330 Kata
Jane Alister _ Aku membenci kasus selebriti. Itu pikiran pertamaku setelah menutup telepon dari Hart Broadcasting Network. Tidak. Tegas. Tanpa ragu. Selebriti jarang benar-benar ingin terapi. Mereka ingin perbaikan citra. Kontrol kerusakan. Narasi penebusan publik. Seorang psikolog yang cukup sopan untuk mengangguk memahami, sementara pengacara mereka mengatur cerita di balik layar. Aku sudah menghabiskan lima belas tahun membangun reputasiku dengan hati-hati, dan aku tidak akan menjadi babysitter emosional bagi orang kaya yang kehilangan kendali. Di luar jendela kantorku, hujan menggores kaca seperti garis perak, sementara Blackmore City bersinar dingin dan biru di bawah badai. Kota ini selalu terlihat indah di malam hari. Dan kesepian juga. Lampu meja di ruang kerjaku memancarkan cahaya amber lembut saat aku merapikan catatan pasien, mencoba mengabaikan rasa tidak nyaman yang tertinggal di dadaku setelah telepon itu. Michael Hart. Seluruh negara mengenal wajahnya. Aku juga. Di Blackmore City, mustahil tidak mengenalnya. Billboard. Wawancara. Sampul majalah. Iklan jam tangan mewah. Dia tipe pria yang membuat orang menatap tanpa sadar. Elegan. Terkendali. Dan entah kenapa… terlihat berbahaya. Dan sekarang, katanya sedang hancur. Nora masuk kembali ke ruanganku membawa setumpuk berkas. “Kamu sedang memikirkannya.” “Aku tidak.” “Kamu melakukan itu lagi.” Aku menoleh. “Apa?” “Cara overthinking itu. Kamu pura-pura tidak peduli, tapi sebenarnya terlalu peduli.” Aku menghela napas pelan. “Itu bukan diagnosis medis.” “Harusnya iya.” Dia duduk di seberangku dan menyilangkan kaki. “Kamu sudah lihat videonya, kan?” Sayangnya, ya. Seluruh internet sudah melihatnya. Bahkan dari sudut pandang klinis, rekaman itu sulit ditonton. Bukan karena dramatis. Tapi karena itu nyata. Panik yang nyata. Disosiasi yang nyata. Ketakutan yang nyata. Ada tatapan tertentu yang dimiliki orang saat PTSD berat kambuh. Seperti kesadaran yang tiba-tiba hilang dari tubuh. Michael Hart punya tatapan itu. Aku bersandar perlahan di kursi. “Pihak jaringan ingin penanganan pribadi,” kataku. “Maksudnya?” “Tanpa catatan publik. Tanpa rawat inap. Tanpa media.” “Terjemahan bebasnya,” Nora menyindir datar, “mereka ingin selebriti mereka diperbaiki diam-diam sebelum sponsor panik.” Tepat. Itulah masalahnya. Kesehatan mental hanya diterima selama tidak mengganggu kenyamanan orang lain. Begitu penderitaan terlihat, dunia berubah menjadi kejam. Terutama pada pria seperti Michael Hart. Pria berkuasa tidak diizinkan runtuh di depan publik. Orang ingin selebriti yang indah dan mudah dicerna. Bukan yang gemetar di siaran langsung. Bukan yang berteriak. Bukan yang manusia. “Aku menolak,” kataku akhirnya. Nora menatapku lama. “Kamu sudah tahu kamu tidak akan menolaknya.” Aku benci ketika dia benar. — Satu jam kemudian, sebuah berkas rahasia tiba melalui transfer terenkripsi dari departemen hukum HBN. Aku menatap notifikasi itu hampir satu menit penuh sebelum membukanya. Nama Pasien: Michael Alexander Hart Usia: 42 Pekerjaan: Presenter / Figur Televisi Aku menggulir pelan. Riwayat evaluasi psikiatris. Penggunaan obat. Resep sedatif darurat. Gangguan tidur. Lalu— Trauma Masa Kecil: Menyaksikan kecelakaan mobil fatal yang menewaskan kedua orang tua pada usia sepuluh tahun. Aku berhenti bernapas sejenak. Mataku bergerak ke bawah. Gejala berulang: serangan panik berat OCD episode disosiasi hiperwaspada insomnia kronis ketergantungan emosional Ya Tuhan. Ini bukan perbaikan citra. Ini bertahan hidup. Aku lanjut membaca. Pasien menunjukkan pola masking emosional kuat dan perfeksionisme kompulsif terkait trauma masa kecil dan tekanan identitas publik. Pemicu utama: suara benturan keras cahaya berkedip kehilangan kontrol lingkungan rasa malu di depan publik Aku menutup file sebentar. Ruangan terasa lebih sunyi. Di situlah dia sebenarnya. Bukan ikon televisi yang sempurna. Tapi seorang anak kecil yang ketakutan, terperangkap dalam tubuh pria terkenal. Aku membuka kembali file. Bagian lain menarik perhatianku. Riwayat terapi sebelumnya menunjukkan pasien menolak kerentanan, tetapi membentuk ketergantungan emosional setelah kepercayaan terbentuk. Aku mengernyit kecil. Ketergantungan. Kata yang berbahaya. Terutama pada seseorang yang kesepian. Aku terus membaca. Pasien memiliki ketakutan mendalam terhadap ditinggalkan dan pola coping destruktif berupa penarikan diri emosional, kerja berlebihan, dan risiko penyalahgunaan zat. Dadaku menegang sedikit. Kesepian. Itulah diagnosis yang tidak tertulis dengan jelas. Aku menatap foto Michael di file itu beberapa detik. Foto profesional. Setelan rapi. Senyum sempurna. Tapi sekarang aku tahu apa yang harus dicari… Ada kelelahan di matanya. Topeng itu tidak sesempurna yang dunia kira. Ketukan pelan mengganggu pikiranku. Nora masuk lagi dengan ponsel. “Kamu sebaiknya tidak buka media sosial malam ini.” “Kenapa?” Dia menatapku. “Ini Blackmore City. Penghinaan publik itu seperti olahraga nasional.” Aku tetap mengambil ponselnya. Kesalahan besar. Semua platform dipenuhi klip Michael Hart. Beberapa diperlambat untuk “hiburan”. Yang lain diberi musik mengejek di belakangnya. Judul-judulnya kejam: PEMBACA BERITA TERFAVORIT AMERIKA HANCUR DI SIARAN LANGSUNG MICHAEL HART KOLAPS — n*****a ATAU GANGGUAN MENTAL? Aku terus menggulir meski dadaku mulai tidak nyaman. Komentar mengalir tanpa akhir. “Dia terlihat gila.” “Orang kaya pura-pura punya masalah, lucu sekali.” “Mungkin berhenti pakai n*****a sebelum kerja.” “Lemah banget.” Lemah. Lagi-lagi kata itu. Orang menyebut trauma sebagai kelemahan karena lebih mudah daripada memahaminya. Lalu aku menemukan satu klip lain. Rekaman backstage. Tampaknya bocor ilegal. Michael berjalan terhuyung setelah siaran. Berkeringat. Disorientasi. Ketakutan. Bukan marah. Takut. Tangan yang gemetar diperbesar kamera. Dadaku terasa tertarik tajam. Protektif. Instingtif. Dan itu langsung membuatku kesal pada diriku sendiri. Jarak profesional itu penting. Tanpa batas, empati bisa menghancurkan terapis. Tapi aku tetap memutar ulang video itu. Dia terlihat benar-benar kewalahan. Bukan berbahaya. Bukan arogan. Hanya… hancur. Itu berbeda. Sangat berbeda. “Jane.” Suara Nora lebih pelan sekarang. “Kamu melakukannya lagi.” “Apa?” “Sindrom penyelamat itu.” Aku memalingkan wajah dari layar. “Aku sedang observasi klinis.” “Kamu sudah terikat secara emosional.” “Aku tidak.” Dia menatapku ragu. Aku benci karena dia terlalu mengenalku. “Kenapa kasus selebriti selalu mengganggumu?” tanyanya. “Karena melelahkan.” “Karena itu mengingatkanmu pada ayahmu.” Kata-kata itu menghantam lebih keras dari yang kuharapkan. Aku diam. Hujan terus mengetuk jendela. Ayahku menghabiskan hidupnya berpura-pura semuanya baik-baik saja. Tersenyum di depan orang. Menderita diam-diam. Sampai akhirnya tubuhnya menyerah. Orang-orang di pemakamannya berkata: “Kami tidak tahu dia sedang kesulitan.” Kalimat itu menghantuiku bertahun-tahun. Aku kembali menatap layar. Aku membayangkan rasanya menjadi tontonan saat runtuh. Menjadi hiburan. Tidak heran dia panik. Humiliasi memperburuk trauma. Aku mengusap pelipis. “Kasus ini bisa rumit secara etika.” Nora mengangguk. “Ya.” “Dia high-profile, tidak stabil, mungkin menolak terapi.” “Ya.” “Dan HBN ingin hasil cepat.” “Ya, tentu.” Aku menghela napas. Secara profesional, ini adalah keputusan buruk. Tapi secara manusia… Aku sudah tahu jawabannya. — Malam itu, aku pulang melewati pusat kota Blackmore City. Lampu neon kabur di kaca mobil karena hujan. Kota ini terlihat seperti film. Indah dari jauh. Kosong dari dekat. Apartemenku sunyi. Minimalis. Rapi. Terlalu tenang. Setelah berganti pakaian, aku duduk dengan teh di dekat jendela. Dan seperti yang sudah kuduga… pikiranku tidak berhenti pada Michael Hart. Bukan ketenarannya. Tapi matanya. Ada jenis kelelahan tertentu pada orang dengan PTSD berat. Bukan lelah fisik. Tapi lelah berpura-pura aman. Aku membuka tablet lagi. Kesalahan kedua. Media semakin liar. Video Michael dibawa ke ruang medis sementara kamera masih merekam dari kejauhan. Komentar semakin kejam. “Karier selesai.” “Lemah.” “Lihat saja, tidak tahan tekanan.” “Pria sekarang terlalu sensitif.” Dadaku terasa panas. Mereka tidak tahu apa yang mereka lihat. Itu bukan kelemahan. Itu sistem saraf yang sudah terlalu lama bertahan. Ada titik di mana tubuh memaksa runtuh karena pikiran tidak lagi mampu menanggung beban. Michael Hart sudah sampai di titik itu. Dan dunia menertawakannya. Aku menutup tablet. Kemarahanku tidak rasional. Atau mungkin terlalu rasional. Teleponku bergetar. Nomor tidak dikenal. Aku menjawab. “Dr. Alister.” “Dr. Alister,” suara Richard Vale terdengar. “Anda sudah mengambil keputusan?” Aku menutup mata sebentar. Profesionalitas berkata tolak. Insting manusia berkata jangan tinggalkan orang yang sedang tenggelam. Aku membuka mata. “Kapan dia datang?” Jeda. “Besok pagi.” Aku menatap hujan di luar jendela. Dan sesuatu di dalam diriku berbisik pelan: Orang ini akan mengubah hidupmu. Aku mengabaikannya. Dan itu kesalahan ketigaku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN