Michael Hart
_
Aku hampir tidak datang.
Itu kenyataannya.
Selama hampir empat puluh menit, aku duduk diam di kursi belakang mobil di depan Alister Psychological Center sementara hujan merayap perlahan di kaca jendela yang gelap.
Gedung itu sendiri terlihat… terlalu damai.
Cahaya hangat bersinar dari balik panel kaca tinggi.
Musik jazz lembut terdengar samar dari dekat pintu masuk.
Tulisan emas minimalis bertuliskan:
ALISTER PSYCHOLOGICAL CENTER
Segala sesuatu tentang tempat itu terasa aman.
Dan aku tidak pernah percaya tempat yang terasa aman.
Tempat aman selalu menghilang lebih dulu.
“Mr. Hart?”
Supirku melirik lewat kaca spion.
“Anda terlambat.”
“Aku sadar.”
“Anda ingin saya menunggu?”
Aku menatap gedung itu beberapa detik lebih lama.
Lalu menghela napas berat.
“Sayangnya, iya.”
Begitu aku keluar dari mobil, udara dingin dan hujan langsung menyentuh wajahku.
Payung hitam.
Mantel gelap.
Kacamata hitam meski langit badai.
Armor.
Orang-orang mengira kesombongan datang alami pada pria seperti aku.
Padahal tidak.
Kebanyakan kesombongan hanyalah rasa takut yang memakai pakaian mahal.
Begitu masuk ke dalam klinik, suasananya terasa lebih tenang lagi.
Lampu amber hangat.
Musik piano lembut.
Rak buku memenuhi dinding kayu gelap.
Tidak ada cahaya putih rumah sakit.
Tidak ada bau antiseptik.
Tidak ada kamera.
Resepsionis di depan langsung mendongak—dan hampir tersedak melihatku.
Tentu saja.
Bahkan di sini.
“Mr. Hart…” bisiknya pelan.
Aku langsung memberikan senyum otomatis yang selama bertahun-tahun dijual televisi kepada publik.
Senyum Michael Hart.
“Selamat pagi.”
Pipinya langsung memerah.
Dapat ditebak.
Orang biasanya bereaksi dua cara di dekatku:
gugup atau terpesona.
Kadang keduanya sekaligus.
“Dr. Alister sudah menunggu Anda,” katanya cepat.
Aku melepas sarung tangan perlahan sambil memperhatikan ruangan.
Tenang.
Elegan.
Didesain dengan sangat sadar secara emosional.
Menarik.
Resepsionis membawaku melewati lorong panjang menuju ruangan paling ujung dekat jendela.
“Silakan masuk.”
Dia mengetuk pelan sebelum membuka pintu.
Dan di sanalah dia.
Dr. Jane Alister.
Untuk satu detik singkat, otakku benar-benar lupa semua kalimat yang sudah kulatih di kepala.
Sial.
Foto di file itu tidak adil.
Dia duduk di balik meja kayu gelap dengan blouse krem sederhana, lengan tergulung sampai siku.
Rambut pirang panjang jatuh di satu bahu.
Mata hijau.
Makeup tipis.
Cantik tanpa berusaha.
Jenis cantik yang berbahaya.
Bukan yang berisik.
Bukan yang meminta perhatian.
Tapi yang diam-diam masuk ke kepalamu.
Dia mengangkat wajah perlahan dari file pasien saat aku masuk.
Tidak gugup.
Tidak terkesan.
Menarik lagi.
“Mr. Hart.”
Suaranya lebih lembut dari yang kubayangkan.
Hangat juga.
“Dr. Alister.”
Aku melepas kacamata hitam perlahan.
Biasanya wanita berubah sedikit saat menatap mataku langsung.
Perubahan kecil.
Tarikan napas samar.
Ketertarikan selalu muncul cepat.
Jane tidak bereaksi sama sekali.
Dan entah kenapa itu langsung menggangguku.
Dia menunjuk kursi di depannya.
“Anda terlambat empat puluh tiga menit.”
Tidak tersenyum.
Tidak basa-basi.
Langsung menyerang.
Aku duduk santai.
“Aku ingin membuat entrance.”
“Kamu datang untuk terapi, bukan masuk acara televisi.”
…Baiklah.
Aku bersandar sedikit sambil memperhatikannya lebih hati-hati.
Ruangan itu beraroma vanilla samar dan buku-buku lama.
Hujan mengetuk jendela di belakangnya sementara jazz terdengar pelan dari luar ruangan.
Semua tentang tempat ini dibuat untuk menurunkan pertahanan psikologis seseorang.
Cerdas.
“Kamu selalu sehangat ini pada pasien?”
“Aku biasanya lebih hangat pada pasien yang datang tepat waktu.”
Aku hampir tersenyum.
Sebagian besar orang terlalu berusaha di dekatku.
Jane sama sekali tidak berusaha.
Dan itu langsung membuatku ingin mendapatkan perhatiannya.
Insting yang buruk.
Sangat buruk.
Aku menyilangkan kaki santai.
“Jadi,” kataku halus, “bagaimana ini bekerja? Aku cerita trauma masa kecil lalu kamu diam-diam menghakimiku?”
“Tidak.”
“Syukurlah. Karena aku mengenakan tarif tambahan untuk kerentanan emosional.”
Tetap tidak ada reaksi.
Tuhan.
Wanita ini benar-benar sulit dibaca.
Jane mengambil pena dengan tenang.
“Sesi ini bukan tentang performance, Mr. Hart.”
Aku tertawa pelan.
“Kata itu lagi.”
“Kata apa?”
“Performance.”
Tatapannya tetap stabil.
“Kamu terlalu terbiasa mengontrol persepsi orang.”
Sebagian besar orang mungkin tidak akan sadar ada tuduhan tersembunyi di balik kalimat itu.
Aku sadar.
Aku tersenyum tipis.
“Dan kamu terlalu terbiasa menganalisis orang sebelum mereka bicara.”
“Itu pekerjaanku.”
Lucu.
Aku benci fakta bahwa aku menganggapnya lucu.
Keheningan muncul beberapa detik.
Biasanya orang jadi tidak nyaman dengan diam.
Jane terlihat baik-baik saja.
Dan itu justru membuatku tidak nyaman.
Akhirnya dia bicara.
“Ceritakan apa yang kamu ingat dari siaran itu.”
Ah.
Akhirnya.
Kehancuran.
Penghinaan.
Aku memalingkan wajah ke arah jendela.
“Aku ingat jutaan orang melihatku kehilangan akal sehat.”
“Itu bukan yang aku tanyakan.”
Aku langsung menoleh tajam.
Tetap sama.
Tenang.
Stabil.
Sulit dibaca.
Dan entah kenapa ketenangannya membuatku defensif.
“Kamu selalu sedingin ini pada pasien?”
“Aku tidak dingin.”
“Kamu terlalu terkendali.”
“Tidak,” katanya lembut. “Aku hanya stabil secara emosional.”
Kalimat itu menggangguku lebih dari yang seharusnya.
Karena orang yang stabil selalu membuat orang rusak terlihat semakin kacau.
Aku mengusap rahang perlahan.
“Suara itu yang memicunya.”
“Suara apa?”
Aku ragu.
Sudah mulai membenci ini.
Membicarakan trauma terasa seperti mengelupas kulit sendiri perlahan.
Tapi Jane hanya menunggu.
Tidak menekan.
Tidak memotong.
Hanya sabar.
“Suara itu mirip kecelakaan mobil.”
Ekspresinya berubah sedikit untuk pertama kali.
Bukan kasihan.
Sesuatu yang lebih lembut.
Pemahaman.
Aku langsung memalingkan wajah.
“Aku umur sepuluh tahun,” kataku datar. “Malam hujan. Pengemudi mabuk masuk jalur ayahku.”
Ruangan terasa mengecil.
Detak jantungku mulai naik lagi.
Jane langsung sadar.
“Kapan terakhir kali flashback separah itu sebelum siaran?”
Aku tertawa pahit.
“Kamu mengira itu tidak normal untukku?”
Dia tidak menjawab.
Karena itu jawabannya.
Aku mengembuskan napas kasar.
“Beberapa bulan lalu.”
“Dan panic attack?”
“Tergantung.”
“Pada?”
“Seberapa melelahkan hidupku minggu itu.”
Itu hampir membuatnya bereaksi.
Hampir.
Jane menulis sesuatu di notebook-nya.
Aku langsung membenci notebook itu.
Mungkin isinya:
Presenter narsistik dengan trauma dan kontrol berlebihan.
Tidak salah juga.
“Bagaimana tidurmu?” tanyanya.
“Buruk.”
“Mimpi buruk?”
“Kadang.”
“Obat-obatan?”
Aku tersenyum tipis.
“Kamu biasanya mengajak makan malam dulu sebelum bertanya hal pribadi?”
Tidak ada reaksi.
Ya Tuhan.
“Kamu flirting ke semua orang?” tanyanya tenang.
“Nah. Itu.”
“Itu apa?”
“Reaksi.”
“Aku sedang mengamati pola perilaku.”
“Tidak,” kataku pelan. “Kamu sedang berusaha keras untuk tidak bereaksi.”
Mata hijaunya menatapku stabil.
Wanita pintar.
Sangat pintar.
Aku sedikit condong ke depan.
“Kamu tahu apa yang biasanya orang lakukan di dekatku, Doctor?”
“Aku yakin kamu akan memberitahuku.”
“Mereka terlalu berusaha.”
“Maksudnya?”
“Mereka tertawa lebih keras. Tersenyum lebih banyak. Gugup.” Aku memiringkan kepala sedikit. “Kamu tidak.”
“Aku tidak di sini untuk membuatmu terkesan.”
Kalimat itu menghantam aneh.
Karena tiba-tiba aku sadar sesuatu yang tidak nyaman.
Aku ingin dia terkesan.
Bukan romantis.
Belum.
Tapi secara psikologis.
Aku ingin perhatiannya.
Ketertarikannya.
Reaksinya.
Dan dia menolak memberikannya.
Yang justru membuatku semakin sadar akan dirinya.
Sial.
Jane menyilangkan kaki dengan elegan sambil membaca catatan lagi.
“Evaluasi sebelumnya menyebutkan perilaku obsesif kompulsif.”
Aku langsung merapikan jam tangan di balik lengan jas.
Matanya langsung menangkap gerakan itu.
Sial.
“Itu,” katanya pelan.
Aku diam.
“Kamu sudah membetulkan jam tanganmu enam kali sejak masuk ruangan ini.”
Rahangku mengeras sedikit.
“Pengamatan yang bagus.”
“Kamu juga meluruskan mantelmu dengan kursi sebelum duduk.”
Aku memalingkan wajah.
Keheningan kali ini terasa lebih berat.
Lebih pribadi.
“Aku tidak suka kekacauan,” gumamku.
“Kekacauan terasa tidak aman?”
Aku menatap rak buku di belakangnya.
Karena ya.
Segala sesuatu yang tidak terkontrol terasa berbahaya bagiku.
Kebisingan.
Perubahan mendadak.
Hal-hal yang tidak simetris.
Trauma mengajarkan otak bahwa kontrol berarti bertahan hidup.
Kalau kehilangan kontrol, orang mati.
Orang tuaku mati.
Aku menelan ludah keras.
Lalu Jane memanggil namaku.
“Michael.”
Dan anehnya—
cara dia menyebut namaku membuat dadaku terasa sesak.
Lembut.
Hati-hati.
Manusia.
Tidak ada yang menyebut namaku seperti itu lagi.
Di HBN aku hanyalah brand.
Produk.
Headline.
Tapi di ruangan ini…
aku merasa terlihat.
Dan aku langsung membenci perasaan itu.
“Aku tidak gila,” kataku pelan.
“Aku tahu.”
“Kamu tidak terdengar yakin.”
“Aku pikir kamu trauma.”
Trauma.
Bukan rusak.
Bukan gila.
Hanya terluka.
Sesuatu di dadaku mengencang.
Aku berdiri mendadak dan berjalan ke arah jendela.
Terlalu banyak kontak mata.
Terlalu banyak kejujuran.
Langit Blackmore City terlihat dingin di balik hujan.
Indah.
Kosong.
“Orang pikir ketenaran menyembuhkan kesepian,” kataku pelan.
Jane tetap diam di belakangku.
“Padahal…” aku tertawa kecil. “Ketenaran cuma membuat kesepian jadi mahal.”
Tidak ada jawaban palsu.
Tidak ada kalimat motivasi murahan.
Hanya mendengarkan.
Dan entah kenapa itu terasa lebih berbahaya.
Aku mengusap wajah perlahan.
“Kamu tahu bagian paling lucu?”
“Apa?”
“Breakdown itu bahkan bukan panic attack terburuk yang pernah aku alami.”
Aku mendengar dia berdiri pelan di belakangku.
Tetap menjaga jarak profesional.
“Yang terburuk terjadi di penthouse-ku jam tiga pagi,” lanjutku lirih. “Aku duduk di lantai kamar mandi selama dua jam, mencoba bernapas sementara kota tetap berjalan seperti aku tidak berarti apa-apa.”
Aku menutup mata sebentar.
“Kamu tahu rasanya memalukan seperti itu?”
Jane menjawab lembut.
“Tidak.”
Aku menoleh sedikit.
Tatapannya tetap tenang.
“Tapi aku tahu rasanya menderita diam-diam sementara semua orang mengira kamu baik-baik saja.”
Ruangan mendadak sunyi.
Di situlah aku melihatnya.
Kebenaran mengenali kebenaran.
Dan untuk pertama kalinya—
aku melihat sesuatu di balik ketenangannya.
Kesepian.
Kecil.
Tersembunyi.
Tapi nyata.
Menarik.
Sangat menarik.
Dan untuk pertama kalinya sejak masuk ruangan ini…
aku sadar sesi terapi ini mungkin jauh lebih berbahaya daripada yang kubayangkan.