Jane Alister
_
Pada sesi ketiga, aku mulai menyadari satu hal tentang Michael Hart:
dia menghabiskan terlalu banyak energi hanya untuk terlihat “baik-baik saja.”
Bukan sehat.
Hanya berfungsi.
Dan ada perbedaan besar di antara keduanya.
Orang sehat tahu cara beristirahat.
Orang sehat tahu kapan harus menurunkan pertahanan.
Orang sehat tidak masuk ke sebuah ruangan sambil mengamati setiap sudut seperti sedang bersiap menghadapi ancaman.
Michael mengamati segalanya.
Pintu keluar.
Posisi lampu.
Volume suara.
Letak benda-benda di meja kerjaku.
Bahkan aku.
Terutama aku.
Hujan turun deras di luar jendela klinik sore itu sementara musik jazz lembut mengalun pelan dari speaker lorong.
Michael datang tepat tujuh menit lebih awal untuk pertama kalinya sejak terapi dimulai.
Kemajuan.
Atau obsesi terhadap waktu.
Mungkin keduanya.
Dia masuk ke ruanganku mengenakan mantel charcoal gelap dan sarung tangan hitam meskipun cuaca sebenarnya tidak terlalu dingin.
Terkendali.
Elegan.
Sulit dibaca.
Tetapi sekarang aku tahu apa yang harus kuperhatikan.
Dan retakan-retakan kecil mulai terlihat jelas.
Matanya terlihat lelah lagi.
Bukan lelah fisik.
Lelah karena selalu siaga.
Jenis kelelahan yang dimiliki orang-orang yang terlalu lama hidup menunggu bencana datang.
“Dr. Alister.”
“Michael.”
Dia melepas sarung tangannya perlahan sebelum duduk.
Bukan gerakan santai.
Gerakan ritual.
Aku memperhatikannya diam-diam saat dia menggeser posisi kursi sedikit.
Lalu sekali lagi.
Kemudian meluruskan posisi sepatunya tepat sejajar dengan garis ubin lantai.
Ritual.
Jarinyanya bergerak ke arah jam tangan silver di pergelangan tangan.
Diluruskan sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Baru setelah itu dia akhirnya menatapku.
“Ada yang lucu?”
“Tidak.”
“Kamu mengamatiku lagi.”
“Itu biasanya memang cara kerja terapi.”
Senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
“Nah, muncul juga psikolog mengerikan itu.”
Aku mengabaikan nada flirt yang sengaja dia lemparkan.
Karena ada hal lain yang lebih menarik perhatianku.
Buku-buku jarinya merah.
Kering.
Iritasi.
Terlalu sering dicuci.
“Berapa kali kamu mencuci tangan sebelum datang ke sini hari ini?” tanyaku tenang.
Senyumnya langsung menghilang.
Nah.
Di situ dia.
Kerentanan yang tersembunyi di balik karisma.
Michael bersandar sedikit.
“Kamu menghitung?”
“Aku memperhatikan pola.”
Keheningan muncul beberapa detik.
Lalu akhirnya—
“Enam.”
Aku menunggu.
Rahangnya mengeras sedikit.
“Mungkin delapan.”
Gangguan kompulsif hampir selalu memburuk saat seseorang mengalami tekanan emosional.
Dan Michael sedang hancur lebih cepat daripada yang ingin dia akui.
“Apa yang terjadi kalau kamu tidak melakukannya?” tanyaku lembut.
Jarinya mengetuk sandaran kursi sekali.
Gerakan kecil.
Gerakan gugup.
“Tidak melakukan apa?”
“Menyelesaikan ritualnya.”
Dia memalingkan wajah ke arah jendela yang dipenuhi hujan.
Otot rahangnya bergerak sebelum akhirnya menjawab.
“Otakku bilang sesuatu yang buruk akan terjadi.”
Loop kecemasan OCD klasik.
Bukan logika.
Ketakutan.
“Aku tahu itu tidak masuk akal,” katanya pelan.
“Tapi mengetahui itu tidak menghentikan rasa cemasnya.”
Matanya bergerak cepat ke arahku.
Terkejut.
Kebanyakan orang salah memahami OCD.
Mereka pikir itu soal kebersihan atau kerapian.
Padahal bukan.
Itu tentang rasa takut.
Ritual hanyalah bentuk kontrol buatan ketika otak tidak lagi percaya bahwa dunia aman.
Michael menyilangkan kaki.
Lalu langsung membatalkannya lagi.
Gelisah.
Hari ini dia sangat gelisah.
“Seberapa parah ritual malam harimu?” tanyaku.
Dia tertawa pelan tanpa humor.
“Langsung menyerang psikologis pagi-pagi begini?”
“Jawab pertanyaannya.”
Tatapannya turun ke bawah.
Menarik.
Michael hanya menghindari kontak mata saat merasa malu.
“Tergantung malamnya.”
“Rata-ratanya?”
Diam.
Lalu akhirnya—
“Aku memeriksa semua kunci pintu penthouse berulang kali.”
“Berapa kali?”
Hening lagi.
“Kadang dua puluh kali.”
Parah.
Sangat parah.
“Dan kalau kamu mencoba berhenti?”
Napasnya berubah sedikit.
Respons cemas.
“Dadaku terasa sesak.”
“Panic attack?”
“Ya.”
“Apa yang dikatakan pikiranmu kalau pintunya tidak dicek?”
Suaranya mengecil.
“Ada seseorang yang akan masuk.”
“Seseorang yang spesifik?”
Diam panjang.
Lalu—
“Tidak.”
Dia bohong.
Aku bisa melihatnya.
Penyintas trauma sering memberi bentuk personal pada rasa takut mereka, bahkan ketika mereka sendiri tidak bisa menjelaskannya.
“Ceritakan ritual malammu,” kataku lembut.
Michael mengusap mulutnya perlahan.
Gerakan lelah.
“Aku berjalan mengelilingi semua ruangan sebelum tidur.”
“Berapa kali?”
“Tiga.”
“Kenapa tiga?”
Dia menatap rak buku di belakangku.
Karena OCD jarang masuk akal bahkan bagi orang yang mengalaminya sendiri.
Akhirnya dia bergumam pelan.
“Rasanya seimbang.”
Seimbang.
Kata yang menarik.
“Apa lagi?”
“Aku meluruskan benda-benda.”
“Bagaimana?”
“Dengan pola yang sama.”
“Simetris?”
Matanya langsung kembali menatapku tajam.
“Bagaimana kamu tahu?”
“Karena kamu meluruskan posisi pena di mejaku saat pertama masuk tadi.”
Tatapannya langsung berpindah ke meja.
Sial.
Dia bahkan tidak sadar sudah melakukannya.
Dan itu jelas membuatnya tidak nyaman.
Aku melembutkan nada suara.
“Kamu tidak gila, Michael.”
“Aku tahu.”
Tetapi suaranya tidak terdengar yakin.
Ruangan menjadi sunyi selain suara hujan di luar jendela.
Lalu sesuatu berubah perlahan.
Cara dia menatapku berubah.
Lebih fokus.
Lebih personal.
“Kamu tidak pernah bicara tentang dirimu sendiri.”
Nah.
Rasa penasaran.
Aku memang sudah menunggunya muncul.
“Aku bukan pasien di sini.”
“Kamu menghindari pertanyaan secara profesional.”
“Aku dilatih secara profesional.”
Senyum kecil muncul di wajahnya.
“Sama saja.”
Aku mengabaikannya.
Michael memperhatikanku lebih hati-hati sekarang.
Terlalu hati-hati.
“Kamu hampir selalu memakai warna netral.”
“Itu observasi yang bagus.”
“Kamu membuat ruangan ini terasa hangat secara emosional, tapi tetap terasa pribadi secara… kosong.”
Pilihan katanya menarik.
Aku diam.
Tatapannya bergerak perlahan ke seluruh ruangan.
“Buku di mana-mana. Jazz. Lampu hangat.” Dia kembali menatapku. “Nyaman. Tapi tetap terkendali.”
Terapis kadang lupa bahwa pasien juga mengamati kami.
Terutama pasien yang cerdas.
“Lalu?” tanyaku.
“Dan aku pikir kamu lebih kesepian daripada yang kamu tunjukkan.”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari yang kuduga.
Tapi ekspresiku tetap tenang.
“Kenapa kamu berpikir begitu?”
“Karena orang yang menghabiskan hidup memperbaiki orang lain biasanya menghindari membicarakan dirinya sendiri.”
Tajam.
Sangat tajam.
Aku bersandar sedikit.
“Bagaimana dengan kehidupan pribadimu?”
Ketegangan muncul seketika.
Di situ.
Perubahannya langsung terasa.
Bahunya mengeras.
Napasnya menjadi dangkal.
Rahangnya menegang.
Menarik.
“Maksudnya?” tanyanya hati-hati.
“Hubungan.”
Ekspresinya langsung tertutup.
Seperti pintu yang dibanting dari dalam.
“Tidak relevan.”
“Itu memengaruhi pola keterikatan emosional.”
“Itu terdengar sangat klinis.”
“Memang klinis.”
Jarinya mulai membetulkan jam tangannya lagi.
Sekali.
Dua kali.
Lagi.
Lonjakan kecemasan.
Aku memperhatikannya tenang.
“Kamu pernah menikah?”
Reaksinya langsung muncul.
Michael berdiri terlalu cepat lalu berjalan menuju jendela.
Defensif.
Terlalu defensif.
Wilayah berbahaya.
Hujan memantulkan cahaya kota di kaca sementara skyline Blackmore City terlihat kabur di belakangnya.
Posturnya tampak kaku sekarang.
Terkontrol dengan paksa.
“Aku tidak membicarakan hubungan secara publik.”
“Ini bukan publik.”
“Itu tidak mengubah jawabannya.”
Napasnya berubah lagi.
Lebih terkendali.
Secara artifisial.
Aku tetap tenang.
“Bagaimana dengan keluarga?”
Pertanyaan yang salah.
Sangat salah.
Tubuh Michael langsung diam total.
Bukan tegang.
Diam.
Seperti hewan yang mendengar ancaman.
Ruangan terasa lebih dingin.
“Aku tidak punya keluarga.”
Kata-katanya cukup tajam untuk melukai.
Aku memilih kata-kata berikutnya dengan hati-hati.
“Saudara?”
“Tidak.”
“Keluarga lain?”
“Tidak.”
“Lalu sekarang? Hubungan emosional dekat?”
Diam.
Lalu tawa kecil.
Kosong sepenuhnya.
“Maksudmu orang yang bertahan?”
Refleksinya terlihat samar di kaca jendela yang basah.
Tuhan.
Kesepian ada di seluruh dirinya.
“Orang-orang selalu pergi pada akhirnya,” katanya lirih.
“Keyakinan itu berasal dari trauma.”
“Keyakinan itu berasal dari pengalaman.”
Kesedihan di dalam kalimat itu tinggal lama di ruangan.
Aku memperhatikannya pelan.
Ada momen tertentu yang dikenali semua terapis—
saat pasien tanpa sadar memperlihatkan luka sebenarnya di balik semua gejalanya.
Bukan OCD.
Bukan panic disorder.
Penolakan.
Ketakutan ditinggalkan.
Michael Hart bukan takut kehilangan kontrol.
Dia takut ditinggalkan sendirian.
Dan tiba-tiba semuanya masuk akal.
Kunci pintu.
Simetri.
Ritual.
Kontrol menjadi perlindungan.
Kalau semuanya cukup sempurna…
cukup aman…
cukup seimbang…
mungkin bencana tidak akan datang lagi.
Mungkin orang-orang tidak akan pergi.
Michael akhirnya berbalik menghadapku lagi.
Ketenangannya sudah kembali sebagian.
Tapi tidak sepenuhnya.
“Kamu tahu bagian lucunya?” tanyanya pelan.
“Apa?”
“Aku bisa menghadapi jutaan orang yang menatapku setiap malam.”
Matanya menahan tatapanku.
“Tapi satu pertanyaan pribadi di ruangan ini terasa jauh lebih menakutkan.”
Kejujuran lagi.
Mentah.
Tak terduga.
Berbahaya.
“Kenapa?” tanyaku lembut.
Dia diam beberapa detik sebelum menjawab.
“Karena kamera sebenarnya tidak pernah benar-benar melihatku.”
Ruangan menjadi sunyi.
Kalimat itu terasa menyakitkan.
Aku mengerti persis maksudnya.
Perhatian publik bukanlah keintiman.
Ketenaran menciptakan visibilitas tanpa koneksi.
Michael dikelilingi banyak orang setiap hari sambil tetap merasa sendirian.
Tidak heran keterikatan emosional membuatnya takut.
Tidak heran kerentanan terasa mengancam.
Suaraku melembut sedikit.
“Kapan hubungan serius terakhirmu?”
Diam lagi.
Tetapi kali ini dia menjawab.
“Tiga tahun lalu.”
“Apa yang terjadi?”
“Dia bilang mencintaiku terasa melelahkan.”
Rasa sakit muncul di wajahnya begitu cepat hingga kebanyakan orang mungkin tidak akan menyadarinya.
Aku menyadarinya.
“Dia pergi?”
“Dia selamat.”
Nada pahit dalam suaranya membuatku mengernyit.
“Apa maksudmu?”
Michael tersenyum tipis.
Sedih.
“Orang selalu meromantisasi pria rusak sampai mereka sadar kerusakan itu menular.”
Sesuatu mengencang di dadaku.
Karena aku mengenali kebencian terhadap diri sendiri saat mendengarnya.
Dan Michael menyimpan terlalu banyak itu di dalam dirinya.
Sesi berakhir tidak lama setelahnya.
Tetapi sebelum pergi, Michael berhenti di dekat pintu.
Sudah menjadi kebiasaan sekarang.
Seolah ada bagian dari dirinya yang belum benar-benar ingin meninggalkan ruangan ini.
“Kamu tahu apa yang kusadari hari ini?” katanya pelan.
“Apa?”
“Kamu lebih sulit dibaca daripada siapa pun yang pernah kutemui.”
“Itu mengganggumu?”
“Ya.”
“Kenapa?”
Tatapannya bergerak perlahan di wajahku.
Terlalu lama.
“Karena biasanya aku bisa memprediksi orang.”
“Dan kamu tidak bisa memprediksi aku?”
Senyum lambat muncul di bibirnya.
“Tidak.”
Ketegangan berubah lagi.
Halus.
Tidak terucapkan.
Aku langsung merasakannya.
Dan dari cara dia menatapku—
dia juga merasakannya.
Michael membuka pintu perlahan.
Lalu berhenti.
“Kamu tadi bertanya tentang keluarga.”
Aku mendongak.
Ekspresinya berubah lagi.
Lebih lembut.
Lebih rapuh.
“Ibuku dulu juga selalu memeriksa kunci pintu setiap malam.”
Dadaku langsung terasa sesak.
“Dia punya anxiety disorder?” tanyaku lembut.
“Dia punya rasa takut.”
Hujan masih mengetuk jendela pelan.
Michael memalingkan wajah sesaat sebelum melanjutkan.
“Setelah ayahku mulai sering mabuk, dia tidak pernah merasa aman lagi.”
Tuhan.
Di situ.
Potongan lainnya.
Retakan lain di balik citra sempurnanya.
“Dia selalu berjalan mengelilingi rumah memastikan semua pintu terkunci.” Suaranya mengecil. “Kurasa aku mempelajari ritual itu darinya.”
Trauma yang diwariskan.
Anak-anak menyerap ketakutan jauh sebelum mereka memahami artinya.
Dan tiba-tiba aku bisa melihat semuanya dengan jelas:
seorang anak laki-laki kecil yang ketakutan belajar bertahan hidup dari seorang ibu yang juga ketakutan.
Bukan kelemahan.
Kondisi yang terbentuk.
“Michael—”
Tetapi dia mundur sedikit.
Menarik diri secara emosional.
Terlalu rentan.
Terlalu terbuka.
“Aku akan datang hari Kamis, Doctor.”
Lalu dia pergi.
Dan ruangan terasa jauh lebih sunyi setelah itu.
Aku duduk diam beberapa detik menatap pintu yang tertutup.
Kekhawatiran profesional.
Hanya itu.
Setidaknya itu yang ingin kuyakini.
Padahal sebenarnya tidak sesederhana itu lagi.
Karena di balik ritual, kesombongan, dan dinding emosionalnya—
Michael Hart mulai terasa sangat manusiawi bagiku.
Dan itulah yang membuat semuanya menjadi berbahaya.