Kissmark

1622 Kata
Kinara akhirnya sampai di rumah. Mobilnya perlahan masuk ke dalam garasi sebelum berhenti di tempat biasa. Begitu mesin dimatikan, pandangannya langsung tertuju pada sebuah mobil yang sudah lebih dulu terparkir di sana. Kinara mengernyitkan dahi. “Matteo sudah pulang ternyata.” Tangannya masih menggenggam setir. Selama beberapa detik ia hanya duduk diam. Napasnya keluar perlahan, tetapi rasa gugup justru semakin terasa setelah mengingat kejadian beberapa jam lalu. Kinara segera turun dari mobil. Ia menutup pintu garasi, lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Suasana rumah begitu sepi. “Matteo?” Tidak ada jawaban. Kinara menoleh ke ruang keluarga. Kosong. Ia kemudian melihat ke arah dapur. Tidak ada siapa-siapa di sana. “Mungkin dia sudah tidur.” Kinara berjalan menuju tangga. Setelah sampai di lantai atas, ia kembali menoleh ke kanan dan kiri. “Dia ke mana?” Langkahnya berlanjut menuju kamar. “Jangan-jangan masih di ruang kerja.” Kinara melirik jam. “Jam segini masih kerja?” Ia membuka pintu kamar dan masuk. Kosong. Kinara mengembuskan napas panjang. Entah mengapa, ia merasa lega sekaligus bingung. “Ke mana sebenarnya dia?” Baru saja Kinara hendak duduk di tepi ranjang, suara pintu terbuka membuat tubuhnya spontan menegang. Ia langsung menoleh. Matteo muncul dari arah pintu. “Jam berapa ini?” Kinara sedikit terkejut. Matteo berjalan masuk sambil menatap istrinya. “Kenapa kamu baru pulang?” Kinara menelan ludah. Jemarinya tanpa sadar meremas ujung bajunya sebelum ia segera melepaskannya. “Aku tadi lembur kerja.” Matteo mengernyitkan dahi. “Lembur?” “Iya.” jawab Kinara. Kinara berusaha memasang wajah biasa. “Besok ada klien penting. Jadi aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan malam ini.” Matteo menatapnya selama beberapa detik. Setelah itu, sorot matanya perlahan melunak. “Sayang, jangan lembur terus.” Ia mendekati Kinara dan menggenggam tangannya. “Tidak baik untuk kesehatanmu.” Tanpa diduga, Matteo menarik Kinara ke dalam pelukannya. Tubuh Kinara seketika menegang. Pelukan yang biasanya terasa hangat malam itu justru membuat pikirannya kembali pada kejadian beberapa jam lalu. Ia menahan napas sejenak sebelum perlahan meletakkan tangannya di punggung Matteo. “Jangan terlalu memaksakan diri, ya.” Kinara tidak menjawab. Ia hanya diam dalam pelukan suaminya. Pria inilah yang membuatnya jatuh cinta meskipun pernikahan mereka berawal dari perjodohan. Matteo selalu baik kepadanya. Pengertian. Perhatian. Selama dua tahun pernikahan mereka, pria itu selalu berusaha membuatnya merasa dicintai. Kelopak mata Kinara perlahan terpejam. “Maaf, Matteo...” Kalimat itu hanya berputar di dalam pikirannya. Beberapa saat kemudian, Matteo sedikit menjauh. Tatapannya turun ke wajah Kinara. “Sayang.” “Kenapa?” tanya Kinara. Matteo mengerutkan hidung. “Ini parfum siapa?” Kinara langsung membeku. “Parfum?” “Iya.” kata Matteo pelan. Matteo mendekat sedikit. Ia menarik napas pelan, lalu kembali menatap istrinya. “Kenapa aromanya seperti parfum pria?” Jantung Kinara langsung berdegup lebih cepat. Astaga! Kenapa parfum Kak Asher harus menempel segala? Kinara buru-buru mencari alasan. “Tadi aku seharian di kantor sama teman-teman.” Ia tersenyum canggung. “Banyak yang laki-laki juga. Mungkin aromanya menempel.” Matteo masih memperhatikannya. “Kamu yakin?” “Iya.” Kinara segera mencoba mengalihkan pembicaraan. “Kamu kan pernah mengalami hal yang sama.” Matteo terdiam. “Waktu itu ada aroma parfum wanita yang menempel di bajumu.” ucap Kinara menjelaskan. Wajah Matteo langsung terlihat kikuk. Ia mengangguk kecil. “Oh... iya aku ingat sayang.” “Waktu itu aku juga percaya penjelasanmu.” Kinara tersenyum tipis. “Jadi sekarang kamu juga harus percaya sama aku.” Matteo mengangguk. “Iya.” Ia tersenyum. “Aku paham.” Namun baru beberapa detik berlalu, pandangan Matteo turun ke leher Kinara. Alisnya langsung berkerut. “Tunggu.” Kinara kembali menegang. “Kenapa lagi sayang?” Matteo mengangkat tangannya dan menunjuk leher Kinara. “Kenapa lehermu merah?” Kinara refleks menyentuh lehernya. “Ini?” “Iya.” Matteo mendekat untuk melihatnya lebih jelas. “Seperti bekas gigitan.” Kinara segera tertawa kecil meskipun senyumnya terlihat kaku. “Oh... ini?” Ia menyentuh lehernya lagi. “Tadi aku digigit kucing di kantor.” Matteo langsung terkejut. “Kucing?” “Iya.” ucap Kinara tenang. “Kenapa sampai digigit?” tanya Matteo sambil menyentuh leher Kinara dengan hati-hati. Kinara segera mengarang cerita. “Tiba-tiba dia mencakar dan menggigit. Saat aku mau menggendongnya.” Matteo langsung terlihat khawatir. “Ya ampun.” Tangannya berpindah ke lengan Kinara. “Kamu harus segera diobati.” “Tidak perlu, kok. Cuma sedikit merah.” tolak Kinara gugup. “Tidak bisa begitu.” Matteo langsung berbalik mengambil kotak P3K. “Kalau lukanya tidak dibersihkan, nanti bisa infeksi.” Kinara hanya bisa mengikuti Matteo menuju ranjang. Ka Asher... kenapa harus digigit di leher? Ia menundukkan wajah. Kenapa bukan di tempat lain? Di d**a, punggung atau area lainnya kan bisa kalau mau bikin stempel. Kinara segera menggeleng kecil. Kalau begini kan aku harus berbohong dengan Matteo. Ia melirik Matteo yang sedang membuka kotak P3K. Untung dia tidak curiga. Matteo menatapnya. “Duduk.” Kinara menurut. “Biar aku obati.” Matteo mengambil kapas dan cairan pembersih, kemudian membersihkan bagian yang kemerahan dengan hati-hati. “Perih? Kalau sakit bilang.” Tangan Matteo bergerak begitu hati-hati saat mengobatinya. Kinara hanya diam memperhatikan suaminya. Genggamannya pada ujung pakaian semakin erat. Maafkan aku, Matteo. Aku sudah mengkhianatimu. Kinara menunduk. Kamu pria yang baik. Setelah selesai mengobati, Matteo menutup kotak P3K. “Sudah.” Kinara menyentuh lehernya. “Terima kasih.” “Sama-sama.” Matteo kemudian duduk di sampingnya. “Sayang, ngomong-ngomong…” Kinara menoleh. “Apa?” “Kamu sudah setuju, kan?” tanya Matteo sambil menggenggam tangan Kinara. “Setuju apa?” Kinara mengerutkan dahinya. “Soal kita mengadopsi anak.” ucap Matteo mengingatkan. Kinara terdiam sejenak. Matteo melanjutkan. “Aku rasa lebih baik kita mengadopsi anak daripada kamu terus kepikiran omongan keluarga besar.” Kinara menatapnya. Matteo menghela napas panjang. “Mereka terus membicarakan kita karena sudah dua tahun menikah tapi belum punya anak. Aku tidak mau kamu terus mendengar mereka mengatakan kamu mandul. Jangan pikirkan perkataan mereka.” “Aku tahu.” ucap Kinara mengerti. Matteo mempererat genggamannya. “Tapi aku tahu kamu terkadang memikirkannya.” Kinara terdiam. “Aku tidak mau kamu merasa kurang hanya karena aku belum bisa hamil memberikanmu anak.” lanjut Matteo meyakinkan. Matteo tersenyum lembut. “Kalau kita mengadopsi anak, kita tetap bisa menjadi orang tua.” Kinara mengangguk perlahan. “Aku setuju.” “Benarkah?” tanya Matteo tidak percaya. Kinara tersenyum kecil. “Iya… anak juga bisa menjadi pemancing agar kita bisa punya anak sendiri.” Matteo menatapnya bingung. “Memangnya kamu tahu?” Kinara mengangguk. “Iya.” Matteo tersenyum. “Berarti kamu sudah memikirkannya juga?” Kinara menggenggam tangan Matteo. “Sudah asal kamu selalu bersama ku aku akan selalu mensuport kamu.” Matteo mengangguk. Ia menarik tangan Kinara, lalu mencium punggung tangannya. “Mau kamu bisa ngasih aku anak atau enggak kamu tetap istriku, kita bisa pacaran sampai tua dan menutup mata bersama.” Kinara menatap wajah suaminya. Tidak ada keraguan dalam tatapan Matteo. Tidak ada kecurigaan. Hanya ketulusan yang justru membuat d**a Kinara terasa semakin sesak. Ia kembali menundukkan wajah. Maafkan aku, Matteo. Tangannya masih berada dalam genggaman Matteo. Ia tidak tahu sampai kapan rahasia malam ini bisa ia sembunyikan. --- Di kamar hotel, Asher masih berdiri di dekat jendela. Lampu kota terlihat berkilauan dari balik kaca. Cerutu yang tadi ia nyalakan masih berada di antara jemarinya. Ponselnya tiba-tiba berbunyi. Ting! Sebuah email baru masuk. Asher menoleh ke arah meja, lalu mengambil ponselnya. Ia membuka email tersebut. Sebuah berkas mengenai Matteo Herman Johannes terpampang di layar. Matanya bergerak membaca satu per satu informasi yang tertera. Beberapa saat kemudian, ponselnya kembali berdering. Nama Robert muncul di layar. Asher langsung mengangkat panggilan tersebut. “Halo, Tuan.” sapa Robert di seberang sana. “Hmm, Robert.” gumam Asher. “Data tentang Matteo sudah saya dapatkan.” kata Robert berhati-hati. Asher bersandar pada sofa. “Katakan.” Robert mulai menjelaskan dari seberang telepon. “Matteo adalah salah satu pengusaha yang memiliki hubungan bisnis dengan beberapa pihak yang bergerak di dunia gelap kita.” Alis Asher sedikit terangkat. Ia mengambil cerutunya kembali. “Lanjutkan.” “Dia juga sedang berusaha membuka kerja sama dengan beberapa jaringan yang selama ini menjadi bagian dari lingkaran bisnis kita.” lanjut Robert menjelaskan. Asher tersenyum tipis. “Menarik.” “Namun ada informasi lain yang mungkin lebih menarik untuk Tuan.” kata Robert serius. “Apa?” tanya Asher penasaran. Robert terdiam sebentar sebelum melanjutkan. “Matteo memiliki hubungan spesial dengan asistennya sendiri.” Gerakan tangan Asher berhenti. “Asistennya?” “Namanya Maria Magdalena.” Tatapan Asher berubah dingin. “Hubungan spesial seperti apa?” “Dari informasi yang kami dapatkan, hubungan mereka cukup dekat dan dilakukan tanpa sepengetahuan istrinya.” Robert menjelaskan pada Asher. Asher terdiam. “Kinara tidak tahu?” “Sepertinya begitu, Tuan.” Asher tertawa kecil. Namun senyum itu tidak sampai ke matanya. “Jadi Matteo juga menyimpan rahasia.” “Benar.” Asher memandang keluar jendela. Asap cerutu perlahan keluar dari bibirnya. “Menarik sekali.” Ia mengembuskan asap cerutu perlahan. “Dia punya istri bernama Kinara, tetapi diam-diam memiliki hubungan dengan asistennya.” “Begitulah informasi yang kami dapatkan.” kata Robert pelan. Asher tersenyum tipis. “Baik.” Robert menunggu perintah berikutnya. “Tuan, apa yang harus kita lakukan?” Asher berjalan menuju meja dan mengambil gelasnya. Tatapannya kembali tertuju pada berkas Matteo di layar ponselnya. “Ajak Matteo bertemu besok suruh dia mengajak istrinya.” Robert sedikit terdiam. “Istrinya, Nyonya Kinara?” Asher tersenyum penuh arti. “Benar aku ingin melihat sesuatu.” “Apa itu, Tuan?” tanya Robert penasaran dengan rencana bosnya. Asher meletakkan gelasnya di atas meja. “Kita lihat besok. Apakah Matteo akan membawa Kinara atau Maria?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN