Klimaks Ternikamat
“Ugh... ahh...” Suara lenguhan dua orang terdengar dari atas ranjang hotel. Setelah malam panjang yang seharusnya tidak pernah terjadi itu berakhir, kamar mendadak dipenuhi keheningan. Hanya suara napas keduanya yang masih terdengar berat.
Kinara masih terbaring sambil mengatur napas. Dadanya naik turun, sementara sudut bibirnya justru terangkat membentuk senyum kecil yang sulit disembunyikan. Beberapa saat kemudian, ia memiringkan kepala dan menatap Asher yang berbaring di sampingnya.
“Kak...” panggil Kinara dengan suara masih terengah-engah.
Asher menoleh. Tatapannya bertemu dengan mata Kinara yang masih menatapnya.
“Aku sangat puas. Ternyata Kakak memang sangat jago di ranjang.” ucap Kinara menatap mata kakak angkatnya yang berwarna biru.
Alis Asher langsung bertaut. Tatapannya bertahan beberapa detik di wajah Kinara, seolah berusaha memahami senyum yang masih tersisa di sana.
“Kamu kenapa sebahagia ini?” tanyanya penasaran.
Kinara hanya tersenyum. Ia mengalihkan pandangan ke langit-langit kamar, sementara jemarinya memainkan ujung selimut.
Asher menghela nafas panjang sebelum kembali bertanya. “Kamu tahu, kan, apa yang baru saja kita lakukan itu salah?”
Senyum di wajah Kinara perlahan berubah. Bibirnya masih terangkat, tetapi sorot matanya meredup. “Aku tahu.”
Asher menatapnya lebih lama. “Lalu kenapa kamu masih bisa tersenyum?” tanyanya penasaran dengan jawaban adik angkatnya.
Kinara tidak segera menjawab. Tatapannya tetap tertuju pada langit-langit kamar. Matanya mulai berkaca-kaca ketika akhirnya ia menarik napas.
“Karena untuk pertama kalinya selama dua tahun pernikahanku, aku merasa benar-benar puas.”
Asher terdiam.
Kinara kemudian menoleh kepadanya. Tangannya bergerak mencari tangan Asher, lalu menggenggamnya erat seolah ingin meyakinkan pria itu bahwa ia sadar dengan apa yang baru saja dikatakannya.
“Hubungan kita memang salah. Aku tahu itu. Tapi aku baru saja merasakan klimaks ternikmat yang bahkan suamiku tidak pernah bisa memberikannya selama dua tahun pernikahan.”
Asher mengusap wajahnya kasar. Rahangnya mengeras sebelum ia kembali menatap Kinara.
“Jadi, niatmu menemui aku ke sini memang untuk memuaskan dirimu di ranjang?”
Kinara tidak langsung menjawab. Genggamannya pada tangan Asher perlahan mengendur. Ia menundukkan kepala, membiarkan beberapa detik berlalu tanpa jawaban.
Asher menatapnya tajam. Suaranya terdengar serak ketika kembali berbicara.
“Kau hanya menganggap kakak angkat mu ini sebagai gigolo setelah kita lama tidak bertemu?”
“Bukan begitu, Kak.” kata Kinara pelan.
“Lalu bagaimana?” tanya Asher menuntut penjelasan.
Kinara menghela napas. Bahunya turun perlahan.
“Aku tadi mabuk. Aku kebanyakan minum waktu cerita sama Kakak.”
“Kau mabuk bukan alasan untuk semuanya.” ucap Asher tidak terima.
“Aku tahu.” kata Kinara sambil menutup matanya dan menarik napas pelan.
Beberapa saat ia hanya diam. Setelah itu, Kinara membuka mata dan menatap Asher.
“Tapi Kakak juga kenapa tidak menolaknya?”
Asher terdiam. Bibirnya sempat terbuka, tetapi tidak ada jawaban yang keluar.
“Kalau memang Kakak merasa ini salah, kenapa Kakak membiarkannya terjadi?” tanya Kinara membela dirinya.
Asher mengalihkan pandangan. Tangannya bergerak mengusap tengkuk, sementara rahangnya kembali mengeras. Ia tidak mampu menjawab dengan mudah.
Kinara memperhatikan perubahan ekspresi itu sebelum berkata dengan suara pelan, “Kakak juga menikmati semua ini, kan?”
Asher menarik napas panjang.
“Kinara...”
“Bahkan Kakak sampai—”
“Sudah.” Asher segera memotong ucapannya.
Tatapan keduanya bertemu. Tidak ada yang kembali berbicara.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
Asher kemudian menatap Kinara dengan serius. Sorot matanya tidak lagi main-main.
“Kalau begitu, kamu mau aku bertanggung jawab?” tanya Asher menunggu jawaban Kinara.
Kinara mengerutkan kening.
“Maksud Kakak apa?”
“Kita menikah.” ucap Asher penuh keyakinan.
Mata Kinara langsung membesar.
“Kakak jangan gila.”
“Aku serius.” meyakinkan.
“Tidak!” tolak Kinara. Gadis itu segera bangkit dari ranjang.
Ia meraih pakaian yang berceceran di lantai satu per satu, lalu mengenakannya dengan tergesa-gesa.
“Aku punya suami. Kakak juga punya calon istri.” lanjut Kinara.
Asher ikut bangun.
“Kinara, tunggu kita harus membicarakan ini.”
Kinara berhenti memasukkan salah satu pakaiannya ke dalam tas. Ia menoleh.
“Tidak ada yang perlu dibicarakab lagi.”
“Kita harus membicarakan ini.” ucap Asher ingin semuanya clear.
“Tidak perlu.” ucap Kinara pelan.
Ia merapikan pakaiannya tanpa berani menatap Asher.
“Anggap saja ini khilaf.” lanjut Kinara tidak ingin memperpanjang urusan.
Asher memperhatikannya beberapa saat.
“Kamu yakin?”
“Yakin.” jawab Kinara tanpa ragu sedikit pun.
Asher kemudian ikut mengenakan pakaiannya. Sesekali tatapannya masih mengikuti gerakan Kinara yang terlihat terburu-buru.
“Mau aku antar?” Asher menawarkan diri.
Kinara menggeleng.
“Tidak usah. Aku bawa mobil sendiri. Mobilku masih di parkir di area parkiran klub.”
Tatapan Asher turun sejenak, memperhatikan langkah Kinara yang tampak sedikit kaku. Kekhawatiran langsung terlihat di wajahnya.
“Kamu yakin bisa jalan?”
Kinara berhenti sejenak. Ia menahan napas ketika merasakan rasa nyeri yang masih tersisa.
“Aku masih bisa.”
“Kinara.” panggil Asher.
“Sudah, Kak. Tidak apa-apa.” Ia berusaha tersenyum.
“Nanti aku beli salep dan obat nyeri. Pasti langsung sembuh.” ucap Kinara menolak halus.
Asher masih terlihat tidak yakin. Ia bahkan sempat melangkah mendekat.
“Setidaknya biar aku antar sampai mobil.”
“Tidak perlu.” Kinara membuka pintu kamar.
Ia menoleh sebentar.
“Suamiku sudah menungguku di rumah aku tidak mau dia curiga.”
Tanpa menunggu jawaban Asher, Kinara segera keluar dari kamar hotel.
“Kinara!” teriak Asher.
Ia berdiri di ambang pintu dan melihat perempuan itu berjalan cepat menuju lift.
Pintu lift terbuka. Kinara masuk dan menekan tombol lantai parkiran.
Sebelum pintu lift tertutup, ia sempat melirik ke arah Asher.
“Selamat tinggal, Kak.”
Pintu lift pun tertutup.
Begitu sendirian di dalam lift, senyum yang tadi dipaksakan Kinara langsung menghilang. Ia memejamkan mata sambil mengusap wajahnya.
“Kinara... Kinara...”
Ia menggeleng-gelengkan kepala.
“Kenapa bisa-bisanya kamu mengajak kakak angkatmu yang sudah lama tidak bertemu hanya untuk curhat tentang kehidupan rumah tanggamu?”
Kinara menghela napas.
“Niat awal cuma mau cerita.”
Tatapannya beralih pada angka lantai yang terus berubah.
“Tapi malah mabuk karena kebanyakan minum.”
Ia menutup wajah dengan kedua tangannya.
“Dan akhirnya melakukan hubungan satu malam.”
Jemarinya perlahan turun dari wajah.
Kinara menatap kosong ke pintu lift.
“Bagaimana kalau Matteo sampai tahu?”
Wajahnya langsung berubah muram.
“Pasti dia kecewa.”
Lift akhirnya sampai di parkiran. Pintu terbuka.
Kinara berjalan menuju mobilnya. Langkahnya masih sedikit hati-hati, tetapi ia terus memaksa dirinya untuk berjalan seperti biasa.
Begitu masuk ke dalam mobil, ia duduk diam di balik kemudi. Tangannya masih menggantung di atas setir.
“Aduh... malu banget.”
Ia menutup wajah dengan kedua tangan.
Beberapa detik kemudian, bayangan Asher kembali muncul dalam pikirannya. Kinara membuka mata dan menggigit bibirnya sambil menggeleng.
“Tapi... dia seganteng dan segagah perkasa itu sekarang apalagi perut sixpacknya.”
Ia menghela napas.
“Siapa yang tidak tergoda coba?”
Kinara langsung menepuk pipinya sendiri.
“Astaga! Sadar, Kinara!”
Ia buru-buru membuang pandangan ke depan.
“Dia kakakmu.”
Kinara menyalakan mesin mobil. Suara mesin membuatnya sedikit tersadar.
“Buang semua pikiran kotor itu jauh-jauh.”
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menggenggam kemudi.
“Anggap saja yang semalam itu hanya khilaf.”
Tatapannya lurus ke depan.
“Semoga besok semuanya sudah dilupakan.”
Jemarinya mengerat di lingkar kemudi.
“Semoga Asher juga menganggap malam ini tidak pernah terjadi.”
---
Di dalam kamar hotel, Asher masih berdiri di dekat jendela. Tatapannya mengarah pada lampu-lampu kota yang terlihat dari ketinggian.
Berbeda dengan Kinara yang sudah pergi terburu-buru, Asher justru terlihat tenang.
Ia mengambil ponselnya lalu menekan salah satu nomor yang sudah tersimpan.
Tidak lama kemudian, panggilan tersambung.
“Halo selamat malam, Tuan.” sapa pria di ujung telepon.
“Hmm.” Asher berdehem pelan.
Pria di ujung telepon sudah paham dengan nada tersebut.
“Bagaimana, Tuan? Apa semuanya sudah selesai?” tanya asisten pribadi Asher penasaran.
Asher tidak langsung menjawab.
Pria di seberang telepon kembali bertanya.
“Apakah malam indah Anda sudah selesai, Tuan?”
Asher hanya tersenyum tipis.
“Sudah.”
“Kalau begitu, apakah kami perlu menjemput Tuan di kamar hotel?” tanya pria itu menunggu perintah.
“Tidak perlu.” tolak Asher tegas.
“Baik, Tuan.” Pria itu langsung mengerti.
Asher berjalan perlahan menuju meja kecil di dekat jendela. Namun, sebelum memutuskan sambungan, langkahnya terhenti.
Ada sesuatu yang baru terlintas di pikirannya.
“Robert.” panggil Asher pada asisten pribadinya.
“Ya, Tuan?” tanyanya pelan.
“Cari tahu tentang Matteo Herman Johannes.”
Nada suara Asher berubah lebih serius.
“Matteo Herman Johannes?” tanya pria itu.
“Ya. Apa perlu saya ulangi kembali?” tanya Asher.
“Baik, Tuan. Informasi seperti apa yang Tuan inginkan?”
Asher menyalakan cerutunya. Bara kecil di ujungnya menyala ketika ia mengisapnya perlahan.
“Cari semua identitasnya, keluarganya, pekerjaannya, bisnisnya, kehidupannya, dan terutama hubungan pernikahannya dengan Kinara.”
“Baik, Tuan. Saya segera mencari informasinya.” Pria itu mengangguk patuh meskipun Asher tidak dapat melihatnya.
“Aku ingin laporannya secepat mungkin. Jangan sampai ada informasi yang terlewat.”
“Dimengerti, Tuan.”
Asher mengembuskan napas perlahan.
“Segera kirimkan kepadaku.”
“Siap, Tuan.”
Panggilan pun berakhir.
Asher menurunkan ponselnya. Untuk beberapa saat, ia hanya berdiri diam sambil menikmati cerutu di tangannya. Asap tipis perlahan memenuhi udara di dekat jendela.
Kemudian senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
“Kinara...” Ia menyebut nama itu dengan suara rendah.
“Kinara Aurelia Jasmine.” gumamnya pelan.
Asher berjalan kembali mendekati jendela.
“Kau pikir bisa meninggalkan aku begitu saja setelah malam ini?”
Ia tertawa kecil.
“Setelah sekian lama aku menunggumu?”
Asher menatap pantulan dirinya sendiri pada kaca jendela.
“Tidak, Kinara.”
Tatapannya berubah semakin dalam.
“Aku tidak akan meninggalkanmu, baby.”
Ia mengangkat cerutunya.
“Tapi kali ini, kamu yang akan menjadi milikku.”
Asher terdiam sejenak. Rahangnya mengeras.
“Dua tahun aku harus melihatmu bersama pria lain.”
Tangannya mengepal perlahan ketika ingatan tentang masa Kinara dijodohkan dengan Matteo kembali muncul.
“Tapi sekarang semuanya berbeda.”
Senyum penuh keyakinan kembali muncul di wajahnya.
“Aku akan merebutmu kembali.”
Asher menatap keluar jendela.
“Kamu adalah milikku.”
Ia menghembuskan asap cerutu perlahan.
“Matteo... kau sudah menyia-nyiakan berlian yang selama ini ada di sampingmu.”
Asher terkekeh pelan.
“Kau bahkan tidak tahu betapa berharganya wanita yang kau miliki.”
Ia kemudian kembali menyebut nama Kinara.
“Wanita yang kucintai.”
Asher memejamkan mata sesaat. Ketika kembali berbicara, suaranya terdengar lebih lembut.
“Sudah tiga puluh tahun sejak pertama kali aku mengenalmu.”
Senyumnya berubah menjadi senyum penuh nostalgia.“Aku masih ingat pertama kali kamu mengajakku ke rumahmu.”
Ia tertawa kecil.“Waktu itu kamu begitu polos.”
Asher menggeleng perlahan. “Kamu bahkan tidak tahu kalau sejak saat itu aku sudah jatuh cinta kepadamu.”Ia menatap langit malam melalui kaca jendela.
“Kamu menganggapku sebagai kakak.”
Asher tersenyum getir. Tangannya perlahan mengusap wajah. “Dan aku menerima semua itu.”Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan.
“Aku menjadi kakak angkat mu.”
Asher kembali menatap pantulan dirinya di kaca. “Selama bertahun-tahun aku menyembunyikan perasaanku.”
Suaranya semakin dalam.
“Setiap kali kamu memanggilku Kakak, aku hanya bisa tersenyum.”
Ia menundukkan kepala sesaat.
“Padahal di dalam hati ku, aku ingin kamu melihatku sebagai seorang pria.”